ADAT ISTIADAT YANG TERGERUS OLEH ZAMAN - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 09 Oktober 2021

ADAT ISTIADAT YANG TERGERUS OLEH ZAMAN

Penulis: Monika Apriliya Tina

Penyunting: Angg Laena Siti Patimah



Korpora.id, Sintang - Indonesia memiliki banyak suku, ras, adat istiadat dan budaya diberbagai penjurunya. Indonesia memiliki 1.340 suku menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS), yang tentunya memiliki banyak kebudayaan dan adat istiadat. Satu di antara suku yang ada di Indonesia yang memiliki banyak adat istiadat yaitu suku Dayak. Suku Dayak adalah suku yang berasal dari pulau Kalimantan (Borneo). Suku Dayak juga memiliki beberapa rumpun, salah satunya adalah Dayak Seberuang.

Banyak adat-istiadat dalam suku Dayak. Salah satu upacara adat yang perlahan mulai memudar yaitu upacara adat dari suku Dayak Seberuang, kabupaten Sintang, provinsi Kalimantan Barat. Dayak Seberuang tersebar di daerah kecamatan Tempunak maupun kecamatan Sepauk. Biasanya, faktor yang menonjol yang dapat membedakan antara suku Dayak yang satu dengan suku Dayak yang lain adalah bahasa atau dialog, aspek kebudayaan seperti pakaian adat, hukum adat, rumah adat, dan upacara adat (gawai).

Dayak Seberuang ini memiliki banyak kepercayaan satu di antaranya adalah ucapan syukur kepada sang Pencipta yang biasa disebut sebagai Petara Puyang Gana. Acara ucapan syukur ini dinamakan Gawai oleh suku Dayak. Dalam gawai ada beberapa acara yang biasa dilaksanakan oleh mereka, termasuk di suku Dayak Seberuang ini. Gawai adat di kampung merupakan rangkaian beberapa upacara. Hakikat perayaan Gawai Dayak ini merupakan acara ritual yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun selepas panen, sebagai wujud  ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki panen yang diberikan-Nya. Lewat acara gawai ini siapapun dapat mempelajari setiap tradisi dan mengetahui kebudayaan suku Dayak khususnya Dayak Seberuang ini, dalam hubungannya dengan pola hidup, sikap terhadap sesama, pandangan mengenai hidup yang mereka jalani.

Tujuan dilaksanakannya gawai Dayak selain untuk ucapan syukur kepada Sang Pencipta, yaitu menjaga keutuhan komunitas masyarakat suku Dayak, menjaga identitas, dan memupuk kepribadian sebagai suku Dayak dengan mengenal, menjaga, dan melestraikan tradisi atau adat istiadat dari nenek moyang.

***

Seharusnya sekarang memasuki musim kemarau, namun cuaca tak dapat ditebak. Semilir angin menyeruak dan menembus jaket tebal yang dikenakan oleh tubuh, membuat siapapun tergesa-gesa untuk mencapai tujuan. Namun, jalanan yang cukup sepi ini menyulitkan siapa saja yang akan pergi ke sebuah kampung yang asri. Jalanan yang dipenuhi dengan lumpur dapat membuat orang enggan bepergian kemana-mana. Waktu yang ditempuh sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke kampung Binjai yang ada di Desa Peningsung, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang.

Sempat tertegun sejenak karena melintasi jalan yang penuh lumpur jika hujan turun, rasa tidak percaya karena di era seperti ini masih ada saja jalan berlumpur seperti itu. Namun, jalan jelek tidak mengurungkan niat untuk bertemu dengan sosok berpengaruh yang ada di kampung Binjai. Justru diri ini semakin tertantang untuk bertandang ke rumahnya. Jika musim kemarau benar-benar tiba waktu yang ditempuh cukup lima belas menit saja, untuk melewati jalan berlubang yang penuh dihiasi tanaman sawit ataupun pohon karet di kanan kirinya. Namun, jika hujan seperti ini memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit.

Jika saja jalan tidak sejelek itu, mungkin hanya memerlukan waktu sebentar saja untuk sampai ke rumah sosok yang bersahaja di kampung Binjai ini. Dari kejauhan senyumnya mengembang, menampakkan giginya yang masih utuh itu. Ia menyambut setiap orang yang ingin bertandang ke rumahnya dengan ramah.

Pak Runai, pria yang berusia delapan puluh tahun ini masih memiliki tubuh yang tegap dan daya ingat yang kuat. Ia merupakan sosok yang dihormati, karena merupakan seorang tetua di kampung Binjai. Usia yang sudah senja dan tak lagi muda itu, tidak menyurutkan tekadnya untuk tetap melestarikan adat dan budaya Dayak Seberuang di kampung Binjai. Ia mengatakan bahwa adat-adat ini perlahan mulai ditinggalkan karena era globalisasi yang menggerus tradisi-tradisi. Ganasnya era globalisasi merenggut jiwa muda untuk lebih fokus pada modernisasi dibandingkan adat istiadat yang terdapat di daerah mereka. Lebih tepatnya jiwa muda yang selalu bersemangat pada budaya luar dibandingkan budaya sendiri yang dianggap kuno.

“Ada tradisi yang selalu kami laksanakan di waktu acara gawai atau di hari yang sudah ditentukan. Perlahan tradisi ini mulai pudar karena banyak kaum muda yang tidak ingin mempelajari tradisi”, tuturnya dengan raut wajah yang terlihat sedih.

Sambil memandang langit-langit rumahnya, ia menyebutkan tradisi ini satu-persatu. Ada upacara manik nemiak ke sungai atau yang disebut dengan mandi anak ke sungai, ini merupakan tahapan pertama dalam tradisi wajib. Kedua, ada upacara nungkung gigi atau yang disebut dengan asah gigi yang dilakukan anak-anak ketika menginjak usia remaja. Kedua acara adat tersebut biasanya dilaksanakan saat acara gawai berlangsung. Terakhir ada upacara bilang bekain, merupakan acara perkawinan adat yang waktunya ditentukan oleh kedua belah pihak keluarga.

Pudarnya tradisi-tradisi ini tidak hanya disebabkan hilangnya minat kaum muda, tetapi kita sendiri tanpa sadar mulai meninggalkannya. Terkadang kita menganggap budaya itu kolot, sehingga kita membunuh budaya sendiri. Kita terlalu malu untuk menunjukkan keberagaman budaya yang ada di daerah kita. Jika kita ingin menggali lebih dalam mengenai adat dan budaya yang ada tentu ini dapat memikat orang luar akan kebudayaan yang kita miliki. Kekecewaan tampak jelas di wajah pria tua itu ketika ia menceritakan bahwa kaum muda lebih suka menunjukkan budaya luar dibandingkan budaya sendiri, sehingga tradisi ini ditelan oleh era modern. Perlahan tapi pasti jika kita tidak melestarikan budaya, maka budaya yang menjadi kebangaan setiap daerah dan juga Indonesia akan benar-benar menghilang bagai uap.

Setiap gawai berlangsung di kampung Binjai ini, biasanya rangkaian acara adat yang disebutkan oleh Pak Runai dilaksanakan. Mulai dari mandi anak ke sungai, asah gigi, dan acara perkawinan adat (tidak harus dilaksanakan pada saat gawai untuk acara ini). Upacara-upacara adat ini bukanlah upacara sembarangan. Mereka sudah melaksanakan upacara adat ini secara turun-temurun, dari nenek moyang mereka. Walau sudah memiliki kepercayaan, tradisi ini harus tetap dijaga agar generasi muda dapat mengetahui tradisi mereka.

Pelaksanaan tradisi atau ritual adat pada suku Dayak Seberuang tentunya memiliki perbedaan pada suku Dayak lainnya, baik berbeda tata cara prosesi, mantra/doa, maupun sesajian yang digunakan. Perbedaan pada masing-masing ritual adat tersebut tergantung dari fungsi dan tujuannya dalam acara gawai. Masyarakat juga berdoa agar selalu diberi kesehatan, rezeki, dan keselamatan saat gawai berlangsung.

“Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk melaksanakan acara adat ini, karena ini merupakan acara besar”, tutur Pak Runai.

Walaupun dalam acara gawai tidak semua orang melakukan acara adat seperti mandi anak, asah gigi, dan juga perkawinan adat, masyarakat tetap menyiapkan makanan dan minuman bagi tamu (atau dalam bahasa Dayaknya adalah temuai). Setiap orang berlomba-lomba untuk menyiapkan hidangan terbaik mereka sebagai jamuan untuk para tamu yang akan datang, baik itu keluarga maupun penduduk desa tetangga yang ikut memeriahkan.

Pada acara mandi anak, tuan rumah yang menyelenggarakan acara ini harus menyiapkan makanan dan minuman sebagai ucapan syukur mereka. Alat dan bahan yang perlu dipersiapkan adalah sebangkang (pulut) sebanyak tujuh batang, babi yang diambil darahnya dan dicampur dengan darah ayam sebagai sengkelan (sesajian bagi Petara), beras satu mangkuk yang diartikan sebagai semengat atau roh sang anak dan beras tersebut ditimpa sebatang besi yang diartikan untuk memperkuat roh si anak.

Sesajian disiapkan untuk digunakan pada pagi hari sebelum berangkat memandikan anak ke sungai. Tidak lupa piring, nasi padi, sayuran, nasi pulut yang dikukus, telur mentah tiga butir, ketawak atau dalam Bahasa Indonesianya adalah gong, tuak tujuh cangkir, sagun yang terbuat dari tepung beras, dan kue bulat yang terbuat dari tepung ketan yang disebut kelamai. Kemudian yang dipersiapkan adalah rancak. Rancak ini merupakan wadah sesajian yang terbuat dari kelapa yang sudah dibelah. Siapkan pula beras sebanyak 2,5 kilogram (sepuluh kaleng). Kemudian sore harinya menyiapkan ayam yang dipanggang untuk esok harinya.

“Jadi, ada beberapa tahapan yang akan dilaksanakan saat memandikan anak ke sungai. Tentu hal ini wajib dilakukan karena sudah menjadi istiadat turun-temurun di kampung”, tutur Runai sambil menyesap kopi hangatnya.

“Malam sebelum acara memandikan anak ke sungai, para orang tua berkumpul di rumah anak yang akan dimandikan. Acara ini dilaksanakan untuk memilih orang yang akan dihukum keesokan harinya, yang dicari sebanyak tujuh orang tua. Hukuman ini dalam bahasa Dayak Seberuang disebut butang” ujar pria tua itu.

Hukuman yang dimaksud bukanlah hukuman yang merugikan, melainkan orang-orang yang ditunjuk untuk memberikan doa dan orang yang akan memandikan sang anak. Doa yang akan diberikan pada sang anak nantinya pun dilakukan secara bergiliran oleh tujuh orang tua dan dihaturkan secara singkat kepada anak yang akan dimandikan.

Acara dimulai pada pukul 06.30 atau 07.00 WIB. Acara ini dilaksanakan pagi hari karena air sungai yang akan digunakan untuk memandikan anak tidak boleh ada orang lain yang mandi terlebih dahulu di sungai, karena air harus benar-benar bersih dan tidak boleh dijamah oleh orang lain pada hari itu. Menghindari orang yang akan mandi ke sungai, maka ada orang lain yang diutus untuk menjaga air sungai tersebut sampai acara ini selesai.

“Pada zaman dahulu orang-orang tinggal di rumah betang, jadi biasanya sebelum pergi ke sungai tetua adat harus naik turun tangga sebanyak tujuh kali. Namun, tidak boleh menginjak tanah sebelum turun tangga yang ketujuh kalinya. Tetapi karena sekarang sudah memiliki rumah masing-masing dan tidak berupa rumah betang maka hal ini tidak diwajibkan, karena tidak memiliki tangga lagi dan orang-orang tidak menggunakan rumah berbentuk panggung lagi”.

Sesajian yang sudah disiapkan sehari sebelum acara dibawa menuju ke sungai. Selama perjalanan menuju ke sungai gong harus dibunyikan dan biasanya juga tetua membacakan mantra di sepanjang perjalanan menuju ke sungai. Hal ini sebagai simbol dan pemberitahuan kepada masyarakat lagi, bahwa ada anak yang akan dimandikan ke sungai.

Sebelum memandikan anak ke sungai, tetua adat menata alat dan bahan yang sudah disiapkan. Di dalam piring diletakkan mangkuk yang berisi nasi padi yang di tengah mangkuk diberi tiga butir telur mentah. Di antara mangkuk tersebut diisi nasi pulut yang sudah dikukus dan sayur sampai memenuhi piring yang disediakan.

“Sebelum masuk ke sungai biasanya kita memanggil Petara untuk meminta berkat (kepada Sang Pencipta agar diberi kelancaran). Memanggil Petara memerlukan sesajian yang sudah disiapkan di dalam rancak. Rancak yang sudah diisi dengan sesajian ini disimpan ke dalam tengkin kebuduk atau dalam bahasa Indonesianya adalah cupai. Kemudian digantung di tiang yang diikatkan pada tali pancing dan barulah tetua memanggil Petara. Pemanggilan ini biasanya dengan menghamburkan atau melemparkan ayam panggang yang sudah disuwir-suwir, nasi padi, dan nasi pulut ke sungai sebanyak tujuh kali. Tidak lupa menuangkan air tuak sebanyak tujuh cangkir ke sungai”, ucap Pak Runai sambil mempragakan proses adat berlangsung.

“Setelah meminta berkat pada Petara barulah bayi dimandikan. Cara memandikannya sama seperti memandikan anak pada umumnya. Hanya saja anak tidak langsung menyentuh sungai karena dimandikan dengan gong yang diletak disungai dan diisi air. Jadi, kita memandikannya menggunakan air yang sudah ada di dalam gong tersebut. Posisi gong tetap berada di sungai”, tuturnya.

Pak Runai juga mengatakan tujuh orang yang butang tadi wajib mengucapkan doa pada sang anak saat anak dimandikan. Doanya adalah ‘Panjai aik panjai nyawa, tingik bukit tingik langit ya suruh gayu nyilu beukur beumur, kusemangat pulai……(menyebut nama anak yang dimandikan)’. Jika diterjemahkan, arti doa tersebut adalah ‘Panjang aliran air panjang usia, tinggi bukit tinggi langit dia diharapkan untuk panjang umur, rohnya pulang’ . Harapan dari doa tersebut adalah harapan agar sang anak memiliki usia yang panjang, sehat selalu (baik jasmani maupun rohani).

Sebelum menginjak rumah maka tetua harus menginjak telur ayam yang sudah disiapkan. Kemudian anak yang sudah dimandikan bibirnya dioles dengan garam. Garam ini merupakan salah satu syarat. Malamnya orang yang butang memeluk erat sang anak dan mendoakan anak tersebut. Doa yang dihaturkan untuk sang anak berbeda-beda dan diucapkan dengan singkat. Ia mempraktikkan tentang acara mandi anak ini dengan penuh semangat, ia menjelaskan dengan hati-hati agar kita dapat memahaminya dengan baik.

Kembali ia menyesap kopi hitamnya yang mulai dingin, sebelum ia melanjutkan bahasan mengenai adat istiadat yang ada di kampung Binjai tersebut. Ia memandang ke piring yang berisi singkong goreng yang baru saja dihidangkan oleh istrinya tersebut. Ada rasa sedih yang tak bisa ia tutupi kala kembali ia berkata bahwa harapannya ingin anak muda mempelajari tentang adat istiadat, agar tidak tergerus oleh zaman. Menurutnya jika tidak segera dipelajari adat-adat yang ada, maka generasi selanjutnya hanya mendengar cerita saja dan tidak mengalaminya. Hanya orang yang ingin bersungguh-sungguh saja yang dapat mempelajari adat tersebut dengan baik, agar tradisi dijalankan sesuai dengan norma yang berlaku.

Cucu tertuanya yang juga berada di situ ikut merasa sedih karena kakeknya berkata demikian. Bukannya tak mau melanjutkan tradisi, tetapi jika hanya ia sendiri yang mempelajarinya tentu percuma terlebih ia seorang perempuan, tentu lebih baik jika kaum muda lainnya ikut berpartisipasi. Tiga orang anaknya memang tidak memiliki minat yang lebih pada adat karena mereka tinggal terpisah dari kampung Binjai.

Cucunya yang bernama Lidiya Susiani itu sudah melewati tradisi atau adat yang wajib mereka lalui ini. Mulai dari mandi anak, asah gigi, dan tentunya bilang bekain. Mandi anak ia laksanakan saat ia berusia sepuluh bulan, maka dari itu ia tidak ingat tentang hal ini terlebih tidak adanya dokumentasi.

“Tidak ada dokumentasi saat saya melakukan mandi anak saat bayi dulu, sayang sekali. Begitu pula dokumentasi mandi anak yang dilalui anak saya, kini sudah tidak ada karena hilangnya foto-foto dalam memori HP saya. Sayang sekali belum sempat dijadikan sebuah album, fotonya sudah tidak ada”, ujar Lidiya sembari menatap ke jalanan yang mulai basah karena rintik hujan yang semakin deras.

Pak Runai kembali melanjutkan pembahasan mengenai adat tentang asah gigi yang tahapannya dilakukan setelah mandi anak. Tradisi mandi anak ini memiliki keunikan tersendiri. Pak Runai juga kembali menegaskan bahwa setiap rumpun Dayak pasti memiliki tradisi yang sama, namun memiliki perbedaan juga di dalamnya. Tradisi asah gigi ini sendiri menandakan bahwa sang anak sudah mulai memasuki usia remaja, atau biasanay disebut sudah bujang dan dara. Tradisi ini juga biasanya dilaksanakan pada saat acara gawai berlangsung. Tradisi ini juga termasuk acara besar dan bukan acara sembarangan.

“Tradisi ini disebut nungkung gigi oleh masyarakat Dayak Seberuang yang ada di kampung Binjai, yang artinya adalah mengasah gigi. Mengasah gigi ini wajib dilaksanakan oleh anak laki-laki maupun perempuan”, ujar Pak Runai.

“Saya juga sudah melaksanakan tradisi mengasah gigi ini saat usia saya sebelas tahun saat itu. Jika diingat-ingat dulu saya sempat takut dan ingin menangis sebelum acara berlangsung. Saya hanya takut jika gigi saya ngilu saat proses asah gigi berlangsung. Ternyata semua berjalan lancar dan baik-baik saja, karena tidak terasa sakit”, tutur Lidiya sambil tersenyum geli mengingat kenangannya di masa lampau.

Biasanya usia anak yang giginya akan diasah, berusia sekitar sepuluh tahun ke atas saat anak-anak mulai memasuki usia remaja. Tradisi ini adalah tradisi lanjutan dari mandi bayi, agar anak benar-benar dinyatakan sudah remaja oleh warga sekitar. Warga setempat juga belum diperbolehkan menikah jika belum melaksanakan tradisi mandi anak dan asah gigi ini, maka tradisi ini wajib dilaksanakan.

Ada beberapa tahapan dan bahan yang perlu dipersiapkan oleh tuan rumah yang akan mengadakan tradisi ini di rumahnya. Pak Runai mengatakan bahwa tuan rumah perlu menyiapkan makanan dan minuman sebagai jamuan untuk tamu yang hadir sama seperti acara mandi anak tadi. Kemudian, bahan-bahan dan alat yang diperlukan adalah babi, ayam, lemang, kikir untuk mengasah gigi, telur, bawang kucai, beras, kain, piring, tuak, dan cangkir.

Sembari memakan pinang dan sirih, pria tua itu kembali menjelaskan satu persatu tentang pelaksanaan mengasah gigi ini dengan semangat. Mengasah gigi ini berbeda dengan pelaksanaan mandi anak. Jika mandi anak harus dilaksanakan pada pagi hari, maka untuk acara asah gigi ini tidak ditetapkan pukul berapa adat akan dilaksanakan. Asalkan peralatan, bahan, tetua adat, tamu dan tuan rumah beserta anak yang akan diasah giginya sudah siap maka pelaksanaan asah gigi ini bisa segera diselenggarakan.

Proses pelaksanaannya dilakukan oleh tetua adat yang memang mengetahui tentang adat istiadat. Siapkan lemang sebanyak tujuh batang yang akan digunakan sebagai bantal untuk sang anak pada saat asah gigi berlangsung nantinya. Tidak lupa tujuh batang lemang ini dibungkus dengan menggunakan kain (lemang disatukan). Masukkan beras ke dalam piring yang sudah disiapkan, kemudian letak secara bersusun sebanyak kurang lebih lima atau tujuh susun piring yang diberi beras, kemudian pada piring bagian atas biasanyad iletakkan telur dan juga kikir yang digunakan sebagai alat untuk mengasah gigi anak nantinya.

Di samping piring yang sudah disusun tadi, diletakkan ayam dan babi panggang, piring (kini dapat menggunakan cangkir), tuak, mangkok kecil yang kosong untuk membuang air bekas kumuran (boleh ember kecil), kemudian ada bawang kucai yang diberi air dalam mangkok guna sebagai air untuk berkumur sang anak setelah gigi diasah. Air daun bawang kucai juga digunakan untuk membasahi kikir yang digunakan sebagai alat asah gigi.

Orang yang ditunjuk untuk mengasah gigi sang anak ini biasanya sebanyak tujuh orang dan biasanya adalah orang yang sudah tua atau orang yang dihormati. Orang-orang yang dipilih untuk mengasah gigi ini juga disebut butang sama seperti mandi anak. Sebelum gigi sang anak diasah, tetua adat membaca mantra (jampi sebutan warga setempat). Mantra tersebut berbunyi, “Sak, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh sidak mali ke nungkung gigi. Sampai tujuh kali pama mali sik aku resuk”, arti dari mantra ini adalah ‘Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh mereka mali untuk ngasah gigi. Sampai tujuh kali walaupun mali tetap akan saya langgar’. Setelah membaca mantra barulah gigi bagian rahang atas diasah. Kikir tadi dicelupkan ke dalam air bawang kucai dulu barulah mengasah gigi sang anak. Anak dalam posisi baring dan menggunakan lemang yang sudah dibungkus tadi sebagai bantalnya.

Sambil mempraktikkan proses mengasah gigi ini, Pak Runai mengatakan bahwa asah gigi ini pada masa sekarang tidak benar-benar mengasah gigi atau mengikis gigi. Tidak seperti pada zaman dahulu, gigi benar-benar diasah oleh orang yang butang.

“Sekarang mengasah gigi bisa dikatakan hanya sebagai syarat saja, kikir ditempel di gigi, kalaupun diasah paling hanya 2-3 kali asahan saja oleh setiap orang yang butang itupun dilakukan dengan perlahan”, ia menjelaskan sambil membuang air pinang yang ada di mulutnya.

Setiap selesai diasah giginya oleh orang-orang yang butang tadi, sang anak harus berkumur menggunakan air kucai yang sudah disediakan. Hal ini terus dilakukan sampai orang terakhir yang butang mengasah gigi sang anak. Kemudian satu persatu orang yang mengasah gigi anak meminum air tuak yang sudah dituangkan oleh tuan rumah ke dalam piring atau mangkok, tuak ini wajib dihabiskan oleh orang yang butang. Sekarang dapat menggunakan cangkir, tidak wajib menggunakan piring atau mangkok seperti dahulu.

“Rasa dari air kucai itu agak pedas saja, tetapi cukup menyegarkan karena biasanya kikir setelah diolesi air kucai, lanjut dioles dengan darah ayam saat akan mengasah gigi. Jadi, berkumur dengan air kucai dapat menghilangkan rasa amis di mulut”, ujar Pak Runai.

Pada acara asah gigi ini juga biasanya disediakan tuak suling atau tuak yang dimasukkan ke dalam tempayan. Sebenarnya tidak hanya pada saat asah gigi, pada saat mandi bayi, perkawinan adat, atau acara gawai ini tuak suling juga ada. Tuak tersebut diminum menggunakan sedotan yang terbuat dari buluh (bambu kecil). Tuak ini diminum secara bergiliran oleh para tamu. Seperti itulah proses mengasah gigi pada anak yang memasuki masa remaja. Setelah melalui mandi anak saat masih bayi dan mengasah gigi pada saat remaja baik anak laki-laki maupun perempuan sudah diperbolehkan menikah jika usia sudah matang dan siap. Beras, ayam atau babi panggang, dan lemang yang sudah disiapkan oleh tuan rumah tadi boleh dibawa pulang oleh orang-orang yang butang.

Hari semakin sore begitu pula dengan rintik hujan yang semakin kuat membasahi jalanan. Petir dan kilat semakin kuat menyambar, membuktikan bahwa hujan semakin deras membasahi bumi. Pak Runai dan Lidiya cucunya masih setia bercerita mengenai adat yang ada di kampung. Setelah membahas tentang mandi anak dan asah gigi, tradisi atau acara adat selanjutnya adalah bilang bekain (upacara pernikahan/perkawinan adat). Tentunya pernikahan adat ini harus dilakukan sesudah mengikuti mandi anak dan asah gigi.

Hal yang perlu dipersiapkan dalam upacara perkawinan adat tentunya adalah jamuan bagi para tamu yang hadir. Hal yang utama adalah pihak laki-laki harus menyiapkan uang dan hantaran, serta tempayan untuk diberikan kepada calon istri. Tetua adat juga wajib hadir bersama dengan tamu dan saksi pada saat acara ini berlangsung.

“Saya sudah melewati semua acara adat yang wajib dilaksanakan di kampung ini. Rasanya senang dan tentu membanggakan karena saya dapat mengenal tradisi seperti ini”, ucap Lidiya dengan rasa bangga

Begitulah acara adat istiadat yang ada di kampung Binjai. Pak Runai juga mengatakan bahwa setiap suku Dayak tentu memiliki adat dan tata caranya sendiri dalam memandikan anak, mengasah gigi, atau upacara perkawinan adat. Hal ini tidak mungkin sama persis, karena setiap rumpun Dayak memiliki ciri khasnya masing-masing. Tiap-tiap suku memiliki tata cara yang berbeda-beda. Pak Runai juga berharap agar hal ini akan terus dilaksanakan secara turun-temurun guna melestarikan adat dan budaya yang ada di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat ini.

Kontribusi kaum muda untuk tradisi sangat diharapkan oleh setiap tetua-tetua yang ada di daerah manapun. Sayangnya, kaum muda tidak memiliki gejolak yang kuat untuk melestarikan adat dan budaya. Hal yang membuat Pak Runai sedih tidak hanya karena orang muda yang malas melestarikan tradisi, tetapi juga karena makna dari gawai sendiri sudah pudar. Rasa malas lebih mendominasi daripada rasa semangat untuk melestarikan budaya.

“Dahulu acara gawai dan upacara adat lainnya sangat sakral, minum tuak juga sebagai persyaratan saja, tidak berlebihan. Tidak seperti sekarang acara gawai maknanya mulai luntur, hanya memikirkan pesta dan mabuk-mabukan padahal sudah sering diberitahu”, ungkap Pak Runai.

Makna acara gawai sendiri seiring berjalannya waktu mulai pudar dan memberikan kesan yang kurang baik. Tak dapat dipungkiri tetua dan orang tua yang lain merasa sedih karena makna gawai juga tergerus oleh zaman. Seharusnya acara gawai merupakan ucapan syukur tetapi malah pesta dan mabuk-mabukan tidak jelas, belum lagi jika sudah mabuk-mabukan ada saja orang yang emosinya mudah tersulut sehingga adanya percikan amarah dan membuat terjadinya perkelahian. Hal seperti inilah yang membuat Pak Runai semakin khawatir jika acara gawai berlangsung. Seharusnya selain diri sendiri yang mampu mengerem diri agar tidak mabuk, lingkungan sekitar juga turut membantu para pemuda yang niatnya mabuk-mabukan, agar hal seperti perkelahian tidak terjadi. Daripada mabuk-mabukan lebih baik mengikuti tradisi dan upacara adat dengan khusyuk, bukan? Agar lebih bermanfaat.

Upacara seperti gawai ini selalu ditunggu-tunggu oleh setiap orang yang ada di kampung Binjai karena sanak saudara dan keluarga jauh akan berkumpul. Orang-orang akan saling mengunjungi satu sama lain dan menjalin silahturahmi, baik dari generasi muda, generasi tua, satu kampung, bahkan penduduk kampung lainnya juga hadir atau datang pada saat gawai berlangsung.

“Saya dan istri sangat bahagia saat acara gawai berlangsung selain acara natal, karena anak dan cucu juga keluarga lainnya akan datang. Kami dapat bercerita juga melepas rindu, karena jarang bertemu”.

“Betul sekali yang kakek ucapkan, kami selalu berkumpul saat natal dan gawai. Namun, sudah dua tahun ini acara gawai tidak dilaksanakan karena adanya covid”, ungkap Lidiya yang terlihat murung.

“Kami tidak bisa berkumpul seperti biasanya karena musim pandemi seperti ini. Acara gawai tidak berani kami laksanakan karena kami juga harus mematuhi protokol kesehatan, bagaimanapun juga kesehatan adalah hal yang utama. Saat ini melepas rindu hanya melalui telepon, berkirim pesan, atau video call saja. Semoga saja tahun depan pandemi sudah berakhir sehingga kami bisa melaksanakan gawai dan juga acara adat lainnya”, lanjutnya.

Jika dipikir-pikir rasa sepi tentu menghantui pasangan tua yang ada di kampung Binjai itu. Bagaimana tidak? Jika bukan dimomen-momen natal dan gawai seluruh keluarga dan sanak saudara jarang berkumpul. Tentu rasa rindu yang mereka alami kini kian membara karena musim pandemi seperti ini membuat siapapun susah untuk berpergian. Sudahlah tradisi dan adat istiadat mulai memudar, ditambah pandemi pula rasanya sangat pilu dan semakin menyayat hati.

Mengingat usianya yang tak lagi muda, ia selalu memiliki harapan agar generasi muda mau melestarikan adat dan budaya agar tak hilang ditelan oleh zaman. Anak-anak zaman sekarang harus mampu melestarikan adat dan budaya yang ada di daerahnya, jangan hanya berpangku tangan saja. Jangan menunggu tradisi sudah punah baru bergegas mempelajari karena semua itu akan percuma. Apalagi di zaman modern seperti ini sudah banyak peralatan yang dapat digunakan untuk melestarikan adat atau tradisi, seperti gawai, alat perekam, kamera, kemudian anak muda dapat mempelajari teknik mengedit, dan menggunakan media sosial untuk menyebarluaskan adat tersebut sehingga dapat menarik minat orang-orang dari dalam maupun luar negeri. Jika hal ini terlaksana maka dapat menumbuhkan ekonomi yang ada di daerah tersebut dengan pesat, selain mengembangkan adat istiadat yang ada.

Semoga harapan para orang tua yang ada di kampung Binjai mengenai melestarikan adat istiadat dapat terlaksana, tidak hanya sebuah kata dan janji semata. Melainkan dapat menjadi nyata dan membangun harapan bangsa akan hebatnya sebuah budaya, yang dapat membahana dan juga menggelora di seluruh dunia nantinya. Mari lestarikan adat dan budaya, agar anak cucu kita juga bisa menikmatinya di masa mendatang nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman