Bahasa Banyadu di Tanah Borneo - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 21 Agustus 2019

Bahasa Banyadu di Tanah Borneo

Oleh Cita Rusi
peta kalimantan barat

Bahasa Banyadu di Tanah Borneo


Laksana potret kecil Indonesia, berbagai suku, agama, ras dan golongan dapat ditemui di Bumi Khatulistiwa, Provinsi Kalimantan Barat. Keberagaman latar belakang dan budaya ini dapat pula diketahui akan adanya perbedaan bahasa.

Kalimantan Barat merupakan provinsi yang kaya akan budaya dan bahasa. Keanekaragaman budaya dan adat istiadat mempunyai peranan dan pengaruh penting terhadap bahasa sehingga lain daerah lain pula bahasanya. Bahasa Banyadu merupakan satu diantara ragam bahasa Dayak yang ada di daerah Kalimantan Barat.

Bahasa Dayak Banyadu kadang disebut juga sebagai bahasa Banyuke. Bahasa Banyadu adalah bahasa yang dituturkan oleh suku Dayak Banyadu yang bermukim di provinsi Kalimantan Barat, yang tersebar di dua kabupaten, yakni Kabupaten Landak tepatnya di Kecamatan Menyuke, Kecamatan Banyuke Hulu, Kecamatan Ngabang, dan di Kabupaten Bengkayang tepatnya di Kecamatan Teriak, Kecamatan Samalantan, dan di desa-desa transmigrasi di Kabupaten Bengkayang.

Secara geografis Kabupaten Landak memang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bengkayang. Menilik sosiologis dan historis pun mayoritas penduduk di dua kabupaten yang berbeda ini berasal dari rumpun yang sama, yakni masyarakat Dayak yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Rusi, salah satu penutur bahasa Banyadu menjelaskan pengertian Banyadu saat wawancara menjelaskan, “Bahasa Banyadu apabila ditinjau secara etomologi kata Banyadu terdiri atas dua unsur, yakni Prefiks Ba- + kata dasar Nyadu,” ungkapnya.

“Prefiks ba- ini setara dengan prefiks ber- dalam bahasa Indonesia yang mempunyai arti ‘melakukan’. Kata ‘nyadu’ jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia sama dengan ‘tidak’. Jadi simpulannya, Banyadu mempunyai makna berbahasa/berbicara untuk menyatakan TIDAK.”

Pandangan tersebut menyatakan, kata nyadu digunakan sebagai istilah pembeda dialek dengan dialek Dayak lainnya. Sementara istilah "Dayak Banyuke" diambil dari nama bandong (sebuah pemukiman) orang Banyadu zaman dulu yang berada di hulu sungai, dan sungai tersebut dinamai Sungai Banyuke oleh masyarakat Dayak Banyadu yang pada saat ini hanya berupa sebuah kampung yang terletak di Desa Samade, Kecamatan Banyuke Hulu.

Dayak Banyadu sendiri merupakan salah satu anak suku dalam keluarga Dayak Kanayatn. Jika diperhatikan dari bahasanya Dayak Banyadu merupakan transisi antara keluarga Dayak banana (kanayatn) dengan keluarga Dayak Bakati karena sebagian bahasanya mirip dengan bahasa banana (kanayatn) dan sebagian lagi mirip dengan bahasa bakati.

“Bahasa Banyadu merupakan perpaduan antara bahasa orang Bannana (Dayak Kanayatn) dengan bahasa orang Bakati (Dayak Rara), yang mengalami perubahan dan menjadi suatu bahasa yang berbeda,” kata Rusi

Umumnya ciri-ciri penting dalam bahasa Banyadu jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia, yakni sebagian bunyi huruf vokal [a] selain di depan dalam artian letaknya di tengah atau akhiran dalam bahasa Indonesia menjadi [u] dalam Bahasa Banyadu. Contohnya, kata [ada] dalam bahasa Inonesia menjadi [adu] dalam bahasa Banyadu; [sama] menjadi [samu]; [asap] menjadi [asup].

Sebagian bunyi akhiran [ng] dalam Bahasa Indonesia menjadi [kng] dalam bahasa Banyadu. Contohnya, kata [datang] menjadi [utukng]; [sedang] menjadi [sadakng]; [tulang] menjadi [turakng].
Kata ganti [nya] dalam bahasa Indonesia menjadi [ek] dalam bahasa Banyadu. Contoh dalam kalimat “Mengapa kamu menertawakannya?” menjadi “Ngani muk mangguluk ek?”

Partikel [kah] dalam Bahasa Indonesia menjadi [ah] atau [bah] dalam bahasa Banyadu. Contoh dalam kalimat, “Apakah kamu sudah makan?” menjadi “Ngalakak ah muk uman?”; “Siapakah yang datang?” menjadi “Aasi bah da utukng?”

Kosakata dasar bahasa Banyadu tidak menggunakan awalan [e] jika dibandingkan dengan kata berawalan [e] dalam bahasa Indonesia. Contohnya, [emas] dalam bahasa Banyadu ialah [amas]; [enak] menjadi [nyaman]; [elang] menjadi [banaul]. Tidak ada bunyi [h] di awal kata. Contoh, kata [hidup] dalam Bahasa Indonesia menjadi [idup] dalam Bahasa Banyadu; [hantu] menjadi [amot]; [handuk] menjadi [andok]; [harus] menjadi [arus].

“Beberapa penulis mengatakan, suku Bunun, salah satu suku asli di Formosa, bertutur dalam bahasa yang mirip dengan bahasa Dayak Banyadu, sayangnya belum ada penelitian tentang kemiripan bahasa antara dua suku bangsa yang terpisah oleh jarak yang jauh ini,” jelas Rusi.

Bahasa daerah memiliki pengaruh penting terhadap kemajuan sebuah bangsa. Bahasa daerah adalah budaya lokal yang wajib dilestarikan. Rusi meyakini, Bahasa Banyadu salah satu budaya yang menjadi peran penting di tanah Borneo ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman