Mengusut Tuntas Sejarah Rumah Tua Berumur Dua Abad di Tanah Khatulistiwa - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 16 Desember 2020

Mengusut Tuntas Sejarah Rumah Tua Berumur Dua Abad di Tanah Khatulistiwa

Mengusut Tuntas Sejarah Rumah Tua Berumur Dua Abad di Tanah Khatulistiwa

 

Penulis         : Yolanda Oktaviani

Penyunting  : Yeyen


Rumah Tua tampak depan yang berumur kurang lebih 200 tahun
Sumber: Dokumen pribadi


Korpora.id, Pontianak – Kala Matahari bersinar dengan terik, seakan siapapun akan merasa terbakar ketika bersentuhan langsung dengan sinarnya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan tekad dan semangat saya beserta ketiga rekan, untuk membuat sebuat video liputan mengenai destinasi wisata yang ada di tanah Borneo tepatnya di Kota Khatulistiwa. Kami mengendarai sepeda motor matic, masing-masing berboncengan. Perjalanan menuju Kampung Tua memakan waktu kurang lebih 30 menit, dari titik kumpul masjid Muhtadin Untan.

 

Sebelum menuju ke tempat tujuan, kami diskusi ringan menyiapkan draf liputan serta mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa seperti alat tulis, handpone, alat make-up, laptop, alat perekam suara, dan perlengkapan lainnya. 


Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan bangunan yang tinggi menjulang, padatnya kendaraan roda dua, roda empat, roda enam, ditambah hiruk pikuk suara kendaraan dan bau asapnya. Menjadikan perjalanan kami lebih berkesan.

 

Dari simpang empat jalan Imam Bonjol, kami membelokkan haluan ke sebelah kanan. Tepatnya menuju jembatan tol Kapuas. Jembatan tol yang panjang, menanjak, dan turunan yang curam. Setelah melewati turunan tol ini kami sudah hampir sampai menuju jalan Tanjung Raya, menuju Kampung Arab, Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak. Kampung Arab merupakan tempat dan titik temu menuju Kampung Tua. 


Menempuh jarak berkilo-kilo meter, mengandalkan Google Maps sebagai penunjuk arah, membuat kami mendapatkan masalah menemui jalan buntu. Akhirnya kami berhenti dan bertanya kepada salah satu penjaga warung yang sibuk dengan alat pemukul dan es batu di tangan.

 


Jalan menuju Rumah Tua di Kampung Tua, Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak
Sumber: Dokumen pribadi

Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Semua tak sesuai harapan. Belum ada pengunjung, dan air yang surut membuat tak ada pengunjung yang berenang apalagi bermain kano. Kami mampir ke salah satu rumah warga. Dua orang laki-laki, tinggi bertubuh tegak, kulit berwarna sawo matang, dan yang satu berkumis tipis. Memaparkan jawaban dari beberapa pertanyaan yang kami ajukan.

 

Sempat sedih, karena semua draf/ kerangka yang sudah disiapkan dengan matang tak dapat terealisasikan. Datang jauh-jauh, pulang dengan niatan membawa video hasil liputan hampir gagal.  Kemudian kami menyusun strategi ulang.

 

Mentari tetap terik bersinar seakan enggan untuk bersembunyi walaupun satu detik. Ditemani dengan bau keringat dan rasa haus di tenggorokan, kami tetap berbincang ringan dengan kedua bapak yang kami temui di depan Rumah tua yang berdiri kokoh. Sekitar 50 Meter dari tempat duduk kami, adalah Rumah yang sudah berumur dua abad lebih. Bentuk Persegi, dinding rumah papan, tingan-tingan rumah yang dililiti semak belukar. Rumah yang cukup unik. Semua bahan bangunan terbuat dari kayu Belian, termasuk dengan atap rumah dari sirap (atap kayu).

 

Demi mendapatkan informasi yang akurat, kami berempat memutuskan untuk menemui salah satu ahli waris Rumah tua. Kedatangan kami ke rumah beliau membuahkan hasil.

 

“Rumah Tua itu awalnya miliki Datok saya, umurnya sudah ratusan tahun. Dari datok yang yang dulunya dan datok-datoknya saya, memang sudah tinggal disitu. Kalau umur pastinya saya tidak tau. Sekitar tahun 1974, saya anak ke tujuh dari orang tua saya, sudah tinggal datok saya saja yang tinggal disitu. Nenek moyang yang menepati rumah itu sudah tidak ada agik. Sekitar 200-an tahun lebih. Alhamdulillah kita dapat bantuan dana dari Kotaku, untuk penataan, pembanguanan jalan dan jembatan. Karena adanya rumah tua itu akhirnya kami mendapatkan ide dan kosep menamakan kamupung ini dengan Kampung Tua.” Tutur Syarifah Sakinah salah satu Ahli waris sekaligus ketua RW dengan logat khas bahasa Melayu.

 

Tak membutuhkan waktu lama untuk kami mewawancarai salah satu Ahli waris dari Rumah Tua. Sakinah menambahkan, Rumah Tua itu terdiri empat kamar di dalamnya, dengan tangga yang berjumlah sembilan anak tangga, serta bagian samping rumah terdapat sebuah bangunan rumah kecil atau bahasa yang lebih modernnya disebut Favilliun. Terdapat ruang tengah dan dapur. Jika kita lihat, itu hanya bagian samping sisi kiri rumah. Rumah itu sempat di terjang angin puting beliung pada tahun 2006 dan itulah sebabnya kami semua pindah dari rumah itu, pungkasnya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman