Kemarin Begini, Sekarang Begitu, Besok Harus Berubah - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 09 Juli 2020

Kemarin Begini, Sekarang Begitu, Besok Harus Berubah


Penulis                    : Sherly Marselina Tri Lorenza
Penyunting              : Bela Margareta

Narasumber, Ayta Riana saat sedang berada di sebuah kafe di Putussibau
(Sumber: Dokumen Narasumber)

Nanga Dangkan, 30 April 2020

Semilir angin menyelimuti ketika saya manyalakan mesin motor satria-F.

Gasnya dipacu menuju desa seberang, desa yang merupakan tanah kelahiran, dan tempat di mana kami menghabiskan masa kecil.

Tujuan ke desa yang bernama Nanga Dangkan tersebut, tidak lain dan tidak bukan ialah ingin menyambangi kediaman teman lama, teman masa kecil yang sampai hari ini kami masih suka bermain bersama meski tidak sebandel dulu.

Sepanjang jalan yang ditempuh saya berpikir sembari melihat jalan ke depan waspada akan adanya batu atau jalan berlubang.

Saya memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang akan saya ajukan, dan memikirkan pula kira-kira bagaimana jawabannya?

Perjalanan ditempuh dengan melewati kawasan yang kami sebut pasar.

Di situ ada toko-toko sembako, toko-toko bangunan, toko-toko pakaian, konter pulsa, bengkel, hingga rumah makan.

Dari pasar itu berbelok ke persimpangan sebelah kiri jika dari lajur rumah saya, menuju sebuah jembatan yang baru saja rampung dibangun awal tahun 2020 ini. Bukan main, jembatan itu diresmikan langsung oleh menteri PUPR Kabinet Indonesia Maju.

Menyebrangi sungai.

Seketika teringat bagaimana dulu kami mandi bersama ketika masih bocah dengan hanya mengenakan singlet dan celana pendek, lalu mandi berjam-jam. Mata kami sampai merah jika mandi kelamaan.

Tak terasa, akhirnya tiba di depan dua buah rumah, dan saya memarkirkan motor di antara keduanya.

Dua buah rumah itu, yang satunya berfondasikan kayu-kayu tua namun masih kokoh berdiri, dan yang satunya kombinasi semen dan kayu, rumah baru ceritanya.

Rumah lama (Sumber: Dokumen Pribadi)

Rumah Baru (Sumber: Dokumen Pribadi)


Rumah yang memiliki desain khas melayu pesisir yang memiliki kolong di bawahnya itu saya naiki, ya, rumah yang baru itu.

Tidak lupa salam saya ucapkan, dan terdengar jawaban salam dari arah dapur.

Sudah menjadi kebiasaan di daerah kami masuk rumah orang tanpa perlu izin meski hingga ke dapur, namun tetap memelihara sopan dan santun.

Dua kakak beradik sedang menyiapkan bahan makanan rupanya.

Mereka mengiris-iris bawang, memotong sayur-mayur, dan turut membuat takjil untuk berbuka puasa nanti.

Ya, kunjungan ini berlangsung pada bulan Ramadan ke rumah mereka.

Ayta dan kakaknya, Meri kelihatannya sedang sangat sibuk. Namun, saya tahu sesibuk-sibuknya mereka pasti sangat senang jika ada bahan obrolan yang dijadikan topik berbincang.

Kesempatan itu tidak mungkin disia-siakan.

Ayta sudah tahu jika hendak diwawancarai, akan tetapi melihat mereka yang sedang bekerja di rumah, tidak enak rasanya jika harus meminta ruang dan waktu khusus.

Dia mengenakan baju Kicus, baju kebesaran geng kami saat SMA dulu.

Geng yang sejak kelas sepuluh sudah bersaing dengan kakak kelas. Kami sering dihukum karena kerap membuat ulah, seperti jajan pada saat jam pelajaran.

Ayta memiliki perawakan yang cukup ayu, matanya bulat, badannya kurus, tinggi badannya tidak jauh berbeda dengan saya. Sekitar 160-an cm.

Kulitnya coklat, rambutnya keriting bergelombang.

“Kok hp mu foto ponakanmu?” Ayta, ditolehnya gawai abang saya yang saya pinjam, musabab punya saya sedang rusak.

Lantas saya menjawab jika itu bukan milik saya..

Dia memotong-motong wortel dengan ukuran sedang sambil bertutur.

Hal pertama adalah cerita masa SD.

“Nyai nya Maya dulu suka datang ke sekolah kalau kita yang satu bangku.” Begitu katanya sambil tertawa kecil.

Saya duduk di sebelahnya, agak sulit melihat ekspresi gadis itu.

Hal yang dikenangnya sebenarnya adalah sebuah kesedihan, mereka yang dari segi moral dan material kalah tentu kesulitan angkat bicara ketika yang mampu mulai membidik panah.

Persoalan bangku di kelas saja bisa menjadi masalah besar. Alhasil dia kerap mengalah.

Meski tak diperkenankan untuk bicara juga, Meri menyambar.

Ia bercerita tentang rumah keluarganya dulu yang berada benar-benar tepat di kaki bukit Sagu, yang kalau kami bilang berada di darat.

Jika saja terjadi longsor tengah malam, habislah bangunan dan nyawa penghuninya.

Saya kemudian terbayang bentuk rumah itu yang kini tanahnya sudah dibangun rumah orang lain. Ukurannya tidak lebih luas dari kos-kosan satu pintu di kota-kota besar saat ini.

Hidup satu kepala keluarga beserta istri dan dua anaknya kala itu.

“Kalau ingat perjuangan bapak sama mamak dulu, beras saja kita kesulitan dapat untuk makan. Tapi berkah tanah Kalimantan yang subur dan lebat. Sawah, kebun karet, keluarga besar kami punya semua. Cuma ya, masih kecil mana tau apa-apa. Lepas bermain, pulang ke rumah kalau tidak tinggal makan, atau minta ke rumah bibik di depan.”

Ceritanya rumah mereka dulu dipunggungi rumah-rumah di depannya. Di pinggir hutan.

Bertahun-tahun mereka tinggal di rumah itu, sampai akhirnya ada keluarga pedagang yang memberikan rumahnya untuk keluarga Ayta.

Rumah itulah, rumah lama yang berfondasi kayu di sebelah.

Ayta terus menunduk sambil tetap berinteraksi dengan pisau dan sayur-mayur yang dipotongnya. “Kamarnya satu dibagi dua, untuk bapak dan mamak dan untuk aku sama kakak.”

Rumah itu dulu sudah terbilang besar, akan tetapi kini sangat memprihatinkan.

Sedari SD hingga SMA, kami sselalu belajar di kelas yang sama.

Entah, apakah seerat itu persahabatan kami atau hanya kebetulan belaka?

Banyak hal yang saya ketahui tentang dia, tetapi ada pula yang tidak.

“Almarhumah mamakmu dulu garang. Sekarang anaknya sok jadi wartawan. Dulu kamu kan pemalu,” Suasana mencair ketika tuturan itu dilontarkan Ayta.

Tulisan ini bukan tentang saya, tetapi tentang dia. Saya berkata jangan bully saya dulu sebelum saya selesai merekam percakapan kami karena nanti mau ditulis.

Di sekolah, Ayta mengatakan jika dirinya bukanlah siswa yang terbilang pintar, tetapi diakuinya jika dia adalah anak yang rajin.

Bukan rajin belajar, hanya rajin mengerjakan tugas.

Dia kembali menggoda saya dengan memberikan memori bagaimana dulu saya suka meminjam catatannya untuk disalin sebab saya yang malas mencatat ketika di kelas.

“Demi tetap sebangku, kursi meja kongsi bertiga pun tidak apa kalau dulu,” dengan perlahan dia menoleh ke kiri ke arah saya untuk berkata begitu.

 “Orang tua dulu kalau nyuruh anaknya belajar hanya menyuruh, tidak pernah digerakkan betul-betul. Makannya banyak yang degil.”

Degil itu istilah dalam bahasa Melayu yang artinya tidak bisa ditegur.

“Udahlah keluarga hidup susah, anak pun pintar pintar bodoh,” mendengar itu Meri tertawa.

Untungnya sekolah di sini dulu belum memberlakukan SPP setiap bulan, hanya ketika mulai kelas sebelas SMA saja.

Ayta bisa tetap bersekolah dengan nyaman dan terbuka.

“Waktu SMP kelas A. SMA kan kita angkatan percobaan ya, sepuluh MIA setengah semester, abis itu kelas tanpa jurusan lagi. Kelas sebelas sampai lulus, Alhamdulillah IPA.”

Saya berpindah posisi duduk menjadi di depan kiri Ayta, supaya dapat melihat raut wajahnya ketika bercerita.

Dia melanjutkan kenangnya, kalau kami dulu dibekali uang sekolah lima ribu maka dia bisa sama, tetapi jika bekal kami sepuluh ribu, dia tetap separuhnya.

“Sarapan dulu sebelum berangkat sekola supaya tidak cepat lapar. Kalu mau uang jajan banyak, nabung dulu. Pas SD masih enak, harga semangkuk bakso Cuma dua ribu.”

Ayta menatap saya dengan mata berbinar, bibirnya membuka dan dilebarkan memperlihatkan gigi-giginya. Saya tidak mengerti itu senyum jenis apa.

“Kalau kawan mengajak untuk membuat acara, saya pasti minta dikasihani sama kalian karena kerap tidak bisa ikut patungan, tetapi pengen ikut buat acara.”

Anak-anak sini jika ingin mengadakan makan-makan dengan membeli makanan yang sudah jadi atau membuatnya sendiri, menyebut itu dengan istilah buat acara.

Biasanya mengolah tepung terigu, air, daun kunyit, ikan teri atau udang ebi, menjadi bakwan karena bahan dan memasaknya paling mudah.

Suara minyak panas menyeruak, ada yang digpreng Meri rupanya sampai dapur yang kecil tu dipenuhi suara khas dari dalam penggorengan.

Posisi duduk saya kini kembali ke tempat semula karena bapaknya Ayta menegur jika saya mengahalangi jalan.

Saya menanggapi sambil tertawa kecil, berkata iya dan menurutinya.

Ayta dan Meri hanya diam. Entah, apakah ada yang salah dengan tanggapan saya, atau itu hanya diam biasa.

Ayta dan Meri mengakui jika sebelum adik laki-laki mereka lahir, ekonomi keluarganya lega. Namun, setelahnya bertambah lagi nyawa yang menjadi kewajiban orang tuanya, bertambah lagi yang harus bersekolah.

Raut wajah Ayta datar pas dirinya mengingat dulu ibunya pernah jadi buruh cuci demi mencukupi kebutuhan keluarganya untuk hanya sekadar makan dan minum.

Ia teringat bagaimana ibunya sempat menjadi bahan cercaan karena pekerjaannya itu.

Baginya, bisa bersekolah saja sudah merupakan hal yang indah di balik latar belakangnya itu.
Hari semakin sore, matahari mulai turun ke barat.

Tidak lama keudian datang dua orang teman kami, Maya dan Novia.

Rasanya sudah kumpul lengkap walaupun sebenarnya masih kurang Mega.

Tetapi, Mega sudah berkeluarga, sdah punya anak, sudah sulit untuk bisa bersenda gurau ceria lagi dengan kami yang masih memnitik jejak masa sebelum bersuami dan beranak.

Nostalgia kami semakin menjadi, ceritanya ke mana-mana.

Rekaman suara saya sudahi. Khilafnya saya malah lupa mengambil gambar suasana itu.

Pasca selesai dengan urusan dapur, kami melanjutkan dengan aktivitas jalan-jalan sore, merencanakan untuk buka puasa bersama beberapa hari lagi. Namun, sampai pada hari tulisan ini dibuat lucunya itu hanya menjadi wacana.


Nanga Dangkan, 17 Mei 2020

Beberapa hari setelah kisah di dapur itu, saya kembali berkunjung ke rumah Ayta. Kami akan melakukan buka puasa bersama. Kali ini, Ayta harus menetapi janjinya untuk lanjut diwawancara.

Ayta sedang menonton televisi. Dia nontonnya sambil berbaring. Jangan sampai tertidur!

Bantal yang menjadi rebutannya dengan Maya, saya tarik dan saya ambil supaya tidak ada yang berbaring kali ini. Maya itu sepupu saya. Kami bertiga adalah sabat sejak kecil

Maya juga saksi hidup bagaimana kegigihan Ayta dalam memperjuangkan hidupnya dan keluarga.

Ayta tertawa dan Maya mengejek, ruangan redup itu terisi suara terkikik-kikik, tertawa.

Posisi kami ada di ruang tengah rumah lama yang di sebelah rumah baru kemarin. Rumah itu kini dihuni Meri bersama dua putri kecilnya. Suaminya bekerja sebagai penebang kayu di lahan sawit. Jadi jarang pulang.

Rumah itu dulu markas kebesaran kami, sekumpulan bocah yang begitu pulang sekolah dan pulang ke rumah masing-masing, ganti baju dan langsung pergi bermain ke rumah yang kini sudah tua itu. Tidak ingat makan di minum.

Kami selalu terbahak-bahak ketika mengingat hal indah itu.

Wawancara dimulai setelah suasana dirasa meyakinkan. Pasalnya, banyak anak kecil di teras, jadi berisik.

Ayta mengenakan baju dan rok dengan warna senada, abu-abu. Rambut hitamnya yang bergelombang, terurai. Saya duduk bersandar pada dinding, berhadapan dengan Ayta yang membelakangi televisi.

Pertanyaan pertama, apa sebenarnya hal yang membuat dirinya tidak mau kuliah?

Kami sulit untuk serius. Namun, pejelasan berhasil diberikan.

Ayta mengatakan bahwa dirinya malas, kala itu mengurus berkas-berkas yang harus dikerjakan sendiri ketika hendak mendaftar SBMPTN. Dia merasa cukup kesal dengan guru di sekolah yang ketika SNMPTN sangat antusias menfasilitasi, tetapi berikutnya seolah dilepas begitu saja.

Apa masalahnya?

Uang! Sewaktu mendaftar SNMPTN tidak ada biaya pendaftaran, tetapi ketika SBMPTN harus membayar sejumlah 200 ribu rupiah.

Belum lagi berkas-berkas yang harus dicetak dan difotokopi, lontarnya.

“Aku malas bukan apa, duitnya nggak ada. Syarat berkasnya banyak, daftarnya mahal, tesnya harus ke Pontianak. Uang dari mana?”

Saya terenyuh, namun tetap berusaha tidak mengasihinya supaya suasana tidak menjadi dramatis.

Dari arah dapur, Meri datang dengan semangat. Kakinya menggetarkan bangunan rumah itu ketika melangkahi pagar pembatas ruang tengah dan dapur.

“Dulu kami menjajakan daun singkong yang sudah di tumbuk untuk sekadar jajan sekolah.”

Ternyata meski kami bersahabat, tidak pernah rasanya ada yang mengetahui jika mereka dulu sampai seperti itu.

Ayta menyambung, “Untungnya 20 ribu” katanya.

Semua keluarga pernah susah, tetapi ini jaraknya sangat dekat. Demi tetap membuat suasana mencair, sejenak saya alihkan obrolan kami dengan canda.

Seperti biasa, sangat sulit memang membuat suasana serius.

Meski sangat terlihat kesenjangan ekonomi antarwarga, namun keluarga Ayta sangat gigih. Berbagai upaya dilakukan supaya bisa makan dan jajan.

Di sisi lain...,

Maya bosan, dia hanya bermain permainan cacing di ponsel pintarnya.

Sebenarnya dia dari tadi sudah menagih kerjaan kepada Meri, karena tujuannya ke situ memang ingin memasak soto yang ingin kami santap saat berbuka nanti.

Namun, untuk wwancara, semuanya malah terabaikan.

Gelak tawa keluar dari diri kami mendengar Maya yang kian mengeluh bosan dan mengancam kami jika dia ingin pulang.

“Bihun, udah?

“Ayam, udah?”

Tanya Maya pada Meri dan Ayta yang mereka jawab, udah.

Maya lanjut bertanya, “Lalu apa yang belum?”

BUMBU…

Begitu sahut Meri padanya, haha…. Meri bilang nanti saja karena tidak lama mengerjakannya. “Nunggu Novia juga.” Dengan terpaksa, Maya mengiyakan.

Selama wawancara terjeda, sesekali Meri memanggil anaknya untuk tidak bermain di teras rumah, takut jatuh.

Rumah itu cukup tinggi bagi anak-anak jika jaraknya diukur dari tanah. Pagar pembatasnya tidak rapat bahkan bisa untuk tembus naik-turun rumah. Dari dulu sudah begitu.

Sejenak kami mengenang satu orang sahabat kecil yang dulu kami selalu bermain bersama, bahkan sampai SMA sebelum akhirnya dia menikah.

Kami teringat jika buka puasa bersama kali ini. Dia adalah pribadi yang cukup mudah tersinggung. Maya menyesal, takut nantinya malah menjadi tidak akur.

Meri menjelaskan kalau sudah berkeluarga apalagi kalau sudah punya anak memang itu resikonya. Mau ke mana-mana jadi susah, anak harus di bawa.

Wawancara dilanjutkan.

Cara duduk Ayta sekarang menyila, rambutnya mulai dikuncir.

Saya sangat tertarik dengan hal berikutnya ini karena yang saya kenal Ayta itu pemalu, malunya melebihi saya dulu.

Ayta dengan gaya bicara santai mengatakan jika dirinya pertama bekerja di SPBU Pertamina Simpang Silat, Kapuas Hulu. Gajinya satu jutaan lebih.

Hanya beberapa bulan saja bekerja di situ. Kemudian, dia memutuskan merantau ke Putussibau dengan harapan peruntungan yang lebih baik.

Dia bisa merantau cukup jauh dari Silat Hulu, yaitu ke Putussibau. Penasaran, kok bisa dia cari kerja di sana?

“Ya, sekalian jalan-jalan. Jadinya merantau ke sana” jawabnya.

Dia Cuma bekal uang 400 ribu pergi ke sana, begitu sambung Meri yang duduk menyerong menghadap televisi di sebelah Ayta.

Uang 400 ribu itu bertahan berapa lama?.

Untuk biaaya perjalanan dan makan di jalan saja mungkin sudah terpangkas setengah. Pasalnya, jarak dari Silat Hulu ke pusat Kabupaten Kapuas Hulu itu sangat jauh, kurang lebih enam sampai tujuh jam jika menggunakan kendaraan umum. Belum lagi singgah-singgahnya itu di tengah jalan.

Ayta menjawab cukup lama uang itu bertahan. Kalau bahasa daerah kami engkimit istilahnya.

Engkimit lebih seperti pelit kepada diri sendiri. Saya memintanya untuk menyebut “berhemat” saja.

Bisa bertahan beberapa minggu katanya.

Di sana dia tinggal menumpang di rumah abang sepupu saya, Bang Yusuf. Tujuannya untuk menemani Kak Yuni di rumah. Tinggal di situ bersama Melly juga.

Melly itu adik sepupu saya.

Di sana dia pertama bekerja di toko sepatu milik orang Padang. Gajinya 1,2 juta per bulan.

Tapi uniknya Ayta justru tidak mendapatkan gajinya itu. Bosnya pulang kampung ke Padang setelah Ayta baru bekerja sebelas hari.

“Katanya sih cuma seminggu, tapi berminggu-minggu ternyata,” ucap Ayta yang merasa geli akan hal itu.

“Uamg nggak ada, nunggu juga percuma. Yaudahlah berhenti.”

Di toko itu Ayta bekerja merangkap, sebagai pelayan sekaligus tukang bersih-bersih.

Saya berpikir mulanya dengan imbalan satu juta lebih itu adalah jumlah yang sedang. Namun begtu mengetahui jika bekerjanya setiap hari, saya berpikir ulang.

Setelah sebelas hari bekerja tanpa dibayar, Ayta memutuskan untuk berhenti dan mencari pekerjaan baru.

Sekitar satu bulan menganggur, menumpang hidup dengan Kak Yuni. Dirinya mengaku bahwa aitu yang bisa dilakukannya adalah minta dikasihani.

Dari situlah sampai hari ini dia bisa begitu akrab dengan kakak ipar saya itu.

Penantiannya berakhir saat berkenalan dengan seorang teman. Gadis yang namanya tidak disebutkan, memberitahu Ayta jika ada lowongan pekerjaan di sebuah kafe.

Tapa menyia-nyiakan kesempatan, Ayta pun melamar pekerjaan di kafe yang bernama Enjoy dan diterima sebagai koki sekaligus pelayan.

“Gajinya lumayanlah, 1,6 juta” tuturnya.

“Itu kerjanya setiap hari full atau pakai shif?”

“Setiap harilah, jeda dua jam buat tidur,” jawabnya.

Pertanyaan berlanjut. “Berapa lama kerja di situ?”

Ayta menjawab, “Kontraknya enam bulan, tapi aku perpanjang jadi setahun.”

“Dari bulan berapa sampai bulan berapa?”

Sebelum Ayta menjawab, Meri dan Maya tertawa karena saya sangat begitu kepo dengan perjalanan hidup Ayta. Saya pun menjelaskan bahwa, ya beginilah jadi wartawan. Urusan orang lain pun harus diperdalam, hahaha...

Ayta menjawab dari Oktober 2018 sampai waktu itu yang aku bilang ngabisin kontrak.

Berarti lebih dari satu tahun kalau begitu.

Pasalnya, waktu itu seingat saya, Desember Ayta mengatakan demikian. Ayta merespon, “Ya, gitulah pokoknya,” seolah membiarkan itu terjadi.

Selama bekerja di situ, dia menabung untuk dirinya dan juga keluarga.  

Sebenarnya Ayta mengaku jika dirinya tidak menabung secara terang-terangan, melainkan hanya menyisihkan sedikit demi sedikit saja.

Dia tidak menyebut itu dengan istilah menabung.

Pada awal tahun ini, pekerjaan barunya ia lakoni.

Bekerja di restaurant masakan Jepang. Gajinya satu juta pas.

Dia bekerja sebagai pelayan dan asisten dapur, tapi sama saja dengan koki sebutnya.

Naas wabah pandemi memaksanya untuk menunda pekerjaan itu sebab dirinya yang kini sudah balik kampung tidak diizinkan Mamaknya untuk kembali ke Putussibau. Khawatir, lebaran nanti malah tidak bisa pulang ke sini lagi.

Tidak berselang lama, Novia datang. Dia adalah bos besar kami karena gajinya besar.

Saya dan Maya merasa lucu dan seolah mengolok-olok diri sendiri.

Di saat sahabat kami sudah bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, kami justru masih menapaki jalan untuk lulus dari bangku perkuliahan.

Novia masuk ke dalam rumah dan menghampiri, dia bertanya apa-apa saja yang kurang dari kebutuhan untuk buka puasa hari ini.

Sontak semua tertawa dan menyorakinya, berkata bahwa orang yang banyak uang memang beda romannya, haha… Tetap itulah Novia, sahabat yang sangat murah hati.

Maya, Meri, dan Novia beranjak pergi ke dapur, sementara saya dan Ayta masih sedikit melanjutkan tanya-jawab kami.

Dan pertanyaan terakhir adalah…

“Selama bekerja di Enjoy, kamu tinggal di mana?’

Sungguh pertanyaan yang tidak begitu penting.

Ayta menjawab jika mereka diberikan mes khusus pegawai, jadi di situlah dia tinggal bersama pegawai-pegawai lainnya.

Lebih detail bertanya, “Mes situ ada di mana? Dekat kafe? Di beakang atau di depannya?”

“Pokoknya menyatu dengan bangunan kafe.”

Hari semakin sore.

Cahaya di ruangan yang juga terdapat seperangkat mesin jahit itu kini mulai redup.

Saya dan Ayta kini tinggal berdua di ruang tengah, sedangkan yang lainnya mulai sibuk di dapur.

Untuk tidak mengurangi rasa silaturahmi di antara kami semua, saya pun mengajak Ayta untuk ikut ke dapur, membantu Maya, Meri, dan Novia melanjutkan pekerjaan.

Di dapur saya duduk paling ujung, di dekat pintu yang menagarah ke pemandangan aliran Sungai Silat yang tampak airnya berwarna kuning karena sedang arus naik.

Pepohonan rindang di seberang sana terlihat begitu gagah menahan tanah supaya tercegah dari erosi.

Maya dan Novia mulai memasukkan bawang putih, kunyit, dan yang lainnya ke dalam lesung batu khas orang Melayu Kapuas Hulu. Kami menyebutnya penutuk.

Di sini tidak dikenal apa itu cobek kata orang Jawa sana. Setiap ingin menumbuk rempah-rempah untuk bumbu masakan, kami selalu menggunakan penutuk.

Suara khas antara batu lesung dan alu itu memenuhi seisi dapur.

Hampir lupa satu rempah yang sangat penting untuk menambah aroma masakan, serai.

Maya pun meminta Saya dan Ayta untuk pergi mengambil serai di darat. Kami pun pergi ke sana.

Ayta mengajak saya untuk keluar melalui rumah yang di sebelah karena keduanya tersambung dari lantai dapur.

Kami menuju ke darat, tepatnya di tempat dulu pernah berdiri kokoh rumah Ayta dan keluarganya.

Saya berkata pada Ayta sambil terus berjalan di belakangnya, “Dulu di sini luas sekali untuk kita bermain. Sekarang sudah sangat sempit karena kita yang sudah besar.”

Lucu jika sudah mengenang hal itu.

Badan kami sangat mungil kala itu.

Bisa bermain di bawah kolong rumah, di halaman yang kecil, bahkan sepetak bangunan sempit dulu terasa lapang untuk bermain.

Sekarang kalau mau masuk ke dalam kolong rumah lagi pasti tidak bisa keluar.

Setelah sampai di tempat yang banyak ditanami tumbuhan serai, Ayta terlebih dahulu meminta izin kepada si empunya.

“Kak, minta serai!” teriaknya dengan tidak terlalu nyaring yang kemudian mendapat sahutan, “Uuuk…” khas orang setempat.

Ayta pun menyayat beberapa batang serai dan mencabutnya

Sekembalinya ke rumah....

Pekerjaan diselimuti canda tawa kami yang setiap berkumpul selalu mengenang masa kecil.

Betapa indahnya saat-saat mandi terjun dari pohon sengkuang dulu.

Kalau banjir datang, kami bahkan terjun dari jembatan gantung.

Kalau sekarang ingin melakukan itu lagi, sudah malu sama umur.

Sembari Maya dan Novia asyik menumbuk bumbu, Ayta membantu Meri mengurusi anak-anak.

Dua putri kecil Meri, Halifa dan Hasbia terus saja merecoki jika tidak diawasi.

Meri mulai mengejek, dia bilang, “Kalau bertanya seperti Sherly, sampai posisi gedung mes pun ditanya, haha…”

Saya hanya tertawa geli mendengar hal itu.

Ayta menyinggung perjuangannya itu.

Dari hasil pekerjaannya, Alhamdulillah sekarang dia bisa membantu untuk sekadar membeli cat atau perkakas untuk merampungkan pengerjaan rumah baru di sebelah.

Bahkan yang lebih membuat kagum mungkin sebagai seorang perempuan, dia pulang kampung tidak hanya membawa uang tetapi juga membawa calon suami.

Kekasihnya itu bernama Wahyu.

Tak hanya mereka berdua, bahkan masing-masing keluarga sudah saling mengenal.

Perawakan Wahyu hitam manis, tinggi badannya kurang-lebih sepadan dengan Ayta.

Ayta tentu berharap jika nanti Wahyu yang akan mendampingi hidupnya untuk berjuang menyusuri hidup yang penuh lika-liku.

Bagi Ayta perjuangannya masih sangat panjang.

Dia bercita-cita ingin mengubah derajat keluarganya menjadi lebih terpandang atau mapan.

Harapannya, semoga cita-cita itu masih tertanam dibenaknya saat ini dan akan tercapai.

Meskipun hanya tamatan SMA, Ayta punya segudang bakat untuk mampu meraih cita-citanya itu.

Akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Saya, Maya dan Novia pun pergi pulang untuk mandi dan berkemas diri. Setelah itu, baru kami kembali ke rumah Meri untuk berbuka puasa.

Inilah kisah hidup Ayta dalam berjuang demi keluarga.

Jika kemarin ‘begini’ hari ini ‘begotu’ maka besok ‘harus berubah’

Perjalanan masih panjang.

Ayta mesti terus berjuang demi menggapai impiannya untuk membahagiakan keluarga dengan jerih payahnya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman