Perempuan Jawa Fasih Berbahasa Dayak Kanayatn - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 21 Agustus 2019

Perempuan Jawa Fasih Berbahasa Dayak Kanayatn

Oleh Arhami Khuzaifah
bahasa dan budaya nusantara
We' Ima Penutur Jawa yang Fasih Berbahasa Kanayatn

Perempuan Jawa Fasih Berbahasa Dayak Kanayatn


Sudah tujuh tahun lamanya Darni (32) atau yang akrab dipanggil We’ Irma ini tinggal di Desa Binuang yang terletak di Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak Desa Paloan, tetapi ia sudah bisa berbicara memakai bahasa Ahe dari Suku Dayak Kanaya. We’ Irma berasal dari Jawa dia menikah dengan lelaki dari suku Dayak Kanayatn yang bernama Mikael (36) tetapi orang menyebutnya juga dengan sebutan Pa’ Irma.

Menurut orang Dayak Kanayatn setiap orangtua mempunyai anak pertama, nama anaknya misalnya Irma maka orang atau masyarakat yang tinggal di lingkungan itu harus memanggil orangtua anak itu dengan sebutan We’ Irma dan Pa’ Irma, dalam arti Dayak Kanayatn Ahe sebutan We’ itu artinya ibu dan Pa’ itu artinya ayah. Kini mereka sudah mempunyai tiga anak.

Bukti cinta kepada istrinya Pa’ Irma kini memeluk agama Islam. Awal mengetahui bahasa Ahe ini, ia membawa anaknya pergi ke Posyandu untuk memberi vaksinasi campak dan ia pun berbincang dengan ibu-ibu yang ada di situ. Ada juga ibu-ibu yang kurang pandai memakai bahasa Indonesia.

Jadi, di saat mereka berbicara dengan We’ Irma ada bahasa campuran yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Ahe yang membuat We’ Irma merasa agak bingung dalam mengartikan. Setelah seminggu kemudian ia sudah bisa mengerti bahasa Ahe bahkan We’ Irma biasanya sudah terlanjur latah dengan kata Ao’, boh, Ahe dan lainnya.

We’ Irma termasuk orang yang mudah mengerti dan mudah berubah logat bicara.

“Saya juga belajar memakai bahasa Ahe ini dari suami saya ketika ia sedang berbicara dengan ibunya atau ibu mertua saya. Kadang ia mengajarkan saya memakai bahasa Ahe dan kadang juga saya mengajarkan ia memakai bahasa Jawa. Kini anak kami juga biasanya bisa memakai kedua bahasa itu tetapi lebih dominan memakai bahasa Ahe karena tinggal di lingkungan Dayak Kanayatn,” ujar We’ Irma.

Bahasa ini memang menurut beberapa sumber sudah banyak mengalami perubahan kosa kata hingga saat ini. Kosa kata bahasa Ahe akhir-akhir ini sudah hampir mirip dengan bahasa Indonesia juga sudah banyak di serap dengan bahasa Indonesia inilah yang membuat orang mudah mengerti bahasa Ahe.

Beberapa orangtua memang ada yang masih bisa menuturkan bahasa Ahe klasik. Ahe sendiri berarti “apa” sebuah kata yang sering di tuturkan oleh masyarakat Dayak Kanayatn Ahe.

Ketika pulang kampung terkadang saya menyempatkan pergi ke kampung Binuang untuk bersilaturahmi dengan keluarga-keluarga yang ada di Binuang dan saya juga mengunjungi rumah kediaman keluarga We’ Irma karena Pa’ Irma termasuk keluarga dari Ibu saya.

Sangat menyenangkan melihat keluarga mereka, disaat mereka saling berkomunikasi menggunakan bahasa campuran yaitu memakai bahasa Ahe dan bahasa Jawa, kadang saya tertawa ketika mendengarkan bahasa campuran yang mereka gunakan.

Pada saat azan magrib berkumandang mereka tidak lupa mendirikan salat tiga rakaat, sungguh menyenangkan berada di tengah keluarga seperti ini walaupun mereka tinggal di lingkungan mayoritas non-muslim, mereka tidak lupa mendirikan salat yang memang sudah kewajiban bagi umat Islam yang diperintahkan Allah Swt.

“Masyarakat di sini sangat menghormati ketika kami hendak mendirikan salat, di saat mereka menghidupkan musik yang sangat nyaring sontak saja mereka langsung mematikan musik itu, seakan-akan mereka sudah tau jadwal ketika kami ingin beribadah,” ujar We’ Irma penuh syukur.

Kini We’ Irma sudah fasih memakai bahasa Ahe, bayangkan saja dalam seminggu beliau sudah bisa mengerti bahasa Ahe apalagi ia sudah tujuh tahun tinggal di lingkungan Suku Dayak Kanayatn pastinya sudah begitu lancar.

“Setelah saya mengerti dan bisa menggunakan bahasa Ahe, sekarang saya bisa berinteraksi dengan mudahnya, dengan orang-orang yang saya jumpai. Masyarakat dari suku Dayak Kanayatn ini adalah suku yang sangat hangat akan saling menghormati satu sama lain, walaupun itu beda suku, ras, etnis, agama, dan adat istiadat. Saya berharap anak-anak dari Suku Dayak Kanayatn ini dapat melestarikan dan tidak melupakan bahasa ibu atau bahasa Ahe. Saya saja berasal dari Jawa mau ikut melestarikan bahasa Ahe dan tidak malu menggunaakannya kenapa kalian tidak ikut melestarikan seperti itu,” ujar ibu tiga anak itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman