Mengenal Lebih Dekat Belat Pesisir - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 05 Desember 2020

Mengenal Lebih Dekat Belat Pesisir

 C:\Users\ASUS\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\IE\NVQIX4T5\20201127_165531[1].jpg

Sumber: Dokumen Pribadi


Korpora.id, Ketapang - Kamis, 10 September 2020. Deru ombak di pesisir laut itu perlahan menjauh meninggalkan kaki-kaki bakau yang jenjang. Udara pagi yang semerbak ditambah suara merdu kodok dan jangkrik menjadi pemicu suasana hati Hamdan (59) untuk mengais rezeki. 


Hamdan adalah warga Dusun Kali Baru, Desa Sungai Awan Kiri. Dia bekerja sebagai nelayan. Hamdan bertubuh tinggi dengan kulit coklat, tetapi sedikit bungkuk. 


Setiap pagi, Hamdan gercap menyusuri pematang agar sampai di steher. Dia lalu melanjutkan perjalanan menyusuri bakau dan tanah berlumpur untuk sampai ke beting (pulau pasir akibat air surut). Di sanalah, Hamdan memulai aktivitas melaut, yaitu mencedok ikan di belat.


Hamdan hanya menghela nafas sejenak untuk menghilangkan lelahnya setelah sampai di beting terakhir. Dia mengarungi air laut kembali agar bisa sampai di ujung belat. Di tempat itulah, Hamdan akan menyauk ikan-ikan yang telah terjerat masuk ke dalamnya.


Hamdan beruntung hari itu. “Alhamdulillah, banyak ikan yang masuk,” tutur Hamdan mencurahkan ikan-ikan dari keranjangnya. 


Setelah dipilah-pilah, Hamdan mendapatkan 30 lebih cocok ikan hasil saukannya. Cucok artinya menggabungkan sejumlah ikan kecil/sedang dalam satu tusukan pucuk nipah. Adapun untuk ikan yang berukuran besar akan dijual per ekornya.


Belat yang ditanam Hamdan di pesisir sebenarnya sama dengan belat yang tertanam di tengah laut. Hanya yang membedakan keduanya adalah dari letak, tinggi belat, media penghubung, dan modal. “Biasanya belat besar bisa menghabiskan kurang lebih empat puluh juta, sedangkan belat kecil kurang lebih sepuluh juta,” tuturnya sambil memasukan ikan yang telah dicucok dalam keranjang.


Ternyata untuk membuat belat tidaklah mudah. Hamdan pun berjalan ke arah belatnya, lalu menuturkan, “Kalau nelayan yang sudah lama, pasti tahu cara buatnya dan mereka akan membuat sendiri. Membuat belat kecil saja lumayan rumit, apalagi untuk membuat belat besar. Belat kecil bisa dibuat kurang lebih satu bulanan, itu pun harus dibantu beberapa orang.”  


Peralatan yang dibutuhkan dalam membuat belat, yaitu buluh/bambu. Buluh akan dipotong-potong dan dibelah menjadi ukuran satu jari, tetapi dengan tinggi yang berbeda-beda sesuai posisi bagian belat. Selanjutnya, ada akar paku untuk pengikat dan pancang-pancang untuk sangkar kurang lebih 600 batang. 


“Kalau buluh-buluh sudah dibelah, biasanya langsung dijalin atau dianyam dengan menggunakan akar paku. Inilah yang membutuhkan keterampilan dan waktu yang lama. Kalau semuanya sudah beres, tinggal menancapkan pancang-pancang di tepi laut dan menyelimutinya dengan berenak (buluh yang telah dijalin) saja,” tuturnya melanjutkan.


Bentuk belat itu seperti lorong segitiga yang panjang. Setiap bagian belat mempunyai nama-nama dan fungsi yang berbeda-beda. Hamdan dengan penuh kesabaran menjelaskan fungsi dari bagian belat.


Hamdan memegang satu bagian belat untuk menjelaskan kepada saya. 


Hamdan mulai menuturkan, “Pertama penajur. Penajur dibentangkan lurus mulai dari bakau sampailah ke bagian sayap. Kira-kira panjangnya 180 meter. Fungsinya agar ikan turun.” 


Hamdan melangkahkan kakinya ke bagian kedua yaitu sayap kiri dan sayap kanan. “Ini yang berbentuk segitiga yang agak panjang. Panjangnya masing-masing 80 meter. Fungsinya untuk menahan ikan.” 


Hamdan pun mulai mengarungi air laut untuk menunjukkan bagian ketiga yaitu peluar. “Bentuknya sama dengan sayap, tetapi panjangnya yang berbeda. Panjangnya hanya 12 meter, satu sisi 6 meter dan sisi keduanya 6 meter. Fungsinya untuk penahan ikan besar agar tetap masuk ke dalam bunuh.” 


Posisi Hamdan semakin lama semakin dalam karena air surut hanya sampai di sayap. Namun, Hamdan tetap mengarungi aiar laut dan melanjutkan penjelasannya. “Ini namanya kelengkeng. Panjang kiri kanan hanya 5 meter. Fungsinya menyaring ikan agar terus masuk dan menyaring ubur-ubur agar tidak masuk.”


Hamdan kemudian hanya menunjukkan dengan tangannya bagian kelima yaitu pemare. “Panjang kiri kanannya hanya 4 meter dan fungsinya untuk penyaring terakhir agar ikan masuk ke bunuh.” 


Bagian terakhir adalah bunuh. “Bunuh ini bentuknya persegi, masing-masing panjangnya 4 meter dan luas keseluruhannya 16 meter. Di sinilah tempat untuk mencedok ikan,” tuturnya dengan senyum yang lebar dan mata yang berbinar-binar.


Di dalam bunuh, terdapat sebuah tangga untuk memudahkan Hamdan agar bisa masuk melewati berenak. Nama bunuh sendiri diberikan masyarakat karena di bagian ini ikan-ikan hanya bisa pasrah memikirkan dirinya yang telah berhasil tertangkap oleh nelayan.


Belat biasanya digunakan dua kali selama setahun. “Bulan April sampai November adalah musim angin tenggara. Ikan-ikan akan banyak datang, hanya saja tinggal alam yang menentukan. Belat paling lama bisa berumur lima bulan, itu pun kalau tidak ada kendala,” tutur Hamdan sambil berjalan pulang menghampiri keranjangnya lagi.


“Memasuki bulan Desember sampai Maret adalah musim angin laut. Biasanya akan ada angin ribut. Ikan-ikan akan berenang mengikuti arus air laut yang tidak menentu,” tutur Hamdan kembali.


Setiap alat penangkap ikan pasti memiliki kendala masing-masing. Hamdan menuturkan bahwa banyak kendala yang dia rasakan menggunakan belat. 


 “Saya pernah merasakan ketika baru saja menurunkan belat, besoknya sudah tumbang. Selain itu, kadang-kadang belat juga rusak akibat kayu yang tersangkut di belat, ada bagian yang patah akibat kuatnya ombak, dan banyak lagi lainnya,” tutur Hamdan.


Jumlah ikan yang didapat setiap harinya tidaklah menentu. Menurut Hamdan, jika menghitung di akhir pembukuan, hasil tangkapan ikan yang dijual dapat menutupi modal awal dan ada juga keuntungannya. 


Rezeki setiap manusia itu sudah tertulis, mau menggunakan alat tangkap apapun, keuntungan dan kerugian pasti selalu ada. Lebih baik kita selalu bersyukur.



Penulis:         Reza Utami Sahutni

Penyunting:     Siska

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman