Nyapat Tautn Kendawangan yang Tergerus Zaman - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 18 September 2019

Nyapat Tautn Kendawangan yang Tergerus Zaman


Nyapat Tautn Kendawangan yang Tergerus Zaman

Penulis : Yolanda Oktaviani
Penyunting : Silvia Nada Ariska




Korpora.Id, Ketapang- Matahari menyongsong dari arah timur, diikuti kicauan burung. Menyambut hari besar bagi petani Ketapang.
Masyarakat Ketapang di sibukan dengan persiapan sesajen. Sesajen yang berisi sesisir pisang, nasi ketan warna warni, dan ayam panggang terdiri dari beberapa ekor  telah siap untuk di hidangkan.

Para orang tua dan tumanggung sudah bersiap-siap untuk melakukan Ritual sakral, yang sulit diterima akal sehat ini akan segera dilaksanakan. Tepat saat matahari di ujung tombak.
Kalimantan Barat merupakan Provinsi yang terkenal dengan adat, budaya, suku dan bahasa. Nyapat Tautn salah satunya. Budaya lokal yang hampir punah ini patut untuk dilestarikan.

Nyapat Tautn atau yang lebih dikenal dengan Gawai Nyapat Tautn ini dilaksanakan setahun sekali. Tepat sebelum menurunkan benih/beneh padi (menyemai padi). Suku Dayak Kendawangan melaksanakan ritual ini rutin setiap tahunnya.“bersyukur atas hasil padi yang didapat dari tahun sebelumnya, dan berharap atas kelimpahan dalam berladang dan untuk  buah-buahan supaya berbuah lebat.” Ungkap Priatna seorang gadis Desa Karangan, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang menuturkan tujuan dari Nyapat Tautn ini.

Nyapat Tautn dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada sang Maha Agung yang memberikan keberkahan atas hasil bercocok tanam. Sesajen yang berisi makanan lengkap setelah dibacakan mantra-mantra oleh tumanggung atau pemangku adat. Di letakan tepat di empat penjuru mata angin atau di setiap ujung kampung.

Pemangku Agama berpendapat bahwa budaya seperti Nyapat Tautn melanggar nilai-nilai agama. Karena menganggap sesajen merupakan bentuk sopan santun kepada “Makhluk Halus”. yang termasuk dalam kategori pihak lain (Alam, Makhluk Halus, Sesepuh, Orang lain, dll). Oleh sebab itu banyak berpendapat kegiatan seperti ini sirik. Tetapi kegiatan yang berlangsung ini ketika dilakukan memiliki dampak yang begitu berarti bagi petani yang merasakan hasil panennya meningkat.

Nyapat Tautn tidak hanya dilaksanakan masyarakat Marau, Kab. Ketapang. Tetapi di sisi lain, Sukadana dan Melano juga menerapkan rutin setiap tahunnya. Perbedaanya hanya terletak pada waktu pelaksanaan dan tempat. Oleh sebab itu, dalam revitalisasi budaya Nyapat Tautn  harus di jaga dan dilestarikan, supaya tidak habis tergerus Zaman.

Penduduk Desa meyakini Nyapat Tautn memang patut dilestarikan, dan sudah semestinya cagar budaya ini patut untuk kita kembangkan. Mengingat perkembangan zaman yang signifikan dengan mode globalisasi yang terus berkembang Nyapat Tautn ini semakin tidak diperhatikan oleh masyarakat-masyarakat tertentu.

Hanya daerah-daerah pedalamanlah yang sampai saat ini masih melestarikan. Jika dilihat tradisi kebudayaan Nyapat Tautn ini hampir sama dengan kebudayaan orang melayu. Melayu Kubu Raya, tepatnya  di Padang Tikar juga melaksanakan ritual rutin setiap tahunnya yang lebih dikenal dengan sebutan Tolak Balak (Tolak bale). Tolak Balak dilakukan setiap ada masalah-masalah yang timbul di kampung. Seperti kekeringan, hasil laut yang kurang, orang kampung yang sakit-sakitan, atau ada hewan laut yang naik kedaratan.

“Ritual ini di lakukan orang kampong yang dipimpin oleh dukun kampong, dengan membuat dan membawa ketupat  lepas laki-laki dan perempuan sebanyak dua kali tujuh. Di makan lalu di antar ke laut, tujuannya untuk memberi makan penghuni laut.” Tutur Mansur masyarakat Padang Tikar.

Tolak balak dilakukan setahun sekali, tujuannya supaya mendatangkan kemakmuran di Desa tersebut.Nyapat Tautn dan Tolak Balak merupakan dua cagar budaya yang harus di kembangkan dan dilestarikan, supaya tidak habis tergerus zaman. Mengingat negeri yang kaya akan budaya tetapi kurang pedulinya masyarakat dengan adat dan budaya yang hampir punah.

Itulah tugas kita untuk sama-sama menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang patut di jaga dan di kembangkan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman