Dari Tukang sampai Damkar - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 11 Oktober 2021

Dari Tukang sampai Damkar

 

Sumber: Akun facebook Ahmad Borjani

Korpora.id, Ketapang – Semilir angin membelai wajahku dengan lembut, selaras dengan cahaya pagi yang menemani perjalananku. Medan yang kurang bersahabat tidak menyurutkan semangatku untuk menemui seseorang yang akan sedikit berbagi cerita mengenai kesehariannya.

Mentari terasa menyengat dikulitku. Aku sudah mencapai sebuah rumah berwarna biru tua dengan halaman yang sedikit dihiasai oleh bunga-bunga. Rumah yang sedang dalam tahapan renovasi itu masih terlihat sedikit berantakan oleh kayu-kayu dan tumpukan semen di halaman rumah yang terasnya berwarna putih dengan campuran hijau.

Ahmad Borjani atau yang biasa dipanggil Borjani oleh teman kerjanya dan biasa dipanggil oleh Ujang Muhar oleh keluarganya. Seorang pria yang memiliki tiga orang anak di usianya yang sudah 40 tahun itu. Borjani bercerita mengenai kehidupan dan keseharian yang dia jalani. 

Pria kelahiran 5 Januari 1980 mulai berbagi cerita kehidupannya, seorang anak tunggal yang ditinggal oleh ayahnya. Ayah Borjani meninggal dunia sejak ia berusia tiga tahun. Hal demikian yang mengharuskannya bekerja keras untuk menjalani kehidupannya. Borjani hanya lulusan SMA, dikarenakan dirinya yang harus mencari pekerjaan tetap.

Mentari siang itu ibarat menumpahkan kemarahan lewat panasnya yang menyengat. Dengan peluh yang membasahi tubuh dan wajahnya, tidak membuat pria berprawakan tinggi itu untuk menghentikan pekerjaannya. Tidak menghilangkan semangatnya dalam merenovasi rumahnya sendiri. 

Tidak diragukan, Borjani turut serta dalam merenovasi rumahnya. Hal ini dikarenakan ia tak mau menyia-nyia keterampilan yang telah dibangunnya sejak SMA.

“awalnya saya bisa menemukan keterampilan bertukang ini didapat dari mengikut teman saya untuk bekerja. Setelah saya lulus SMA keadaan menuntut saya untuk bekerja dan saya rasa bertukang ini cukup membantu, sebab orang-orang tentunya akan memerlukan tempat tinggal. Itu adalah motivasi awal saya, lihat saja sekarang ini saya tidak perlu membayar orang untuk renovasi rumah walaupun terbilang lama jadi.” jelas pria itu sambil tersenyum ramah.

Sambil menyeka keringatnya, Borjani kembali mengatakan, “kurang lebih lima tahun saya ikut orang untuk bertukang. Setelah menikah, saya mencoba untuk memberanikan diri bertukang secara pribadi tanpa naungan dari orang lain dan alhamdulilah Allah lancarkan semuanya. Rasanya bertukang ini sudah menjadi bagian dari hobi bahkan bagian jiwa saya.” Tuturnya sambil tertawa penuh canda.

Selain bekerja sebagai petukang, Borjani juga memiliki kesibukan atau pekerjaan lainnya. Pekerjaan lain yang ditekuni Borjani adalah sebagai pemadam kebakaran atau Damkar. 

Dua sisi, dua keadaan membuat Borjani harus beradaptasi dengan keadaan. Kemauan yang kuat dalam belajar dan menambah pengalaman membuatnya diterima kerja di Damkar. Sebelum bekerja di Damkar Borjani bekerja sebagai Satpol PP bagian Linmas. 

Pria bertubuh tegap itu juga berbagi cerita mengenai hal tersebut. Dia berkata bahwa Satpol PP itu memiliki tiga bidang persatuan yaitu, perlindungan masyarakat (Linmas), ketentraman dan ketertiban umum (Tantim) serta pemadan kebakaran (Damkar) yang saat ini dijalaninya.

“Damkar yang kekurangan orang sehingga saya harus dipindahkan. Selain itu, katanya postur saya memenuhi syarat. Jadilah sekarang saya seorang damkar” ujarnya.

Hal demikian dibenarkan oleh pria yang tak lain adalah teman Borjani. Pria itu berbagi suka dan duka yang dijalani Borjani selama bekerja sebagai Damkar. 

“banyak hal pastinya yang terlewati. Ada suka maupun dukanya. Sukanya, yaa bisa berkumpul dengan teman, bekerja sama dengan tim dan dapat membantu orang yang membutuhkan bantuan mendatangkan rasa bahagia. Sedangkan duka yang dirasakan ketika kami tidak dapat membantu banyak” ujar pria itu.

Menjadi seorang Damkar tentunya bukanlah pekerjaan yang mudah. Kendala pun seringkali tidak dapat terelakkan dalam melakukan pemadaman api. Entah itu kebakaran lahan, permukiman yang susah air, dll.

“kesulitan yang didapat lebih pada kebakaran lahan. Jarak tempuh yang jauh, fasilitas kurang mendukung, selang yang kurang, serta sumber air yang kurang dikarenakan sungai yang mengering akibat kemarau. Belum lagi lahan yang terbakar merupakan lahan gambut yang sulit untuk dipadamkan” jelas Borjani.

Sedangkan kendala yang dihadapi saat memadamkan api di pemukiman seperti yang diceritakan Borjani, “pemukiman gang yang sempit sehingga menyulitkan kendaraan masuk. Pengguna jalan yang tidak mau mengerti dan mengalah membuat perjalanan terhambat. Harapanya semua orang mengerti terhadap keadaan mendesak yang dialami Damkar dan Ambulance.” Tutur pria itu dengan penuh harap.

Borjani tidak melupakan dirinya yang juga sebagai tukang. Disela-sela libur piketnya, ia tetap mengambil job lain, seperti merenovasi rumah orang.

“walaupun bekerja di Damkar saya tetap menekuni pekerjan sebagai tukang. Disela-sela libur piket sampai saat ini saya masih bertukang renovasi rumah orang bahkan renovasi kantor Damkar. Namun, saat ini saya fokus merenovasi rumah saya.” Tutur Borjani sambil melirik rumahnya yang sedang direnovasi.

Penulis: Risky Amalia Ariska

Penyunting: Erisky Aprinia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman