EKSISTENSI GULI DI ERA MILENIAL - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 18 September 2019

EKSISTENSI GULI DI ERA MILENIAL

Penulis: Teguh Dwi Julyanto
Penyunting: Wulan Khairun Nisa

Sumber foto: riauberbagi.blogspot.com

Korpora.id, Pontianak- Libur akhir pekan selalu dinanti oleh Yoga, pelajar yang duduk di bangku SMP. Ini adalah saat bagi yoga bisa bertemu dan bermain bersama teman-temannya bukan di lapagan dan halaman rumah, tetapi dalam sebuah video-game perang populer bernama “ PUBG ”.  “ Kita bisa main dalam tim, dua orang atau empat orang. Bagaimana caranya mendapatkan chiken ,” kata Yoga.
Ketika ditanya apakah selain video-game yoga pernah bermain permainan tradisional semasan hidupny dan, yoga pun menjawab pernah memainkan permainan tradisional tapi hanya pada moemen tertentu saja. Yoga mengaku pernah sekali bermain gala hadang karena diminta guru olah raganya. “ Saya main gala hadang, cuma di sekolah saja waktu pelajaran olah raga, ” kata Yoga.
Banyak orang tua, seperti Usman, mengaku tidak secara khusus memperkenalkan mainan tradisional kepada anak-anaknya. Anaknya tahu egrang dan guli karena pernah meliat benda itu di rumah. Sulit main guli di halaman rumah, karena tidak tersedia halaman cukup luas di kompleks tempat tinggal mereka.
Memperkenalkan permainan tradisional juga terkendala makin sulitnya mencari mainan itu sendiri. “ Itu salah satu kendala ya, kendala lain tentu karena anak-anak lebih tertarik main game. Anak saya bilang tidak mau main guli karena susah, ” kata Usman.rce
Peran orang tua memang cukup dominan mengembalikan anak-anak ke permainan tradisional. Suhandi, pernah menyaksikan sendiri, orang tua yang tak mengizinkan anaknya bermain bakiak karena takut kotor. Namun ada juga pengalaman, ketika mereka berkegiatan, sejumlah orang tua aktif terlibat karena terkenang masa kecil mereka. “ Mereka cerita kalau dulu waktu kecil sering dimarahi karena main layang-layang, guli dll. Sekarang mereka malah ingin anak-anaknya main layang-layang daripada sibuk dengan gawai dan menghabiskan kuota, ” kata Suhandi.​
Gawai memang menjadi kendala besar untuk mengembalikan anak-anak ke permainan tradisional. Banyak orang tua memberikan gawai, dengan prinsip agar anaknya tak rewel. Padahal itu menjadi candu bagi anak-anak. Suhandi menambahkan untuk mengubah kebiasaan itu, harus ada pihak lain yang bermain di sekitar anak-anak itu untuk menimbulkan daya tarik. Metode semacam itu biasanya manjur diterapkan, dan membuktikan bahwa yang dibutuhkan anak-anak adalah contoh untuk diikuti.
Selain itu, perlu adanya peran pemerintah dalam melestarikan permainan tradional ini agar tetap terjaga di kalangan anak-anak  di Pontianak, jangan sampai permainan tradisional seperti guli ini dilupakan dan punah karena digerus oleh zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman