Tradisi Ngamping di Masyarakat Sambas - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 20 Oktober 2019

Tradisi Ngamping di Masyarakat Sambas


Penulis               : Yeyen
Penyunting        : Verawati

Tradisi Ngamping di Masyarakat Sambas


Warta Handayani



Korpora,id.Sambas- Alunan alu terdengar menggema, saling bersahutan membentuk harmonisasi nada. Satu persatu padi dalam lesung menjadi pipih akibat serangan tenaga dari ibu-ibu perkasa. Tradisi yang harus tetap dijaga walau peradaban sering menyapa. Iya, Ngamping namanya.
Ngamping adalah suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Melayu Sambas. Tradisi ngamping ini dilakukan setelah panen padi atau orang Sambas bilang “laka’ beranyi”. Ngamping merupakan suatu kegiatan, dan amping adalah hasil dari proses ngamping.

Amping  merupakan kuliner tradisional Sambas, yang terbuat dari hasil olahan padi yang setengah matang. Cara pembuatan amping ialah padi yang dipanen, lalu bulir padi tersebut di sangrai kurang lebih lima belas menit sampai adanya letupan padi  yang terdengar dari proses menyangrai. Lalu ditumbuk dalam lesung.

Setelah padi di tumbuk, ditampik sampai bersih dari ampas. Untuk  menambah rasa manis dan gurih di tambahkan garam sedikit dan  gula pam   sir atau gula merah Lalu amping tersebut dicampur dengan parutan kelapa. “Akan lebih nikmat lagi apabila kelapa yang digunakan tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.” Ujar Setiana(43). Hampir tiap tahun tradisi ngamping ini ia lakukan.

Kegiatan ngamping ini sebagai wujud syukur masyarakat  terhadap hasil panen. Menurut Setiana, di desa mereka yaitu Desa Samustida kegiatan ngamping ini dilakukan sebelum panen dan setelah panen. Ngamping sebelum panen padi diharapkan terhindar dari bala. Parang, cangkul, dan segala  benda tajam yang berkaitan dengan  bertani dikumpulkan lalu amping tersebut di hamburkan ke peralatan bertani. Sedangkan ngamping setelah panen, dimaksudkan sebagai wujud syukur  telah selesai panen. Biasanya ngamping setelah panen ini lebih seru karena dilakukan beramai-ramai.

Hajijah (77) mengatakan dahulu ngamping selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Ngamping bisa dikatakan  seperti merayakan kemenangan setelah kerja keras mereka dalam bertani. “Kalau cerite nak ngamping suke inyan, beulo’an ngerajekannye dan makannye.”ujarnya dengan semangat.

Dalam proses ngamping setiap orang memiliki tugas masing-masing. Ada yang menyangrai padi, menumbuk, menampik dan memarut kelapa.  Kegiatan ngamping ini dapat mempererat tali persaudaraan dan silaturahmi karena dalam pembuatan amping  dilakukan secara gotong- royong.

Hal yang menarik dalam ngamping adalah proses menumbuk padi dalam lesung.  Pada saat menumbuk akan menghasilkan bunyi yang berirama karena pertemuan antara lesung dan alu. Menumbuk amping biasanya dilakukan dua orang atau lebih bahkan dalam satu lesung bisa ditumbuk oleh lima orang.

Bisa kita telaah bahwa dalam menumbuk amping harus berkesinambungan, adanya keselarasan, dan keserasian antara satu orang dengan yang lainnya. Sehingga menimbulkan harmonisasi nada atau irama yang indah. Pada proses menumbuk amping  bisa kita ambil pelajaran hidup yang dapat di terapkan dalam kehidupan bermasyarakat yaitu semangat kebersamaan, toleransi, keserasian dan menjaga kekompakan satu sama lain.

Lesung dan alu yang digunakan pun tidak sembarang, harus  terbuat dari pohon pilihan yaitu pohon Leban. Menurut Hajijah biasa dipanggil uan Jijah, lesung dan alu terbuat dari batang leban dan diambil dari udas (hutan rimba).”Pohon ini dipilih karena kuat dan tahan lama, ketahanannya bisa mencapai puluhan tahun.”pungkasnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman