Melestarikan Kebudayaan Dayak Kanayat’n di Bumi Borneo - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 05 Desember 2020

Melestarikan Kebudayaan Dayak Kanayat’n di Bumi Borneo


Sumber: Dokumen Pribadi


Korpora.id, Anjongan – 12 November 2020, kebudayaan Dayak yang erat dengan seorang wanita berambut pendek, betubuh tegap, memiliki raut yang tegas, dan mempesona dengan ukiran kesenian (tutang) tato yang terukir di kedua lengannya. Maria seorang ibu yang memiliki kekaguman terhadap suku yang mengalir di darahnya, menciptakan sebuah komunitas kebudayaan Dayak Kanayat’n yang berhasil dikenal hingga pulau seberang.

Komunitas sanggar seni kebudayaan Dayak Kanayat’n ini berdiri pada tanggal, 20 Juli 2000 hingga sekarang. Terlihat dari susunan kerajinan Dayak berupa perisai (gunapm), tarinak (caping), bakul yang sejajar dengan penghargaan-penghargaan itu, menjadi bukti bahwa sanggar ini memiliki nama yang besar.

Sambil menganyam salah satu pakaian adat pesanan pelanggan, Maria bergumam “Rampayo itu artinya bunga tepatnya sejenis bunga bangkai, kalau kami Dayak menyebutnya bunga khayangan. Filosofinya jika bunga rampayo ini jatuh ke bumi ia akan terbelah dua, dan harumnya itu sampai ke tujuh tanjung”. Makna harum sampai ke tujuh tanjung itu berarti wangi yang menyebar kemana-mana.

Keseharian Maria yang sebagai ibu rumah tangga membuatnya leluasa untuk mengajarkan kesenian, tarian-tarian tradisional maupun tarian kreasi kepada anak didiknya. Sebagai selingan Maria biasa menjadi pemateri seminar kesenian.

Pada hari itu tari pilanuk didendangkan oleh beberapa anak didiknya. Dari ujung jalan menuju rumahnya, gaungan alat musik berupa sape, dau, suling, beduk, dan gong pun seperti menari ditelinga saya. Gemulai tangan penari seakan membuat saya terhanyut dalam tarian Pilanuk.

Tarian ini merupakan salah satu tarian tradisional Dayak Kanayat’n yang menceritakan kisah suku dayak yang pada masa itu masih mencari makanan dengan berburu untuk bertahan hidup. Di tarian ini, yang menjadi hewan buruan ialah kancil di hutan pedalaman Kalimantan Barat.

Dilengkapi dengan properti galah yang digenggam erat oleh 4 orang penari wanita, dan sisanya lagi mengayunkan kaki, melompati galah demi galah mengikuti gaungan alat musik. Hitungan demi hitungan tak berhenti dari bibir tipis Maria yang menjadi pemimpin tarian petang itu. Tak hanya tarian pilanuk, terdapat juga tarian-tarian tradisional lainnya seperti tari timang padi, ngagok durian’t, tari sakral balian’t dan lain-lain.

“Jika berbicara tentang jenis tari, tari tradisional tentunya tarian yang memang sudah ada sejak zaman nenek moyang, sedangkan tari kreasi ini 60% tradisional dan 40% tari modern” ujar Maria. Mendengar ucapan Maria saya teringat sebuah bacaan di koran harian, tertulis bahwa Suku Dayak terkenal dengan kemolekan gadisnya yang menduduki peringkat kedua setelah Jepang.

Menurutnya tarian yang paling banyak diminati ialah tari kreasi. Biasanya ketika musim ujian praktik Maria dapat membimbing hingga 15 kelompok tari yang berbeda tema. 

Maria mengatakan, ”dari sekian banyak jenis tema tarian, merupakan gambaran tentang keseharian masyarakat Dayak Kanayat’n”

Maria yang duduk di hadapan saya, sedang memamerkan beberapa lukisan dan ukiran. Kepiawaiannya dalam menari tak kalah hebat dengan kelentikkan jari tangannya saat melukis di kulit kayu. Seolah ukiran lukisan itu sudah tertata rapi di dalam kepalanya. Tanpa melihat contoh Maria lugas menggaris lekuk-lekuk lukisan. 

“Disetiap ukiran lukisan ini memiliki makna yang erat, dan tak luput dari penggambaran suatu peristwa dan memiliki tujuan yang sakral, sehingga tidak dibuat dengan sembarangan” luap seorang wanita paruh baya dengan bahasa “ahe” bahasa Dayak Kanayat’n yang merupakan salah satu anak didik Maria.

Dari pajangan-pajangan tersebut terdapat pakaian adat yang terpasang pada badan benda mati menyerupai manusia. Sangat indah manik-manik yang melingkar dengan rapi dan dilapisi kulit daun pohon membuat pakaian tersebut sangat mewah dan mahal.

“Pakaian ini memiliki banyak motif seperti motif paku, bunga teratai, burung enggang dan banyak lagi, hanya saja sekarang motif modern yang paling di incar konsumen, sehingga kami selaku pembuat harus memutar otak untuk membuat design yang menarik dan mengikuti perkembangan zaman”.

Sambil mencuci tangan di derasnya air ledeng yang mengalir Maria berkata “Semua kerajinan yang tertata dalam ruangan kecil ini merupakan hasil dari keringat saya beserta anak didik saya. Mulai dari gelang, kalung, anting, tameng, pakaian,dan properti menari lain sampai ke anyaman itu kami produksi sendiri”.

Memperlihatkan beberapa dokumentasi berupa foto perjalanan Sanggar Rampayo ini Maria lagi-lagi berkata, “makan asam garam sudah saya rasakan selama sanggar ini didirikan, kesulitan-kesulitan itu saya anggap sebagai sebuah proses dari kehidupan untuk membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi”. Melestarikan budaya Dayak sudah menjadi tujuannya dalam mendirikan sanggar tersebut.

“Melihat situasi yang kian lama kian surut akan kepekaan terhadap identitas kelompok, kadang menjadikan saya optimis untuk membangun sedikit ruang lingkup guna melestarikan budaya Dayak Kalimantan Barat, yaa melalui sanggar yang saya bangun. Walaupun tidak banyak yang dapat saya lakukan setidaknya kita harus bangga terlahir sebagai salah satu umat yang dikaruniai ciri khas yang unik dan itu harus kita jaga sampai kapanpun karena ciri khas menunjukkan siapa kita” Maria terbesit.

Hal itu tak bisa dibantah dengan beberapa foto beserta rekaman video yang saya lihat, mereka telah sampai ke Pulau Dewata dan ke Taman Mini Jakarta, menyusul pula persiapan go Internasional ke Negeri Sakura.

“Dikarenakan saat ini kondisi belum kondusif jadi kami dari pihak peserta diberikan lebih banyak waktu untuk mempersiapkan tetek bengek untuk festival tersebut” Maria menyisir rambutnya yang setengah kering.

Sangat mengagumkan pengalaman beliau, yang hanya bermula dengan modal nekat membuat sepasang pakaian adat Dayak untuk lomba bujang dara pada masa itu.

“Pada saat itu perasaan puas dengan gulatan tangan saya dan benang. Saya masih ingat sekali waktu itu manik jepang yang saya beli perons 25 ribu rupiah, tapi sayangnya sekarang sulit sekali didapatkan”.

Bermula dari kesulitannya mencari pakaian adat pada masa itu, membuatnya bertekat membuat sendiri pakaian adat Dayak. Hingga saat itu muncullah sebuah niat untuk mengembangkan bakat yang telah tuhan karuniakan kepadanya.

Melihat ke langit burung-burung beterbangan menuju pulang, seolah memberikan isyarat kepada saya untuk mengakhiri perbincangan yang sangat menarik petang itu. Entah kenapa riangan pula niat saya untuk kembali ke tempat ini. Anggota tubuh saya seolah menggebu-gebu ingin menyatu dengan keindahan kesenian Dayak di ruang rumah Maria yang tak begitu luas ini.

Tak lupa pula Maria memberikan saya sebuah kalung sebagai tanda kenang-kenangan katanya. Semoga sanggar rampayo senantiasa memiliki nama yang harum layaknya bunga kayangan.


Penulis : Melyana

Penyunting : Erisky Aprinia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman