Saksi Sejarah Kota Sambas dengan Sejuta Adat Pernikahannya - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 05 Desember 2020

Saksi Sejarah Kota Sambas dengan Sejuta Adat Pernikahannya

 

Sumber: Dokumen Pribadi


Korpora.id, Sambas – Minggu, 20 September 2020, Sehari sebelum hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah (24/05) merupakan hari bahagia keluarga besar Kesultanan Alwatzikoebillah. Dihari itulah, pangeran muda melepas masa lajangnya dan menikahi gadis pilihan hatinya yaitu Yola Endarsih Putri, yang merupakan putri pertama dari Bapak Hendry Gunawan dan Ibu Ningsih. Akad nikah dilaksanakan di Istana Alwatzikoebillah beserta keluarga besar dikedua pihak.


Menurut perkembangannya, upacara pernikahan adat di Istana Alwatzikoebillah Sambas bermula dari pernikahan Raden Sulaiman yaitu Sulthan Sambas Islam pertama dengan permaisurinya yang bernama Raden Mas Ayu Bungsu, putri dari Ratu Sepudak Raja Sambas Hindu. 


Pada pernikahan itu telah terjadi asimilasi dua jenis budaya berbeda yang merupakan dasar terbentuknya upacara adat perkawinan di Istana Alwatzikoebillah Sambas. Budaya  Melayu Brunai yang sudah terlebih dahulu berasimilasi dengan budaya Arab, Melayu dan Cina disatukan dengan budaya Jawa Hindu sehingga pada akhirnya terbentuklah budaya adat Melayu Sambas itu sendiri. 


Sebelum pernikahan dilangsungkan, terlebih dahulu dilakukan adat Bipari-Pari, yakni melakukan senda gurau antara kedua keluarga dengan menggunakan kata kiasan. Tujuannya untuk pencocokan putra-putri masing-masing dan apabila kedua belah pihak merasa cocok, barulah dilaksanakan adat selanjutnya yaitu Minta. 


Minta itu sendiri adalah melamar, dimana pihak keluarga pria mengirim utusan seperti orang yang dituakan dalam keluarganya untuk mendatangi mempelai wanita. Setelah Minta itu diterima, barulah kedua belah pihak menentukan tanggal untuk melaksanakan Cikram (Pertunangan). 


Cikram merupakan proses pernikahan yang dilaksanakan untuk meresmikan ikatan pertunangan dan dalam waktu dekat atau tidak terlalu lama dapat diteruskan ke arah pernikahan. Cikram dilakukan dengan membawa beberapa persyaratan, seperti sirih pinang, kain, baju, cincin, uang yang seadanya dan lain-lain.


Adat selanjutnya yakni Bepallam. Bepallam dapat diartikan sebagai berdiam diri dirumah, hal ini dilakukan oleh mempelai wanita. Mempelai wanita dilarang untuk keluar rumah selama dua minggu atau bahkan sebulan sebelum menjelang hari pernikahan. 


Adat lainnya yaitu Betangas, adat yang dilakukan kedua mempelai. Ini bertujuan agar dapat menghilangkan bau badan. Cara tradisional ini cukup unik, sehelai tikar pandan berukuran panjang 2 meter dan lebar 1 meter digulung seperti sebuah cerobong dan bagian atasnya ditutup dengan kain. Mempelai pria atau wanita masuk ke dalam tikar. Ini dilakukan secara bergantian selama 10 atau 20 menit.


 Didalam tikar tersebut telah disediakan sebuah panci yang akan diaduk dan berisi rebusan panas seperti serai, limau purut, dan bahan alami lainnya yang dapat dijadikan sebagai pewangi. 


Setelah bertangas, selanjutnya adat yang dilakukan yaitu Berinai. Berinai ini adalah menggunakan daun inai yaitu sejenis tumbuh-tumbuhan yang dinamai pokok inai ke ujung jari-jari. Pada keesokan harinya ujung jari akan terlihat berwarna merah. Tujuan dari berinai ini adalah menunjukkan kedua insan ini merupakan pengantin baru. 


Adat terakhir sebelum akad pernikahan yaitu Buang-Buang. Buang-Buang ini merupakan kegiatan adat seperti meminta izin, atau memberi tahu kepada para leluhur agar kegiatan yang akan dilaksanakan diberkati oleh Allat SWT. Maksud dari adat ini adalah sebagai peringatan bagi pengantin baru untuk membersihkan diri dan membuang kebiasan yang tidak bermanfaat bagi kehidupannya. 


Setelah beberapa adat sebelum akad pernikahan telah dilaksanakan. Tibalah pada saat yang ditunggu-tunggu yakni akad pernikahan. Akad nikah merupakan acara inti didalam sebuah pernikahan, acara yang sangat sakral dipimpin oleh penghulu dan disaksikan oleh dua orang saksi. “Hari akad pernikahan dilaksanakan pada Sabtu, 23 April 2020, di sini dan resepsinya tanggal 22 Agustus 2020 karena covid jadi terhalang” ujar bu Yanti selaku juru kunci, maksud disini ialah di Istana Alwatzikoebillah. “Kedua belah pihak turut mengundang Bupati Sambas, Kapolres, dan masyarakat sekitar” lanjutnya. 


Malam hari seusai akad nikah, adat yang dilaksanakan selanjutnya yaitu Mulang-Mulangkan. Mulang-mulangkan adalah pertemuan kedua keluarga dengan tujuan untuk menyerahkan putra-putri untuk dapat dibina keharmonisan rumah tangganya. 


Tahapan upacara pernikahan ini disebut juga dengan lembaga adat yang bertujuan untuk membekali kedua mempelai dengan nasihat agar dapat diterapkan ke dalam rumah tangganya. 


Acara setelah hari besar masih ada beberapa rangkaian adat yang masih harus dilaksanakan yaitu Mandi Belulus. Mandi belulus adalah kegiatan mandi yang dilakukan bersama dengan upacara adat yaitu dengan mengelilingi seperangkat talam yang berisi lilin, buah kelapa yang dibelah dua, dan lain-lain. Kemudian talam tersebut dikelilingkan pada pasangan pengantin selama 7 putaran, dan pada putaran terakhir kedua mempelai meniup lilin secara bersamaan. 


Setelah melaksanakan berbagai rentetan adat pernikahan yang cukup panjang, baik sebelum, saat, dan setelah pernikahan maka selesailah adat yang dilaksanakan. “Setelah menikah, pangeran muda dan permaisurinya tinggal di Istana Alwatzikoebillah” tutur bu Yanti selaku juru kunci. Semua orang boleh berkunjung ke Istana Sambas, melihat secara langsung peninggalan-peninggalan bukti Kesultanan Sambas.


“Siapapun boleh masuk ke kamar peninggalan bersejarah ini, isinya masih lengkap, ada baju, tempat tidur, bisa dilihat sendiri isinya.” Tuturnya sambil menunjuk kamar yang dipenuhi hiasan yang sangat khas dengan kesultanan. 



Penulis : Eny Diarty

Penyunting : Selly Purwati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman