Jatuh Bangun Usaha Bakmie Kering Sehat Bogita - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 23 Desember 2020

Jatuh Bangun Usaha Bakmie Kering Sehat Bogita

Sumber: Dokumen Pribadi


Korpora.id, Singkawang - Jam makan siang telah usai. Meja masih diisi beberapa pelanggan yang sedang menikmati bakmie kering. Sesekali, pegawai tempat makan itu berlalu lalang melayani pelanggan. Suasana tempat makan tampak begitu segar dengan mural yang menghiasi dindingnya. Warna-warni mural tersebut seirama dengan variasi warna bakmie kering sehat yang dipelopori Bakmie Bogita itu.

Nama “Bogita” diambil dari nama kecil sang pemilik, Eka yang akrab disapa Bogi. Menjalani bisnis kuliner juga didorong dari latar belakang tata boga pada Eka dan Dewi, istrinya. Berawal dari kesenangan Eka terhadap bakmie, setelah menikah di tahun 2013 ia bersama sang istri membangun usaha bakmie sehat. Bagi Dewi, warna alami pada bakmie baik untuk nutrisi para konsumennya. 

 

"Jadi kami mengolah bakmie sendiri dan warna bakmie berasal dari bahan alami. Untuk bakmie hijau kami olah dari sawi, kuning dari wortel, dan ungu dari buah naga," ujar Dewi ketika ditemui pada Sabtu, 31 Oktober 2020 di Kota Singkawang.

 

Di awal perjalanan usahanya, Dewi dan sang suami menghadapi banyak kesulitan. Saat itu, usaha yang mereka jalani hanya dengan modal nekat dan uang Rp 500.000. Mereka mengalami kegagalan saat di awal membangun usaha, mulai dari diduga menggunakan pewarna oleh orang lain hingga pembuatan bakmie yang gagal. Pasangan suami istri itu berusaha membuat bakmie terbaik setelah 70 kali percobaan.

 

"Semuanya itu dimulai saat pertama kali buka usaha di Roban. Tentu orang juga kurang teredukasi soal warna pada bakmie karena kami baru. Pada satu hari kami mendapat pesanan katering di Sedau sana. Kami buat bakmie hari ini untuk acara keesokan harinya. Di hari-H, ternyata tekstur bakmienya seperti lem. Karena gagal, kami akhirnya pulang. Saya menangis saat itu sambil membawa kuah panas di motor. Kami menutup tempat pertama kami setelah kejadian itu," ceritanya.Ketika masa mencoba membuat bakmie terbaik dari berbagai percobaan, Dewi menceritakan tentang pemilik warung kelontong yang cukup heran dengan jumlah dan frekuensi mereka membeli tepung. Hingga pada akhirnya, pemilik warung kelontong memberi tahu mereka tepung apa saja yang baik digunakan untuk membuat bakmie. 

 

“Kami akhirnya tahu bahan utamanya meskipun untuk resep kami belajar menakar sendiri hingga kami mencapai titik dapat membuat bakmie yang enak.”

 

Perjuangan Dewi dan Eka membangun Bogita tak hanya soal menciptakan rasa saja. Mengenalkan bakmie Bogita pada masyarakat Singkawang juga menjadi salah satu hal yang begitu mereka perhatikan sejak awal berdiri. Tak hanya itu, selama tujuh tahun berjalan, mereka telah berpindah tempat hingga enam kali, mulai dari di simpang Roban, di dekat Toko Lestari tugu BNI, di sekitar tempat tinggal mereka di KS Tubun, di depan Mes Daerah, di Jalan Bambang Ismoyo, hingga akhirnya di Jalan Gusti Sulung Lelangang pada saat ini. Dewi menuturkan berbagai faktor berpindah tempatnya Bogita, mulai dari gagal, habisnya waktu sewa, hingga semangat ingin mengembangkan usaha.

 

Sebelum berpindah di tempat sekarang, Eka sempat mengumumkan bahwa bakmie Bogita akan tutup secara permanen di akun facebook-nya. Para pelanggan setia begitu sedih dan memberikan semangat pada mereka saat itu. Keputusan Eka dan Dewi untuk menutup bakmie Bogita dikarenakan trauma saat menjalani usaha saat masih di tempat sebelumnya.

 

“Sebenarnya ada berbagai faktor yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk tutup. Pertama memang karena waktu sewanya sudah habis. Tapi juga ada faktor lain. Jadi salah satu pegawai kami bisa dikatakan mencuri dan merusak rasa dari bakmie. Kami sebenarnya selalu berusaha untuk membuat bakmie yang baru dengan rasa yang tak pernah kami ubah. Tapi kami tidak bisa menghindari perbuatan seperti itu. Selain itu, ada isu mengenai warung kami yang menyebar ke masyarakat dan hal itu memang dikarenakan kami sedang diguna-guna oleh orang yang iri dengan kami.”

 

Wajah Dewi tampak sedih ketika menceritakan kembali masa jatuhnya usaha bakmie Bogita saat usaha mereka telah dikenal oleh masyarakat. Dewi dan Eka kemudian pulih dari trauma tersebut dan membangun kembali bakmie Bogita setelah tujuh bulan berlalu. 

 

“Pelanggan banyak yang meminta kami untuk buka. Selain itu, ada orang baik hati yang memberikan kami modal. Ia saat itu bilang ke kami untuk jalani saja, sayang sudah banyak orang mengenal ciri khas kami,” tutur perempuan 38 tahun itu.

 

Bagi Dewi, kembalinya bakmie Bogita di tengah masyarakat juga merupakan salah satu wujud ia dan sang suami mengembangkan usahanya. Kini tempat makan mereka jauh lebih luas dibandingkan dengan tempat sebelumnya. Selain tempat yang lebih besar, mesin yang mereka gunakan untuk membuat mie juga lebih besar dibandingkan sebelumnya. 

 

“Di awal usaha kami membuat mie menggunakan ampia. Namun karena lama dan tidak awet, kami menggunakan mesin sejak berjualan di depan Mes Daerah. Saat ini, kami sudah menggunakan mesin yang lebih besar sejak berjualan di Bambang Ismoyo.”

 

Selain berkembang secara operasional, menu makanan di bakmie Bogita kini semakin beragam. Tak hanya menjual bakmie kering dengan berbagai warna alami yang menjadi ciri khas, mereka juga menyediakan berbagai menu mulai dari bakso, bakmie geprek, nasi goreng, mie goreng, katsu, hingga berbagai menu lainnya disertai dengan menu minuman yang kekinian. 

 

Tak hanya menjalani usaha, latar belakang pendidikan juga menjadikan mereka dapat berbagi ilmu memasak bakmie kering sehat kepada masyarakat. Mereka telah memberikan pelatihan kepada berbagai kalangan, mulai dari pelajar SMK tata boga hingga individu yang ingin menjalani bisnis seperti mereka. Eka sendiri juga biasanya menjadi pembicara di workshop kewirausahaan.

 

Kini, banyak dari pegawai di bakmie Bogita berasal dari mereka yang dahulunya pelajar yang belajar membuat bakmie bersama Dewi dan Eka. Ketika Dewi hadir, mereka menyapanya dengan panggilan akrab dan terdapat mereka yang bermain bersama anak lelaki Dewi. Dalam menjalani usaha, Dewi merasa kekeluargaan juga menjadi hal yang penting. Meski sebelumnya telah mengalami pengalaman yang tidak nyaman, baginya jalinan kekeluargaan antara pemilik dan para pegawai menjadi kunci utama. 

 

Di sini kami menjalaninya bukan sebagai pemilik dan pegawai, tapi sebagai keluarga. Itu yang membuat kami dapat saling bekerja sama satu sama lain,” tuturnya.

 

Penulis                  : Rahma Fadhila

Penyunting           : Natasya Maulina




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman