Wisata Religi, Ke Makam Kesultan Kadriah Pontianak - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 18 September 2019

Wisata Religi, Ke Makam Kesultan Kadriah Pontianak

Penulis : Wulan Khairun Nisa
Penyunting : Bella Afrilla Luciani







Korpora.id, Pontianak- Lelaki paru baya yang sedang merapikan makam bercerita “ bahwa dokumentasi tulisan dan peratan perang milik  sultan syarif abdurahman  sudah hilang dengan adanya jual beli yang dilakukan oleh anak cucuk yang tidak bertanggung jawab, ia mengatakan bahwa barang-barang yang ada sekarang hanyalah reflika dari barang aslinya. diatas makam ada tempayan yang konon katanya tempanya yang ada diatas makam mau ditukar dengan replika  untuk diperjual belikan, namun allah tidak menghendaki sehingga secara tiba-tiba tanpa angin dan hujan tempayan itu pecah dengan sendirinya dan pecahan tempayan itu pun hilang. Sekarang yang terpasang hanyalah replika, sehingga tempayan itu tidak  bisa diperjual belikan lagi” ujar Abdul Mutalib dengan menghelang nafas yang panjang.

Sebelum menjadi makam kesultanan, tempat tersebut dulunya merupakan sebuah tempat peristirahatan sultan Syarief Abdurrahman setelah pulang berpergian jauh. Kemudian, tempat peristirahatan tersebut dibagun atau direnovasi menjadi sebuah balai untuk tempat berdiskusinya para sultan.

Ditempat  balai tersebut, dibuatlah sebuah mushalla dan pada akhirnya dirubah menjadi makam sultan Syarief Abdurrahman serta makam-makam keluarga sultan lainnya..
Suatu ketika  sultan Syarief Abdurrahman melihat cahaya dari tempat tersebut yang akhirnya dapat meyakinkan dirinya memilih tempat tersebut sebagai tempat untuk makamnya.  Konon katanya asal usul nama Batu layang,

Batu tersebut dilihat oleh sultan Syarief Abdurrahman, batu itu tidak seperti batu pada umumnya  yang akan tenggelam bila ada di atas sungai, tetapi batu terlihat melayang-layang di atas sungai kapuas dan kemudian jatuh di tepi sungai tersebut.
Ditepi sungai kapuas tersebut juga terdapat sebuah meriam peninggalan sejarah yang disebut meriam istimewa. Meriam itu biasanya digunakan atau dipakai pada hari raya islam yaitu hari Raya Idul Fitri. 

Lima puluh buah meriam yang dipakai untuk melawan serangan dari tentara Jepang dan Belanda saat meriam-meriam tersebut dibawa menggunakan kapal oleh tentara Jepang dan Belanda, tiba-tiba di tengah perjalanan ada satu meriam yang tidak bisa dibawa oleh mereka karena meriam tersebut dapat berpindah sendiri dari kapal ke tempat asalnya yaitu di tepi sungai kapuas. Meskipun tentara Jepang dan Belanda berulang kali kembali dan berhasil untuk membawa satu meriam yang tertinggal itu tapi di tengah perjalanan meriam itu hilang dan kembali ke tempat semula. pada akhirnya tentara Jepang dan Belanda putus asa dan meninggalkan meriam itu ditempatnya. Selain bisa berpindah-pindah tempat sendiri.

Meriam tersebut juga memiliki kelebihan yang lain yaitu jika ada seseorang yang memasukkan rumput atau lidi yang panjangnya sejengkal tangan ke dalam meriam serta dibacakan sholawat sebanyak tiga kali maka setelah diambil keluar dari dalam meriam, rumput atau lidi tersebut menjadi lebih panjang dari ukuran sebelumnya.

Makam, batu, dan meriam itu menghadap ke arah pulau yang ada di tengah-tengah sungai kapuas. Asal-usul pulau kecil yang ada di tengah-tengah sungai kapuas ada sebuah kapal yang berasal dari China yang berusaha memasuki wilayah kota Pontianak tetapi kapal itu tertahan di tengah sungai kapuas dan mendapatkan peringatan dari sultan Syarief Abdurrahman, karena orang yang ada di kapal tersebut tidak ingin mengundurkan niatnya dan tidak dapat memberi perlawanan ketika meriam di tembakkan ke arah kapal tersebut maka kapal itupun tenggelam di tengah sungai kapuas tersebut. Kapal China itu juga disebut wangken. Karena tenggelamnya kapal China itu, maka seiring berjalannya waktu terbentuklah sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni menurut Syarif Usman Al Qadri salah satu keturunanya.

Sebelum memasuki daerah pemakaman, ada beberapa aturan yang harus diikuti yaitu diharuskan berwudhu, badan dalam keadaan suci, dan melepaskan alas kaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman