Bunga Layu yang Kembali Tumbuh - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 09 Oktober 2021

Bunga Layu yang Kembali Tumbuh

Pebulis: Angga Laena Siti Patimah

Penyunting: Dedy Ari Asfar 



Korpora.id, Pontianak - Naira, anak perempuan berusia 15 tahun itu sedang berada di dalam lemari kamar Hotel yang terletak di Jalan Imam Bonjol Kec. Pontianak Sel., Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243. Ia memainkan kamera filter IG di gawainya dan masih sempat memotret wajahnya barang satu atau dua gambar. Ia menunggu temannya yang bernama Tina, kenapa Tina belum mengabari ya, batinnya. Naira lalu mengirim pesan kepada Tina, ia khawatir Tina bertemu dengan mamanya seperti dua bulan lalu. Grafik pikirannya memutar dimensi waktu kembali.

“Naira kamu kok jadi kayak gini, nggak bilang sama Mama,” ujar perempuan berparuh baya, berkulit putih, dan berambut lurus itu.

Naira tetap tertidur tenang menggunakan piyama bewarna biru di kasur putih yang empuk itu. Perempuan yang melahirkan Naira ini akhirnya kehilangan kesabarannya hingga menjambak rambut panjang Naira.

Naira seketika terbangun. Ia melihat keluarganya, bapak tirinya, beberapa polisi dan,  “Mama?” ujar Naira tiba-tiba.

Pantaslah Tina kabur tadi, batin Naira. Naira sudah diberitahu beberapa jam sebelumnya saat hendak masuk ke hotel, bahwa Tina melihat mama Naira di jalan. Namun, Naira menganggapnya itu hanya sebagai gurauan belaka, sebab Tina sering bercanda setiap kali mereka ada di hotel.

“Ayo sekarang ikut Mama,” tegas mama Naira, menarik pergelangan tangan Naira. Naira pun meninggalkan pacarnya yang bernama Dino begitu saja.

Kejadian pada Agustus 2020 itu tak membuat Naira jera atas perbuatannya. Ia selalu merasa kesepian harus berdiam terus di rumah, apalagi jika Naira melihat mama yang selalu asik dengan bapak tirinya ia merasa sangat muak dan kesal.

Lantas, untuk kesekian kalinya ia selalu tidur di kamar hotel yang berada di Pontianak. Hotel termurah hingga yang paling mahal  pernah ia tempati. Kini, tanggal 08 Desember 2020,  rencananya tak berjalan seperti biasanya.

Saat ia asik dengan gawainya di dalam lemari besar itu, kekhawatirannya lebih dari apa yang dibayangkan.  Semoga tak ada mama lagi, batinnya merafal doa. Grafik pikirannya mulai kembali ke masa sekarang.

Dua bulan lalu, ia terpergoki mama dan keluarganya. Dan untuk sekarang, doanya terkabul. Bukan mama dan keluarganya yang datang, melainkan orang yang jauh lebih besar yang akan mengubah hidupnya.

Dalam hitungan satu, dua hingga hitungan kelima pintu lemari pun dibuka, tiba-tiba rambut anak perempuan itu ditarik oleh seorang perempuan dewasa berjilbab lebar. Ini sudah kali kedua Naira dijambak rambutnya. Naira seperti bertanya, “Apa ia ditakdirkan hanya untuk dijambak rambutnya ketika melakukan kesalahan?” pikirnya, merasa bodoh.

“Kok ramai sih, ini ada apa?” tanya Naira kebingungan.

“Kamu yang lagi apa di dalam lemari?” tegas perempuan itu.

Naira melihat banyak sekali orang di kamar, matanya juga menangkap sosok Tina, temannya yang sudah terpergoki saat menjemput seorang laki-laki/pelanggan yang biasa mereka sebut sebagai TM, singkatan dari tamu laki-laki.

“Ramai-ramai, kita sudah tertangkap Ira!” ketus anak perempuan yang memakai baju kuning berlapis overall hitam bernama Tina itu.

Hotel berbintang ini seketika menjadi ramai, ada beberapa petugas Polresta Pontianak, petinggi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kalbar, tim Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPAD) dan beberapa anggota lainnya.

Pada awalnya Tina menuruni tangga hotel untuk bertemu dengan TM yang sudah dihubungi, sebelumnya Tina menyuruh tujuh teman-temannya yang berada di kamar hotel tempatnya untuk bangun dan bersiap-siap. Namun, anak-anak itu tidak berpindah dari kamar hotel, mereka berpencar dan bersembunyi. Ada yang di bawah kasur putih, bersembunyi di lemari atas dan bawah, begitu juga dengan Naira. Ia bersembunyi di lemari bawah, sementara di atas anak laki-laki berusia 17 tahun, panggil saja Rayan. Mereka sengaja bersembunyi setiap kali TM datang, agar tidak merasa malu ketika hendak berbuat (bersetubuh) dengan anak-anak yang menjadi korban.

Ketika Tina bertemu dengan TM di depan lift, di lantai paling bawah ia tertangkap oleh ketua kebijakan publik KAMMI Kalbar, Muhammad Al Iqbal. TM tersebut kabur, ia pergi ke monokrom hotel. Di hadapan Naira dihadapi sesosok polisi bertubuh besar, Naira sangat panik.

“Dek kamu tidak pengap apa di dalam?” tanya Polisisi berbadan besar itu.

“Eh ada apa ini Om?” tanya Naira, ia membenarkan piayama berwarna birunya.

“Ada apa, ada apa. Siapa nama kamu?” tanya Polisi itu kembali.

“Naira Aurilia, atau Naira Putri?” tanya perempuan berjilbab yang menjambak rambut Naira tadi.

“Naira Aurilia,” jawab Naira.

Perempuan dewasa berjilbab lebar itu seperti anak yang diberi uang jajan oleh orang tuanya, sangat senang. Ia mengambil gawainya dan menelpon seseorang.

“Assalamu’alaikum Kak.. Ira dan kawan-kawan dapat nama Naira,” ujarnya pada seseorang dibalik gawai itu.

“Wa’alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, Kakak sekarang ke sana Ra,” jawab perempuan berparuh baya yang juga senang atas informasi yang baru didengarnya.

“Oke, kak,” akhirnya, telpon pun ditutup setelah mengucap salam kembali.

Beberapa pihak lain mengumpulkan dan menemukan anak-anak dan juga orang-orang yang diduga terlibat dalam kasus prostitusi online ini.

Sementara, Naira masih heran dengan namanya yang disebut-sebut sedari tadi, “Kak kenapa Kakak kenal kami?”

“Kamu memang sudah terkenal Naira,” balasnya.

“Hah kok bisa?” tanya Naira semakin penasaran.

“Kau ini sudah lama kena DPO,” jelas sang perempuan itu.

“DPO? Apa itu kak?”

“Daftar Pencarian Orang, udah-udah nggak usah banyak tanya, langsung ikut bapak Polisi itu.” titahnya.

Naira dan anak-anak lainnya turun ke lantai bawah. Naira berkumpul dengan pelaku lainnya di dalam satu ruangan.

Di luar hujan mengguyur deras, malam ini menjadi saksi perjalanan beberapa anak yang terlibat dalam sebuah kasus yang sangat serius, termasuk Naira. Anak-anak berusia belasan tahun ini tak menduga akan dipermalukan di depan orang banyak, bahkan Naira tak menyangka dirinya terlibat dalam kasus pencarian polisi.

Mereka dikumpulkan di lantai bawah hotel, banyak orang yang melihat, Naira merasa benar-benar malu. Semua anak memakai masker, termasuk dirinya. Banyak yang mengambil foto dan orang-orang yang melihatnya. Kini, mereka telah menjadi pusat perhatian banyak orang.

Beberapa waktu kemudian, seorang wanita berparuh baya, berjilbab lebar datang menghadap anak-anak ini. Wanita itu adalah ketua KPPAD Kalbar yang telah dihubungi oleh perempuan berjilbab lebar anggota KAMMI Kalbar, Eka Nurhayati Ishak ketua KPPAD Kalbar.

“Ternyata Ummi,” ujar Tiana pelan.

“Kamu kenal Na?” tanya Naira.

“Iya Ira, itu Ummi. Ketua KPPAD Kalbar,” jawabnya.

Dahulu, Tina pernah bertemu dengan ketua KPPAD itu karena pernah ada dalam kasus anak brokern home, “Tina kau lagi ya! Tak nyangka Ummi kau jual diri,” ujar Eka.

Mereka semua tertunduk setelah mendapat nasihat dari ketua KPPAD Kalbar.

Beberapa saat kemudian, Eka menanyakan umur masing-masing.

“Naira,”

Naira menegadahkan kepalanya ia melihat perempuan berwajah tegas itu memandangnya.

“I..Iya Mi,” jawabnya pelan.

“Berapa umur kamu?”

“15 Mi,”

“Kamu sekolah?”

“Udah ndak Mi,”

“Di antara semua laki-laki ini, mana cowo kamu?” suaranya semakin tegas.

“Mana ada, ndak ada Mi,”

“Jangan bohong Naira!” bentak perempuan yang menjambak rambut Naira dalam lemari tadi.

Lalu, seketika seorang lelaki kurus bertubuh tinggi, berkulit hitam dan berwajah manis itu mengangkat tangan. Doni namanya, ia berumur 23 tahun.

“Ya Kak saya cowonya,” ujar Doni akhiranya mengakui karena tak tega melihat Naira yang disayanginya dibentak.

Semua pasang mata menatap laki-laki itu. Ummi melanjutkan beberapa pertanyaannya, Tina berumur 16 tahun dan masih sekolah SMA, anak-anak lainnya berumur 15 hingga 18 tahun.

“Ternyata kamu ya yang paling besar Doni!” tegas Eka setelah mengetahui umur Doni 23 tahun.

Selanjutnya, mereka semua kemudian dimasukkan ke dalam mobil dan di bawa menuju suatu tempat. Naira dan teman-temannya sangat penasaran akan dibawa ke mana. Dan setelah sampai, ternyata mereka dibawa ke Pusat Pelayanan Terpadu (PLAT) yang berada di Jalan Ampera, Kota Baru, Pontianak. Kecuali Dino, ia bukan dalam hitungan anak dibawah umur lagi hingga akhirnya dibawa menuju Polresta.

Di PLAT ini Naira dan teman-temannya diarahkan, direhabilitasi karena terdektesi menggunakan obat-obatan narkoba, ganja dan sejenisnya. Mereka juga diberi pengarahan agar lebih terbuka pemikirannya.

Miftah Maziyyah, Kabid Humas KAMMI Kalbar dan Muhammad Al Iqbal – Kabid Kebijakan Publik Kammi Kalbar selaku pendamping dan berkoordinasi dengan ketua KPPAD  menjelaskan bahwa mereka terlibat dalam kasus prosititusi online ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama adalah lingkungan dan teman-teman yang tidak mendukung, awalnya hanya coba-coba hingga akhirnya terus berlanjut. Kedua adalah faktor keluarga, hampir 99 % anak-anak yang terlibat ini memiliki latar belakang brokern home, dan kurang perhatian dari keluarganya, bahkan ada dua anak yang pernah dicabuli oleh ayahnya sehingga kedua anak ini memberi lebel pada dirinya bahwa dia ‘sudah tidak berharga’ lagi. Ketiga adalah faktor ekonomi, satu di antara anak-anak yang tertangkap adalah karena memiliki keinginan membeli gawai baru untuk pembelajaran daring. Faktor keempat adalah faktor pendidikan dan ruhiyyah atau spiritual yang kurang, mereka lupa dengan masa depan, dosa, dan telah dibutakan oleh hal-hal yang fana. Terakhir adalah faktor Covid-19, anak-anak lebih sering berada di luar dari pada di sekolah sehingga tidak ada pengontrolan, transfer ilmu dan adab dari guru tidak maksimal.

Beberapa pekan setelah di PLAT, anak-anak perempuan yang terus bertambah setiap harinya. Hal ini karena Naira dan Tina yang terus ditanya oleh Eka terkait teman-temannya yang sedang dalam pesanan berada di hotel. Ya, bukan hanya mereka yang terlbiat, melainkan teman-temannya juga menjual dirinya.

Akhirnya, 9 anak yang terkumpul di bawa menuju kontrakan. Kontrkakan ini di sebut oleh mereka sebagai ‘rumah aman’ atau ‘rumah binaan’. Di rumah aman ini mereka dibimbing, diarahkan, diberi edukasi dan mendapat pelatihan berbagai skill seperti belajar Bahasa Inggris, memasak, menari, dan lainnya.

Ruman aman yang terletak di Jalan Parit Haji Husin II bewarna jingga type 36 ini,  menjadi saksi perjuangan para pembina yang bersabar dalam mengarahakan anak-anak untuk menjadi manusia yang lebih baik.

“Kapan kami pulang, Kak?” Naira bertanya setelah beberapa jam ia mendiami rumah aman itu.

“Kalian itu ya, seharusnya bersyukur, mendapat Kakak-Kakak yang mau membimbing tanpa dibayar. Mereka rela lho meluangkan waktunya untuk mengajari kalian,” tegas Fidah, anggota KAMMI Kalbar.

Ketua KPPAD Kalbar mendatangi rumah aman dengan sejumlah barang yang dibawanya. Mulai dari mukena, buku iqra, peralatan masak dan beberapa permainan anak seperti congkak, bekel, dan kartu uno. Eka membuka satgas (satuan gabungan) untuk pembinaan anak-anak. Ada tiga hal yang ditekankan, pertama pembinaan dari segi ruhhiyah atau spiritual, kedua pendidikan karakter, ketiga dari segi psikoligis.

Eka bekerja sama dengan beberapa organisasi mahasiswa, pemerintah daerah, provinsi hingga DPRD. Namun, pemantauan dan keterlibatan langsung banyak dilakukan oleh gerakan KAMMI dan Puskomda Kalbar. Total pembina ada 22 orang, 4 di antaranya berjenis kelamin laki-laki.

Seorang perempuan berbadan ramping, berjilbab hitam lebar mulai mendekati anak-anak itu. Mereka terlihat sangat asik mengobrol setelah dipertemukan dengan teman lain yang baru dijemput dari hotel.

“Assalamu’alaikum,” ujarnya memulai pembicaraan dengan wajah yang ramah.

Entah karena tidak mendengar, atau memang sengaja tidak menjawab pertanyaan, anak-anak tak acuh terhadap perempuan berjilbab syar’i itu.

Tak menyerah, perempuan ini kembali melontarkan pertanyaan untuk menyapa mereka, “Lagi pada ngapain nih?”

Lagi-lagi mereka sibuk dengan barang-barang yang baru saja dibeli bersama ketua KPPAD, mereka memakai jam barunya, mencoba sepatu baru dan beberapa barang baru yang dibelikan oleh Eka. Eka sangat menyayangi anak-anak itu dan berusaha sebisa mungkin untuk membuat mereka tidak stress berada di rumah binaan.

Tiba-tiba jam Intan mati, lalu perempuan ini memiliki kesempatan untuk mencoba membantu menghidupkannya.

“Sini Kakak bantu Dek,”

Berhasil, mereka semua mulai penasaran dengan sosok perempuan yang lagi-lagi baru saja mereka temui.

“Kakak dari mana Kak?” tanya Naira tiba-tiba.

“Dari mana apanya nih? Alamat asal atau tempat tinggal sekarang?” tanyanya masih dengan senyum yang ramah.

“Dua-duanya lah,” balas anak-anak itu.

“Asal Kakak, dari Bandung. Kalau tempat tinggal di Supadio,”

“Jauhnya Kak,”

Perempuan itu mengangguk

“Untuk mencari ilmu itu kan perlu perjuangan, Kakak berkuliah di sini karena mengejar beasiswa juga.”

Naira mengangguk, “Wajah Kakak ndak asing,” lanjutnya.

Sontak perempuan itu kaget, padahal ini baru kali pertamanya bertemu dengan mereka, “Hayo di mana? Pasaran sekali ya wajah Kakak,”

Semua anak pun tertawa.

Azan zuhur mulai menggema, anak-anak diperintahkan untuk salat.

“Kak, tolong bimbing Intan untuk salat ya, Intan belum bisa bacaan salat,” ujar Intan.

Astagfirullahaladzim, oh ya Allah, batin perempuan berjilbab lebar ini, tak menyangka.

“Baik Dek, Dek Intan kelas berapa?”

“6 SD Kak,”

Laillahaillallah.. batinnya kembali menyebut nama-Nya.

Di awal pembinaan ruhiyyah mereka sangat kurang dalam agama, bahkan bacaan salat tidak tahu sama sekali, wudhu belum bisa, mengaji belum bisa, mandi wajib bagi seorang perempuan belum bisa. Bahkan di antara mereka, seumur hidup belum ada yang pernah mandi wajib, padahal mereka sudah baligh dan perlu untuk menyucikan dirinya. Dalam Islam, semua itu wajib dilakukan oleh seorang muslimah.

Satu pekan berlalu, anak-anak mulai lebih disiplin dan terbiasa dalam melakukan aktivitas di rumah aman ini. Malam hari mereka masak, ketika siang agendanya adalah sharing, sorenya baru belajar mengaji. Terkadang jadwal-jadwal tersebut tak beraturan karena malasnya mereka, labilnya mereka, dan emosi yang belum terkendali.

Hari ini mereka dihadapkan oleh seorang psikologi, mahasiswi lulusan Jawa. Ia masih anggota dari KAMMI Kalbar. Ketika dicek psikologisnya, ternyata menurut ahli psikolog itu, mereka memang memiliki banyak beban. Dari luar penampilan seperti baik-baik saja, padahal dari batin dan psikis mereka terganggu. Penyebabnya tidak jauh, yakni berangkat dari keluarga, permasalahan orang tua, teman, ekonomi dan permasalahan lainnya.

Pada tanggal 22 Desember 2020 hari penuh kelabu dimulai, hari ini penuh haru, bahkan ini adalah awal peubahan dan kesadaran bagi beberapa di antara mereka, termasuk Naira.

Malam ini rumah aman menyelenggarakan acara. Kesembilan anak ini masih sempat bersolek cantik, mereka memakai baju gamis yang baru saja didapat dari donasi masyarakat. Mereka yang biasanya tidak memakai jilbab dan baju panjang, kini ketika memakainya Nampak anggun dan elegan.

Naira, Tina, dan Puput menghampiri perempuan yang memakai jaket Pendikar Islam  Universitas Tanjungpura itu.

“Kak ada HP?” tanya Naira.

“Ada, kenapa?”

“Foto yuk Kak,” ajak Tina semangat.

Perempuan itu baru menyadari bahwa selama dibina semua anak yang ada di sini tidak diperkenankan memainkan gawai.

“Boleh, yuk sini merapat,” jawabnya.

“Filter IG dong Kak,”

“Boleh, boleh,”

Semua perempuan atau para  akhwat (sebutan untuk perempuan muslimah), saat melakukan pembinan diawal merasa canggung dan tak sepemikiran dengan anak-anak ini. Akhwat-akhwat yang bertugas bergantian memiliki cerita yang berbeda-beda saat melakukan pembinaan.

Anak-anak yang dibina ini paling suka bermain tiktok, berjoget, berdandan dan membicarakan hal-hal yang berbau dewasa. Tetapi, lagi-lagi para akhwat yang membina harus bersabar mengajari mereka satu persatu.

Acara pun akan segera dimulai, “Anak-anak ayo kumpul sini,” suara nyaring terdengar dari mulut Farida, satu di antara pembimbing yang dekat dengan anak-anak.

Anak-anak berhamburan berkumpul di satu titik. Terlihat tulisan ‘Selamat Hari Ibu’ yang terlukis di papan tulis yang dihiasi oleh lampu berwarna-warni. Pembukaan pun dimulai, anak-ana masih mengobrol, bercanda, dan tertawa. Tak ada rasa bersalah dalam raut wajah mereka.

“Stttt, adik-adik diam ya,” tutur akhwat lain yang berada di belakang.

Semua masih seperti biasa, lalu saat seorang aktivis dakwah kampus yang sudah lulus kuliah masuk dan hadir tepat di hadapan mereka, lagu Melly Goeslow pun diputar. Seluruh lampu ruangan dimatikan, dan hanya lampu bewarna-warni tadi yang menyala.

“Semuanya tertunduk ya, semuanya tertunduk,” ujarnya memulai suasana yang haru.

“Pada suatu masa, kalian akan menyadari, betapa pentingnya harga diri seorang perempuan. Kalian akan bertanya, ‘mengapa aku melakukan hal itu dulu?’, ibu kalian mengandung kalian, membesarkan kalian dengan teramat susah payah, tetapi, tetapi kalian malah membalasnya dengan sakit hati yang mendalam kepada kedua orang tua kalian.”

Wajah anak-anak mulai memerah dan butiran embun mulai melesat menju lantai tanpa diminta.

“Kalian sadar tidak, anak-anak kalian nanti akan bertanya, ‘Ma, siapa yang ada dalam berita itu? Kok Mama ada di sana? Mama ngapain?’ pertanyaan yang membuat kalian bingung harus menjawab apa.” ujar perempuan ini dengan nada yang gemetar karena larut dalam suasana.

Pikirku pun melayang

Dahulu penuh kasih

Teringat semua cerita orang

Tentang riwayatku

Kata, mereka diriku selalu dimanja

Kata, mereka diriku selalu ditimang

Nada-nada yang indah

Selalu terurai darinya

Tangisan nakal dari bibirku

Takkan jadi deritanya.

Isak tangis yang samar mulai terdengar dengan jelas.

Tak terasa para akhwat muslimah ikut meneteskan air matanya. Mereka ikut larut dalam renungan mala mini karena teringat sosok yang berjuang dengan keras merawat sejak dalam kandungan dan membesarkan diri hingga saat ini, ibu.

“Tak ada kata terlambat Dek, kalian masih banyak waktu untuk membenahi diri. Jangan kecewakan orang tua untuk kedua kalinya, jangan berbuat dosa kembali atau masuk dalam dunia malam lagi. Cukup sampai pada kalian, ajarkan anak kalian yang baik-baik. Kakak yakin, seburuk apapun orang tua tidak akan pernah mengajarkan anaknya untuk berbuat kejelekkan. Semua orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, agar anaknya bisa selamat bukan hanya di dunia melainkan juga di akhirat nanti.”

Butiran air embun kian menetes melesat menuju bumi. Mereka tak lagi mempedulikan make up yang tadi dijaganya dengan baik. Mata mereka seketika sembab, isak tangis memenuhi ruangan. Lalu mereka diberi kertas dan pulpen untuk menulis harapan selanjutnya, harapan-harapan yang lebih baik itu kembali tumbuh setelah layu dan tak tersiram sedikit pun untuk menjadi makhluk-Nya yang taat. Lalu, kertas itu dikumpulkan sebagai saksi atas niatan mereka untuk berubah.

Keeskokan harinya, semua anak bersiap untuk melalukan ruqiyah. Semua anak memakai mukena dan Naira tampak berserah. Ia ingin menjadi manusia yang lebih baik, di saat anak-anak lain tertidur ketika ruqiyah, tidak dengan Naira, Naira berusa menikmati alunan indah yang dibacakan oleh seorang ustaz di Pondok Pesantren Munzalan Mubarkan yang terletak di Gg. Imaduddin, Sungai Raya, Kec. Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Awalnya, semua mengira aka nada reaksi dari anak-anak ini. Namun, mereka hanya merasakan pusing dan mengantuk. Meski begitu, telah ada usaha untuk mereka kembali ke jalan yang benar. Eka, bahkan merencanakan anak-anak untuk belajar di pondok pesantren itu, namun lagi-lagi mereka menolak dengan alasan tidak betah.

Hari pun berganti, semakin hari mereka semakin baik untuk dibina. Pembinaan ters dijalankan, mulai dari pembinaan di sisi psikologi, umum, skill-skill atau keterampilan, dan tentunya diberi pengetahuan Islam, yang harus ditingkatkan karena semakin banyak anak yang dibawa ke rumah aman ini.

Lalu, satu per satu anak-anak itu ada yang dikembalikan kepada orang tuanya, ada yang dijemput, dan ada yang kembali ke sekolah, tetapi tidak dengan Naira. Sebenarnya, hukuman untuk Naira lebih berat dari anak-anak lainnya, sebab Naira tidak menjual dirinya, ia tidak pernah berhubungan dengan orang lain selain dengan pacarnya, Dino. Mengapa Naira bisa mengenal sosok laki-laki yang membutanya harus terlibat dengan dunia kelam? Mari kita lihat, hidup Naira beberapa tahun lalu.

Saat kecil Naira sudah diasuh oleh Uan atau nenek kandungnya karena mama Naira yang sering pergi ke Malaysia menjadi seorang TKW. Naira selalu diasuh, dibesarkan, dirawat dengan baik, dan selalu di antar ke sekolah oleh Uan. Namun, ketika Naira duduk di bangku 4 SD Uan telah menghembuskan napas terakhirnya karena penyakit tumor.

Lalu, Naira kecil yang malang itu kembali dipelukan mamanya. Naira mendapat perhatian dari kedua orang tuanya dengan lengkap. Meski kerapkali kedua orang tua Naira bertengkar karena ekonomi, sebab ayah Naira yang tak bekerja, namun rumah tangga mereka tetap bertahan.

Bapak Naira selalu mengkhawatirkan Naira dan melarang Naira keluar rumah, tidak boleh jalan dengan teman laki-laki, bahkan tidak ada kata malam minggu dan pacaran bagi seorang Naira. Hidup Naira sangat baik dan penurut waktu itu. Sang ayah memiliki sikap penyabar dan lembut, namun sekali marah akan sangat menakutkan, itu yang membuat Naira selalu menuruti kata-kata ayahnya.

“Naira lebih dekat sama mama daripada bapak,” ujarnya menceritakan masa kecilnya.

Ketika waktu terus berjalan, Naira yang duduk di SMP kelas 8 kini kehilangan sosok ayahnya. Ia sedih, selalu menangis, dan merasa sangat kehilangan. Ayahnya meninggal lagi-lagi sebab penyakit tumor yang sama seperti almarhumah neneknya dulu. Tahun 2018 itu menjadi tahun kesedihan bagi Naira. Naira, anak yang selalu mendapat perhatian dari orang tuanya dan ketegasan dari ayahnya, kini tak akan merasakannya lagi. Bahkan semenjak itu, Naira tidak lagi menjadi seorang remaja pada umumnya.

Setelah ayahnya meninggal Naira merasa bebas, dan berteman dengan lingkungan yang tidak sehat. Ya! Teman-temannya selalu bersikap ‘dewasa’ sebelum waktunya. Naira mulai bermain dan berpergian, masuk dalam lingkaran maksiat tanpa ada yang melarangnya lagi. Naira kala itu masih belum tewarnai oleh teman-temannya, namun suatu ketika dia melihat laki-laki asing di rumahnya. Sepasang mata Naira yang bulat itu menangkap mamanya dan laki-laki itu tengah berduaan dalam rumah.

Mama Naira langsung menghampiri Naira, “Mama sudah menikah,” ujarnya sebelum Naira melontarkan pertanyaan.

Naira terdiam kaku, “Mama udah bilang sama abang?”

“Udah, Pak Long yang jadi saksinya,” jawabnya.

Keesokan harinya Naira bertanya kepada Pak Long, namun Pak Long mengatakan tidak tahu apa-apa. Dan lagi, belum sembuh kesedihannya atas kepergian ayahnya, Naira pun sudah dibuat sangat kecewa oleh mamanya.

Semangat Naira mulai redup ketika ia duduk di kelas 9 SMP, ia tak pernah belajar dengan sungguh-sungguh seperti biasanya. Ia hanya sekolah dalam seminggu terhitung satu atau dua kali saja. Naira mulai malas, perhatian dari guru-guru mulai pudar, bahkan mama Naira yang terus mengocehnya tak pernah ia hiraukan.

Naira yang hatinya sudah sangat rapuh kala itu, mulai dekat kembali dengan teman-teman yang sudah lebih lama terjerumus dalam pergaulan bebas. Saat matahari tepat berada di atas kepala, Naira menghampiri mereka dan duduk di samping mereka.

“Naira, pinjam HP,” ujar temannya beranjak dari tempat duduk dan langsung mengambil gawai Naira tanpa menunggu Naira berkata, “Iya,”

Lalu, teman-temannya itu meminta bantuan. Dengan polosnya Naira mengikuti segala permintaan yang diajukan padanya. Beberapa temannya masih seusia, namun ada juga yang lebih tua satu atau dua tahun. Naira memiliki pacar, dan suatu ketika saat rumah Naira sepi, tidak ada mama dan abangnya, Naira membawa pacarnya ke dalam rumah. Tak bisa disangkal bisikan setan hadir ditengah-tengah mereka, dan menceburkan mereka dalam dosa besar. Ya, itu adalah awal perbuatan Naira yang membuat Naira melangkah lebih besar mendekat pada kubang dosa dan maksiat. Setelah merasa bosan dengan Naira, pacarnya meninggalkan Naira begitu saja.

Saat SMA kelas 1.

Suatu ketika Naira pergi bersama teman-temannya hingga larut malam, abang Naira mulai khawatir dan menasihati adik satu-satunya itu. Lalu, Naira pernah berjanji akan pulang sore, lagi-lagi ia terlena bersama teman-temannya hingga pulang larut malam.

Abang Naira pun marah, “Udahlah ndak usah pulang-pulang kau ya! Nanti ku bakar baju kau!!” nada suaranya meninggi.

Naira pun melaksanakan ucapan abangnya yang bukan perintah sebenarnya, alhasil Naira tidak pulang. Tak tanggung-tanggung, Naira tidak pulang ke rumah selama satu bulan.

Banyak hal yang terlewatkan dalam dirinya, terutama menuntut ilmu di bangku SMA. Tahun 2020 ini menjadi awal Naira tidak menyirami dirinya lagi. Sekarang, seharusnya Naira kelas masuk SMA namun Naira memilih kesangan yang sementara. Naira mulai kenal dengan Doni, bukannya lebih baik, malah sebaliknya. Naira semakin kenal dengan prostitusi online. Ia selalu mendapat uang dari teman-temannya yang ia ajak untuk menjual dirinya.

Naira sendiri tidak menjual diri karena Doni, pacaranya melarangnya. Bahkan Naira mengaku takut jika menjual dirinya. Tina satu di antara teman Naira yang mengikuti kata-kata Naira, bahkan Tina selalu mentraktir Naira untuk berbelanja baju,. Makanan, jalan-jalan dan lainnya.

Sedari dulu Naira memang tidak hidup dalam spirutal yang baik, bahkan memang tidak ada perintah berjilbab dari ayahnya, mamanya pun demikian. Walau begitu, Naira mengaku mamanya tak pernah meninggalkan salat, dan Naira selalu diperintahkan untuk salat. Namun, Naira tak pernah disiplin dalam beribadah bahkan tak sama sekali ketika ia sudah berurusan dengan sabu, seks, dan kesenangan maksiat lainnya.

Saat semua anak-anak sudah dipulangkan oleh orang tuanya, Naira harus menahan kerinduannya untuk pulang. Ia harus memanjangkan sabarnya sedikit lagi. Ia memang terduga sebagai mucikari, karena mengarahkan teman-temannya menjual dirinya. Namun, sebenarnya Dino lah mucikari itu, karena memperalat Naira untuk melakukan semuanya, bahkan gawai Naira ditahan di hotel sebagai jaminan hanya karena Dino tidak sanggup membayarnya.

Setiap kali Naira diajak ke rumah Dino, Dino dan Naira merasa sangat bebas, orang tua Dino telah lama bercerai. Setiap kali Naira menginjakkan kaki di rumah Dino,  bapak Dino selalu mengurung diri di kamar. Maka, jadilah kedua pasangan yang belum halal ini bermaksiat dan melakukannya suka sama suka, tidak ingat dosa, dan tidak memikirkan masa depan.

Namun, semakin Naira belajar dan mendapat bimbingan di rumah aman ini Naira semakin sadar bahwa hidup bukan hanya untuk kesenangan sesaat. Naira ingin berubah dan tumbuh lebih baik. Ia tidak akan pernah melupakan kejadian ini, saat pertama kali ditangkap ia merasa sangat menyesal. Bahkan Dino, saat ini tidak ada disisinya, Dino kabur setelah 1 hari dibebaskan dari penjara. Sekarang, Dino masih berada dalam status buronan.

Sementara itu, menurut Muhammad Al Iqbal, hukuman yang dilakukan itu sangat minim terhadap pelaku dan mucikari, sebab sesama mereka yang menjadi pelaku dan juga di bawah umur, termasuk Naira. Beberapa diantaranya pernah terlibat kasus yang sama, dipulangkan kepada orang tua dengan menandatangani materai dan pada akhir kembali pada dunia yang kelam. Pembinaan itu sebenarnya tidak bisa sebentar, seharusnya konsisten, dan berkelanjutan. Namun, karena keterbatasan dan tidak ada dukungan dari pemerintah yang memadai maka pembinaan ini hanya dilakukan berbulan-bulan saja.

Kini, bulan Januari 2021, masa kontrakan rumah aman habis. Eka juga sudah banyak mengeluarkan uang dan tak mampu untuk menyewa rumah lagi. Lalu, semua anak-anak ini di bawa ke Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) yang terletak di Jalan Sultan Abdurrrahman No.101, Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, Kalimantan Barat 78116, untuk tempat baru ini petugas satgas KAMMI dan Puskomda Kalbar sangat kewalahan untuk kembali mengondisikan, bahkan dua orang anak kabur dan berhasil ditemukan lagi dengan memancing berpura-pura sebagai pelanggan.

Seorang perempuan berjilbab cokelat dan bergamis hitam itu dengan anggun membawa laptop, membukanya dan mengajak anak-anak untuk berkumpul.

“Kak, Naira mau nonton youtube boleh?”

“Boleh, tapi nonton apa dulu nih?” Perempuan berjilbab panjang itu tak mau melewatkan kesempatannya untuk membina.

“Mau liat lagu-lagu lah kak, biar ndk bosen,” tuturnya merajuk seperti anak kecil yang tak diberi jatah uang jajan.

“Oh gitu ya, nah daripada dengarkan hal yang kurang bermanfaat, terus lihat orang jogged-joged lebih baik kita nonton ini,”

“Apa tuh kak?” ujarnya penasaran, anak-anak lain mulai memperhatikan.

“Ini,” ia menunjuk layar laptop.

Anak-anak melihat lamat-lamat, “Mana kak,”

“Eh tunggu ya, koneksi internetnya belum terhubung, hehe,” ujarnya bercanda.

Beberapa menit kemudian, laptop itu sudah terkoneksi dengan internet dan munculah judul 10 alasan neraka banyak di huni kaum wanita. Mereka lalu menyimak dan mulai takut akan penjelasan di video tersebut.

“Eh jangan takut, selama napas kita masih berembus masih ada kesempatan untuk berubah, ingatlah bahwa pendosa sekali pun jika bertaubat akan menjadi emas dan mutiara, asalkan taubatnya benar, lurus, istiqomah, dan tidak mengulangi setiap perbuatan,” ujarnya berusaha menenangkan mereka.

Lalu, perempuan berwajah manis nan teduh itu memutar video selanjutnya, ia memutar video tentang kesenangan berada di surga. Perempuan ini menjelaskan di surge apa yang diinginkan pasti tercpai.

“Kita juga kalau mau HP, emas dan lain-lain ada?”

Benar-benar pikiran mereka tentang dunia, tetapi perempuan ini tetap sabar menghadapi pikiran mereka.

Perempuan ini tersenyum, “Jangankan HP atau emas, arak juga ada,”

“Apa? Kok, bukannya itu haram ya Kak?”

“Arak di surga itu tidak memabukkan seperti di dunia, nah itulah keadilan Allah, membalas semua kesabaran dan kesenangan yang kita tahan selama di dunia, maka surge itu mahal sebab perjuangannya tidak mudah Dik Adik,”

Mereka mengangguk-angguk dan selalu berdiskusi panjang lebar tentang renungan kehidupan. Saat perempuan itu meninggalkan mereka, dan mendatangi mereka kembali mereka tetap memutar video dakwah seperti video Ustaz Hanan Attaki yang berdurasi 1 menit. Mereka menyimak dan terhanyut di dalamnya.

Waktu berlalu, satu persatu anak mulai dipulangkan karena satgas sudah kelelahan dan dana pun tak memadai untuk mengurus mereka. Meski begitu, KPPAD, satgas KAMMI dan Puskomda Kalbar, juga beberapa aktivis kampus sudah optimal menjalankan usahanya demi mengubah kehidupan anak-anak ini lebih baik.

Dari awal, mereka melakukan pendekatan terlebih dahulu, bertanya mengapa anak-anak ini terjerumus ke lemabah hitam. Lalu, mengajari mengaji, sholat, sebab ibadah mereka kurang. Tim satgas mau tidak mau harus masuk terlebih dahulu ke dunia mereka, sehingga anak-anak ini nyaman dan tidak segan untuk bercerita. Saat dibina  respon yang terjadi sangatlah bermacam macam, ada yang menurut, ada yang menolak, kadang menurut semua kadang menolak semua, itu tergantung suasana hati mereka. Diawal, satgas memang sedikit kewalahan, apalagi saat dibina oleh kakak A, lalu datang kakak B karena pergantian jadwal jaga itu sangatlah susah. Namun, para aktivis ini memang patut diacungi jempol karena dapat memanjangkan sabarnya, memegang prinsipnya, dan bekerja dengan ikhlas tanpa imbalan apapun selain balasan dan mengharap ridha-Nya, mereka dengan senang hati melakukan yang terbaik.

Meski pembinaan sudah optimal, namun pembinaan ini tidak maksimal karena memang terbatas dengan waktu, sumber daya manusia, dan dana. Beberapa anak sudah dikembalikan namun sebagian dari mereka kembali ke dunia hitam bahkan sangat parah. Maka, pencegahan orang tua untuk diberi penyuluhan itu perlu, sekolah juga seharusnya diberi penyuluham untuk mengadakan pembinaanup sebagai upaya agar mereka yang terjun bisa dibina dengan program yang berkelanjutan dan kondisi yang memadai. Bahkan setiap pelaku yang terlibat seharusnya dihukum degan berat, perlu adanya regulasi yang baik agar ada pencegahan penanganan yang maksimal.

Karena jika tidak dibina secara berkelanjutan, minim sekali untuk mereka tidak terjurumus lagi. Namun, saat dibina mereka juga sudah diedukasi, mengenai kesehataan reproduksi, kesehatan tubuh, dan lainnya yang membuat mereka sadar bahwa pergaulan mereka tidak sehat dan membahayakan diri sendiri. Satgas KAMMI dan Puskomda Kalbar sangat berharap ketika mereka bertemu dengan anak-anak kembali, semoga lebih baik dan berubah, serta menginginkan mereka tidak terjerat dalam kasus yang sama lagi.

Satu di antara petugas satgas ini melihat barang-barang yang dikemas untuk dipindahkan ke rumah Eka, pegabdiannya telah selesai, tetapi kontribusinya tidak akan pernah selesai. Ia ingin memberdayakan anak-anak untuk selalu lebih baik dari sebelumnya. Melihat suasana, ia mengenak kejadian-kejadian yang sangat banyak dialaminya.  Mulai dari membangunkan anak-anak yang susah dibangunkan ketika salat subuh, ia yang pernah dibohongi oleh anak-anak, mengejar anak-anak yang kabur bahkan pernah hampir terkena serpihan kaca karena dilempar saat anak-anak berkelahi, anak-anak yang selalu menyuruh membeli sesuatu, mulai dari makanan hingga perawatan untuk wajah. Bukan hanya perempuan ini yang merasa sedih atas perpisahannya, melainkan juga Eka selalu ketua KPPAD yang selalu dekat bersama anak-anak ini.

Terkadang, penampilan mereka lebih dari umur mereka, dewasa, bahkan cara berbicara mereka lebih dewasa, namun disaat tertentu mereka masih memiliki sifat manja dan terlihat sekali mereka masih seperti anak-anak. Maka sekali lagi, memang, menjaga dan memberi edukasi sejak dini itu perlu, anak-anak harus diperketat penjagaan baik oleh orang tuanya maupun gurunya, apalagi di masa Pandemi Covid-19 ini. Lalu, pemahaman agaman memang harus ditanamkan sejak dini, sebab mereka minim sekali ilmu pengetahuan agama.

Naira bersandar, ia kini berada di rumah Eka, ketua KPPAD itu sangat perhatian dengan Naira. Naira memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Sebab, teman-temannya sudah tidak berada dekat dengannya lagi, bahkan sebagian masih ada yang kembali ke dunia malam, termasuk sahabatnya Tina.

Rasa malu selalu berkecamuk dalam hatinya, bahkan tetangganya sudah mengetahui kasus Naira. Naira benar-benar menyesal atas kesalahan yang dilakukannya. Naira teringat dahulu cita-citanya ingin berkuliah untuk menjadi seorang guru Bahasa Inggris. Naira memiliki harapan dan tekad untuk tidak mengulangi perbuatannya, ia berharap ingin menjadi sosok yang lebih baik lagi, tak meninggalkan sholat, tidak pacaran, tidak menjual diri dan mau melanjutkan sekolahnya, pergi ke kajian-kajian, berkumpul dengan teman-teman yang lebih baik.

Maka memang, lingkungan, pendidikan, iman atau spiritual sangat penting ditanamkan sejak dini pada anak. Guru harus memberikan edukasi moral dan sikap yang penting diperhatikan oleh anak. Orang tua harus berperan dalam pertumbuhan anak, tanpa kurangnya perhatian.

Eka menghampiri Naira yang sedang melamun, “Naira, orang tua kamu masuk penjara karena penggunaan sabu, Ummi mau mengirim kamu ke Yogyakarta, kamu di sana akan lebih baik daripada di sini,” ujar Ekka memeluk Naira.

Naira hanya mengangguk dan pasrah, ia sudah tahu sifat mamanya bagaimana, jad ia tidak heran jika mendengar kabar itu. Lalu, ia diantar oleh abangnya, tiket uang pesawat ia dapatkan dari Eka dan sebagian dari keluarganya yang masih peduli padanya. Naira tak pernah melihat mamanya lagi, ia memulai hidup baru dengan diri yang baru untuk mencapai sesuatu hal yang lebih baik. Kini, Naira seperti bunga layu yang akan  mulai tumbuh lebih indah, lebih tinggi, dan lebih baik dari sebelumnya. Naira mulai berencana untuk sekolah pada tahun ajaran baru 2021 ini dengan meninggalkan semua masa kelamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman