Serba Sembah Dayak Kanayatn Dalam Panyugu Tangkadi - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 05 Desember 2020

Serba Sembah Dayak Kanayatn Dalam Panyugu Tangkadi


Sumber: Dokumen Pribadi


Korpora.id, Seginah - Jumat, 14 September 2020. Siang hari yang cerah di teras rumah, saya duduk bersama Milay sambil menikmati indahnya Gunung Talaga. 



Milay (60) merupakan ketua adat yang ada di Dusun Seginah, Desa Aur Sampuk, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Dia memiliki tubuh tinggi, badan kurus dan rambut pendek kriting. Dia mengenakan kaos merah dan celana trening hitam saat bertemu denganku.



Angin mulai berhembus, Milay pun mulai bercerita tentang adat istiadat yang ada di Dusun Seginah, satu diantaranya adalah Panyugu Tangkadi. 



Panyugu Tangkadi merupakan tempat ritual kepercayaan untuk meminta keselamatan yang terletak di gunung Talaga.



“Bagi masyarakat yang tinggal di Dusun Seginah, kepercayaan ini telah lama dilakukan sejak zaman nenek moyang. Ritual ini dilakukan setiap satu tahun sekali pada tanggal 20 April. Sampai saat ini ritual tersebut masih dilaksanakan,” ujar Milay sambil menikmati kopi hangat. 



Ritual ini sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat karena hanya dilakukan satu tahun sekali. Meskipun begitu, masih ada beberapa masyarakat juga yang tidak mengikuti ritual, tetapi mereka tetap ikut berpartisipasi.



Sehari sebelum pergi ke Panyugu Tangkadi, masyarakat sudah mulai sibuk untuk mempersiapkan persembahan. Mereka akan mempersiapkan kue cucur, beras putih, beras ketan, beras kuning, telur, buah angkabang, ayam kampung, dan uang logam. 



Berbagai persembahan tersebut disimpan di palantar. Palantar adalah talam besar untuk menyimpan persembahan. 



“semua benda itu memiliki arti tersendiri. Beras putih menandakan seorang laki-laki, beras ketan menandakan seorang perempuan, beras kuning maknanya meminta keselamatan.  Telur artinya menyatukan pemikiran masyarakat untuk meminta perlindungan. Buah angkabang bermakna atau dipercayai sebagai raja kayu yang bernama nabi Alias. Ayam kampung bermakna sebagai bukti untuk meminta keselamatan. Adapun uang logam bermakna untuk membukakan mata Tuhan atau Jubata untuk melihat orang-orang yang percaya,” ungkap Milay dengan serius.



Setelah semua sudah siap, barulah persembahan itu disimpan di Papangong. Papangong merupakan meja besar yang terbuat dari bahan kayu.



Setelah semua berkumpul, imam akan memulai ritual yaitu, berdoa kepada Jubata (Tuhan) untuk meminta keselamatan dan terhindar dari marabahaya, serta meminta rejeki.



“Imam akan mengambil beras kuning dan membagikannya kepada semua orang yang melakukan ritual. Beras kuning itu kemudian di lemparkan ke papangong sebanyak tiga kali dan wajib berkata arus arus arus,” ujar milay dengan penuh semangat.



Setelah melakukan ritual mereka akan makan bersama. Mereka juga akan berbagi persembahan tadi untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Sementara itu imam akan mengambil air yang mengalir di Panyugu Tangkadi. Nama air itu adalah air tawar



Milay menuturkan “Masyarakat diwajibkan membawa air tawar dan harus mengikuti pantang atau balala. Jika melanggar, mereka akan mendapat sanksi atau hukum adat,” ujar Milay sambil menatapku dalam-dalam. 



Dalam pantangan itu kita tidak boleh membunuh (semua jenis makhluk hidup), tidak boleh menggoreng sayur atau makanan lainnya, dan tidak boleh berteriak-teriak pada sore atau malam hari.



“Pantang ini harus dilakukan selama tiga hari. Setelah tiga hari, imam akan melepaskan pantang di Panyugu Tangkadi. Imam juga membawa beras tujuh biji dengan arti memberi Tuan Muda Gandaranum,” Ujar Milay sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.



Tuan Muda Gandaranum merupakan orang yang dipercayai menjaga Panyugu Tangkadi.  Ia juga dianggap sebagai Tuhan (Jubata) yang dapat melindungi masyarakat setempat. 



“Jika warga melanggar akan mendapatkan hukum adat. Mereka harus pergi ke Panyugu Tangkadi untuk memebawa persembahan sebagai permohonan maaaf. Adapun persembahan yang mereka bawa, seperti tempayan kecil, parang, ayam kampung, dan palantar,” ujar Milay melanjutkan.



Imam yang memimpin acara ritual tidak bisa orang sembarangan. Beliau memang sudah dipilih karena memiliki kemampuan dalam memimpin ritual dan bisa menyampaikan doa kepada Jubata (Tuhan).



Panyugu Tangkadi sebagai tempat ritual kepercayaan oleh masyarakat Dayak Kanayatn  harus tetap dipelihara. Maka dari itu, sudah seharusnya bagi kita untuk melestarikan dan tetap menjaganya.



Penulis : Siska

Penyunting : Reza Utami Sahutni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman