"Memetik dengan Jari" - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 18 September 2019

"Memetik dengan Jari"


Penulis        : Evrosina Ersa Mandayu
Penyunting : Mutiara Ramadhan



Korpora.id, Mantonyek- Suatu karya seni yang indah dihasilkan dari alat Tradisional suku Dayak yang benama Sape, salah satu jenis alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik bentuknya sama seperti gitar namun memilki gagang yang pendek, senar yang digunakan 3-4 senar dan sape diukir dari sebuah batang kayu tunggal.

Lelaki berumur 20 tahun ini sangat mencintai budaya Dayak, namanya adalah Yogi iya sangat mencitai budaya Dayak dalam dirinya selalu tertanamkan belajar terus menerus supaya mahir memainkan alat musik sape ini, sapek menurutnya adalah alat music Tradisonal dari orang hulu “orang hulu sungai) yang tinggal di rumah-rumah panjang disepanjang sungai Kalimantan.

Yogi berasal dari Mantonyek sebuah Desa yang berada di Kecamatan Mempawah Hulu, iya dan Kakak laki-lakinya mempunyai jiwa seni yang sanggat luar biasa, mereka sering mengikuti lomba-lomba kusus sape. terahir iya dan kakak nya mengikut lomba yang diadakan di Rumah Betang yang dberada di Pontianak pada bulan April lalu dan mereka mendapatkan juara harapan 1;, meskipun bukan juara 1 tapi mereka tidak putus asa selalu belajar lebih dalam lagi karena menurut mereka kekalahan hal biasa.

Mengapa harus Sape, kenapa tidak memilih alat musik lainnya?

“Memang susah untuk menjawab kenapa memilih sape, namun seiring berjalannya waktu saya jadi bisa menjawab pertanyaan ini, pertama ini adalah alat tradisonal suku Dayak, kedua hati saya tenang saat mendengarkan suara saat sape di petik, ketiga karena memang alat inilah yang saya miliki,” jawab pria yang akrab di panggil yogi ini.

Awal April 2019 mereupakan momen penting baginya, saat itu, menetapkan hati untuk lebih giat belajar alat Tradisonal ini karena pada saat itu ya harus mengikut perlombaan sape yang diadakan di Rumah Radakng Pontianak, ini menurut nya momen pertama kali iya mengikut perlomaan ini, karena menurutnya pasti yang mengikut acara ini bukan orang biasa-biasa mereka pasti sudah mengikuti perlombaan selain ini.

Dalam minggu-minggu sebelum hari H lomba dimulai dirinya berlatih terus menerus dan iya menanamkan pada dirinya percaya diri selalu ingat Tuhan karena menurut nya Tuhan adalah penuntun baginya. Usaha apa saja yang anda lakukan?

“Sebelumnya harapan saya sudah lemah saat saya melihat yang daftar adalah orang-orang yang cukup mahir dibidang sape ini, namun kali ini saya dibangkitkan oleh samanggat dari orang-orang terdekat saya mereka selalu memberikan samnggat kepada saya agar bisa melanjutkan perlombaan dan tidak lupa belajar dan selalu belajar.

Untuk mematangkan pikirannya yang goyah akan hal yang bisa membuatnya jatuh, ia ahirnya mencari dukungan sana-sini. Pengalaman dari kakak nya yang sudah lama terjun dalam dunia seni Sape, serta dukungan dari teman nyatanya lebih tepatnya kekasinya mampu mendorongnya untuk bangkit. Yogi kembali memaknai kemampuan sebuah mimpi yang belakangan membuatnya goyah, dengan semangat yang iya miliki serta dukungan yang iya daptkan iya mampu bangkit untuk mengapai mimpi itu agar menjadi sebuah kenyataan yang bisa diraih.

Waktu tiba minggu ketiga di bulan april 2019, iya menjalani seleksi pertama  iya berada dalam urutan ke-32, seleksi ini adalah momen yang menentukan bahwa iya layak atau tidak layaknya berlanjut pada sesi kedua yaitu acara utamanya yang merbeutkan juara 1 2 dan 3.

Dalam selesksi yang pertama ini yogi hanya bisa meraih juara harapan dengan artian dia tidak bisa melanjutkan seleksi selanjutnya. Perasaan yang anda rasakan saat itu?

“Pertama saya kecwa pada diri saya sendiri, tapi saya berpikir lagi mungkin kegagalan ini bisa saya jadikan pelajaran untuk lebih baik kedepannya,”

Sebagai penutup pembicaraan kami siang itu, yogi mengatakan kepada semua anak muda yang berkarya walaupun gagal yakinlah kegagalan itu sebagai pelajaran untuk lebih baik lagi kedepannya.

“Ketika dalam usia remaja jangan pernah berpikir bahwa hal yang harus dilakukan hanya 1 saja masih banyak pengalam-pengalaman menari diluar sana yang menunggu untuk dijadikan sebagai pengalam hidup yang sunguh luar biasa yang tidak akan dihapus oleh kenangan, karena karya-karya yang kita hasilkan akan dinikmati oleh keturun kita,”

Terimakasih atas kesediaan mu Yogi, kau dan semanggat mu telah menginspriasi kami sebagai pebikmat seni….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman