Berattep (Barek Uttan) - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 10 November 2019

Berattep (Barek Uttan)


Penulis             : Yeyen
Penyunting      : Verawati

Sumber foto:docplayer.info

Korpora.id,Sambas-Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa tersebut tak asing terdengar oleh kita. Lain daerah lain pula aturan dan adat istiadatnya. Begitu pula halnya dengan aturan dan adat istiadat yang ada di Sambas.
Kabupaten Sambas merupakan daerah yang memiliki kekayaan budaya dan adat istiadat yang sangat luar biasa. Contohnya saja kebudayaan yang satu ini yaitu Berattep.
Menurut La’u selaku ketua adat di Desa Samustida Kecamatan Teluk Keramat menjelaskan berattep merupakan suatu tradisi untuk memulai bercocok tanam. “Berattep adalah adat yang memang turun temurun dari nenek moyang. Kegiatan ini dilakukan untuk memulai bercocok tanam padi.”
“Untuk melakukan berattep tidak sembarangan dilaksanakan namun, kita harus berdiskusi dengan ketua RT, masyarakat, kepala desa agar kegiatan tersebut bisa bejalan lancer,” tambahnya.
Berattep atau biasanya masyarakat setempat menyebutnya barek uttan memang dilakukan setiap tahun. Tujuannya agar mendapatkan hasil padi yang melimpah dan dijauhkan dari hama.

Dalam ritual berattep memiliki beberapa proses dan alat yang harus disediakan untuk kelangsungan ritual tersebut seperti beras kuning, rateh, telur matang, telur mentah, rokok gontal dan sebagainya yang disiapkan oleh ketua adat. Selain itu masyarakat di himbau untuk membuat ketupat.
Menurut La'u bahan- bahan tersebut digunakan untuk berkomunikasi dan memberi makan roh nenek moyang ataupun penjaga hutan agar tidak mangambil dan menganggu tanaman masyarakat.
Khususnya di Desa Samustida Kecamatan Teluk Keramat, ritual dilakukan dengan setiap orang turun dan ikut serta berjalan dari ujung kampung (titik kumpul) sampai ke ujung kampung (titik akhir yang telah ditentukan) sambil membacakan shalawat. Tak lupa setiap orang membawa ketupat dan air, dan dimakan bersama-sama saat sampai di titik terakhir. Namun, sebelum itu ketua adat membacakan mantra terlebih dahulu ketika ada aba-aba barulah masyarakat memakan ketupat yang dibawa tadi.

Menurut ketua adat tersebut hal tersebut meminta izin ke penjaga hutan (roh nenek moyang) bahwa akan dilaksanakannya masa menyemai padi dan musim bercocok tanam akan segera dimulai. Harapannya agar roh nenek moyang dapat membantu agar masyarakat mendapatkan hasil panen yang melimpah dan tanaman padi terhindar dari hama. Setelah itu masyarakat juga mengambil air tawar (air penolak bala) yang telah dibacakan mantra oleh ketua adat. Biasanya saat memulai menyemai benih padi, air tersebut di siram ke benih padi yang akan disemaikan.

Dalam ritual berattep juga ada pantangan yang harus di patuhi oleh masyarakat. Selama ritual berattep dilaksanakan masyarakat dilarang untuk menebang kayu dan masuk ke dalam hutan.  “Masyarakat tidak boleh melewati zona terlarang yaitu dari belakang rumah sekitar 15 meter ke hutan, lewat 15 meter sudah menjadi wilayah mereka (makhluk gaib) maka jika ada yang melanggar akan mendapatnya (bala). Pantangan tersebut berlaku selama ritual berattep itu berlangsung yaitu satu hari,” tutupnya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman