Antar Pakatan Simbol Sikap Gotong Royong Masyarakat Jawai - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 15 Desember 2020

Antar Pakatan Simbol Sikap Gotong Royong Masyarakat Jawai

 

Antar Pakatan sebagai Sikap Gotong Royong

Korpora.id, Sambas -  Sore hari begitu cerah, terik mataharipun mulai menyengat kulit. Aku berjalan menuju kediaman Bapak Ruslan yang sedang mengadakan acara pernikahan putri bungsunya. Acara pernikahan ini dilaksanakan di desa Sarang Burung Kuala, tepatnya di kecamatan Jawai, kabupaten Sambas (Sabtu, 21 November 2020).


Langkah kaki beriring dengan tetesan keringat mengucur membasahi tubuh. Sepuluh menit Aku berjalan menuju rumah kediaman Ruslan.


Aku melangkah menuju tarup beratap terpal hijau, dengan lantai papan yang tersusun rapi. Di sana aku disambut oleh Ruslan dan H. Abdus Samad selaku orang yang dituakan di kampungku. Kami berbincang mengenai banyak hal, diantaranya membahas tradisi yang selalu dilaksanakan pada setiap acara pernikahan maupun acara besar lainnya.


Acara pernikahan di Sambas berbeda dengan acara pernikahan daerah lainnya. Sambas memiliki banyak ragam budaya, salah satu di antaranya pada acara pernikahan yang dikenal dengan hari Antar Pakatan. Kata ini tidak asing di telinga masyarakat Sambas


Bagi masyarakat Sambas mendengar kata Antar Pakatan sudah terbayang di benaknya acara pernikahan dan acara besar lainya.


Sambil tersenyum Samad pun mulai menjelaskan mengenai arti kata Antar Pakatan, “Antar Pakatan berasal dari kata Antar dalam bahasa sambas berarti membawa atau menghantar, sedangkan Pakatan berarti sepakat atau setuju. Jadi, Antar Pakatan ini menghantarkan apa yang telah disetujui.” tegas Samad saat ditemui di tarup. 


Di Sambas Antar Pakatan adalah suatu adat istiadat dimana satu keluarga diundang ke rumah yang punya acara seperti pernikahan dan acara besar lainnya. Keluarga yang diundang tersebut harus membawa beras dan ayam. Beras dan ayam ini bertujuan untuk membantu keluarga yang membuat acara.


Kesepakatan yang disetujui dibahas seminggu sebelum acara dimulai. Seminggu sebelum acara pernikahan dimulai, keluarga mengadakan pertemuan yang disebut dengan Padu Nyarok dengan menggumpulkan keluarga besar, orang yang dituakan di kampung, dan masyarakat setempat. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan yang berisi siapa yang diundang, berapa saprah (tradisi makan bersama menggunakan tangan yang beranggotakan lima sampai enam orang dengan duduk bersila yang melingkar untuk menikmati makanan) yang akan dibuat, bagaimana sistem maupun susunan acara nanti, dan siapa yang akan mengurus acara ini nantinya.


Pernikahan umumnya hanya dilakukan satu hari saja. Tamu undangan pun hanya datang dan membawa uang saja serta makan hanya satu kali. Lain halnya dengan pernikahan yang ada di kabupaten Sambas. Pernikahan di lakukan selama dua hari yaitu Hari Motong (Antar Pakatan) atau hari kecil dan hari besar. 


Hari kecil dilakukan pada sore hari mulai dari pukul tiga sampai lima sore dengan membawa beras dan ayam. Masyarakat yang diundang berbondong-bondong datang membawa beras dan ayam. Masyarakat setempat yang dekat dengan rumah pembuat acara serta keluarga besar membantu dalam menyukseskan  acara pernikahan itu. 


Orang yang datang dijamu oleh pembuat acara. Jamuan tersebut berupa makan sore, dengan menu berupa ikan asin, gulai-gulaian, cencalok, mie goreng dan sambal terasi. Makan sore ini dilakukan dengan bersaprah. 


Aku dan lima orang masyarakat lainnya pun menyantap makanan yang telah dihidangkan kepada kami dengan lahap. Tujuan dari bersaprah ialah sebagai salah satu perwujudan kebersamaan dan silahturahmi antar masyarakat Sambas.


Samad kembali menuturkan, “Antar Pakatan ini merupakan salah satu cara masyarakat untuk membantu keluarga yang membuat hajatan dengan membawa Beras dan Ayam diharapkan dapat meringankan sedikit beban. Hal ini mencerminkan sikap gotong royong yang sangat tinggi pada orang Sambas yang telah tercermin dari zaman dulu.”


Hal itupun dibenarkan oleh Ruslan yang sedang duduk dengan kami pada saat itu, “Dengan beras dan ayam yang didapat sangat membantu dalam acara pernikahan ini. Beras dan ayam yang diberikan akan dimasak untuk menjamu masyarakat pada besok di hari besarnya. Jadi saya tidak perlu lagi  memikirkan untuk membeli beras.” tutur Ruslan dengan muka serius.


Tidak terasa sudah satu jam kami berbincang mengenai tradisi Antar Pakatan. Berbicara tradisi memang tidak akan ada habis dan bosan-bosannya. Hari sudah mulai sore, burung pun sudah mulai pulang ke sarangnya. Diakhir pembicaraan Samad berpesan, “Saya berharap agar nantinya anak cucu dapat melestarikan tradisi yang baik ini, jangan sampai hilang. Kami sebagai orang tua tetap mengawasi dan mendukung dalam melestarikan tradisi yang baik lainnya. Tradisi baik harus kita jaga dan tradisi buruk yang melenceng dari ajaran agama kita rubah.” tutup Samad mengakhiri pembicaraannya. 


Penulis : Fajrin Ghozali

Penyunting : Videlia Rika Wili


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman