Amplang Cemilan Khas Desa Kauman - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 11 Oktober 2021

Amplang Cemilan Khas Desa Kauman

Korpora.id, Ketapang —28 Oktober 2020, bisnis kuliner merupakan bisnis yang terbilang cukup menjanjikan, sebab kebutuhan primer manusia adalah makanan. Hal inilah yang menjadi alasan utama bagi rumah produksi amplang di Desa Kauman. Selain itu, amplang terkenal karena sering dijadikan oleh-oleh khas dari Ketapang.

Saat ini sudah banyak yang memproduksi amplang selain dari Ketapang. Walaupun demikian, amplang produksi desa Kauman tidak diragukan lagi jika soal rasa. Cita rasa ikan yang kuat dan renyah serta aroma ikan yang khas membuat siapa saja ingin menggoyangkan lidah dengan cemilan ikan itu.

Di Ketapang, sudah banyak yang membuat amplang. Namun kebanyakan sentra produksi ampalng terdapat di desa Kauman. Hal ini membuat rasa penasaran tentunya, mengapa di Kauman banyak terdapat sentra amplang. 

Mba Yola selaku owner Amplang Obic yang didampingi oleh ibunya mengatakan, “di Kauman memang sudah dikenal sebagai desa yang memproduksi amplang, jadi orang-orang jika ingin membeli amplang langsung ke Desa Kauman sehingga memang sudah jalurnya amplang berkembang di Kauman.” ujar Yola.

Pak Herzan Sofi atau yang sering dipanggil Ezan selaku pengelola Amplang Suka Rasa mengatakan, “orang pertama yang membuat amplang tinggal di Kauman yaitu Alm. Ibu Acil Rosidah Fahmi pendiri amplang Suka Rasa, lalu seiring berjalnnya waktu karyawan ibu Acil yang tinggal disekitar kauman membuka usaha amplang baru sehingga jalur penyebaran produksi ampalng lebih banyak di Kauman.” jelasnya. Itulah mengapa di Kauman terdapat banyak sentra produksi Amplang.

Selain itu, di Kauman memang sudah terkenal dengan banyaknya rumah produksi amplang. Sehingga pembeli langsung tahu tujuan untuk memperoleh amplang. Sentra amplang di Kauman berada di tepi sungai Pawan, warga setempat mengenalnya dengan sebutan Penambangan. Sebab dulu, tempat tersebut merupakan area untuk menambak ikan dan sebelum ada jembatan Pawan 1, tempat tersebut menjadi akses penyebarangan dengan menggunakan sampan.

Obic sudah berdiri sejak tahun 2002 dan sekarang berusia 18 tahun. Selain dari membuat amplang keluarga kak Yola juga memiliki usaha rumahan lainnya. “selain membuka usaha amplang saya juga membuka usaha lain seperti pemesanan makanan, sekarang saya sedang mencoba membuka usaha melukis motif batik” ujar wanita 24 tahun itu.

Walaupun demikian, kak Yola tak meninggalkan usaha utamanya yaitu berjualan amplang. Karena merupakan usaha pertama yang di produksi olehnya. “usaha utama kami adalah amplang namun usaha lain bukan berarti tidak diutamakan tetapi amplang ini ibaratnya anak sulung.” Sahut ibu kak Yola.

Obic ini sangat memperhatikan kesegaran ikan yang digunakan dalam pembuaatan amplang, dengan satu kali produksi sebanyak berat bersih ikan 17 Kg namun sayangnya mereka tidak menimbang hasil ampalng yang sudah jadi.

Berbeda dengan kak Yola, pak Ezan pengelola amplang Suka Rasa dengan memilih ikan, antar yang sedang dan tidak karena disitulah letak gongnya.

“kualitas ikan yang terlalu segar juga tidak bagus dan terlalu bonyok juga tidak bagus yang terbaik adalah ikan yang sedang antara segar dan tidak segar. Sebab jika terlalu segar akan membuat cepat menghisap bumbu dan soda sehingga bisa cepat keras dan susah untuk dibentuk.” Jelas pak Ezan dengan logat ketapangnya.

Bahkan ukuran ikan juga berpengaruh, ikan terlalu besar terlalu kecil juga tidak baik digunakan. Sekali produksi pak Ezan menggunkan ikan sebanyak 20 Kg dengan mendapat hasil sebanyak 30 Kg amplang.

Ampalang Suka Rasa ini terbilang cukup lama, sebelum masa reformasi. “amplang Suka Rasa berdiri pada tahun 1991 dari zamannya bu Acil dan merupakan amplang pertama di Kauman. Dulu ibu Acil bisa membuat amplang dari berbagai jenis ikan yang penting daging ikan tersebut masih putih.” Ucap pria dengan kemeja abu-abu absurdnya itu.

Berdasarkan komposisi pembuatan amplang, bahan dasar yang digunakan adalah ikan tenggiri. Namun sebenarnya amplang akan lebih enak jika menggunakan ikan belidak.

“ikan belidak merupakan jenis ikan yang hidup di sungai sehingga keberadaanya sulit untuk didapat sehingga sekarang beralih menggunkan ikan tenggiri sebab merupakan jenis ikan laut yang tidak mudah untuk punah.”

Proses pembuatan amplang tentu tidak selamanya berjalan dengan lancar, bahkan mengalami kegagalan. “faktor-faktor yang membuat produksi gagal bisa karena faktor manusia dalam pembuatan, faktor ikan, faktor minyak dan faktor X yang sampai saat ini belum diketahui penyebabnya” ujar kak Yola. Hal tersebut membuat produk yang dijual mengalami kemiringan harga dari harga aslinya. Penggunaan label Obic juga tidak disertakan agar nama baik tetap terjaga.

Sambil memperhatikan jalanan, Pak Ezan mengatakan, “sebenarnya faktor kegagalan itu bukan sekadar keadaan ikan, banyaknya bumbu dan soda. Kalau masalah minyak itu tidak berpengaruh” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa gagalnya produksi disebabkan sulit untuk dibentuk karena keras, jika hal itu terjadi maka tidak bisa digunakan lagi sehingga adonan hanya dibuang ke air.

Proses pembuatan amplang tidak semudah seperti yang kita pikirkan. Ampalng yang sehat dalam proses menggeleknya (istilah Ketapang dalam artian membentuknya) tidak menggunkan tepung, karena jika menggunkan tepung akan mengendap pada minyak dan dapat menyebabkan penyakit. Ciri-ciri amplang yang menggunakan tepung pada proses menggelek saat dimakan maka akan terasa gatal di leher.

Memperhatikan ke-higienist-an saat produksi, terutama pada makanan merupakan hal utama yang dilakukan pak Ezan “amplang yang baik dan enak itu memiliki warna yang agak kecoklatan sebab lebih akan terasa ikannya. Jika amplang berwarna putih hanya dua saja yang menjadi faktor, yang pertama karena memakai pemutih atau karena banyak menambah telur” ucap pria 40 tahun itu.

Untuk lebih menjaga kesehatan amplang yang telah digoreng, akan dimasukan pada sebuah alat yang bernama Spiner atau alat untuk mengeringkan minyak. Dari alat tersebut bisa didapat minyak goreng 20 liter selama seminggu.

Beberapa waktu lalu telah diadakan survei pada lima rumah produksi amplang yang terbilang sudah berdiri lama di Kauman. Survei tersebut ada yang berhasil dan ada yang belum berhasil. Amplang Obic dan Suka Rasa termasuk dalam survei yang dilakukan oleh pusat dan mendapat predikat empat bintang untuk Obic dan bintang dua untuk Suka Rasa.

Produksi amplang bisa menjadi sedikit penunjang ekonomi terutama untuk pengelola dan karyawan. Harapannya rasa amplang yang ada di Ketapang tepatnya di Kauman tetap mempertahankan cita rasanya yang khas. Sehingga amplang tetap dikenal sebagai cemilan khas yang ada di Ketapang.

Penulis: Risky Amalia Ariska

Penyunting: Erisky Aprinia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman