Jerih Payah Sopir Oto Tambang - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 08 Desember 2020

Jerih Payah Sopir Oto Tambang

 

C:\Users\lenovo\Documents\IMG_20201113_152138.jpg

Sumber: Dokumen Pribadi

Korpora.id, Pemangkat – Rabu, 13 November 2020 kumenemui sesorang tulang punggung keluarga yang luar biasa. Tak ada kewajiban yang wajib dijalani oleh seorang laki-laki, baik itu seorang ayah maupun seorang suami hanya semata-mata mencari sesuap nasi dan berjuang tanpa kenal lelah hanya untuk bertahan hidup. Sebagai tulang punggung keluarga yang mempunyai hak bertanggung jawab, apapun akan dilakukan demi istri dan anak-anaknya.

Tak terkecuali Pak Sehan, biasa dipanggil Pak Mok Sehan. Tepat 29 Desember tahun 2020, seorang sopir angkutan umum ini akan menginjak usia ke 59 tahun. Sejak bujangan Pak Mok Sehan sudah menanjak gas oto tambang.

Oto tambang adalah sebutan bis angkutan umum di Pemangkat. Oto yang berarti mobil/sejenisnya, dan tambang yang berarti ongkos. “Karena bis tersebut menerima ongkosan, disebutlah oto tambang. Kendaraan yang disediakan untuk umum dan dipungut bayaran.” ujar Pak Mok Sehan.

Pak Mok Sehan mempunyai istri dan dua anak, anak pertama perempuan berumur 24 tahun bernama Sari, anak kedua laki-laki berumur 7 tahun bernama Alvin. Anaknya yang pertama baru saja berumah tangga, dan membuka usaha kuliner seperti seblak. Istrinya seorang penjahit, dengan membuka usaha sampingan istri dan keluarga Pak Mok Sehan bersyukur terkadang mendapatkan penghasilan dari hasil menjahit usaha istrinya.

Pak Mok Sehan turun dari rumahnya jam 4 subuh, sudah menunggu penumpang di depan Pasar Nelayan. Penumpang yang naik dengan tujuan dari Pemangkat ke Sambas dan dari Singkawang ke Sambas. Penumpangnya ibu-ibu dan bapak-bapak yang mau pergi jualan sayuran di Pasar Sambas.

“Lepas sholat subuh biasanya saya sudah berangkat sambil menunggu penumpang. Karena saya sudah cukup banyak langganan, jadi saya tidak perlu mangkal di terminal atau tempat pangkalan lainnya. Biasanya ada yang menghubungi atau datang ke rumah kalau besok harinya dia mau numpang oto saya, biasanya juga saya juga ngambil penumpang di tepi jalan” ujar Pak Mok.

Dari Pemangkat ke Sambas, setelah dari Sambas, lanjut ke Singkawang mencari penumpang, kemudian mengantar lagi ke Sambas, setiap harinya seperti itu. Terkadang kalau penumpang sepi, Pak Mok tidak sampai menghantar ke Sambas. Hanya berenti di Tebas sebelum Sambas.

Pak Mok Sehan sempat mengeluhkan pendapatannya selama Pandemi Covid-19, sangat jauh menurun dibandingkan sebelum pandemi. “Biasanya sehari saya dapat 30 ribu, itu sudah sangat bersyukur. Pernah sekali saat hari raya Idul Fitri saya hanya dapat 17 ribu dari pagi sampai tengah hari, yaa apa mau dikatakan, sudah segitu rezeki yang Tuhan kasih.” ujar Pak Mok Sehan.

Yang lebih memprihatinkan lagi, terkadang ada penumpang yang tidak mau bayar. “Kadang ada yang naik dan turun semaunya tanpa mau bayar. Dia bilang tidak ada uang untuk bayar, padahal di situ saya juga sedang mencari uang susah payah untuk keluarga saya” ujar Pak Mok.

Selain itu, kadang ada juga anak jalanan yang naik dengan ongkos yang tidak cukup, tetapi Pak Mok Sehan mengizinkan mereka naik otonya walaupun dengan ongkos mereka yang tidak cukup. “Saya pikir, daripada anak jalanan itu mengganggu orang di jalanan dan melakukan hal yang tidak jelas, jadi saya izinkan mereka naik angkutan saya.” ujar sopir angkut berhati mulia.

Banyak tantangan yang harus Pak Mok hadapi dan lewati selama menjadi sopir angkutan umum. Pernah juga sekali Pak Mok kecelakaan saat membawa penumpang, dengan kecepatan yang terlalu tinggi Pak Mok menabrak halte. Sehingga Pak Mok luka-luka dan penumpang juga banyak yang luka-luka akibat kecelakaan tersebut, bersyukur tidak ada yang sampai meninggal karena kecelakaan itu.

Karena oto yang Pak Mok gunakan adalah oto sewaan, jadi dari hasil pendapatan Pak Mok dibagikan orang yang punya oto tambang tersebut. Bensin sudah diisi oleh pemiliknya, jadi Pak Mok Sehan mengganti berapa liter bensin yang ia habiskan sepanjang Pak Mok bawa oto itu. 

Pak Mok hanya mendapat 35% dari 100% yang hasil yang ia dapatkan. Misalnya Pak Mok sehari dapat 200 ribu, dipotong ganti bensin sebanyak berapa liter yang terpakai, uang singgah ngopi dari hasil narik juga, hasil bersihnya dibagi dengan pemilik oto tambang tersebut. Sisa dari semua itulah hasil yang Pak Moh bawa pulang. 

Cukup tak cukup, harus cukup untuk menghidupi keluarga. Walaupun begitu, Pak Mok Sehan dan keluarganya tidak mau terlalu pusing memikirkan hal itu atau tidak mau terlalu tegang dalam mencari rezeki. Karena rezeki tiap orang sudah diatur oleh Tuhan, Pak Mok Sehan selalu bersyukur dengan hidup yang ia jalani, dengan rezeki yang ia dapatkan sehari-hari berapapun itu.

“Yang terpenting saya sangat bersyukur kepada Tuhan yang masih memberi saya umur panjang dan selalu diberikan kesehatan jasmani dan rohani kepada saya dan keluarga saya.” ujar Pak Mok Sehan meyakinkan bahwa tidak ada yang patut kita keluhkan atas segala nikmat yang telah Tuhan berikan.


C:\Users\lenovo\Documents\IMG_20201113_152046.jpg


Selalu ada pelajaran hidup yang mesti kita petik dari setiap kehidupan seseorang. Sesusah, sesulit dan seberat apapun hidup yang kita jalani, kita harus ingat dan sadar bahwa ada yang lebih susah dari kita. Layaknya kita bersyukur dengan semua nikmat yang Tuhan berikan kepada kita.

Jangan terlalu mendongak keatas sampai membuat kita lupa bersyukur. Tapi lihatlah kebawah agar kita selalu bersyukur dan sadar bahwa banyak orang yang sangat membutuhkan uluran tangan kita.


Penulis : Sucia Lucinda

Penyunting : Yunita Andriani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman