Bubur Ayak, Bukan Bentuknya yang Langka tetapi Rasanya - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 11 Oktober 2021

Bubur Ayak, Bukan Bentuknya yang Langka tetapi Rasanya

Sumber: https://m.youtube.com/watch?v=LlrwDsNrlTw

Korpora.id, Sambas – Rabu, 18 November 2020, Tak semua makanan khas yang ada disuatu daerah mudah dijumpai. Terkadang makanan-makanan khusus hanya ada pada acara khusus juga. Sama halnya dengan makanan satu ini, “Bubur Ayak” begitulah orang-orang menyebutnya. Makanan ini merupakan makanan khas Sambas, Kalimantan Barat yang hanya dapat ditemui ketika berlangsungnya acara pemberian nama pada bayi. 

Bubur ini bisa saja dibuat sendiri, tetapi bukan dari segi wujudnya yang dirindukan tetapi rasa yang ada dalam bubur tersebut tak bisa diciptakan sendiri. Surya (68) sering membantu tetangga bahkan orang lain yang sedang mengadakan acara, baik itu pernikahan, sunatan, hajatan, dan acara tepung tawar. “Kalau dipanggil, saya bersedia membantu memasak.” Suaranya yang lembut terdengar jelas ditelinga. 

Tepung tawar dikenal dengan acara yang diadakan ketika suatu keluarga memiliki anggota keluarga baru, dalam masyarakat Sambas, dibalik itu ada suatu momen yang sangat ditunggu-tunggu warga ketika datang ke acara tersebut yaitu makan bubur ayak.

“Bubur ayak itu makanan penutup saat tepung tawar, jadi kalau mau makan bubur ini harus menunggu proses acara selesai dulu.” Ujar nenek yang sudah lebih dari setengah abad ini. 

Dinamakan bubur ayak karena proses pembuatannya dengan cara diayak, dalam Bahasa Sambas ayak artinya suatu kegiatan yang disaring kemudian adonan ditekan hingga keluar, seperti membuat cendol. 

Bubur ayak memiliki tekstur yang kenyal, dan berbentuk bulat-bulat yang ditengahnya terdapat cekungan kecil, manis yang ada berasal dari kuah khusus menambah citarasa unik dari makanan yang satu ini. Terlebih dimakan ketika masih hangat sambil berkumpul dengan sanak saudara. 

Bahan-bahan yang digunakan cukup mudah didapatkan dan proses pembuatannya pun terbilang mudah. “Bahan yang digunakan yaitu gula aren, tepung beras, santan, air, kapur sirih, daun pandan, jahe, dan garam sedikit saja.” Jelas Wan Surya.  

Dalam pembuatan bubur ayak ini, terdapat 2 cara dan 2 adonan. Pertama kita siapkan adonan pertama, yaitu campurkan tepung beras dan air yang sudah dicampur kapur sirih. 

“Umumnya bentuk yang dicetak seperti ini.” Ujar Wan Surya sambil mengukur ujung jarinya, memperlihatkan ukuran adonan yang hendak dicetak ketika membuat bubur ayak.

Saat menyampurkan kedua adonan ini, buatlah adonan tidak terlalu cair dan tidak terlalu keras. Aduk hingga teksturnya dapat dibentuk dengan mudah. 

Bentuklah adonan dengan berbentuk bulat-bulat kecil seujung jari, kemudian tekan sedikit bagian tengahnya hingga tampak cekungan. 

“Tapi jangan semua yang dibentuk, karena nanti setengah adonan yang telah dipisah akan diayak.” Jelas Wan Surya, begitulah sapaanya. Setelah dibuat, sisihkan adonan 1 dan lanjutkan pada adonan kedua. 

Adonan kedua yaitu membuat kuah bubur, caranya yaitu didihkan air sesuai jumlah adonan yang diinginkan, pada saat acara tepung tawar jumlah yang dibuat sangat banyak hingga menggunakan kawah dan dibuat dengan jumlah orang yang banyak pula. Masukan gula aren kedalam air yang telah mendidih, kemudian masukan santan, daun pandan, jahe, dan garam secukupnya. Aduk hingga merata.

Adonan 1 dan 2 telah siap, selanjutnya memasukan adonan 1 ke dalam adonan 2 dengan menggunakan 2 cara pula yaitu, langsung memasukan adonan yang berbentuk bulat ke dalam adonan, dan cara yang kedua yaitu dengan mengambil setengah adonan kemudian diayak hingga adonan habis. Pada cara kedua ini adonan akan berbentuk sembarang, ada yang lonjong, pipih, besar, tebal, dan lain-lain.

Rasanya tidak seberapa, tetapi perjuang pembuatan bubur ayak dengan jumlah banyak yang membuat rasa bubur ini berbeda.

Suasana panas karena berhadapan dengan tungku besar, mengaduk-aduk kuali tanpa henti, terlebih dengan ukuran yang besar, kemudian mengayak adonan dengan tenaga yang kuat dan harus memegang alatnya juga adonannya yang cukup melelahkan. Tak lupa pada saat berkumpul dengan tetangga dan keluarga yang jauh membuat suasana seperti itu menyenangkan dengan hidangan yang sederhana tapi kaya rasanya. Bukan bubur ayak yang sulit dibuat, namun rasa dari perjuangan pembuatan dan berkumpul dengan keluargalah yang membuat rasanya tiada tara.

Penulis : Eny Diarty

Penyunting : Selly Purwanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman