Ngamping, Tradisi Khas Sebelum Panen Padi di sambas - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 23 Agustus 2019

Ngamping, Tradisi Khas Sebelum Panen Padi di sambas

Oleh Desti Nurfitri


Ngamping, Tradisi Khas Sebelum Panen Padi di sambas


Ngamping, Tradisi Khas Sebelum Panen Padi di sambas


Amping adalah makanan yang ada hanya saat musim panen akan tiba. Amping terbuat dari padi muda yang merupakan hasil “ataman” pertama sebelum panen. Bentuk hidangannya ada berbagai macam. Amping bisa disajikan dengan dicampur air gula kelapa, agar disantap terasa manis di lidah. Bisa juga ditaburi gula pasir dan parutan kelapa, menghasilkan rasa nikmat disantap.

Tradisi “Ngamping” dilakukan sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang MahaEsa karena diberi rezeki berua padi yang berlimpah.

Seperti yang dikatakan “Paklong” Amin leluhur kampung kelahiran 70 tahun silam yang masih melestarikan tradisi “ngamping” bahwa “Ngamping merupakan wujud syukur kami terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan Rezeki kepada kami berupa hasil panen yang melimpah, selain itu tradisi “ngamping” juga mempererat silaturahim kami sesama petani dan masyarakat yang tinggal di Negara agraris ini”

Tradisi “ngamping” biasanya dilakukan di sebuah halaman rumah yang memang dipilih sebagai tempat berkumpul, biasanya hanya mengumpulkan 2—3 tangkai padi muda yang kemudian dijemur lalu dibuang tangkainya, setelah itu disangrai diatas wajan panas. Setelah bunyi 3-4 kali letupan artinya padi sudah siap untuk di haluskan (tumbuk).

“Beberapa dari kami menyiapkan lesung dan alu untuk menumbuk padi yang telah disangrai tadi, kami lalu menumbuk dengan dua atau tiga alu yang dilakukan secara bergantian dan dengan nada yang berirama”. Tutur Paklong Amin.

Alu dan lesung yang digunakan dalam menumbuk amping adalah alu yang terbuat dari kayu “laban”. Menumbuk “amping” harus dilakukan dengan kompak, karena jika tidak maka padi yang ditumbuk akan bertaburan. Suara yang ditimbulkan inilah yang menjadi salah satu ciri saat melakukan tradisi ngamping, karena suara yang riuh menjadikan suasana semakin hangat.

“Lok galing, lasong-lasong labban, hei numbok amping ditarrang bulan” seperti itulah nyanyian yang dinyanyikan oleh petani saat menumbuk “amping”.

Setelah padi yang dihaluskan tadi menjadi pipih, maka diambil lalu dimasukan kedalam “nyiru’” yang kemudian dipilih antah lalu siap disajikan.

“Sebelum makan amping, kami berdoa terlebih dahulu, yang dipimpin oleh amil kampung”. Tutur Desti yang duduk bersila di depan hidangan “amping”.

Doa haturkan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan yang maha Esa,  sebagai wujud terimakasih yang tak terhingga.

Tradisi “Ngamping” tetap ada dan selalu ada jika kita melestarikannya. Karena dengan melestarikan tradisi bearti  menunjukkan jati diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman