Bulat Memanjang Menggoncang Lidah - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 18 September 2019

Bulat Memanjang Menggoncang Lidah



Bulat Memanjang Menggoncang Lidah


    Sumber: @aiyie_ningrum

Penulis            : Tika Wulandari
Penyunting     : Mia Audina

Korpora.Id, Mempawah - Apa yang kalian cari ketika berada di Mempawah? Apakah wisatanya  yang hits dikunjungi wisatawan seperti Jungkat Resort atau Mempawah Magrove Park. Kemudian, apa yang kalian sukai dari kota ini? Apakah bangunan bersejarahnya?

Tahukan kalian judul lagu tradisional yang berasal dari Kabupaten Mempawah. Ya, Galaherang. Tidak hanya itu yang menjadi kebanggaan masyarakatnya. Jika kalian bertandang di sini pada acara Idul Fitri, Idul adha, maupun robo-robo. Tuan rumah akan menyuguhkan jamuan yang menggugah selera.

Siapa lagi jika bukan si bulat memanjang menggoncang lidah yang bernama bontong. Yulianti masyarakat setempat menyatakan bahwa bahan yang diperlukan yaitu pulut, santan, dan garam. Tapi jangan salah, rasanya begitu gurih.

Suasana riuh yang berisi canda tawa akan kurang afdal tanpa muncul makanan ini. Para keluarga besar yang berasal dari kabupaten lain akan menangih kedatangannya.

Dari tampilan kalian akan penasaran dengan rasanya. Segeralah mencoba dan jangan biarkan makanan ini sampai lengah. Bisa saja makanan ini akan disantap dengan lahap oleh sang penyaji.

“Bentuknya unik seperti lemang dan memiliki ukuran yang lebih kecil. Jika tak ada waktu untuk membuatnya, kita bisa memesan kepada masyarakat yang menawarkan jasa. Tapi ingat, pemesan seminggu sebelum acara. Harganya terjangkau sekitar Rp.3.000/butir,” tutur Nursiah sebagai penikmat.

Makanan ini kurang dikenal oleh masyarakat Kalimantan Barat selain warga Mempawah. Terasa asing bagi mereka yang baru mengetahuinya. Bukan berarti kita tak punya kesempatan untuk mengenalnya lebih dalam.  

Mia selaku penikmat menyatakan bahwa makanan seperti ini di Kabupaten Bengkayang tidak dapat ditemukan. Namun, ada yang hampir menyerupai baik segi rasa maupun daun pembungkus yaitu patlau.

Jika kalian ingin merasakan makanan ini selain acara tersebut sangat sulit untuk di dapatkan. Tak seperti lemang yang bisa ditemukan setiap hari di Pontianak. Apabila memesan untuk dibuatkan mungkin saja ada yang  bersedia. Dengan syarat jumlah pesanan bontong tidak sedikit.  

Proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup lama hingga harus bersabar dengan perut meronta. Kata Halifah dengan sumringah selaku pembuat hidangan ini  “Kita harus membuat wadah dengan melilitkan daun pisang pada batang kayu. Masukkan pulut dan santan yang telah dicampur garam. Ikat kedua ujungnya menggunakan tali. Rebuslah bontong pada air mendidih selama lima jam. Kemudian siap untuk diangkat.”

Semua perjuangan kalian tak akan berujung sia-sia. Ketika dandang dibuka akan tercium aroma santan gurih yang menyengat hidung. Asap yang mengepul tak menjadi penghalang untuk segera mencobanya.

Pengolahannya memang terlihat mudah, namun tak jarang ada saja bagian dalam bontong yang masih mentah. Solusinya direbus kembali dan kalian harus setia menanti.

Potong bontong menjadi dua bagian. Menu pelengkapnya berupa opor ayam, sambal udang, atau sambal kepah. Kolaborasi tersebut sangat cocok untuk disajikan. Kehangatan keluarga akan menambah kenikmatan.

Rasa lapar mungkin sudah terlampiaskan dengan makanan utama dan pelengkap. Keringat bercucuran karena hidangan yang nikmat.  Tapi dahaga ini masih tetap membutuhkan air. Es Merah (es serbat) atau teh es menjadi minuman yang tak pernah lepas.

Jika perut sudah terisi waktunya berbincang-bincang dengan sanak keluarga. Selain sebagai hidangan, bontong juga sebagai oleh-oleh untuk keluarga yang mudik. Dengan senang hati mereka akan menerimanya.

Sebagian masyarakat Mempawah khususnya di desa Sungai Purun Kecil membagikan makanan ini sebelum hari raya idul Adha dan  idul Fitri kepada warga non muslim yang ada di dekat rumah atau yang dikenalnya. Tradisi tersebut sudah berlangsung sejak lama. Hal sebaliknya juga dilakukan orang China sebagai tanda terimakasih dengan memberikan kue keranjang pada tahun baru Imlek.

Selama tiga hari makanan ini akan tetap awet. Bila teksturnya sudah berubah, jangan langsung dibuang. Pangganglah dahulu dan bisa dikonsumsi lagi. Jangan khawatir sakit perut. Malah kalian bakal semakin menaruh hati karena rasanya semakin sedap.

Sekarang tak banyak pemuda dan pemudi yang pandai membuatnya terutama dari sarung atau wadah. Apabila tak terbiasa maka ada saja bagian yang bocor sehingga pulut serta campuran santan dan garam tidak bisa dimasukkan ke dalamnya. Kemudian, proses pembuatan yang membutuhkan waktu yang lama membuat mereka enggan untuk belajar.

Hanya ada wajah-wajah lemah dan tulang yang sudah renta menjaga makanan khas Mempawah ini. Jika mereka tiada mungkin saja akan punah. Jangankan untuk berkembang dan dikenali masyarakat luar bahkan tak diketahui anak cucu kita nanti. Sepatutnya makanan ini tetap lestari.

Boleh saja kita mencintai kuliner modern tapi akan hadir kesan berbeda apabila mencicipi makanan tradisional khas daerah sendiri. Bagi kalian yang ingin membuktikan kelezatannya, jangan lupa untuk mencoba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman