Maulid Nabi Masyarakat Madura Kubu Raya - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 23 Agustus 2019

Maulid Nabi Masyarakat Madura Kubu Raya

Oleh Sumaiyah

upacara adat
doc Pribadi

Maulid Nabi Masyarakat Madura Kubu Raya


Bulan Rabi’ul Awwal adalah bulan yang penuh berkah bagi orang-orang Madura. Bukan karena pesta panen, bukan pula karena musim hajatan, tapi merupakan momentum perayaan maulid nabi yang berlangsung sepanjang bulan. Bukan hanya di masjid, bukan pula sekadar di surau-surau, ataupun madrasah-madrasah, hampir setiap rumah di Madura, sesuai kesanggupan dan kedudukan si tuan rumah, maulid selalu digelar.

Bulan ini dikenal dengan sebutan bulan Molod oleh orang-orang Madura. Bulan maulid benar-benar bulan yang penuh dengan pesta pora aneka makanan dan buah-buahan. Acara Maulid Nabi itu bergantian dari satu rumah ke rumah warga yang lain. Sehingga warga yang datang ke acara Maulid Nabi harus membawa tas plastik.

Hal itu dilakukan untuk menyimpan berkat (nasi, kue, ikan dan buah yang dibungkus dengan daun atau kertas) yang didapat. Sebab, setiap rumah yang didatangi pasti ada berkatnya. Jika warga itu mendatangi 10 rumah, berarti mendapat 10 berkat.

Bisa dibayangkan bila tidak membawa tas plastik, tentunya akan kesulitan saat membawa berkat. Sehingga semua warga baik orang tua maupun anak-anak membawa tas plastik untuk membawa berkat yang diberikan oleh masyarakat yang di rumahnya sedang melakukan perayaan maulid nabi.

Sebagai orang Madura memang selayaknya harus memelihara dan menjaga tradisi turun temurun dari nenek moyang kita terdahulu. Termasuk ketika Bulan Maulid Nabi Muhammad tiba atau dalam bahasa maduranya "Molodhen", dan pastinya banyak kebiasaan unik dari masyarakat Madura dalam rangka menyambut Maulud Nabi Muhammada SAW pada tanggal 12 Rabi’ul Awal.

Sering kali kita mendengar bacaan Shalawat selalu dikumandangkan dari masjid, mushalla, madrasah atau bahkan dari rumah-rumah penduduk. Masyarakat Madura memang memiliki tradisi Molodhen yang cukup kental. Hampir sebulan penuh mereka berganti-ganti dari satu rumah ke rumah lainnya dalam rangka menyambut dan merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan tentunya dengan cara dan bentuk yang beragam, dari yang biasa sampai yang luar biasa, dari yang kecil-kecilan sampai yang besar-besaran, dari yang di rumah sampai yang di lapangan.

Jika perayaannya dilakukan di masjid sebelum perayaan Molodhen tersebut dimulai, biasanya para ibu-ibu dan remaja putri datang ke masjid atau mushalla dengan menyunggi talam yang di atasnya berisi tumpeng serta aneka macam buah-buahan yang dikenal dengan istilah "Cocokan/Cocoghen" yang nantinya setelah selesai pembacaan doa, tumpeng dan buah-buahan tersebut dibagikan kembali kepada undangan yang datang dalam Molodhen tersebut.

Acara maulid biasanya dibuka dengan surat Al-Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan shalawat berlagu dan shalawat Mahallul Qiyam. Saat sampai pada shalawatMahallul Qiyam, semua hadirin membaca shalawat sambil berdiri ibarat menyambut kelahiran Rasulullah.

Pembacaan shalawat biasanya dipimpin oleh orang bersuara merdu yang mahir dalam lagu-lagu shalawat. Jika shalawat Mahallul Qiyam selesai, semua hadirin duduk. Acara kemudian ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat.

Untuk sajian, sajian utama dalam perayaan maulid ialah buah-buahan. Selain itu, ada juga kue dan nasi. Tergantung kemampuan masyarakat yang menyelenggarakan maulid. Sedangkan sajian maulid yang dilaksanakan pada tanggal 12 di langgar, musala, dan masjid, dikumpulkan dari masyarakat sekitar.

Dalam perayaan maulid nabi, juga dikenal rebut uang yang dipercaya untuk membuat rizki yang diperoleh semakin berkah dengan catatan uang hasil rebutan tersebut tidak boleh dibelanjakan. Pada umumnya masyarakat Madura yang mendapatkan uang tersebut membungkusnya dengan kertas kemudian diisolasi. Ujar Kyai Ahmad Yani satu di antara tokoh masyarakat Madura di Kubu Raya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman