Keunikan Bahasa Masyarakat Desa Sungai Duri - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 21 Agustus 2019

Keunikan Bahasa Masyarakat Desa Sungai Duri

Oleh Tia Indriyana

keunikan bahasa masyarakat desa sungai duri
Doc Pribadi

Keunikan Bahasa Masyarakat Desa Sungai Duri


Bicara tentang masyarakat di Desa Sungai Duri, rasanya mengingatkan saya bahwa ada sesuatu yang menarik perhatian untuk dicari tahu lebih dalam tentang masyarakatnya. Ada yang unik dari masyarakat Sungai Duri ini, yaitu bahasanya. Sungai Duri adalah desa yang terletak di antara Kabupaten Mempawah dan Kota Singkawang. Namun, desa ini merupakan bagian dari Kabupaten Bengkayang.

Desa ini merupakan daerah pesisir. Sebenarnya masyarakatnya pun bukanlah merupakan penduduk asli desa ini. Pada awalnya masyarakat yang ada di sini merupakan transmigran yang akhirnya menetap di sini. Orang-orang yang bertransmigran ke daerah ini pun berasal dari suku yang berbeda-beda dan akhirnya berkumpul menjadi satu di desa Sungai Duri ini. Mungkin inilah yang memengaruhi adanya keberagaman bahasa yang unik di desa ini. Mengapa unik? Karena bahasa daerah dari suatu suku memengaruhi bahasa suku lainnya sehingga dapat kita temukan perpaduan bahasa yang berbeda.

Hal inilah yang menarik perhatian saya untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai bahasa masyarakat daerah ini. Ketika saya memasuki desa ini mulai dari gerbang desa yang bertuliskan “Selamat Datang” saya menemukan jejeran ruko-ruko dan toko-toko kelontong yang mayoritas pemiliknya ternyata adalah orang Tionghoa, lalu saya masuk ke bagian yang agak ke dalam yang biasa orang sebut Pasar Somban, di situ saya juga menemukan mayoritas penduduknya adalah orang Tionghoa.

Namun, di depan permukiman, toko-toko, dan ruko-ruko yang ada di situ saya melihat banyak jejeran pedagang sayuran di sepanjang jalan. Ternyata mereka adalah orang-orang Madura, selain itu banyak pula gerobak-gerobak pedagang kaki lima yang berjualan pakaian, pernak-pernik dan makanan milik orang Melayu.

“Silelah dek, nak beli ape? jepet rambut ke ape? Tengok-tengok lok!” tawar salah satu pedagang berdialek Melayu Pontianak-Mempawah di Pasar Somban pada orang-orang yang lewat.

“Yang itok berape tok Bang hargenye? Same juak ke dangan yang itok?” tanya salah satu pembeli berlogat Melayu Sambas sambil menunjuk ke pita-pita rambut yang digantung pada dinding-dinding kios.

Ada logat bahasa yang terdengar jelas sekali berbeda di antara keduanya, tetapi mereka dapat saling memahami dengan sangat baik.

Beranjak sedikit dari Pasar Somban saya lalu masuk ke bagian yang agak ke dalam, yaitu masuk ke Kampong Telok dan Sungai Belangak hingga ke tempat yang lebih dalam lagi di bagian pegunungannya, yaitu Segedong. Di sana saya menemukan mayoritas orang Melayu.

Namun, logat dan bahasanya berbeda lagi dari pedagang yang saya lihat di Pasar Somban sebelumnya. Masyarakat Melayu yang ada di daerah ini menggunakan bahasa Melayu dengan vokal
“O” yang sangat menonjol.

“Jope rating tang lamak innyan juok de ndakaon bolik-bolok e? Dah kenyamanan inyan kallu dah de di sinun e?” ‘Mengapa lama sekali dia tidak pulang-pulang? Mungkinkah dia sangat betah di sana?”

Saya mendengar sedikit pembicaraan warga setempat yang sedang asik duduk dan mengobrol di warung kopi. Tak lama saya duduk di warung kopi sambil memerhatikan orang-orang berbicara sesama mereka, tiba-tiba ada seorang remaja laki-laki datang membawa kue yang hendak ia titipkan ke warung kopi tersebut.

“Nah buk, mamak bilang limak puloh butik. Cabeknye ade lam kantongnye juak sie”. ‘Ini Bu, kata Emak lima puluh buah. Cabainya ada di dalam kantongnya juga di situ’.

Saya sangat heran mendengar bahasa anak tersebut saat berbicara, pertama saya mendengar ia berbicara seperti orang-orang Melayu Pontianak-Mempawah, tetapi di akhir terdengar bahasanya malah lebih seperti Melayu Sambas.

Saya tidak dapat menahan rasa penasaran, akhirnya saya memanggil anak tersebut dan bertanya, dia tinggal di mana dan dia orang apa, kenapa pula bahasanya bercampur aduk seperti itu.

“Kamek tinggal di sanak a kak, Jalan Sumbawa tapi belom sampai masok ke dalam, dekat Telkom ni,” jawab lelaki yang kemudian saya ketahui bernama Amru (16 tahun).

“Kamek orang Melayu, kalo ngomong ya kamek macam ini lah dengan kawan-kawan, tapi kalo ngomong same orang yang udah ibuk-ibuk atau bapak-bapak biasenye memang agak becampor bahase Sambas, tebawak-bawak be, soalnye kalok orang-orang tuenye di sinik ni kebanyakan ngomong e bahase Sambas, ade sih yang ngomong bahase Mempawah tapi ndak banyak.

Kalau anak-anak e ha kebanya’an ngomong e bahasenye lebeh macam Mempawah, tapi kadang kalo dengar orang Mempawah benar-benar ngomong pun biase ade ndak ngertinye gak. Kalau bahase Sambas tu ngerti tapi ngerti gituk-gituk jak, kalok dah bahase Sambas yang benar-benarnye pun ndak paham gak. Itu pun kalo ngomongkannye pakai bahase Sambas ndak pandai” jelasnya lagi.

Amru menjelaskan mengapa ia bisa menggunakan bahasa Melayu campuran antara Mempawah dan Sambas dalam percakapan. Dengan generasi muda dia berdialek Melayu Pontianak-Mempawah sedangkan dengan yang tua-tua menggunakan dialek Melayu Sambas karena orangtua di sini terbiasa menggunakan Melayu Sambas.

Mendengar penjelasan Amru membuat saya semakin tambah penasaran, akhirnya saya meminta dia untuk membawa saya ke rumahnya. Rasa ingin tahu saya seakan mengalahkan segalanya hingga saya nekat untuk berkunjung ke rumahnya. Saya berpikir mungkin saya dapat memperoleh informasi lebih menarik dari orang tuanya.

Akhirnya saya pun tiba di rumah Amru. Setelah cukup lama berbicara dan  berbasa-basi dengan orang tuanya  saya menyadari memang ada yang unik di sini. Orang tua Amru menggunakan bahasa Melayu Sambas tetapi tidak terlalu kental. “Saye di rumah tok jak lain-lain bahasenye, pun saye dengan istri saye tok ngomongnye lebeh macam Sambas, tapi pun jak biak-biak tok dari yang anak paling tue sampai ke yang bungsu ntah ngape jak ngomongnye lebeh ke macam bahase Mempawah,” ujar Gatot (60 tahun) ayah Amru.

“Biak tok jak ndak ade yang ngikut bahase urang tue, mungkin iyelah kali pengaroh lingkungan ngan kawan-kawan kan. Jak di Sungai Duri tok kan becampor-campor memang orangnye, dari mane-mane bekumpol di sitok jadi bahase biak-biak tok pun jadi terikut-ikut lalu becampor-campor jadinye. Sambas inyan ndak juak, Mempawah inyan pun ndak juak,” jelas Gatot lagi.

Gatot menjelaskan bahwa anak-anak mereka tidak ada yang mengikuti bahasa orangtuanya. Gatot berpikir barangkali pengaruh lingkungan dan teman-teman di Sungai Duri ini orangnya memang bercampur-campur, dari mana pun berkumpul di sini sehingga bercampur aduk bahasa mereka. Sambas bukan, Mempawah pun bukan juga.

Ternyata begitulah alasan mengapa bahasa masyarakat di sini terdengar berbeda. Saya cukup puas dengan penjelasan Pak Gatot tadi, paling tidak penjelasannya dapat sedikit mengobati rasa penasaran saya. Saya dapat mengerti mengapa keberagaman bahasa di Sungai Duri ini sangat unik dan menarik. Tentunya akan lebih menarik jika diteliti lebih dalam lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman