Eksistensi Yayasan Vihara Dewi Mulia Pontianak - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 15 Desember 2020

Eksistensi Yayasan Vihara Dewi Mulia Pontianak

 

Sumber : Facebook Megahnya Vihara/Klenteng Kita

Korpora.id, Pontianak - Siang itu panas terik menyinari bumi ini, namun tidak menyurutkan semangat saya untuk mendatangi sebuah tempat ibadah yang bernama Yayasan Vihara Dewi Mulia atau yang lebih sering disebut dengan Kelenteng Dewi Mulia. Dengan mengendarai motor ditemani pemandangan indah sepanjang jalan menuju Kelenteng ini yang terletak di Jalan Raya Khatulistiwa (Depan Bundaran Tugu Khatulistiwa) masuk ke Jalan SMU 5, ± 1Km, Desa Sungai Sahang, Kelurahan Batu Layang, Kecamatan Pontianak Utara.


Sesampainya disana, saya bertemu dengan Liau Shi Bun (70 Tahun) yang merupakan Ketua Pengurus Yayasan Vihara Dewi Mulia ini, ia tinggal di Jalan Panglima Aim dan bekerja sebagai pedagang biasa.


Dahulu Kelenteng ini hanya berdiri dua bangunan rumah dengan ukuran bangunan masing-masing 8m x 3,5m yang digunakan sebagai tempat ibadah umat Konghucu, “Berhubung tidak ada warga sekitar yang tahu sebenarnya sejarah permulaan berdirinya rumah kelenteng ini, maka hanya dapat memperkenalkan bahwa ditahun 1997 kondisi halaman Kelenteng selalu tergenang air, bangunan juga lapuk karena termakan usia hingga sangat sulit bagi umat disekitarnya yang ingin beribadah di Kelenteng ini.


Oleh karena itu, warga sekitar yang merasa prihatin dengan kondisi tersebut kemudian berkumpul dan berdiskusi untuk mencari solusi supaya dapat menata kembali Kelenteng dan berfungsi sebagaimana mestinya. 


Nah, bermula dari itu beberapa pemuka masyarakat datang menemui bapak Lie Khi Leng dan menyampaikan maksud tujuan untuk menata ulang Kelenteng. Demikian bapak Lie Khi Leng menerima niat baik tersebut dan mengumpulkan teman-teman serta donatur untuk menghimpun dana.


Dana yang terkumpul itu digunakan untuk membebaskan lahan kemudian membeli lagi lahan guna memperluas halaman disebelah Kelenteng, pada tahun 1999 semua bangunan direnovasi total.” ujar Liau Shi Bun sambil menatap pemandangan yang ada di depannya.


Seiring berjalannya waktu, Kelenteng ini sudah terlihat sangat indah dan sangat luas, pengunjung yang datang ke Kelenteng ini bisa untuk bersembahyang ataupun sekadar berwisata.


Sekarang di Kelenteng ini telah dibangun tiga gerbang pintu, dua Kelenteng, yaitu Kelenteng Dewi Mazu dan Kelenteng Dewa Da Bo Gong, replika tiga gunung setinggi 10 meter berbentuk lima jari yang dihiasi dengan patung dewa-dewi dan naga serta tiga altar meja sembahyang di halaman terbuka, yaitu meja altar Tian Di Gong/ Tian Guan Ci Fiu, Dewi Guanyin, dan Rulai Fo Zu.


Hingga kini telah tertata rapi patung dewa-dewi dengan total 54 buah patung yang mempunyai sejarahnya masing-masing dalam budaya Konghucu.


“Kita juga sudah menata pagar halaman Kelenteng  dengan penghijauan agar menghasilkan panorama yang indah.” ujar Liau Shi Bun sambil menunjuk pagar Kelenteng yang sangat indah (Minggu, 15 November 2020). 


Di Kelenteng Dewi Mulia ini memiliki dewi yang paling tinggi, yaitu Dewi Mazu atau Dewi Samudera atau yang biasa disebut dengan Ma Cou,


“Ma Cou ini orang yang sangat baik hati, dia lahir di tepi laut kampung nelayan. Dia di utus untuk membantu semua orang mengenai cuaca apakah nelayan tersebut boleh pergi atau tidak. Semua ucapan yang dikeluarkannya selalu benar adanya, lalu dia ini meninggal diumur muda dan langsung naik ke surga, maka dari itu dia menjadi dewi yang disembah oleh para penganut agama Konghucu terutama para nelayan dengan harapan memberikan keselamatan, utamanya kala para penganutnya merantau menyeberangi lautan”, juga ada dewa yang paling tinggi, yaitu Dewa Da Bo Gong “Dia merupakan Dewa Air yang dikenal di wilayah Malaya dan Indonesia, ia dipuja semenjak zaman Dinasti Song oleh para pelaut demi keamanan pelayaran.” ujar Liau Shi Bun sambil menunjuk Dewi Samudera atau Ma Cou dan Dewa Da Bo Gong.


Kelenteng Dewi Mulia juga memiliki beberapa acara yang selalu dilakukan setiap tahunnya, yaitu ibadah imlek dua kali tanggal 1 imlek dan 15 imlek, serta ulang tahun Kelenteng yang menurut ulang tahun Ma Cou tanggal 23 Maret dikalender imlek. 


Ada satu acara yang pernah dilakukan di Vihara ini, yaitu perayaan Imlek yang dipadukan dengan bakti sosial pemberian santunan kepada anak yatim dan dhuafa yang banyak mendapatkan respon positif dari kalangan masyarakat. 


Pengunjung Kelenteng ini datang dari berbagai kota di Indonesia bahkan ada yang dari luar negeri terutama Malaysia.


Sudah sekitar dua puluh tahun lebih pembangunan Kelenteng ini namun belum selesai juga, karena masih banyak yang ingin dibangun oleh Liau Shi Bun, seperti sekarang ini sudah dibeli kembali tanah seluas 400 meter dan akan dilanjutkan pembangunan Kelenteng tersebut.


“Saya ingin Kelenteng dikenal oleh berbagai kalangan dan setiap yang sembahyang di sini bisa beribadah dengan damai, menikmati keindahan yang asri dan merasa kenikmatan udara yang segar. Bagi umat yang beribadah disini mintalah kelimpahan rezeki dan berkah sukses dalam usaha serta kehidupan sejahtera rukun damai sentosa. Saya juga ingin supaya orang dari luar yang datang untuk bersembahyang disini bisa sambil berwisata, jadi selain di dekat sini ada tempat wisata Tugu Khatulistiwa dan Makam Sultan, juga akan ada Kelenteng Dewi Mulia.” tutur Liau Shi Bun dengan wajah penuh harapnya.


Penulis : Devi Mutiarani

Penyunting : Reinada Juli


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman