MIMPI YANG TAK DIMIMPIKAN - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 09 Juli 2020

MIMPI YANG TAK DIMIMPIKAN








MIMPI YANG TAK DIMIMPIKAN


Penulis: Yeyen
Penyunting: Verawati





Bulan bersinar terang menembus dinginnya malam, saat Mastika lahir ke dunia (ilustrasi). Jumat 4 April 1997. Sumber foto: Yeyen


Korpora.id, Sambas-Sinar rembulan menampakkan kilauannya di sela- sela ventilasi. Suara sautan burung hantu menjadi nyanyian sahdu di tengah sunyinya malam.
“Aduh…aduh… sakit”. Rintihan suara terdengar jelas di telinga. Dengan sigap mata ini terbangun dari kehidupan dunia lain. Terlihat di samping kanan sudah memegang perut yang siap untuk meledak. Aku mulai cemas, segera ku ambil pelita.
“Kamu tunggu di sini aku akan segera kembali”. Kaki ini melangkah menerobos dinginnya malam. Berbekal sebuah pelita, ku ketuk pintu Uwan Dore.
“Assalamualaikum tok…tok…tok… Uwan” tidak ada respon.
Aku coba mengetuk lagi “Tok... tok… Uwan Dore bukakan pintunya,” teriakku namun, hanya suara meongan kucing yang menyambutku. Aku tidak pantang menyerah, selalu ku benturkan kulit tanganku ke pintu kayu rumah Uwan Dore (dukun beranak kampung).
“Srrreeet…” suara pintu terbuka. Sekitarku menjadi lebih terang karena pertemuan dua pelita. “Ada apa malam-malam ke sini?” suara khas orang bangun tidur menyapaku
“Istriku sudah kesakitan perut Wan” tanpa pikir panjang Uwan Dore langsung ganti pakaian dan mengikuti langkahku.

Suara tangisan anak kecil terdengar samar-samar di telinga. Ketika tangan ini membuka pintu kayu. Suatu kecemasan, kegelisahan, sekaligus kebahagiaan bercampur. Tepat pukul 01:30 WIB lahir anak kecil dan mungil tergeletak di atas tilam. Uwan Dore dengan sigap segera berlari-lari menghampiri dan mengambil sang bayi. Darah dan tali pusat sudah bergelempangan di atas tilam. Cucuran keringat membasahi tubuh Nurida.
“Tuhan maha kuasa, baru lima puluh kilometer berjalan menuju ke rumah Uwan Dore sang bayi yang mungil nan cantik sudah menghirup udara dunia,” jelas Nurida sambil menyeka rambut ke telinga dan mengingat kejadian 23 tahun silam.

 “Aku beri namamu dengan Mastika” ujar ayah angkat Mastika sesaat sebelum mengumandangkan adzan di telinganya. Selain ayah kandung, Mastika memiliki seorang laki-laki yang dianggapnya sebagai ayah dan sekarang menjadi ayah angkatnya. Mastika sangat beruntung memiliki dua pahlawan yang sangat mencintainya. Ayah kandung dan ayah angkatnya.
Menurut keluarga Mastika pada saat proses melahirkannya sangat mudah dan tidak merepotkan orang lain.
 “Ketika melahirkan anak kami yang nomor tiga ini (Mastika) memang beda dengan ke empat anak kami yang lainnya” Ujar Nurida kala senja menyapa.
Delapan bulan berlalu ibu Mastika kembali mengandung. Sehingga jarak Mastika dengan adiknya sangat dekat yaitu delapan bulan. Mastika masih sangat lucu-lucunya dan baru bisa satu dua langkah untuk belajar berjalan.
“Beranjak besar tepatnya sekolah dasar ia mulai pandai berbisnis,” ucap Nurida.
“Iya berbisnis (nada meyakinkan), bisnis jualan kelereng,” ucap Nurida ketika duduk bersila di lantai.
 Saat main kelereng Mastika selalu menang dan kelereng hasil ia menang dijual kepada teman-temannya. Dari hal tersebut ia mendapatkan uang jajan sendiri.

Ting…ting…ting… ketukan lonceng bergema di seluruh sudut sekolah.  Anak-anak saling mendahului untuk menuju kantin. Maklum dari tadi kampung tengah sudah berdemo minta jatah. Namun, beda dengan Mastika ia dipanggil oleh guru dan disuruh ke kantor. 
Ternyata ia di tunjuk untuk mengikuti lomba Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) tingkat SD untuk mewakili sekolahnya. Tidak tanggung-tanggung tiga bidang diikuti oleh Mastika sekaligus yaitu lomba lari, voli, dan lomba menulis sinopsis bahasa Indonesia. SD Negeri 10 Sange Tebat adalah tempat Mastika menimba ilmu.

Kala sang surya menyiramkan kilaunya ke segenap alam raya dari ufuk timur.  Saat itu cucuran air mengalir deras dari pelipis Mastika. Ia harus bergegas untuk masuk kelas, melewati koridor penuh dengan siswa-siswi. Dan ia tidak mengiraukan hiruk pikuk teman-temannya. Belum selesai jantungnya stabil berdetak. Mastika sudah dengan gesit berlari menuju ruang lomba menulis sinopsis bahasa Indonesia.  Sebelum jam lomba sinopsis bahasa Indonesia dimulai, ia mengikuti lomba lari terlebih dahulu. Tepat baru 30 menit masuk kelas lomba tersebut dan ia mulai fokus menulis. Lalu terdengar.

“Kepada tim voli siap-siap berkumpul di lapangan,” terdengar suara teriakan panitia lomba.  Belum selesai detak jantung dan otaknya istirahat. Mastika harus berpacu dengan waktu dan harus segera ke lapangan voli. Di sisi lain ia harus menyelesaikan lomba menulis sinopsis. Teman-temannya sudah teriak-teriak di luar. Pikirannya sudah melayang ke lapangan voli, kebetulan jarak antara ruangan lomba dan lapangan voli tidak terlalu jauh. Namun, ia harus menyelesaikan lomba sinopsis bahasa Indonesia ini terlebih dahulu. Memang sebelumnya tidak diperhitungkan sama sekali bahwa jam pertandingan ketiga lomba ini bersamaan.
Perempuan yang menyukai bakso ini memang tidak diragukan lagi dalam hal prestasi khususnya olahraga. Sederet prestasi sudah ia torehkan dari sejak kecil.

Dari lima bersaudara hanya Mastika yang menggeluti dunia olahraga. Bahkan sang ayah juga heran dengan anaknya yang satu ini. Hampir semua bidang olahraga bisa Mastika lakukan. Namun, ketika diingat kembali sang ibu bertutur bahwa kakek Mastika adalah pemain bola antar kampung pada zamannya. Kalau masalah kehebatan memang tidak perlu diragukan lagi.

Beranjak SMA rutinitas pertandingan olahraga Mastika agak meredup. Di tingkat sekolah menengah atas Mastika tidak pernah mengikuti kejuaraan olahraga. Namun, pertandingannya hanya sebatas pertandingan antar kampung di acara 17-an.  Selain itu, Mastika ketika SMA selalu mengajarkan anak-anak di kampungnya untuk puasa syawal dan mengajak mereka untuk berbuka bersama di masjid. Ia juga aktif mengajarkan anak-anak mengaji dengan sukarela tidak memungut biaya sepeserpun. Hal tersebut ia lakukan dengan harapan agar anak-anak di kampung halamannya menjadi anak yang berakhlak baik dan bisa membangun kampung menjadi lebih maju.


Kondisi jalan ketika diguyur hujan untuk menuju rumah Mastika. Jalanan yang harus dilewatinya setiap hari untuk menuntut ilmu. Jumat, 26 Juni 2020. Sumber foto: Yeyen


Sang mentari seakan enggan menampakkan wajahnya. Awan nimbostratus juga tidak mau peduli kapan dan dimana ia akan berlabuh. Anak-anak harus selalu bersiap jas hujan plastik seharga delapan ribu rupiah tersimpan rapi dalam tas. Selain itu, Kubangan air dan lumpur sudah siap menghadang mereka. Demi untuk mengejar mimpi anak- anak tersebut harus selalu semangat melangkah menuju ke sekolah.

Senyum sumringah terukir di wajah Mastika ketika mengingat masa sekolah. Ia ingat betul kala itu musim penghujan dan sedang ada perbaikan jalan. Ketika anak yang lain ke sekolah menggunakan sepatu dan pakaian yang rapi. Namun, Mastika harus datang ke sekolah dengan kaki penuh dengan lumpur dan bau keringat seolah menjadi minyak khas dari tubuhnya. Selain itu, motor bergelut dalam kubangan air itu sudah biasa. Mau tidak mau hal tersebut seolah rutinitas yang dilewati hampir setiap hari.

 “Telat datang ke sekolah, dihukum guru, dan pakaian harus bermandikan lumpur akibat jatuh saat bermotor itu sering terjadi.” Ucap Mastika menyenderkan bahunya ke kursi.

 Kegiatan di sekolah
“Salam pramuka!” teriakku meminta perhatian keseluruh peserta anggota pramuka.
“Salam” jawab mereka serentak
“Tepuk pramuka…,” lanjutku
Setelah semua sudah berkumpul rapi di lapangan sekolah. Apel pembukaan perkemahan siap dilaksanakan. Apel ini dihadiri oleh kakak pembina, perwakilan dewan guru, serta siswa-siswi SMA Negeri 2 Teluk Keramat. Hari ini adalah Masa Orientasi Pramuka (MOP). Setelah apel selesai, peserta MOP berhamburan. Ada yang melakukan aktivitas dapur seperti memasak, ada pula yang masih sibuk berkemas tenda, dan bersiap untuk melakukan jelajah hutan.

Bagi Mastika pramuka adalah ekstrakurikuler yang sangat menyenangkan. Ia seolah tergila-gila dan jatuh cinta pada pramuka. Menurutnya, perkemahan adalah salah satu hiburan yang cukup mubarak untuk dilewatkan. Tak heran jika setiap minggu ia tidak pernah absen dalam mengikuti kegiatan pramuka baik itu Perkemahan Sehari (Persari) ataupun Perkemahan Jumat Sabtu Minggu (Perjusami). Namun, anehnya ketika SMA ia tak menggubris ektrakurikuler olahraga. Padahal sejak SD dan SMP olahraga adalah belahan jiwanya. Ia seolah-olah terbius oleh ekstrakurikuler pramuka.
“Pramuka banyak mengajarkanku tentang sosial, berbicara di depan orang banyak, dan menempa mental yang lemah sehingga menjadi pribadi yang tangguh,” ujarnya tepat disaat hujan jatuh dari langit di sela-sela ia bertutur.

Catatan akhir sekolah
Kelas dua belas, biasanya para siswa sudah heboh membahas mau kuliah dimana? mau mengambil jurusan apa? namun, berbeda dengan ku. Beberapa hari yang lalu aku ditawari oleh kerabat untuk menjadi guru honorer di sekolah dasar yang berada kampungku. Jarak dari rumah dan sekolah tersebut kurang lebih 200 meter.

“Terlintas dibayanganku ketika aku mengajar nanti akan mendapatkan gaji, bisa membantu orang tua, dan membiayai kuliahku.”
Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengajar anak SD di kampungku. Aku juga mendaftar di Universitas Terbuka di Sambas. Namun, berjalan beberapa bulan setelah ujian nasional aku di tawari oleh guru SMA ku untuk melanjutkan kuliah di Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) dengan jalur beasiswa. Namun hal tersebut aku tolak, dengan dalih telah bekerja sebagai guru honorer di sekolah dasar di kampungku. Dan harapanku saat itu dengan aku bekerja menjadi guru honorer, aku bisa bantu orang tuaku dan selalu dekat dengan mereka.

Kemeriahan dan senyuman tersungging dari wajah anak-anak ketika memasuki sekolah. Hari ini hari pertama masuk sekolah dari libur semester.  Lingkungan baru dan suasana baru juga dirasakan oleh Mastika. Buku absensi dan buku paket terapit erat di tangannya ketika memasuki ruang kelas 3. Wajah penuh semangat untuk menyebarkan kebaikan terpancar dari Mastika. Semangat untuk memajukan pendidikan membara di jiwa perempuan yang menyukai film Gundala ini.

Hari-hari dipenuhi dengan hal-hal baru dan penuh semangat untuk memberikan ilmu yang bermanfaat bagi anak-anak penuh mimpi. Tak jarang Mastika dalam jam yang bersamaan dia harus masuk tiga kelas sekaligus. Sekolah tempat ia bekerja memang kekurangan tenaga pengajar. Mau tidak mau ia harus kerja ekstra. Walau lelah ia tetap senang dan semangat untuk melakukan hal tersebut.

“Demi anak-anak kalau bukan kita siapa lagi yang mau turun tangan untuk memajukan pendidikan di kampung kalau bukan orang kami sendiri.” Suatu harapan besar yang diharapkan Mastika untuk kampung halamannya. Memang kampungnya ini jauh dari pusat keramaian dan jauh dari sarana dan prasarana yang memadai.
Beberapa bulan berlalu, hal yang tidak mengenakan terjadi.
“Setiap rapat saya dan teman-teman selalu dipandang rendah dan disinggung belum S1 oleh salah satu rekan kerja” ujar Mastika dengan nada rendah dan mata menatap gelas yang berisi es rasa kelapa muda di atas meja.
Kami hanya tertunduk lesu ketika disinggung seperti itu di rapat.

Apa salah kami? Kalimat tersebut selalu terngiang dibenak Mastika.  Kami juga bekerja sesuai prosedur dan bekerja semaksimal yang kami bisa. Datang paling awal dari yang lain dan bahkan hampir setiap hari kami masuk tiga sampai empat kelas dalam jam yang bersamaan. Semua hal yang bisa kami kerjakan kami lakukan untuk mencerdaskan anak-anak yang penuh semangat untuk mengejar mimpi.  Tapi kami masih dianggap rendah oleh rekan kerja kami yang memang dia sudah S1 dan sudah mengajar lama di sekolah tersebut. Namun, sindiran tersebut tidak terlalu kami hiraukan karena kami tidak punya kekuasan dan keberanian untuk melawan. Bahkan, hal tersebut seperti hal biasa yang harus selalu kami dengar sesama honorer yang belum S1 di setiap rapat.

Memang benar adanya seperti itu kami hanya pemuda ingusan yang baru lulus SMA dan nyangkut di sekolah dasar yang dipenuhi dengan adik-adik kami yang memiliki sejuta mimpi untuk membangun kampung halaman. Mastika sempat terlintas rasa menyesal mengajar dan menolak kuliah di Pontianak. Tapi apa boleh dikata, sudah terjadi. Namun, dari sinilah mimpi yang tak pernah ia mimpikan terwujud.

Di sela-sela mengajar, setiap sore sering latihan sepak bola di kampung. Selain sepak bola ia juga aktif berlatih main voli dan badminton.
Iseng-iseng latihan untuk mengisi waktu luang dikala senja menyapa. Dari keisengan tersebut menghantarkannya ke tanah Jawa.
Suara gemuruh penonton dari lapangan Perigi Parit mampu membuat pertandingan menjadi seru dan heboh. Suara teriakan dari kedua tim saling bersautan dan saling memberi semangat untuk tim jagoannya.

Pruiiiiit… peluit panjang ditiup oleh wasit pertandingan, menandakan satu babak permainan sudah selesai. Pemain pergi ke tepi lapangan untuk mengambil minum dan mendengar arahan dari pelatih.
Pengumuman dari mikropon untuk cabut undi sepak bola peremupuan turnamen bola Sambas. kami hanya iseng-iseng cabut undi. Sebelumnya kami tidak tahu ternyata ada turnamen sepak bola perempuan di Sambas. Pas ditanya kepada panitia berapa pesertanya ternyata sudah 32 tim. Turnamen sepak bola perempuan sudah berjalan 3 tahun, hanya kami saja yang ketinggalam informasi. Andai turnamen ini sudah kami ketahui sejak awal pasti kami akan ikut setiap tahunnya.

Kami pun berlatih untuk mengikuti turnamen tersebut. Setiap sore tidak peduli hujan atau panas kami latihan bermain bola. Pertama kali ikut pertandingan kampung ditunjuk menjadi kiper. Untuk pertama kali latihan, semua perlengkapan yang berkaitan dengan sepak bola baik itu sepatu,  baju, sarung tangan semuanya harus meminjam karena memang Mastika tidak memilikinya.
Ketika turnamen ke kampung- kampung kami sering mendapat kendala.  Kerusakan motor baik itu ban nya bocor atau kerusakan yang lain. Tapi usaha tidak mengkhianati hasil. Akhirnya tim kami keluar sebagai runner up dari turnamen tersebut.  

Latihan di lapangan Manggis Sambas
Mentari senja begitu cerah. Menambah nikmat suasana di kota Sambas untuk dinikmati muda mudi. Aku menghabiskan waktuku dengan latihan di lapangan sepak bola Manggis. Pas di lapangan tanpa ku sadari sepasang mata mengawasiku dari kejauhan. Ketika sesi istirahat seorang Asprov (Assosiasi Provinsi) menghampiri ku meminta no WhatsApp. Aku tidak mengira kalau aku ditawari latihan sepak bola untuk mengikuti seleksi Pra-Pon
Berawal dari pemain tarkam ikut seleksi tim kabupaten dari berates-ratus pemain yang ikut seleksi dari seluruh daerah Kabupaten Sambas lalu hanya dipilih 20 orang terbaik, satu diantaranya adalah Mastika.

Mastika adalah sebagai kiper. Pertama kali latihan dan ikut seleksi pakaian dari ujung rambut dan ujung kaki semuanya meminjam. Namun Mastika berniat untuk membeli sepatu dari hasil ia honor menjadi guru dan hasil mengerjakan tugas temannya. Mastika juga sering mengerjakan tugas temannya untuk menambah uang sakunya. Digaji perpaket, satu paket dibayar dua ratus ribu rupiah. uang tersebut ia gunakan untuk keperluan sehari-hari. Sisa dari uang tersebut ia tabung untuk beli sepatu seharga Rp 90.000,00.

“Mastika adalah anak yang mandiri,” ujar sang ibu
“Kami dari keluarga yang tidak mampu, Mastika tidak pernah merepotkan kami bahkan ketika dia mendapat rezeki ia akan bagi-bagi rezeki tersebut ke keponakan atau adik-adiknya,” jelas ibu Mastika sambil mengusap aliran air dari bola matanya.
Perempuan yang sangat mengidolakan penyanyi Arijit Singh ini memang tidak ingin merepotkan orang tuanya. Menurutnya orang tua sudah susah jangan ditambah lagi susahnya.
“Selama aku masih bisa bernapas dan mampu untuk mencari rezeki sendiri aku tidak ingin menyusahkan kedua orang tuaku” Ungkap Mastika.
Tidak jarang Mastika dan temannya untuk menghemat biaya untuk latihan. Beli bensin patungan karena duit dalam dompet benar-benar tidak ada.

Hasil perjuangan akhirnya berbuah manis. Mastika terpilih mewakili Kabupaten Sambas untuk berlatih di provinsi. Namun, perjuangannya masih belum berakhir.
Pukul 18:30 sang surya sudah pergi ke tempat peristirahatannya. Ketika semua keluarga sudah berkumpul dan istirahat melepas penat. Mastika memberikan kabar bahagia tersebut kepada kedua orangtuanya. Sempat takut dan ragu untuk memberi tahukan kabar gembira ini. Namun, ini harus diberitahukan. Diizinkan atau tidak itu urusan belakangan pikir Mastika.
Ekhemm… deheman Mastika membuka pembicaraan.
Semua menoleh kepadanya.

“Mak… Yah… aku dapat informasi dan telah dihubungi bahwa aku terpilih mewakili Kabupaten Sambas untuk mengikuti seleksi Pra-Pon di Pontianak,” jelasnya dengan hati berdebar-debar.
Semua diam dan mulai tertawa. Namun, sunyi sejenak.
“Yang benar? itu informasinya sudah benar atau cuma...,” tanya ibu Mastika sambil mengernyitkan dahi.
Dengan sekuat kemampuan Mastika mengolah kata-kata meyakinkan kedua orang tua dan keluargannya.
Akhirnya orang tuanya percaya.

“Kamu boleh mengikuti seleksi tersebut, Selama kamu suka, kerjakan! Selama hobi tersebut baik lanjutkan! tapi ingat jangan sekali-kali meninggalkan kuliah. Kamu boleh ikut kegiatan apapun tapi kuliah tetap nomor satu.” Ucap ayah Mastika mantap dan penuh tekanan.
Mastika tertunduk, lalu ia berkata. “Siap…” senyuman kelegaan terpancar di wajahnya. Ia menyanggupi perjanjian dari ayahnya.

Jelang keberangkatan ke Pontianak. Di kampung sedang ada acara 17-an. Awalnya Mastika tidak ingin ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Tetapi kawannya selalu mengajak untuk ikut lomba permainan kasti karena setiap acara 17- an di kampung tidak absen. Tapi untuk perlombaan kali ini, aku menolak dengan berbagai alasan. Namun, suara deringan gawaiku bergetar di atas meja. Aku jawab panggilan tersebut ternyata itu adalah panggilan dari kepala desa. Ia mengajakku untuk ikut lomba permainan kasti untuk mewakili desa. Seperti buah simalakama, dengan berat hati Mastika mengiyakan ajakan orang nomor satu di desanya.

Perlombaan kasti digelar dengan sangat meriah. Sorak sorai penonton memenuhi lapangan bola Sayang Sedayu. Tim kasti perwakilan desa Samustida (desa Mastika) siap untuk bertanding. Pancaran sinar mentari menyengat dan membakar pigmen kulit siapa saja yang kena sinarnya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat kedua tim untuk merebutkan piala kasti bergilir.
Ketika ayunan pertama Mastika untuk memukul bola kasti, tiba-tiba tangannya seperti dipatahkan dan tidak bisa digerakkan. Ia menepi dari lapangan.

Kekhawatiran ibu Mastika sangat terlihat, ketika Mastika meringis kesakitan.
Hari demi hari, keberangkatan untuk latihan Pra-Pon ke Pontianak sudah di depan mata. Mau tidak mau ia harus berangkat. Mastika pasrah dengan kondisinya seperti itu. Padahal posisinya adalah sebagai kiper. Namun, ia harus tetap berangkat.
Sebelum keberangkatan, sempat cibiran terdengar dari tetangganya.
“Untuk apa main bola buang-buang waktu, tenaga, dan uang saja,dan dibilang mustahil sukses,” ucap mastika menirukan cibiran tetangganya.
Namun, Mastika tidak mengiraukan ocehan tersebut.

Di sisi lain ada suatu hal yang perlu ia lepaskan untuk mengejar mimpinya yaitu berhenti bekerja sebagai guru honorer. Suatu keputusan yang bulat telah Mastika sepakati bersama keluarga dan pihak sekolah. Tidak terasa tiga tahun Mastika bertahan menjadi guru honorer di sekolah tersebut dengan gaji Rp 300.000 perbulan serta berbagai lika-liku permasalahan. Ternyata Tuhan punya rencana lain untuknya. Ada terbersit suatu kebanggaan bisa berbagi ilmu walau hanya sebentar.

Namun, tidak sampai disitu perjuangan Mastika untuk ikut latihan ke Pontianak. Ia harus menguruskan berkas-berkas meminta izin ke pihak kampus. Pihak kampus menyerahkan sepenuhnya ke Mastika dan angkat tangan untuk mengurus berkas-berkas ke tingkat provinsi. Selain itu, pihak kampus tidak membantu dalam perizinan dan menyerahkan semuanya ke Mastika.  Mastika kuliah di Universitas Terbuka jadi pihak kampus langsung menyarankan untuk mengurus berkas-berkas tersebut langsung ke Pontianak karena universitas yang di Sambas adalah  cabang dari Pontianak.

Hari keberangkatan ke Pontianakpun tiba. Ada rasa bangga dan bersyukur bisa menginjakkan kaki di kota khatulistiwa. Walau tidak untuk kuliah kali ia datang untuk ikut seleksi. Sejak SMA impian Mastika adalah kuliah di salah satu universitas yang ada di kota Pontianak. Namun, Tuhan berkata lain. Ia ditakdirkan ke Pontianak tidak untuk kuliah tapi untuk membanggakan kampung halaman melalui sepak bola.
Pertama datang di sambut oleh orang-orang berseragam alias pelayan hotel. Pertama kali masuk dan tidur di hotel.
“Hal yang menarik pertama kali datang ke hotel adalah tidak bisa menggunakan live. Dipencet-pencetlah tombolnya. Kawanku sudah mulai panik. Terus berlari-lari minta bantuan. Tapi tidak ada orang. Bolak balik di depan live, lalu bertemu dengan satpam. Akhirnya kami bisa turun menggunakan live. Maklum sepok woi,” jelas Mastika terpingkal-pingkal mengingat peristiwa tersebut.

Sesi latihan perdana dimulai. Kami dari berbagai kabupaten di Kalimantan Barat berkumpul di suatu lapangan bola Sultan Syarif Abdurrahman (SSA). Rasa tidak percaya bisa latihan di tempat seperti ini. Anak dari kampung dengan kondisi yang sangat jauh dari kesan mewah. Mau keluar kampung saja harus melewati jalan yang berlumpur. Rasanya mimpi bisa ada di lapangan bola yang besar.
Padahal tangan Mastika masih belum sembuh. Pas latihan, lagi dan lagi tangannya patah. Lalu ia dibawa ke tempat urut Sinsang. Sudah merasa lumayan.
Tapi ketika latihan berikutnya lagi,lagi, dan lagi. Tangan Mastika kembali patah.  Mastika sudah pasrah dengan keadaan. Namun, ingat lagi orang tua di rumah.

Pas pemusatan latihan harus selalu diikuti padahal dengan keadaan yang seperti itu rasanya tidak mungkin Mastika bergabung untuk latihan. Namun, dengan kemampuan dan menahan rasa sakit, Mastika memaksakan diri untuk tetap latihan.  Selalu memotivasi diri untuk bisa! dan bisa!
Jatuhnya jadi memaksakan diri. Namun, demi mengejar cita-cita dan membanggakan orang tua. Ia selalu ingat pesan pelatihnya. “Ketika kamu ingin menjadi pemain baik, maka buatlah kondisimu menjadi baik”
Kalimat tersebut selalu terngiang di otak Mastika. Karena apabila tidak dipaksakan untuk terus latihan maka disuruh pulang dan didiskualifikasi. Rasanya tidak mungkin cita-cita sudah didepan mata disiakan begitu saja.
Jelang tiga bulan latihan. Suatu pengumuman yang ditunggu-tunggupun tiba, alhamdulillah Mastika lolos ikut mewiliki Kalimantan Barat di ajang Prapon. Tangisan haru biru orang tua dan tangisan kebahagian saat mengabari orang tuanya di kampung.



mastika ketika menatap takjub dengan kemegahan stadion. Rasa tidak percaya sekaligus bersyukur bisa bertanding di stadion kota pelajar Yogyakata. 15 Desember 2019. Sumber foto: Mastika.


Lagi…lagi…dan lagi. Rasanya mimpi masuk lapangan megah terbayang berjalan dari jalan lecet dan becek masuk stadion megah. Mau dikatakan orang kaya juga tidak. Rasa tidak percaya bisa menginjakkan kaki di tanah Jawa.
“Selama ini tidak ada sama sekali dalam kamus hidupku untuk datang ke tanah Jawa. Untuk memimpikannya saja tidak berani karena jauh dari kata mungkin.”
Namun, sekarang dengan kaca yang berbinar-binar Mastika masuk stadion.
Pertama kali menginjakkan kaki mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Mastika bingung tidak tahu jalan. Kebetulan Mastika pergi sendiri.

“Ngomong saja gagap maklum orang kampung” ujar Mastika merendah ketika menjelaskan
Pucat muka Mastika masih tampak jelas dari raut wajahnya ketika tiba di bandara Soekarno-Hatta. Ini adalah pertama kali baginya menaiki transportasi pesawat.
“Tapi pas ditanya takut? aku jawab tidak. Sombong sikit.  Tapi dalam hati naik pesawat mati atau tidak aku ini,” jelas Mastika mengingat peristiwa tersebut dengan tersenyum-senyum.
Orang-orang sibuk befoto-foto wajah Mastika pucat. Pertama kali pas latihan Mastika pergi sendiri. Masih belum sama tim. Memang Mastika hanya disuruh sendiri untuk latihan sendiri ke Jakarta mewakili pemain wanita Kalimantan Barat.


Turnamen yang ditunggu-tunggu. Pemusatan latihan dilakukan di Yogyakarta.
Hidup ini terasa hampa jika tidak dihadapkan dengan sebuah pilihan. Itu juga yang dirasakan Mastika. Ia dihadapkan dengan pemusatan latihan untuk Prapon atau ujian semester yang dilakukan di Sambas. Pihak kampus tidak mau memberi toleransi terhadap Mastika.
Pikiran Mastika bimbang tidak menentu karena harus disuruh memilih.
Ia ingat janjinya kepada sang ayah bahwa jangan sampai kuliahnya terbengkalai hanya demi sepak bola.

Mastika bisa dikatakan anak muda yang sangat peduli dengan pendidikan, di kampungnya pemuda yang melanjutkan kuliah tidak lebih dari sebelah jari. Dan rata-rata tamat SD, SMP sudah menikah. Mastika beranggapan pendidikan itu sangat penting. Pendidikan tidak hanya memberi kita pengetahuan tentang membaca dan menghitung. Namun, Pendidikan memupuk kita menjadi orang yang lebih dewasa dan menjadikan individu yang mampu merencanakan masa depan. Di sisi lain ia juga sudah membuat perjanjian dengan sang ayah.

Dengan berat hati mimpi yang selama ini yang tak pernah dimimpikannya berlaga di acara besar kelas nasional harus di kuburnya dalam-dalam. Ia berbicara dengan managernya.
Lagi…lagi… dan lagi. Tuhan punya rencana dibalik kejadian. Managernya memberi toleransi dan mengizinkan Mastika untuk menyusul ke Yogyakarta setelah ia ujian.
Mendengar kabar tersebut ayah Mastika menangis tersedu. Tidak menyangka managernya memberi pengertian kepada anaknya.

Sore menyapa kota gudeg dengan ceria. Tiupan angin sepoi-sepoi di tengah keramaian membuat kami sedikit risih karena belum mandi. Di sela-sela pemusatan latihan, dengan badan penuh keringat. Selesai latihan menyempatkan diri untuk mampir ke indomaret.
“Wuiih kata kami, ada Dimas Anggara (artis). Langsung kami hampiri.  Bang boleh foto?” dengan senyuman ramah boleh kate Dimas Anggara. Dengan sigap kami mengeluarkan gawai dari saku celana. Tidak peduli dengan bau badan dan belum mandi.


Mastika dengan baju kaus warna biru navy tersenyum bahagia ketika bertemu sang idola Dimas Anggara di salah satu indomaret di Yogyakarta 2019. Sumber foto: Mastika

“Hmmmm alhamdulillah memang tidak semua orang memiliki kesempatan itu,” senyuman puas dan terharu terukit dari Mastika saat menceritakan hal tersebut. Jadi nilai tambah juga bisa ketemu artis.  
Ketika pertandingan kami disiarkan langsung oleh Kompastv. Perasaannya bangga, serta haru menyelimuti orang tua dan kerabat.  Berawal dari lapangan kampung yang penuh dengan lumpur dan sekarang berjalan di lapangan hijau nan megah. Ditonton oleh beribu-ribu orang.
Mastika percaya mimpi yang tidak mungkin bisa saja terwujud, yang penting ada kemauan dan kerja keras untuk mengejarnya.

Mastika membuktikan hal yang mustahil dan cibiran tetangganya tersebut dibuktikannya dengan prestasi. Saat ini Mastika di tunjuk sebagai pelatih sepak bola wanita di Sambas. Selain itu, ia merangkap menjadi pemain dan juga dipercaya menjadi wasit disetiap pertandingan sepak bola perempuan di Kabupaten Sambas. Di usia yang masih sangat belia. Ia mampu membuktikan bahwa anak kampung juga bisa bersaing dengan anak kota.

Keterbatasan bukan suatu halangan untuk maju, tapi keterbatasan membuat kita menjadi lebih tangguh. Terkadang dalam banyak keterbatasan dan halangan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang. Melalui keterbatasan kita belajar tentang kehidupan. Seseorang akan semakin matang dalam menghadapi setiap masalah. Kita tahu bahwa kita memiliki kelemahan, kekurangan, dan keterbatasan. Namun, dengan memilih untuk fokus kepada apa yang masih menjadi kelebihan kita, kehidupan pun akan berjalan dinamis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman