Anak Kampung Dulu Hobi Main Asin - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 18 September 2019

Anak Kampung Dulu Hobi Main Asin

Penulis : Sherly Marselina Tri Lorenza
Penyunting : Yolanda Oktaviani




Korpora.id, Silat Hulu - Senja memupuk mengiring sore berganti malam. Si Anak Kampung yang kini bukan anak-anak lagi, bercerita tentang dirinya yang tumbuh bersama permainan rakyat.

Negeri ini merupakan pelabuhan yang amat kaya akan kebudayaan. Salah satunya dapat dilihat dari jenis permainan rakyat yang beragam. Kita mengenal di antaranya ada lompat tali, tarik tambang, balap karung, balap kelereng, dan lain-lain.

Mari menelusuri haluan kota demi kota, kampung demi kampung hingga berlabuh di salah satu wilayah peradaban yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), yakni Kecamatan Silat Hulu.

Silat Hulu memiliki satu permainan rakyat yang dapat dikatakan sebagai simbol kebahagiaan anak kampung daerah setempat.

Yas (20) salah satunya yang menjadi penikmat kebahagiaan tersebut. Sumringah ekspresinya begitu menceritakan dirinya serta teman-teman sebayanya yang tumbuh bersama permainan rakyat yang bernama Main Asin. Selingan tawa kecil hingga terbahak-bahak mengundang rasa ingin sekali kembali ke masa itu, masa ketika dulu masih menjadi bocah.

Tercatat pada Senin, 16 September 2019 dikediamannya di Kota Pontianak, Yas mengulik kebahagiannya dahulu yang kini menjadi sebuah catatan sejarah. Main Asin merupakan permainan rakyat yang dimainkan oleh enam sampai sepuluh orang yang dibagi menjadi dua tim. Permainan tersebut dahulu sangat populer, hingga pada 2010 mulai redup eksistensinya.

Main Asin hampir mirip dengan permainan Galah Hadang yang dikenal oleh masyarakat Pontianak, atau Gerobak Sodor yang populer di Jakarta dan sekitarnya. Perbedannya, jika pada kedua permainan tersebut memiliki garis hadang horizontal di tengah, Main Asin justru hanya memiliki garis vertilkal yang dibuat dengan pola persegi panjang.

Alur permainannya mirip dengan Galah Hadang. Ada tim yang menjadi penjaga, dan ada pula tim yang menjadi  pengintai.  Ibaratkan sebuah kerajaan, penjaga akan membentuk benteng pertahanan dari pengintai yang berusaha menyusup ke Istana. Apabila penjaga berhasil menangkap pengintai, maka permainan dimenangkan penjaga. Namun, jika pengintai berhasil lolos dan bebas dari penjaga, maka pengintailah yang menang.

”Tidak diketahui asal mulanya nama Main Asin tersebut. Namun, mungkin memiliki filosofi dari kata asin yang merujuk pada keringat pemain yang bercucuran saat melangsungkan permainan,” tutur Yas.

Selain itu, kata Asin digunakan untuk menandakan jika pengintai berhasil memenangkan permainan. Anggota tim pengintai akan mengatakan “Asin!” apabila telah sampai di garis akhir dan keluar dari penjagaan.

Yas mengungkapkan jika dirinya dan teman-temannya dulu hampir setiap hari Main Asin. Di Sekolah, di halaman Masjid, di depan rumah orang, hingga di pinggiran jalan raya pun mereka tidak harus berpikir panjang bila ingin memainkan permainan rakyat tersebut jika tempatnya lapang.

Yas juga mengungkapkan bahwa dirinya merupakan pemain yang cukup diperhitungkan oleh teman-temannya.  Jangankan anak-anak, bapak-bapak dan ibu-ibu pada masa itu juga sangat menyukai Main Asin, bahkan tak jarang mereka turut bergabung sebagai pemain.

Apa yang seru dari Main Asin?

Yas menyatakan, jika permainan itu dilakoni oleh pemin-pemain yang sama kuat, maka permainan akan berlangsung lama dan seru. Ada istilah ‘Akul’ yang menjadi kekuatan utama tim penjaga untuk menangkap pengintai. Akul dilakukan dengan tiarap oleh penjaga untuk menjangkau lawannya . “Kita bakalan senang kalau dapat rekan satu tim yang punya badan tinggi, karena kalau dia akul pasti mudah menjangkau dan menangkap lawan,” tutur Yas.

Yas mengaku bahwa dirinya menentang bila ada orang yang mengatakan masa kecilnya kurang bahagia. Padahal justru rasa bahagia itu tumbuh bersamanya hingga dewasa. Berbeda dengan anak-anak sekarang yang banyak tahu permainan daring dibandingkan permainan rakyat.

Anak kampung dan anak kota kini sama saja baginya.

Tahun kian berganti, Main Asin kini bak hilang dimakan zaman. Jangankan mengetahui alur permainannya, nama permainannya saja mungkin asing ditelinga anak kampung sekarang. Tergerus dan tergusur teknologi. Yas kini datar berekspresi.

Khayalannya yang sebenarnya merupakan kenangan mengharap bila Main Asin dapat kembali menjadi media keakraban anak-anak kampung di daerahnya sekarang. “Toh juga main permainan rakyat bukan berarti tak modern”, tutup Yas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman