Pakaian Sultan, Kearifan Lokal yang Lampaui Nilai Berlian - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 10 November 2019

Pakaian Sultan, Kearifan Lokal yang Lampaui Nilai Berlian


Penulis : Sherly Marselina Tri Lorenza
Penyunting : Yolanda Oktaviani



korpora.id, Pontianak – Panas terik membawa hawa yang menyesakkan bila saat itu kami tidak berada di dalam ruangan yang memiliki pengatur suhu. Siang terang benderang sebab matahari bersinar begiru riang.

Saat itu, kami berada di salah satu ruang kelas kampusnya para calon guru di Universitas Tanjungpura. Kami berbincang hangat, berbagi pengetahuan, dan membahas atau mengenang hal-hal yang disebut kebudayaan. (Rabu, 5 November 2019)

Tatiyana (20) adalah satu diantara generasi muda yang amat peduli dan sangat membuka diri dalam upaya pelestarian kebudayaan yang dimiliki Kalimantan Barat. Gadis yang juga merupakan pegiat sastra lisan ini, namanya cukup dikenal oleh kalangan mahasiswa dan gugus komunitas-komunitas yang sarat akan visi melestarikan kebudayaan.

Dalam perbincangan hangat yang kami langsungkan tersebut, Tatiyana membagikan informasi serta wawasan mengenai salah satu pakaian adat Kalimantan Barat, yakni Telok Belanga. Telok Belanga merupakan pakaian adat suku Melayu dan umat Muslim setempat.

“Dulunya pakaian ini sering digunakan oleh Sultan-Sultan atau yang keturunan para raja. Telok Belanga ini bisa dikatakan sebagai pakaian sehari-hari mereka,” ujar anggota Perkumpulan Orang Melayu (POM) Pontianak tersebut.

Dengan pelan dan lembut, Tatiyana juga menjelaskan unsur dari Telok Belanga, dimulai dari tanjak yang dipakai di kepala, kain sampin hingga celana yang tidak melebihi mata kaki. Dikatakannya juga bahwa Telok Belanga kini khusus dikenakan oleh laki-laki.

“Sebenarnya dulu juga dipakai perempuan. Maksudnya, pakaian yang dikenakan perempuan itu namanya serupa tetapi berbeda jenis. Tetapi, seiring perkembangan zaman, nama untuk pakaian perempuannya sekarang bukan lagi Telok Belanga melainkan Baju Kurung,” jelas Tatiyana.

Perbincangan semakin larut dalam nuansa keheningan ruangan yang di dalamnya hanya ada sekitar lima orang saja. Tatiyana pula tak hilang semangatnya untuk membahas perihal kearifan lokal ini.

Waktu seakan mendukung perbincangan itu dengan seolah-olah membuat hari tak cepat petang. Siang masih menyengat hingga yang niatnya ingin pulang pun jadi enggan. Kami tetap melanjutkan topik yang semakin lama memberikan kesadaran akan pentingnya pelestarian kebudayaan.
                                         
Sebagai orang yang aktif berkontribusi dalam kegiatan adat atau kebudayaan, tak lupa pula Tatiyana juga berbagi informasi terkait harga Telok Belanga yang syukurnya hingga saat ini masih banyak dipasarkan. Menurutnya, untuk dapat memiliki Telok Belanga tidaklah susah.

“Harganya itu bervariasi dan tergantung bahan. Kalau yang biasa itu bisa 200 ribuan. Nah, yang bahannya bagus pastinya lebih mahal. Kita bisa beli di toko atau butik yang memang secara khusus menjual Telok Belanga, kalau misalnya ingin mendapatkan kualitas yang baik. Bisa juga misalnya kita sewa di ormas kebudayaan atau kesenian daerah, pasti mereka punya dan bisa disewakan,” tutur gadis yang merdu bila bersyair itu.

Sebuah kekayaan yang tak ternilai tentunya jika sampai hari ini kearifan lokal masih digalakkan pelestariannya. Dan kita patut berbangga karena sampai detik ini Telok Belanga masih sangat mudah untuk dijumpai, disewa, bahkan dibeli.

“Harapannya jangan sampai warisan leluhur ini menjadi langka dikemudian hari nanti. Kasian anak cucu kita kalau mereka tidak mendapat bagian dari warisan nenek moyangnya,” tutup Tatiyana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman