Tradisi Naik Ayun Dibalik Modernnya Kota Pontianak - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 05 Desember 2020

Tradisi Naik Ayun Dibalik Modernnya Kota Pontianak


Sumber: http://diskominfo.kaltimprov.go.id


Korpora.id, Pontianak – 2 September 2020, budaya memiliki nilai yang tidak ternilai. Etnis, budaya, tradisi, kata yang hampir lumrah disebut di kalangan masyarakat. Seperti yang telah diketahui. Tradisi di Indonesia sangat beragam, lain tempat, lain pula tradisinya. Tradisi nusantara memiliki nilai kebudayaan yang sangat kental, serta nilai-nilai yang sangat bergantung pada tujuannya. Beda tujuan, beda pula setiap nilai yang akan dicapai. Dan siapapun tahu, tradisi yang ada di Indonesia merupakan bagian terpisah dari keaneragaman budaya nusantara.


“Keragaman yang memunculkan perbedaan, yang pasti bukan untuk memilah-milah mana yang lebih indah, dan mana yang lebih hebat. Perbedaan yang ada, justru lebih tepat dipandang sebagai kekayaan nusantara. Itulah keelokan nusantara, berbeda-beda namun satu dalam nama Indonesia” Ujar Latifa. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia pun semestinya menghargai dan membanggakannya sebagai identitas bangsa.


Membicarakan tradisi yang ada di Indonsia. Di kala sekarang orang-orang akan lebih kepada yang modern-modern saja. Di saat ini pula keberadaannya justru semakin meredup. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam factor. Seperti yang telah merubah pola pikir seseorang dan juga pola hidupnya. hal ini sangat disayangkan untuk tetap menghadirkan estetika Indonesia melalui keaneragamannya. 


Sambil mengayun anaknya, “Di zaman sekarang ini, yang tampak hanyalah yang tampak. Akan tetapi tradisi tetaplah tradisi. Tradisi merupakan sebuah syarat yang keterkaitan dengan nilai kebudayaan di suatu tempat, dimana tradisi itu tumbuh” ujarnya. Namun kembali lagi, tradisi hanya menjadi tradisi jika dilaksanakan hanya sebagai syarat, apalagi sampai tidak merasakan lagi kehadirannya.


“Tradisi yang ada saat ini, biasanya hanya di daerah-daerah tertentu yang masih terbilang kental saja” ketus wanita 35 tahun itu. Ada beberapa daerah atau desa yang kehidupannya terbilang masih tradisonal, sehingga segala sesuatu yang dikerjakan masih manual. Di Kalimantan Barat khususnya Kota Pontianak masih mengenal beberapa tradisi budaya Melayu diantaranya tujuh bulanan, naik ayun, cucur mawar dan masih banyak lagi.


Seperti yang telah diketahui, sebagian besar masyarakat Pontianak terbilang sudah modern. Sangat sulit sekali menemukan unsur kebudayaan di Pontianak karena hal-hal seperti itu justru sudah ditetapkan atau dilaksanakan bertepatan dengan hari-hari besar. Adapun yang dilaksanakan tanpa mengikuti hari-hari besar seperti Tujuh Bulanan, naik ayun dan sebagainya. 


“Dahulu tradisi naik ayun masih menggunakan pagelaran, namun sekarang bisa dilaksanakan tanpa adanya pagelaran. Sebaliknya tradisi tujuh bulanan biasanya dilaksanakan dengan adanya pagelaran, jika menurut tradisi maka tidak hanya tujuh bulanan tetapi ada juga, tiga bulanan, sembilan bulanan, bahkan acara lahiran. Namun hanya tujuh bulananlah yang masih dikenal hingga sekarang” Jelas wanita berkulit putih itu.


Pada umumnya, naik ayun merupakan kegiatan sosial yang melibatkan keluarga besar dan warga masyarakat, dalam masyarakat propesi demi propesi merupakan refleksi dari kehidupan yang mengungkapkan bahwa untuk mencapai suatu tujuan bersama perlu saling memberikan dukungan, dengan melakukan serangkaian kegiatan bersama makadari setiap pribadi diharapkan tumbuh sikap saling menghargai, saling membantu dengan tulus ikhlas. 


“Naik Ayun diselenggarakan sesuai dengan kebiasaan yang mereka lakukan secara turun-temurun. Namun pada masyarakat Melayu Pontianak tradisi ini dilaksanakan layaknya syarat yang harus dituntaskan. Sudah tidak ada lagi pagelaran yang mengiringi tradisi tersebut”.  


Sebagian masyarakat yang masih melakukan tradisi naik ayun, hal tersebut dilakukan bertujuan agar saat anak yang pertama kali dinaikkan ke ayun, tidak terkejut atau diganggu hal-hal yang tidak diinginkan. 


Pada umumnya, naik ayun dilaksanakan dengan cara berikut. Pertama, menyiapkan ayunan, kemudian menaikkan benda seperti lesung atau makhluk hidup seperti kucing kemudian dibacakan doa. Setelah itu ayunan tersebut baru bisa dinaiki oleh bayi yang sudah berusia 40 hari. Hal tersebut berdasarkan tradisi yang biasa dilakukan masyarakat setempat. Namun tradisi yang sebenarnya bisa dibilang yang afdol, dengan syarat naik ayun dilaksanakan dengan cara, bayi berusia 40 hari dikelilingkan sebanyak tujuh kali dengan orang yang berbeda, kemudian pada acara inti akan dilaksanakn oleh orang ahli ibadah. 


Sambil memegang ayunan, “Prosesi ini juga memiliki beberapa kelengkapan yang menjadi syarat berlangsungnya tradisi. Naik ayun menurut kepercayaan orang setempat bertujuan menggantungkan harapan kepada sang bayi supaya menjadi manusia yang berguna setelah dewasa, menjadi panutan dan manusia yang sholeh dan sholehah, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa” Jelasnya.


Masyarakat Malayu Pontianak mengatakan bahwa tradisi ini masih dilaksanakan walau tanpa pagelaran. Hal ini dikarenakan tidak ingin membiarkan tradisi ini redup ditengah masyarakat modern. 


Setiap masyarakat sebenaranya tidak akan lepas dari tradisi yang dibawa dari tempatnya tumbuh. Namun adanya tradisi tersebut tidak juga lepas dari peran masyarakat itu sendiri, bagaimana masyarakat itu menghargai apa yang ada ditempatnya. Karena hal tersebut yang akan menjadikan suatu tempat memiliki ciri khas kebudayaannya tersendiri. 



Penulis: Erisky Aprinia

Penyunting: Melyana


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman