LIKA-LIKU PERJALANAN HIDUP - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 12 September 2020

LIKA-LIKU PERJALANAN HIDUP

 

LIKA-LIKU PERJALANAN HIDUP

 

Penulis  : Tika Wulandari


Bumi sedang tidak baik-baik saja. Terasa ada yang hilang. Kurang akan bumbu kehidupan. Banyak waktu untuk sendiri mengenang semua kebersamaan. Dunia yang dulunya terasa dekat dan begitu penting mulai ditinggalkan. Tidak semua keinginan bisa ditunaikan. Suasana jalanan tak seperti kemarin. Banyak perubahan yang harus dihadapi bersama dengan sebuah senyuman dan didampingi kesabaran.


Kesibukan berpindah di dalam rumah sebagai bentuk tawakal kepada Sang Pencipta. Rasa aman mulai berkurang. Beribu nyawa melayang perlahan-lahan. Saling takut untuk berdekatan namun menyapa dari kejauhan. Berita mengerikkan tersiar kembali memenuhi mata dan telinga. 


Di huruk-harak kepanikan sebagian orang tak bisa hanya berdiam diri. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi bagi si pencari nafkah. Was-was sudah pasti dirasakan. Tapi apa daya, jika tidak bekerja sesuap nasi sulit untuk dikunyah. Makan dengan apa yang ada asal dapat tidur nyenyak malam ini sudah cukup baginya.


Aktivitas belajar mengajar di sekolah dihentikan dan belum menemukan titik kepastian. Mungkin di kota-kota besar dapat menerapkan belajar daring sebagai solusi. Namun, bagi anak yang di pedalaman hanya bisa terdiam dan menunggu. Sungguh ini kondisi yang tak pernah dibayangkan.


Mondar-mandir tak jelas di dalam rumah untuk menghilangkan rasa jenuh dan pikiran yang buntu. Kamar dan dapur sebagai sport wisata yang selalu dikunjungi sehari-hari. Hendak berada di luar karena tuntutan tanggung jawab atau sekadar melihat dunia selalu ditemani sahabat baru yang melekat di wajah.


Semua sibuk memperhatikan kebersihan dan kesehatan. Waspada dan curiga terhadap orang-orang disekitar. Menjaga jarak aman agar yang berada di garda terdepan tidak mendapatkan tambahan beban.


Pudar sudah harapan menyambut bulan suci Ramadan dengan kegembiraan dan kehangatan. Tak sanggup diri menampung air mata. Hati hampa dan sunyi. Lagi-lagi hanya bisa pasrah akan segalanya.


Lebaran tanpa mudik ke kampung halaman. Pilu, tapi inilah kenyataannya yang harus hadapi. Demi menjaga keselamatan diri dan keluarga dari virus yang tak pandang bulu. Ia tak segan-segan menghinggapi tubuh penjabat, orang kaya, maupun orang yang melarat. Mentaati peraturan pemerintah dan berdoa agar bisa kembali normal seperti semula. Ambil hikmah disegala rencanaNya.


Pada pandemi ini aktivitas sangat terbatas. Melalui sebuah media berupa gawai saya menghubungi Septi agar menjadi narasumber untuk menceritakan kisah inspirasi yang dialaminya. Mulai dari perjalanan masuk kuliah hingga bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan jurusannya.


Pertanyaan yang diajukan dijawab dengan semangat yang menggebu-gebu. Begitulah ia, perempuan ramah yang baru saja menikah pada tanggal 5 April 2020. Perkenalan kami bermula ketika mengikuti kelas ekslusif fardhu kifayah dan bertemu kembali di tempat kajian yang sama.


Riwayat pendidikannya, SD Negeri 28 Pontianak, SMP Negeri 5 Pontianak, SMA Negeri 2 Pontianak, dan S1 Pendidikan Sosiologi FKIP Untan. Universitas Tanjungpura adalah perguruan tinggi pertama di Kalimantan Barat. Kini tersedia bangunan baru yang menambah keindahan kampus dengan arsitektur modern dan berkelas.


Universitas Tanjungpura disingkat UNTAN berdiri pada tanggal 20 Mei 1959. Berada di Jalan Profesor Dokter Haji Hadari Nawawi, Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Ada sembilan fakultas yaitu fakultas hukum, fakultas ekonomi dan bisnis, fakultas pertanian, fakultas teknik, fakultas sosial dan ilmu politik, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, fakultas kehutanan, fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam, dan fakultas kedokteran.


Universitas Tanjungpura merupakan perguruan tinggi negeri yang menjadi dambaan anak Kalimantan Barat karena reputasi pendidikan yang berkualitas. Siswa yang lulus dari kelas XII berbondong-bondong mengikuti tes dari berbagai jalur agar bisa kuliah di sana. Selain itu, telah banyak prestasi yang ditoreh.


Hal kecil yang ku ketahui tentang Septi pernah bekerja di perusahaan yang berada di Pontianak. “Memang tak ada yang sesuai bidang, kerja sama kuliah. Kuliah asli cuma buat dapat ijazah,” ujar Septi memulai perbincangan.


Septi melanjutkan, “Jurusan sosiologi pada tahun 2008 sudah masuk Ujian Nasional. Sehingga menjadi salah satu jurusan penting saat itu. Serta jurusan baru pula di FKIP Untan. Saya kuliah tahun 2009 dan angkatan ke-2. Alasan saya masuk ke sana karena waktu sekolah SMA guru sosiologi sangat kurang bahkan bukan asli lulusan tersebut. Mereka pindahan dari guru antropologi. Melihat peluang besar tersebut saya memilih jurasan itu”.


Dari peluang itu, menetapkan pilihan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Mencerdaskan anak-anak bangsa. Bukan untuk mencari harta semata dan tampil keren di mata dunia. Menciptakan revolusi di bidang pendidikan untuk terus bekarya. Profesi yang mulia dan selalu diingat sepanjang masa.


Singkat cerita ia pun lulus tes mandiri dan resmi menjadi mahasiswi. Umumnya setiap orang mengalami perasaan yang berbeda-beda ketika memasuki wilayah baru. Terutama yang berasal dari kampung. Harus menikmati masa remaja jauh dari orang tua. Berusaha mandiri dengan segala keadaan dan butuh waktu untuk beradaptasi akan semua itu.


Menjadikan diri sendiri sebagai pengingat ketika melakukan kesalahan. Menjalin pertemanan yang sehat agar tidak timbul pertikaian. Mencari dan menentukan lingkungan yang baik agar tidak berada di kawasan yang rawan.


Ingat selalu tujuan agar tidak melenceng. Menjauhkan diri dari hal yang tidak berfaedah. Semangat menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Walaupun tantangan dan cobaan akan datang menguji perjalanan kehidupan. Tapi yakinlah bahwa semua itu akan berujung manis dan indah apabila kita ikhlas melakukannya.


Septi pun mengalami hal yang sama walau tidak signifikan. Perbedaan yang dirasakannya bukan dari alam permai yang damai berpindah menjadi lingkungan padat penduduk. Melainkan, mata kuliah di jurusan sosiologi yang dipelajarinya.


Perempuan asli Pontianak ini menjelaskan bahwa “Waktu sekolah karena kondisi guru yang minim materi sosiologi terasa susah dan banyak remidi. Ternyata setelah kuliah pelajarannya sangat mudah dan menyenangkan sebab yang dibahas dekat dengan kehidupan sehari-hari. Intinya interaksi sosialisasi atau hubungan kita dengan individu dan masyarakat”.


Setelah memasuki dunia kampus, tidak ada yang namanya mata pelajaran tapi mata kuliah. Di mana materinya  akan berbeda dibanding ketika duduk di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Memfokuskan diri dalam satu bidang.


Dari pengalalaman Septi ada pula yang merasakan sebaliknya. Ketika duduk di SMA pembahasan yang disampaikan guru teratur dan tidak butuh waktu lama untuk memahami. Terkesan bahwa mata pelajaran tersebut mudah. Misalnya mata pelajaran bahasa Indonesia. Apabila jadwal ujian sudah tertempel di majalah dinding seminggu sebelum berlangsung. Maka siswa akan gigih belajar mata pelajaran biologi, fisika, maupun kimia sedangkan bahasa Indonesia di bagian akhir.


Beberapa orang menganggap remeh. Dengan kenyakinannya tanpa mempelajari lebih mendalam dapat menjawab soal-soal yang akan diberikan guru. Mencukupi KKM yang telah ditentukan. Namun, ada juga siswa yang percaya dirinya patah karena harus melalui remidi untuk memperbaiki nilai.


Dari penyataan mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia mereka merasakan bahwa materi yang dipelajari lebih sulit dibanding di sekolah karena pembahasannya lebih mendalam. Ada mata kuliah linguistik, sosiologi sastra, dan lain-lain. Dari nama saja mungkin tidak pernah terbesit di pikiran.


Kita harus merenung sejenak sebagai warga negara Indonesia. Apakah bahasa Indonesia yang digunakan sudah baik dan benar. Apakah kata-kata yang diterapkan sudah baku. Apakah tanda baca yang digunakan sudah tepat.


Jangan ada alasan untuk berhenti belajar bahasa sendiri. Pahlawan tak mudah memperjuangkannya. Ada proses yang dilalui dengan susah payah. Hargai mereka dan cerminkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia.


Banyak yang merasakan ternyata kuliah itu tak sesuai ekspetasi. Yah, kenyataannya ini bukan sebuah FTV dimana selalu jalan-jalan dan berkumpul bersama teman-teman. Ada tanggung jawab besar di pundak. Tugas membanggakan orang tua dan membawa gelar sarjana. 


Apa lagi ketika berada di semester satu dan dua. Fase terberat yang akan menentukan apakah kita dapat bertahan atau tidak. Kebanyakan mahasiswa akan gugur sebelum menuju pertempuran yang sesungguhnya di kedua semester itu. Penyebabnya bisa karena merasa salah jurusan, ekonomi yang tidak memadai, ataupun tidak mampu untuk menyesuaikan diri.


Belum lagi organisasi yang cukup padat menyita waktu mahasiswa baru. Tidak dipungkiri pada masa itu kadang merasakan kekesalan. Ingin lari dan mendapatkan ketenangan tanpa diteror senior dengan berbagai tuntutan dan tekanan.


Merasa tersiksa akan semua beban. Padahal apa yang dilakukan mereka untuk mengembangkan potensi diri. Memperkuat mental agar tidak lemah, berani, dan tidak bersikap apatis. Membantu teman yang membutuhkan pertolongan. Bekerja sama dalam melakukan berbagai hal. Menciptakan suasana kekeluargaan.


Dengan berjalannya waktu kebencian menjadi rasa sayang. Sehingga ada orang-orang yang bertahan dan melanjutkan visi dan misi mereka. Panggilan junior dan senior sirna. Pemikiran yang tadinya bagai minyak dan air berubah wujud bak kopi dan air yang larut menjadi satu.


Organisasi himpunan jurusan bisa menjadi alternatif yang dapat dilakukan. Bisa memperbanyak jaringan perteman. Dekat dengan dosen-dosen yang ada di kampus dan yang pastinya ada pengalaman baru yang dimiliki. Walaupun sibuk itu tidak menjadi masalah bagi yang sudah merasa nyaman.


Septi merasa bahagia dengan ikut organanisasi. “Semasa kuliah seru-seru saja. Saya orangnya senang ikut organisasi kampus setiap minggu. Apalagi kalau turun ke masyarakat paling suka masuk di bagian acara. Jadi bisa berkreasi buat mengadakan kegiatan,” ujarnya.


positif yang dilakukannya bisa mengurangi rasa bosan karena bertemu dengan teman-teman seusia. Pada masa remaja serasa mereka yang paling mengerti cara menghibur kita sehingga pada akhirnya hadirlah canda tawa. Pikiran yang terbeban akhirnya hilang sejenak.


Ia juga berusaha menyeimbangkan kuliah dan aktivitas di luar kampus. “Alhamdulillah, saya dapat beasiswa berprestasi dua kali periode. Kalau tidak salah empat semester,” ujar anak kedua dari empat bersaudara tersebut.


Dilihat dari prestasi yang diraih. Selain aktif organisasi ternyata juga pintar. Dengan mendapat beasiswa bebas biaya kuliah. Motivasi diri untuk belajar pun akan lebih giat, pengeluaran kuliah lebih ringan, dan pertemanan lebih luas.


Septi termasuk orang yang dapat memanajeman waktu dengan baik. Mempunyai kepribadian yang disiplin. Terlihat jelas ia juga produktif dan menjalani hidup ini dengan santai. Sudah seharusnya kita mencontoh hal positif yang dimilikinya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Ia menyatakan bahwa, “Saya berani mengajar les privat sejak kuliah semester 5 untuk SD saja. Mengisi waktu luang sama buat tambahan uang jajan. SD materinya masih mendasar. Mengajar les fokusnya ke MTK. Rata-rata siswa kesulitan di mata pelajaran itu. Kayaknya itu udah jadi rahasia umumkan. Padahal, kalau kita ngajar dengan jelas mereka pasti bisa. Pelajaran lainkan tinggal baca”.


Kesibukannya tidak berhenti disitu. Banyak hal bermanfaat lain yang dilakukan selama kuliah. Jiwa gurunya sudah tak terlerai lagi. Butuh tempat untuk disalurkan. Tak butuh sekolah atau universitas.


Pertengahan cerita Septi bernostagia. “Sebelum kuliah pengennya masuk matematika karena suka. Jurusan saya waktu SMA itu IPS. Sedangkan MTK harus dari jurusan IPA. Kebetulan kakak kandung kuliah jurusan MTK dan banyak belajar dari beliau,” ucapnya.


Rencana kadang tak sesuai dengan yang diharapkan. Bukan berarti perjuangan dan doa sia-sia. Tuhan sudah menyediakan alur cerita sendiri dan kita hanya mengikutinya. Terima dengan lapang dada.


Walaupun tidak berada di zona yang kita suka. Namun, masih banyak sumber agar tetap mendapatkan ilmu yang kita minati. Apalagi di zaman modern yang serba canggih. Banyak video pembelajaran di Youtube dan aplikasi yang menyediakan pembahasan-pembahasan materi disertai soal untuk menguji pemahaman.


Septi menjelaskan bahwa, “Saat mengajar privat banyak sekali suka dukanya. Dari anak yang memiliki daya tanggap rendah. Anak yang prestasinya di atas rata-rata. Sampai anak yang broken home jadi memiliki kepribadian yang agak berbeda.”


Selain ilmu dalam mendidik, ia juga membutuhkan ilmu dibidang psikologi agar dapat memahami karakter anak satu persatu untuk menyesuaikan cara belajar. Jika metodenya tepat maka hasil yang didapat maksimal.


Hidup ini bagai roda berputar kadang di atas dan kadang di bawah. Senyum di pipi berganti tetesan air mata atau sebaliknya. Tak ada yang abadi di dunia. Manisnya kehidupan akan berarti dengan adanya pahit. Setiap orang pasti pernah merasakan sedih dan tawa.

 

Sesulit apapun tantangan akan memperkuat pondasi kita untuk mengahadapi tantangan di masa depan. Septi tidak menyerah dengan apa yang dihadapinya. Malah itu akan menjadi ilmu baru untuk mendidik anak-anak yang lain. Penerus masa depan pengubah dunia.

 

Septi melanjutkan, “Disana lah banyak sekali pengalaman untuk menghadapi anak-anak yang berbeda karakter. Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar. Nilai mereka bisa naik. Intinya pelajaran kita bisa diterima dengan baik.”


Walaupun septi sebagai calon guru bukan berarti ia tahu semua hal. Ia mempunyai wawasan lebih luas dibidang yang dipelajarinya yaitu sosiologi. Tuntutan guru les harus bisa mengajar lebih dari satu mata pelajaran. Jika ada soal yang tidak bisa dipecahkan ada solusi lain yang digunakan.

 

“Kalau ada soal yang tidak mengerti saya buka google atau dibawa pulang. Soal tersebut ditanyakan  kepada kakak saya yang jurusan matematika. Kalau bahasa Inggris saya tanya teman yang kuliah di jurusan itu. Ya begitulah pandai-pandai memanfaatkan jaringan dari berbagai kalangan,” tutur Septi.


Masa remaja baik perempuan maupun laki-laki selalu ingin happy-happy. Melakukan kesalahan tanpa mau mengakuinya. Bersikap sesuka hati. Kadang karena hal sepele memutuskan hubungan yang sudah lama terjalin. Bertengkar dengan teman dan orang tua.


Hanya ada sedikit orang yang tidak mementingkan egonya. Menjaga amarah agar tidak membara. Menjauhkan diri dari kata-kata kotor yang membuat turunnya wibawa. satu diantara orang yang memiliki kesabaran seperti itu adalah Septi.


Septi mengatakan bahwa, “Kalau untuk konflik alhamdulillah sama sekali tidak pernah dari zaman sekolah sampai kuliah karena saya orangnya pengalah. Bahkan saya sering sebagai penengah apabila ada teman yang bertikai. Saya tipe orang yang tidak mudah kemakan informasi atau diadu domba lebih baik mencari tau sendiri akar permasalahan dari berbagai pihak.”


Sulit mencari orang seperti ini. Tak mudah terbawa emosi dan menyikapi masalah dengan dewasa. Di usia seperti itu butuh kekuatan ekstra untuk mengontrol diri. Apabila salah langkah atau salah arah akan merusak masa depan yang akan menjadi penyesalan di masa tua.


Di organisasi semua tidak akan berjalan mulus. Ada batu-batu kerikil yang menghambat. Perlu seseorang untuk menyingkirkan masalah tersebut.  “Waktu zaman kuliah ada konflik antara panitia dan peserta dimana saya yang menjadi salah satu penengahnya. Akhirnya masalah pun terselesaikan.”

     

Konflik memang tak akan hilang jika hati memanas. Jika tidak sekarang mungkin besok atau lupa harus saling memaafkan. Pertengkaran yang semakin lama hanya akan mendatangkan kemudaratan. Selesaikan dengan kepala dingin agar mendapat solusi terbaik.


Kekagumanku semakin bertambah terhadap sosok wanita ini. Sudah cantik pintar pula. Dengan kerendahan hati ia menjelaskan bagaimana kagetnya ia ketika diumumkan menjadi mahasiswa berprestasi.


“Saya tidak menyangka menjadi mahasiswa berprestasi. Waktu gladiresik diberitahu saat yudisium untuk maju kedepan. Saya benar-benar tidak menyangka bisa dapat peringkat ketiga. Semasa kuliah memang materinya sedikit mudah karena sosiologi adalah materi tentang kehidupan kita sehari-hari. Jadi mungkin karena itu untuk mendapatkan prestasi dari jurusan tidak susah. Yang penting tugas dikerjakan nilai semester aman,” kata Septi.


Rasanya sudah setengah mimpi tergapai. Sebelum melangkahkan kaki untuk ketahap selanjutnya. Ia memberikan kado terindah bagi keluarga. Kata Septi, “Ketika kelulusan dapat peringkat ketiga IPK tertinggi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yaitu 3.82. Tidak pernah menyangka sebenarnya”


Akhirnya bertitel S.Pd dibelakang nama. Suka duka terlewat sudah. Lorong gelap berganti cahaya. Memusatkan perhatian ke masa depan. Kini bukan angan tapi hampir menjadi kenyataan. Tak ingin lagi menunggu. Dalam benak hanya ada kata segera. Mengimplementasi apa yang sudah didapat agar bermanfaat untuk kehidupan.


Tali toga sudah berpindah dari kiri ke kanan. Semua punya keinginan yang sama setelahnya. Orang tua tak sabar menunggu hasil jari payah mereka. Jiwa yang kian meronta untuk merasakan pengalaman baru.


Ditengah kegembiraan dia pun tersadar ternyata hidup kadang tak sesuai harapan. Dunia ini luas dan banyak orang antre yang membawa surat lamaran pekerjaan di tangan. Tujuan awal sedikit memudar.


Dari pada hanya berdiam diri untuk sementara pekerjaan apapun akan dilakukan. Toh, hartanya juga halal. Asalkan tidak dicap sebagai sarjana pengangguran. “Setelah lulus berusaha untuk mencari pekerjaan apapun, tidak pilih-pilih, semua lowongan pekerjaan dicoba. Awal mula kerja cuma buat cari pengalaman,” ujar Septi.


Kesabaran kembali diuji. Kehidupan manusia rahasia ilahi. Dulu beryaja mungkin sekarang tidak atau bisa juga sebaliknya. Bagaimana pun keadaan yang dialami ia tetap bersyukur. Tak ada kata menyerah dan pasrah.


Septi menjelaskan lebih dalam, “Akhirnya saya mendaftar mengajar bimbel. Bimbel yang lumayan besar dan terkenal. Sistem pembelajarannya pun sudah dengan standar pengajaran seperti di sekolah. Guru-guru pengajarnya dituntut agar dapat mengajar dengan variatif menggunakan modul dan media. Jadi, ilmu kuliah masih bisa diasah.”


Masih sejalan dengan fakultas yang dipilihnya ketika kuliah dulu. Di sinilah ia menyebarkan kebaikan. Membagikan ilmu yang telah dimiliki agar tidak terkurung pada diri sendiri. Menginginkan pahala jariyah yang terus mengalir.


Ia pun melanjutkan kisahnya, “Setelah beberapa bulan mengajar dan menerima gaji akhirnya saya sadar bahwa tujuan utama kita pastinya mendapatkan penghasilan yang cukup. Waktu itu gaji bimbel bisa dikatakan kurang untuk keperluan sehari-hari. Pada akhirnya memutuskan mencari lowongan kerja yang lain.”


Sebagai makhluk hidup ada kebutuhan yang perlu dipenuhi seperti sandang pangan dan lain-lain. Apalagi seorang wanita fitrahnya akan mementingkan kecantikan. Perlu modal untuk memanjakan diri dengan melakukan perawatan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Bahkan sekarang ini gaji seorang guru yang bertugas mencerdaskan anak bangsa lebih kecil dari youtubers yang memuat konten tidak bermanfaat. Menghancurkan pemikiran polos generasi muda. Selain itu fungsi dari penglihatan juga akan berkurang apabila orang tua tidak mengontrol mereka.


Terdapat kasus yang dapat kita lihat secara langsung maupun melalui internet efek penggunaan  smarphone oleh anak dibawah umur. Salah satunya mereka terkesan seperti orang gila. Saat makan, tidur, bahkan ke kamar mandi ingin ditemani sahabat yang tidak pernah komplen kepadanya.


Di tengah gunda gulana yang dirasakannya. Ia mendapatkan informasi lowongan pekerjaan. Tanpa ada persyaratan khusus yang dalam memperhambat Septi mencoba melamar pekerjaan di tempat tersebut.  Atas izin Allah langkahnya pun dipermudah.


“Awal mula masuk perusahaan karena dapat informasi dari teman yang sudah duluan keterima kerja. Katanya ada lowongan pekerjaan dari semua jurusan. Perusahaan baru yang membuka cabang di Pontianak. Melihat peluang dan gaji yang lumayan besar, saya pun mendaftar dan langsung diterima,” ungkap Septi.


Septi melanjutkan “Jujur saya tidak tahu bagaimana kerjanya. Intinya masuk saja dulu. Setelah dijalani ternyata saya terjun ke dunia retail yaitu aktivitas perniagaan yang melibatkan penjualan barang atau penawaran jasa secara langsung kepada konsumen sehingga dituntut skill kita dalam bidang pemasaran dan pelayanan.”


Pekerjaan yang didapatnya tidak sesuai dengan jurusan sosiologi yang dipelajarinya selama di UNTAN. Pengalaman dibidang itu pun belum ada. Ia tetap mencoba dan melaksanakan apa yang sudah menjadi tanggungjawabnya.


Kata Septi, “Disini saya menemukan hal baru yang sebelumnya belum pernah sama sekali dipelajari yaitu pemasaran. Kalau masalah pelayanan sendiri sudah di pelajari waktu masa kuliah karena ada sangkut pautnya dengan interaksi sosialisasi dan lainnya. Jadi walaupun kerja bukan di bidang sesuai jurusan namun ilmu yang didapat semasa kuliah tetap bisa digunakan.”


“Disana saya belajar bagaimana proses pemasaran dan pelayanan yang baik. Hingga setelah dua tahun bekerja di bidang ini saya merasa bahwa kesempatan kita untuk bekerja lebih baik lagi dari ini masih bisa dicapai. Akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan lainnya agar dapat tempat yang lebih baik dengan gaji yang lebih pula,” ujar Septi.


Septi mengatakan “Tak lama niat untuk keluar perusahaan retail tersebut terfikirkan. Ternyata ada pembukaan lowongan untuk pegawai tidak tetap di sebuah perusahaan pelayanan milik pemerintah. Akhirnya saya melamar disana. Namun gelombang pertama saya hanya sampai ke tahap wawancara.


“Saat itu posisi saya masih bekerja sebagai karyawan di perusahaan retail (saya belum resign saat itu) jadi pihak perusahaan yang baru tidak mau menerima. Dari sini saya meresa kalau saya tidak keluar akan sulit bagi saya mencari pekerjaan lain. Karena waktu kita juga masih terikat jadi akan susah untuk fokus mencari pekerjaan,” lanjut Septi.


“Akhirnya saya resign dari perusahaan retail tersebut yang sebenarnya sangat di sayangkan oleh atasan-atasan saya di sana karena belum ada pengganti pekerjaannya. Namun mereka juga mendukung niat saya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik lagi. Walau dengan berat hati,” kata Septi.


Ujar Septi “Dua bulan lebih menggangur sambil memasukan lamaran pekerjaan ke sana kemari. Ke segala perusahaan milik swasta dan negeri. Dimasa itu terdapat kebijakan presiden Jokowi untuk tidak membuka penerimaan CPNS selama 5 tahun. Mau mengajar jadi guru honorer taulah sendiri berapa gajinya. Kebutuhan yang dimiliki menuntut mencari pekerjaan di semua bidang dengan penghasilan yang sesuai.”


Akhirnya perusahaan sebelumnya menolak saya membuka kembali lowongan pekerjaan di bidang yang sama. Saya mencoba melamar disana lagi. Nah dari sini saya ingin lagi bercerita untuk sebuah kesempatan kerja selain itu adalah hasil dari kerja keras kita. Namun semua tidak terlepas dari campur tangan Yang Maha Kuasa. Karena semua yang kita dapat adalah takdir yang sudah di tuliskan untuk kita. Untuk kedua kalinya saya melamar ternyata saingan saat ini ketat. Saya kalah poin dari segi bidang kelulusan. Ternyata pendaftar sekarang banyak lulusan dari luar kalimantan sehingga akreditasi kampus mereka lebih tinggi dan jurusan mereka lebih sesuai dengan posisi yang dicari. Karena perusahaan itu perusahaan di bidang kesehatan jadi banyak lulusan kesehatan yang dicari. Pertimbangan saya bisa lolos sampai tahap akhir dikarena pengalaman saya di bidang pemasaran dan pelayanan di perusahaan sebelumnya. Karena memang lowongan yang di cari di bidang pemasaran dan Relantionship officer (hubungan dengan perusahaan-perusahan luar).  Akhirnya untuk kedua kalinya saya tidak lulus untuk masuk ke perusahaan milik pemerintah ini karena mereka lebih mencari kesesuain jurusan bukan pengalaman kerja. Karna yang di terima banyak fresh graduation.


Seminggu sudah teman saya memulai treainingnya di perusahaan itu. Saya mulai mencari kerjaan yang lain. Saat itu di tawarkan teman saya. Kebetulan dia punya kenalan HRD di perusahaannya. Jadi kemungkinan besar di terima di sana. Sayapun tidak pikir panjang melihat peluang itu akhirnya saya melamar di perusahaan jasa pengiriman barang. Prosesnya ternyata agak lama. Saat masih menunggu kabar ternyata ada nomor yang tidak dikenal menelfon saya berkali kali waktu itu saya tidak angkat karena sedang di jalan. Tak lama berselang teman saya yang kerja di perusahaan pemerintah kemaren menelpon saya mengabarkan kalau saya diberi kesempatan untuk bekerja disana karena ada karyawan yang mengundurkan diri. Namun penempatannya bukan di Pontianak tapi di Ketapang. Karena waktu wawancara saya mengatakan siap di tempatkan di mana saja dan dengan pertimbangan dll akhirnya saya di panggil lagi oleh atasan saya.

Ini lah awal nasib saya bekerja di perusahaan milik pemerintah tersebut dengan latar belakang jurusan yang berbeda. Ternyata nasib memberikan saya kesempatan untuk berkarir disana. Walau harus kerja jauh dari orang tua pergi merantau. Dengan begitulah kita bisa mengembangkan diri kita. Disini saya mendapatkan pengalaman baru dengan penghasilan yang sesuai. :)

Saat sudah pindah ke ketapang waktu itu baru sampai di sana 3 hari ternyata saya dapat sms untuk wawancara masuk keperusahaan yang teman saya tadi bilang. Disini terkadang kegalauan para pelamar kerjaan waktu di tunggu ngak ada panggilan. Tapi sekali di panggil semua perusahaan manggil haaaa.. jadi ada kegalauan tapi itulah pilihan kita tidak boleh menyesalinya.

Karena status saya hanya pegawai tidak tetap maka hanya di kontrak per 2 tahun dengan maksimal umur sampai dengan 27 tahun akhirnya saya tidak bisa di perpanjang karena umur saya saat itu sudah mencapai maksimal. Bisa lanjut apabila jadi pegawai namun ternyata di tahun itu tidak ada pembukaan pegawai. Akhirnya saya berhenti bekerja. Qadarullah mungkin memang cukup segitu saja rezeki saya di sana karena ternyata di tahun berikutnya ada pembukaan pegawai disana.

Mungkin kalau saya bekerja di perusahaan swasta saat ini saya masih bekerja karena tidak terikat umur. Sekali lagi semua sudah takdir Allah jalini dengan ikhlas.

Untuk saat ini saya memilih sebagai ibu rumah tangga fokus mengurus keluarga. Karena saya merasa sudah puas bekerja selama 5 tahun saat masih gadis. Jadi saat ini saya memilih menjadi ibu rumah tangga ketimbang menjadi wanita karir.

Di penutup perbicangan kami septi pun menambahkan, “Semoga Allah selalu merahmati saya dan keluarga. Aamiin.”

     Walaupun sekarang ia memilih untuk fokus menjadi ibu rumah tangga, bukan berarti apa yang telah dilewatinya berlalu begitu saja. Ada hal positif yang dapat kita petik agar tidak pantang menyerah dalam melakukan sesuatu. Selalu berdoa, laksanakan semuanya dengan ikhlas. Kita serahkan pada yang diatas. Semua akan indah pada waktunya.


Jika target dan keinginan hampir tergapai. Namun, terjatuh ditengah jalan dengan luka yang amat dalam. Hingga mengalirkan darah dan meninggal bekas. Obat mujarab dapat menyembuhkan dengan mengoleskan secara telaten maka lukanya pun akan memudarkan perlahan-lahan. Yakilah itu yang terbaik Allah berikan.


Gelar yang telah diperjuangan hingga empat tahun atau lebih jangan dijadikan acuan dalam mencari pekerjaan. Apalagi usia dunia yang semakin bertambah maka semakin meningkat pula teknologinya. Banyak pekerjaan yang telah digantikan oleh robot.


Motivasi dari orang lain memang menambah kekuatan kita. Namun sejatinya diri sendirilah yang memperkokoh cita-cita.  Kesuksesan ataupun keterpurukan yang dialami hanya bisa dilihat manusia dengan mata mereka sedangan yang merasakan kenyamanan adalah dikau.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman