Aku Dilupakan Karena Dianggap Memalukan - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 18 September 2019

Aku Dilupakan Karena Dianggap Memalukan






Penulis             : Yeyen
Penyunting       :Verawati





                   
                                                           ILUSTRASI bahasa - real chats and forums



Korpora.id,Pontianak- Hari demi hari aku mulai dilupakan. Tersisihkan oleh perkembangan zaman. Kehadiranku kadang dianggap memalukan karena cenderung kuno, terbelakang, dan kampungan.
 Kemajuan teknologi dan pengetahuan mengantarkan mereka ke jalan kesombongan. Katanya mereka bangga melisankan bahasa Indonesia yang dicampur adukkan dengan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut membuat aku (bahasa daerah) tak lagi tertata rapi.

“Kalau berbahasa asing, jujur aku merasa keren dan waah begitu,” ujar Nurul Jannah. Nurul merupakan satu diantara anak muda yang suka mencampur adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, lebih parahnya lagi biasanya bahasa Inggris  dicampur  dengan bahasa Daerah. Fenomena ini kian hari semakin berkembang dan secara perlahan dapat mengancam keadaan bahasa Daerah (bahasa ibu).

Bahasa daerah ( bahasa ibu) saat ini hanya seperti butiran debu yang berada di lapangan yang penuh didominasi oleh bahasa asing. Bahasa daerah sebagai cerminan kekayaan bangsa Indonesia, yang kian hari keadaannya semakin tergerus oleh zaman. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dadang Sunendar, seperti dilansir  laman AntaraNews.com, Kamis (21 Februari 2019), mengatakan terdapat 11 bahasa dikategorikan punah,4 bahasa kritis, 22 bahasa terancam punah, 2 bahasa mengalami kemunduran, 16 rentan punah dan 19 berstatus aman. Hal tersebut menunjukkan eksistensi bahasa daerah mengalami kepudaran dan perlu mendapat perhatian.

Pudarnya bahasa daerah tak lepas dari beberapa faktor yang terjadi di masyarakat Indonesia. Baik itu faktor dari dalam maupun dari luar. Misalnya melemahnya sosialisasi bahasa daerah di dalam lingkungan keluarga karena terjadinya kawin campur. Para orang tua cenderung menggunakan bahasaIndonesia saat berbicara dengan anak-anak mereka. Padahal peran mereka sangat penting, dalam mentransferkan budaya daerah khususnya mensosialisasikan bahasa daerah sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Bahkan sebagian anak bangsa tak lagi mengenal bahasa daerahnya.  Selain itu faktor luar juga tak lepas mempengaruhi pudarnya bahasa daerah. Moderenisasi  yaitu kemajuan peradaban yang canggih ibarat kobaran api yang sekejap melahap apapun yang dilaluinya. Kemudahan media dan informasi tak lebih  seperti parasit yang menggorogoti kesuburan bahasa daerah.

Media seperti makelar budaya asing, termasuk bahasa yang menginternalisasikan kepada masyarakat sehingga terbuailah mereka untuk mengikuti trend berbahasa asing  sehingga menganggap remeh akan kelestarian bahasa daerahnya. Bahasa daerah dipandang lebih rendah derajatnya dibandingkan bahasa asing. Semakin sedikit masyarakat yang menggunakan bahasa daerah saat ini, maka jangan heran jika dimasa mendatang, anak cucu kita tidak mengenal  bahasa leluhur (bahasa ibu). Sudah sepatutnya kita membuka hati, mata, dan pikiran untuk kembali membudayakan berbahasa daerah ( bahasa ibu).     
   
Selain itu,faktor pendidikan di Indonesia yang menjunjung bahasa nasional dan mendewakan bahasa internasional seolah mengkebiri bahasa daerah. Genarasi muda lebih melestarikan bahasa yang mereka anggap gaul, keren dan kece. Mereka seolah terhipnotis, tak ada lagi kesadaraan bahwa bahasa daerah adalah bahasa warisan budaya leluhur yang harus dilestarikan. Namun hanya segelintir anak muda masih peduli dengan bahasa daerah, salah satunya adalah Arpian Wahyudi.

Arpian merupakan relawan Indonesia Melestarikan Bahasa Ibu (ILBI). Ia mengatakan banyak manfaat kita menggunakan dan melestarikan bahasa daerah. Selain kita bisa ikut melestarikan Bahasa Daerah  (bahasa ibu) dan kita juga bisa menjadi peneliti dalam bahasa daerah. Selama Arpian melakukan riset atau penelitian tentang bahasa daerah, ia bisa mengetahui bahasa daerah dari daerah lain. “Melalui hal unik yang orang lain tidak mau geluti, melalui itu kita bisa memanfaatkannya, dampaknya kita bisa siaran di Tv jadi narasumber bedah bahasa,” ujarnya.

Namun di sisi lain tak jarang ia mendapat cibiran,“kok masih kau peduli dengan hal seperti itu sedangkan zaman sudah berkembang orang-orang pada malu menuturkan bahasa daerahnya,” ucap Arpian menirukan respon cibiran orang.

Menurut Arpian boleh saja menggunakan bahasa asing agar menambah pengetahuan kita. “Bahasa asing merupakan bahasa internasional tapi ingat cintailah bahasa Indonesia sebagai bahasa identitas diri dan jangan lupa bahasa daerah sebagai kekayaan bahasa di Indoensia,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman