Dentuman Fitri - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 09 Oktober 2021

Dentuman Fitri

Penulis: Erisky Aprinia

Penyunting: Angga Laena Siti Patimah


Korpora.id, Pontianak - Tanggal 11 April 2021. Dua, tiga dentuman sesekali mengguncang sungai Kapuas, Pontianak. Tak diherankan, transisi dari bulan sya'ban ke bulan Ramadhan yang menjadi menopang dagu umat muslim.

Terutama masyarakat muslim Pontianak yang menjadikan moment ini tidak hanya sebagai penambah ibadah kebajikan, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai budaya yang diselaraskan dengan menyambut bulan suci ramadhan dan hari raya idul fitri.

Persiapan demi persiapan diperhatikan dalam menyambut bulan penuh berkah ini. Terutama masyarakat pesisir Sungai Kapuas yang dengan penuh semangat turut memeriahkan bulan suci ramadhan dan hari Raya Idul Fitri dengan membuat meriam karbit.

“Satu..duaaa..satu.. dua, tarik yang bagian itu,” ucap pria berbadan tinggi hidung mancung keturunan Arab dari balik meriam. Muhammad Dika Al Syaus, satu diantara panitia meriam karbit yang sedang menarik badan mariam untuk dinaikkan ke lapangan luas yang dijadikan tempat pembuatannya. Masyarakat biasa mengenalnya dengan panggilan Mamad, seorang pemotong kambing yang terkenal jago, rajin, pekerja keras dan tegas di tempatnya tinggal.

Proses menaikkan meriam berlangsung selama tiga hari bergantung pada panitia yang bisa menyempatkan diri. Namun berdasarkan target pembuatan, sebelum masuk bulan suci ramadhan mariam-meriam itu sudah harus berada dilapangan. Karena proses ini cukup menguras tenaga, belum lagi teriakan semangat yang cukup mengundang haus. Memang lebih tepat diselesaikan sebelum bulan ramadhan. Mariam yang ketiga mulai mendatar ke lapangan.

Tempat tinggal Mamad tidak jauh dari lapangan tempat Mariam karbit dibuat. Hanya berjarak kurang lebih 20 meter dari rumahnya. Mamad selalu jadi kepala bagi anak-anak muda yang lain dalam melaksanakan kegiatan. Sehingga apapun keputusan dan yang akan dilakukan selalu menunggu pendapat dan persetujuan Mamad.

Kampung Bansir begitu riuh dengan gelagat pemuda-pemudanya yang bersemangat. Ditambah anak-anak kecil yang menonton dan ikut bersorak.

Seirama dengan sorakan anak-anak dipinggiran sungai itu terdengar suara anak berumur 3 tahun dengan kulit putih yang didapatkan dari ibunya, tak lain yaitu anak kedua Mamad yang berjenis kelamin laki-laki, rasa ingin tahu yang kuat ia dapatkan dari Abinya. Setiap hari anaknya menonton proses menaikkan meriam karbit ke lapangan untuk diperindah. Dengan dibawa oleh ibunya yang bernama Echi.

Mamad memiliki dua orang anak. Anak pertamanya perempuan yang bernama Yumna dan anak keduanya laki-laki bernama Rafisqi. Umur anaknya terpaut 3 tahun, jarak yang ideal untuk sepasang anak. Harapannya, supaya Yumna bisa menjadi kakak yang bisa menjaga adiknya nanti. Jika dihitung keseluruhan Mamad memiliki anak bungsu yang telah meninggal dunia. Anak ketiganya itu meninggal sebelum genap 40 hari bahkan 1 bulan. Kata orang itulah tabungannya diakhirat kelak.

Pada tahun 2012 merupakan hari bahagia bagi Mamad. Karena telah meminang pujaan hatinya. Tak butuh waktu lama baginya menjalin kasih sekitar 6 bulan lebih karena kepastian lebih penting menurutnya. İa tak mau membuat belahan jiwanya itu merasa diberi harapan palsu. Sehingga Mamad memutuskan untuk meminang Echi. Tepat ditanggal 9 November Mamad dan Echi telah sah menjadi pasangan suami istri.

Mamad dan Echi tinggal di daerah yang sama yaitu Kampung Bansir. Jodoh siapa yang tahu, seperti Mamad dan Echi yang tinggal sekampung namun ternyata berjodoh. Kala itu Echi baru 5 bulan lulus SMK namun sudah memiliki pikiran dewasa untuk bisa menjadi seorang istri. Karena itu masyarakat sekitar mengenal baik keluarga kecil ini.

“Haha dulu pacarannya disini. Tapi jarang deh,” ucap seorang pemilik cafe sambil mengingat-ingat moment Mamad dan Echi

Mereka memang lebih sering menghabiskan waktu berdua dirumah. Karena lebih menghemat biaya pada masa pacaran dulu. Selain itu, kedua orang tua mereka sudah saling mengenal. Jadi tak diherankan mereka lebih memilih rumah untuk tempatnya bertemu rindu. Walaupun tinggal satu kampung mereka membatasi pertemuan mereka supaya ada ruang untuk rindu bertamu.

“Seingat kakak mereka hanya malam mingguan saja nongkrong disini, hari-hari lain kakak ndak perlah lihat,” sambung wanita berkulit putih bertubuh besar itu.

Memang malam minggu merupakan malamnya bertemu rindu. Malam yang dijadikan pemuda pemudi untuk lebih saling mengenal satu sama lain. Malam yang panjang untuk melepas lelah dari malam-malam yang sebelumnya. Begitu juga Mamad dan Echi, bedanya mereka selalu mencari cara sederhana untuk berjumpa yaitu pergi ke cafe yang terletak tak jauh dari rumahnya.

Mamad memang bukan pemuda yang bisa memanjakan pacar dengan tempat yang mewah. Tetapi ia tahu cara mencintai dengan sederhana. Sehingga itulah yang menjadi pondasi hubungannya sehingga bertahan dan harmonis sampai saat ini, tak lupa dengan dua bua hati yang menjadi hadiah kesetiaannya selama ini.

 Pemuda-pemuda bansir masih bergelud bersama meriamnya.

“Bang, yang bagian sini bagaimana?” ucap salah seorang pemuda.

“Tarik bagian sini dulu, lalu tarik yang itu,” ucap Mamad.

Banyak warga yang menonton proses menaikkan meriam karbit. Hal ini biasa terjadi, sebagai dukungan dan rasa bahagia menyambut bulan suci ramadhan. Mereka juga menyiapkan makanan ringan dengan minumannya. Sesekali mereka rolling supaya makin mempererat kepedulian dan kebersamaan mereka.

“Air, air. Istirahat dulu nanti lanjut lagi.” panggil Maklis sambil meletakkan air dan makanan.

“Ayo kesini, minum dulu. Kalo tak minum nanti saya yang minum.” gurau salah seorang warga.

Langkah mereka begitu cepat dan saling bersahutan pelan. Beberapa ada yang masih setia dengan tali tambang ditangannya. Tali tambang yang mereka gunakan untuk menaikkan meriam ke lapangan dari sungai. Terutama Mamad yang masih setia memegang palu untuk menegakkan kayu yang akan dijadikan pengikat tali tambang.

“Minum dulu hei baru lanjut.” teriak Maklis kemudian.

Pemuda memang penopang bangsa, semangatnya juga kemajuan untuk bangsa. Begitupun pemuda-pemuda Bansir yang selalu semangat menghidupkan semangat di kampungnya

“Setiap tahun memang meriam karbit selalu dibuat.” kata Puteh, masyarakat setempat.

“Tahun kemaren kita nggak buat, ditempat lain juga. Karena kan lagi pandemik jadi dilarang.” sahut Firda.

“İya, Alhamdulillah tahun ini dibolehkan buat lagi karena malam lebaran tanpa meriam karbit disini rasanya hampa sekali. Tidak meriah.” lanjut puteh.

“Untung ada pemuda-pemuda bansir ini yang mau turun tangan meminta izin sama pemerintah.” celetuk Mbok Pah.

Mamad termasuk ke dalam jajaran kepengurusan di komunitas Persatuan Pemuda Bansir yang diketuai oleh Bang Boan. Mamad berpikir tak perlu menjadi ketua untuk berkontribusi, makanya ia tak pernah mau jika ditunjuk sebagai ketua. Ia hanya ingin membantu sesuai yang ia mau.

Komunitas Persatuan Pemuda Bansir merupakan komunitas yang didirikan oleh orang-orang yang berdomisili di Kampung Bansir terutama bansir 1,2 dan 3. Komunitas ini pun berdiri atas dasar inisiatif pemuda-pemuda Bansir yang dianggap dapat menjadi jembatan untuk masyarakat kampung bansir.

Seringkali jika ada peringatan hari besar komunitas ini yang turun andil dalam memeriahkan hari besar seperti membuat acara, perlombaan dan lain-lain. Masyarakat sekitarpun merasa sangat terbantu dan terayomi dengan adanya komunitas ini.

"Biasalah buat-buat acara supaya meriah. Biar masyarakat terbantu dan meningkatkan kebersamaan juga.’’ kata Mamad.

Namun sangat disayangkan, sudah sejak 1 tahun terakhir komunitas ini seperti meredup seakan hilang ditelan bumi. Kesibukan masing-masing anggota pengurus membuat komunitas ini hampir tinggal nama. Selain itu adanya pandemi membuat komunitas ini sulit bergerak dikarenakan hari-hari besar yang tak boleh diselaraskan dengan adanya acara-acara.

Dengan diizinkannya kembali kegiatan menghidupkan meriam karbit untuk memeriahkan malam takbiran ini membuat semangat kembali pemuda-pemuda bansir. Walaupun dengan catatan ditiadakannya festival. Tidak menggoyahkan semangat mereka untuk membuat Meriam.

“Yang itu dipegang kuat-kuat.” ucap Ari, satu diantara pemuda bansir yang ikut dalam kepanitiaan pembuatan Mariam karbit ini. Ari berkedudukan sebagai humas dalam agenda ini. Sehingga pemuda yang lain juga akan menerima masukan darinya.

Dalam pembuatan Mariam karbit ini juga dibentuk kepanitiaan. Hal ini dilakukan demi kelancaran dalam pembuatan Mariam karbit.

Kepanitiaan ini hanya syarat aja supaya ada koordinasi masing-masing tugas. Namun tetap saja kami melakukannya bersama.” ucap Bowo.

“Karena kalo nggak gitu, mereka cuma mau kerjakan bagiannya saja. Padahal jika sudah dilapangan harus turun semua biar cepat selesai.” sambung Ipan.

***

Tiga batang kayu beringkai berbaris rapi menyusun diri menunggu giliran untuk dibenahi. Kayu beringkai merupakan bahan utama dalam pembuatan Mariam karbit. Kayu ini setara kuatnya dengan kayu jati. Selain kayu bahan lain yang diperlukan berupa rotan, kain, paku dan bahan penunjang lainnya.

Beberapa pemuda sedang melihat-lihat kondisi kayu. Beberapa ada yang menyiapkan bahan dan merapikan lapangan. Dengan dua buat lampu berkekuatan Watt yang tinggi kemudian ditemani musik disco yang semakin menambah semangat mereka.

“Ngga, tolong liat kayu yang itu.” suruh Mamad kepada salah satu pemuda.

“Yang ini ada bagian yang rusak Bang.” ucap Angga, salah pemuda bansir yang selalu antusias membantu setiap kegiatan-kegiatan.

“Kayu yang itu terakhir saja lah di kerjakan.” Tegas Bg Kucai selaku panitia Mariam karbit.

Mereka menyelektif kayu yang akan mereka gunakan karena telah terendam di sungai dalam waktu yang lama. Ketiga kayu itu merupakan daur ulang meriam karbit yang mereka buat setahun yang lalu. Karena ditiadakannya festival membuat persiapannya pun tidak membutuhkan biaya yang banyak, apalagi sampai harus mengirim proposal. Sehingga alternatif lain yang mereka punya yaitu menggunakan kembali kayu lama yang sebelumnya pernah digunakan.

Inisiatif ini berotak dari Mamad dan disetujui pantia lain. Mengingat ditiadakannya festival mereka sepakat menggunakan kayu meriam yang lama. Mereka juga memperkirakan pengunjung yang tidak akan terlalu ramai mengingat masih dalam masa pandemik Covid 19. Mereka memperkecil pengeluaran sebisanya.

Meriam yang sebelumnya terbelah dua kemudian disatukan kembali. Proses ini memerlukan beberapa tenaga. Dengan menyatukan kekuatan mereka mulai mengatupkan kedua belah meriam menggunakan tali tambang kembali. Meriam yang telah terkatup dengan sempurna harus diikat kembali menggunakan rotan.

Dengan lihai mereka menyilangkan rotan ke badan meriam. Sebelumnya itu sisi-sisi meriam yang memiliki celah mereka tutup menggunakan kain. Barulah kemudian diikat dengan rotan. Hal ini bertujuan agar Meriam tidak pecah ketika dihidupkan nanti. Ruang yang boleh ada di bagian meriam hanya pada lubang kecil tempat untuk menyuculkan api pada meriam dan juga bagian depan sebagai tempat keluarnya bunyi yang menggelegar.

Tanggal 19 April satu buat Mariam telah mereka selesaikan. Dalam waktu delapan hari mereka telah menyelesaikan satu buat Mariam. Bukan asal buat, itulah hasil pengerjaan yang mereka lakukan dari pulang sholat teraweh hingga bertemu sahur. Pembuatan yang dimalam hari ini, karena siang rawan kelelahan dan haus.

Tak hanya panitia, pemuda atau orang tua diluar kepanitiaan pun kerap membantu proses pembuatan meriam karbit. Bahkan ada yang dari gang sebelah.

“Bantu-bantu sedikitlah, dari pada menonton saja kan. Sekalian olahraga,” ucap Lamber bapak-bapak dari gang sebelah yang sedang membantu pembuatan meriam karbit.

Dari arah Timur tampak ketua RT Kampung Bansir sedang memperhatikan mereka. Pak Amok tampak mondar-mandir menyaksikan pekerjaan panitia Mariam karbit. Sesekali juga ia menyuguhkan minum untuk mereka yang sedang membuat Mariam.

“Saya selalu mendukung hal baik yang dilakukan pemuda-pemudi disini, bahkan jika saya dibutuhkan, insyaallah saya pasti bantu.” kata Pak Amok.

“Kemarin mereka minta sumbangan, saya bilang cantumkan nama saya. Karna terkadang membawa  nama RT akan lebih mudah menarik penyokong, kan dek.” lanjutnya sambil melihat istrinya.

Iya, tak mungkin juga kita tidak bantu. Kan sudah tugasnya juga” lanjut Dedek istri Amok.

Dana lain yang mereka gunakan merupakan hasil dari meminta sumbangan ke rumah-rumah warga. Sumbangan yang mereka dapat dari rumah-rumah warga ini mereka gunakan untuk keperluan meriam. Alternatif ini mereka gunakan selain membuat proposal. Bagi mereka, selain hanya meminta sumbangan dengan begitu masyarakat setempat juga menyumbangkan semangat dan kebersamaannya.

Kapan nih mulai menaikkan meriam?” tanya wawan saat pemuda-pemuda meminta sumbangan kerumah warga

“3 hari sebelum Ramadhan Bang,” jawab Ipan sebagai koordinasi sumbangan.

“Ohh siplah.” lanjutnya.

Mamad mulai mengambil lagi kayu berikutnya untuk dibenahi. Dengan topi yang dikebelakangkan ala-ala anak muda ia mulai merapikan sisi-sisi meriam. Pasukan semakin berkurang karena waktu sudah terlalu larut dan satu meriam telah terselesaikan pikir mereka.

Dentuman Mariam karbit memang tak mengenal waktu. Terkadang berbunyi pukul 11 malam. Warga pesisir sungai kapuas pun sudah tak heran dengan bunyinya. Walaupun terkadang harus terbangun dari tidurnya saat mendengar suara dentuman itu.

“Meriam memang paling sering dihidupkan dimalam hari, terkadang juga pukul 1 malam saat warga sudah terlelap tidur. Tidak ada alasan lain, hanya untuk bersenang-senang,” ucap Mamad.

Pukul satu lapangan memang sudah semakin sepi, beberapa akan pulang lebih dulu karena subuh harus membangunkan orang sahur. Beberapa masih setia dilapangan. Ada yang sekadar melihat, karena sudah membantu dari awal. Ada yang masih setia dengan palu dan kapaknya.

Tanggal 26 April dua meriam sudah bersejajar rapi. Mamad masih menilik meriam-meriam yang telah jadi. Sedikit kekurangan diperhatikan untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tak seperti biasanya, kali ini Mamad selesai lebih dulu. Dikarenakan sudah h-2 Minggu akan memasuki hari raya idul Fitri, Mamad harus merangkap pekerjaan lain. Seperti menyiapkan kayu-kayu untuk membuat panggar tempat meriam karbit nanti diletakkan untuk dipertontonkan.

“Bang berarti harus diukur dulu ya biar tau nanti berapa diperlukan kayunya?” tanya Bowo salah seorang pemuda.

“Iyalah, biar pas. Lebihkan satu dua tangkai, jangan sampai banyak.” jawab Mamad.

Pukul 10 lewat Mamad bersama bg Kucai hijrah ke lokasi panjar yang akan dibuat untuk mengukur tempat. Dengan ditemani dua pemuda lainnya.

Mereka mulai mengukur tempat tersebut. Lokasi yang dipilih ini memang agak jauh dari lapangan tempat pembuatan meriam. Namun disini memiliki pemandangan yang strategis untuk pengunjung menonton Mariam karbit. Biasanya akan dibuat panggung untuk para tamu undangan seperti sultan, wali kota, gubernur dll. Akan tetapi tahun ini panggung tidak akan dibuat.

“Kalo festival baru ada panggung karena kalo festival pasti ada tamu-tamu penting yang hadir seperti wali kota, sultan, gubernur dll lah.” ucap Iyan salah seorang pemuda.

Walaupun terdapat dua buah rumah disebelah kanan dan kiri dari lokasi panggar Mariam karbit tidak membuat warga merasa khawatir karena sudah terbiasa. Sudah bertahun-tahun warga tersebut tinggal disana. Mereka tak keberatan dengan adanya panggar yang dibuat disebelah rumahnya.

“Tempat ini kan memang dijadikan panggar Mariam karbit dari dulu sebelum saya tinggal disini. Jadi ya tidak masalahla, walaupun awalnya saya harus jantungan dulu karena belum terbiasa kan.” ucap Iwan warga yang tinggal di sebelah kanan dekat dengan panggar Mariam karbit.

“Kami memang sudah biasa mendengar Mariam karbit karena kami juga tinggal didaerah sini sebelumnya. Tetapi memang baru kali ini bersebelahan langsung dengan sumber bunyinya ya tetap kaget juga." lanjut istrinya.

Lapangan masih riuh dengan ketukan palu yang menghantam badan meriam ditambah musik Bunga yang diremik menambah irama sumbang yang membakar semangat pemuda-pemuda bansir.

Dua tiga orang sedang beristirahat sambil menyeduh kopi. Dilain sisi masih bersemangat dengan goyangan palunya. Pembuatan marim karbit ini lumayan memakan waktu jika dikerjakan sedikit tenaga. Apalagi jika menggunakan kayu baru, harus di sensor dulu belum lagi melobangi tengah mariamnya.

“Sekarang karena meriamnya hanya 3 dan menggunakan kayu yang lama, jadi pembuatan nya cepat dan santai. Kalo pake kayu baru, duhhh bisa lama dan membutuhkan banyak tenaga.” kata Ari.

“Inipun Alhamdulillah yang bantu rame. Mungkin semangat karena tahun lalu kan tidak ada jadinya tahun ini jadi lebih semangat” lanjut Bowo.

***

Warga setempat meyakini sejarah lama yang exis di tengah-tengah masyarakat Kota Pontianak mengenai awal mula adanya Meriam karbit. Mendengar kata Meriam karbit warga setempat pasti langsung mengaitkannya kepada Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Menurut sejarah, awal mulanya Meriam karbit digunakan untuk mengusir hantu yang sering mengganggu sultan. Dengan ide yang dikepalai oleh sultan warga setempat pun mulai memainkan meriam karbit yang masih ada hingga sekarang ini.

“Dulu Mariam karbit digunakan untuk mengusir hantu oleh Sultan Abdurrahman Alkadrie.” kata bg Kucai.

“Tapi sekarang Mariam karbit digunakan untuk memeriahkan malam takbiran saja yang diikuti dengan festival sekalian.” lanjut Angga.

Sejarah awal adanya meriam karbit ini juga dikaitkan dengan berdirinya kota Pontianak. Oleh sebab itu, warga setempat mengingat adanya meriam karbit beriringan dengan terbentuknya kota Pontianak.

“Setau saya meriam karbit sudah menjadi warisan tak benda kota Pontianak Yang ditetapkan pada tahun 2016 lalu.” kata Amok selaku ketua RT kampung bansir.

Bagi masyarakat setempat Mariam karbit telah menjadi budaya ditengah-tengah mereka. Bukan lagi suatu ajang tahunan, mereka pun selalu antusias dalam menghidupkan tiap dentuman kebudayaan yang dapat mengeksplor daerah mereka.

“Malam takbiran selalu jadi moment yang sangat membahagiakan. Selain besoknya akan menyambut hari kemenangan umat Islam juga pada malam itu benar-benar meriah dengan adanya meriam karbit. Orang-orang dari pelosok kota Pontianak akan datang untuk menonton.” lanjut Dedek.

Acara yang diselenggarakan setahun sekali ini cukup dikenal khalayak ramai. Bahkan masyarakat luar kota Pontianak mengetahui event dan turut hadir meramaikan malam takbiran di tepian sungai Kapuas. Meriam karbit cukup luas dikenal diberbagai wilayah.

Tanggal  5 Mei, 3 batang raksasa kebanggaan masyarakat pesisir itu telah jadi. Pembuatan meriam yang ketiga ini cukup memakan waktu dikarenakan sebagian pemuda harus dibagi untuk membuat panggar.

Panggar yang berukuran 3 buah meriam itu telah siap untuk dijadikan singgasana. Beberapa pemuda ada yang bersiap untuk menurunkan meriam kesungai untuk dibawa ke singgasananya. Beberapa menunggu di lokasi panggar itu berada.

Belum sampai disini. Meriam-meriam akan diperindah dengan cara dicat dan digambar. Warna dan gambar ini pun memerlukan kesepakatan bersama sehingga menghasilkan meriam dengan ciri khas nantinya. Bagian warna cat dan motif Mariam ini dipegang oleh Ari sebagai penanggung jawab. Warna dan motif meriam terkadang diselaraskan dengan ikon ikon kota Pontianak seperti corak insang, dan lainnya. Namun terkadang juga diberi motif bebas tergantung kesepakatan.

Dengan dibantu beberapa pemuda sehingga meriam digunakan dengan segera. Banyak yang menyaksikan kelihaian mereka dalam melukis.

Kali ini kayanya motif yang simple ya?” kata salah seorang warga.

“Iya, karena tidak ada festival kan jadi tidak perlu mewah motifnya.

Disaat festival segala sesuatu akan menjadi pertimbangan termasuk motif dari Mariam karena merupakan satu diantara penilaian yang besar poinnya. Para pembuat meriam akan berlomba-lomba memperindah meriam sedemikian rupa untuk menarik perhatian pengunjung dan menambah penilaian. Tapi sekarang berbeda, motif yang digunakan menjadi lebih sederhana.

“Ri cat yang cukup ndak?” tanya Mamad.

“Beli warna lain aja, yang ini udah cukup.” jawab Ari.

Mamad kali ini tak ambil andil, ia hanya memantau jika ada yang kurang-kurang. Dengan ditemani  Bang Kucai Mamad menyaksikan proses pengecatan. Antusias pemuda-pemuda membuat warna yang dihasilkan menjadi terpancar indah. Perpaduan hijau dan biru langit yang cerah dimalam hari ditambah pantulan lampu LED yang terang. Hembusan asap rokok bg Kucai sesekali mengepul diwajah Mamad, sudah biasa baginya dengan asap rokok walaupun ia sendiri tak menyentuh rokok.

Ada banyak warga yang menonton. Sebagian besar bapak-bapak yang menonton sambil main kartu remi. Sesekali gelak bapak-bapak memecahkan suasana malam. Tak lupa kopi seteko untuk berjaga malam.

“Mad, kapan boleh di hidupin ni?” tanya salah satu bapak-bapak.

“Selesai ini dah boleh coba kita.” jawab Mamad.

“Oke, mantappp”.

Dukungan warga setempat memang pengaruh yang paling besar dalam menyelenggarakan kegiatan apapun. Hal ini bisa menambah semangat sekaligus merasa dihargai keberadaan mereka. Selain itu, setiap kegiatan yang dilakukan selalu untuk kepentingan warga. Termasuk pembuatan Mariam karbit ini.

Mulai dari memberikan lahan untuk membuat mariam dan panggar, persetujuan, dana, kerja sama hingga perhatian diberikan untuk kepentingan bersama. Warga tak segan-segan menyiapkan konsumsi untuk pemuda-pemuda yang bekerja.

“Alhamdulillah, kalo soal konsumsi Ndak perlu khawatir” kata Angga.

“Tiap malam pasti beda-beda warga yang ngasi konsumsi.” lanjut Bowo.

Selain pemuda yang bergabung dalam kepanitiaan, ada juga pemuda-pemuda lain dan warga setempat yang turut membantu. Mereka menganggap kegiatan ini untuk kebahagiaan bersama, untuk memeriahkan malam lebaran bersama jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak membantu.

Kebisingan yang dihasilkan oleh meriam tentu saja membuat beberapa warga kesal karena kaget, tidak bisa tidur dll. Namun ini hanyalah efek sementara yang dialami warga. Beberapa hari kemudian mereka akan terbiasa dan menikmati tiap dentuman Mariam karbit. Bak musik pengantar tidur, begitulah yang akan terdengar.

Suara dentuman yang saling bersahutan itu mengantarkan Mamad dan rekan-rekannya sampai disubuh hari. Pengecatan sudah selesai, tinggal menunggu kering dan siap untuk digambar. Ari mengambil andil dalam mengsketsa gambar meriam. Tangannya lihai memainkan kuas. Kelihaian ini ia dapat karena telah terbiasa menggambar layangan. Layangan ia buat selalu menarik minat pembeli karena gambarnya yang indah.

“Sudah biasa menggambar layangan dan kebetulan hobi saya juga menggambar.” kata Ari.

“Biasanya saya menjual sehari ada puluhan layangan dengan motif berbeda sesuai pesanan.” lanjut Ari sambil mengingat-ingat.

Mamad memang memikirkan orang-orang yang akan bergabung dikepanitiaan ini karena akan diberi tanggungjawab sebagai koordinator. Termasuk dalam menggambar yang ia serahkan kepada Ari karena tahu kelihaiannya dalam memainkan kuas. Pemuda-pemuda yang dipilih memang cekatan dan rajin. Termasuk Mamad nya sendiri yang selalu antusias, rajin, cekatan dan siap sedia dalam keadaan apapun. Mamad tak lupa dengan keluarga kecilnya. Sesekali ia rolling dengan bg kucai dan pulang untuk memeriksa anak dan istrinya. Mamad memang masih tinggal bersama saudara-saudaranya tetapi jika menyangkut menjadi seorang suami ia tetap pulang untuk melihat anak dan istrinya.

Anak dan istrinya memiliki hari-hari tertentu untuk melihat proses pembuatan Meriam. Pada malam-malam tertentu Echi akan membawa anak laki-lakinya untuk melihat Abinya. Tak hanya itu pemuda-pemuda yang bertugas juga senang dengan keberadaan anaknya. Sesekali mereka bersenda gura bersama anak kecil berkulit putih itu. Namun sifat jailnya memang tak bisa lebas dari Abinya, sesekali anaknya akan memukul orang yang mengganggunya.

“Sesekali saya bawa, katanya mau lihat Abinya.’ Kata echi.

“Tidak setiap malam, karena juga saya punya pekerjaan lain. Jadi bawa sekali-sekali saja.” lanjutnya.

Mamad tidak mempermasalahkan kedatangan istri dan anaknya. Menurut orang sekitar mamad malah tambah lebih semangat jika ditemani anak dan istrinya. Energi positif memang datangnya dari keluarga sendiri. Mau sesederhana apapun bentuknya akan terasa jika itu menyangkut yang terkasih. Terlebih lagi mamad sangat menyayangi anak laki-lakinya itu. Wajar saja sifatnya banyak yang ia turunkan ke anaknya.

***

Satu hari sebelum malam takbiran Meriam-meriam yang sudah jadi berbaris rapi dengan perpaduan warna yang singkron. Bunga-bunga yang dilukiskan di badan Meriam itu bukan tanpa makna, bunga tersebut menandakan kebebasan. Menurut Ari, karena ditiadakannya menyuculan Meriam karbit tahun lalu sangat disayangkan namun memang kondisi tidak memungkinkan untuk melaksanakannya. Sehingga tahun ini menjadi kebahagiaan bagi warga setempat. Malam takbiran yang terjadi hanya setahun sekali itu harus dihidupkan dengan meriah. Untuk menyambut Hari kemenangan umat islam yang telah melawan hawa nafsunya selama sebulan.

Meriam-meriam itu beberapa kali dihidupkan untuk dicoba. Bahan penunjang lain untuk menghidupkan Meriam adalah karbit. Karbit menjadi bahan utama dalam hal ini. Karbit yang dilelehkan dengan air itu ditutup menggunakan kertas basah. jika sudah memuai barulah dicucul dan menghasilkan dentuman yang menggelegarkan sungai Kapuas.

Sahut menyahut Meriam tanda tak sabar untuk perang sesungguhnya. Terkadang pemuda-pemuda itu juga memerangi dentuman Meriam yang mereka hidupakan dengan Meriam orang yang tinggal diseberang kampung bansir. Sambal menikmati dentuman-dentuman itu mereka bersorak-sorak jika bunyinya tidak menggelegar.

“Huuu, kaya bunyi kentut.” kata salah satu pemuda menyoraki orang seberang.

“Bunyikan lagi satu Yan.” kata mamad.

Kayu yang disulut api itu tampak merona dan menyalak ditengah malam. Ayunan tangan pemuda-pemuda yang menyuculkan Meriam tampak sangat mahir. Tiga Mariam yang dihidupkan secara bergantian itu pun seperti irama kemenangan yang mengembara. Sorakan-sorakan pemuda menambah irama diantara dentuman Mariam karbit itu. Seiringan dengan itu, balasan dari Meriam seberang pun menambah gelegar sungai Kapuas yang tenang. Begitukan sorakan pemuda yang ada disana.

Tampak dari darat bg kucai menghampiri untuk menghentikan permainan karena sudah terlalu larut. Bg kucai tak ingin pemuda-pemuda yang masih setia untuk berperang itu melewatkan sahur terakhirnya di tahun ini. Beberapa masih tersisa untuk membersihkan tempat dan disiapkan untuk malam takbiran. Sebagian sudah pulang beriringan. Mamad memilih untuk tinggal sampai segala sesuatu telah selesai.

"Mad, duluan," kata Bang Kucai sambal melambai.

"Sip Bang, hati-hati," jawab Mamad.

Tidak cukup jauh, tempat tinggal pemuda-pemuda itu saling berdekatan. Sehingga mereka pulang bersama-sama. Hal ini jugalah orangtua mereka tak mengkhwatirkan jika mereka pulang begitu larut. Langkah mereka begitu riuh diatas gertak yang telah diselimuti semen itu.

Tanggal 11 pukul 7 malam. Panitia Nampak sibuk menyiapkan dan mendekorasi panggar Meriam dengan lampu-lampu seri tak lupa bendera-bendera dipinggirnya. Pengunjung belum ramai bahkan terlihat baru warga setempat yang menonton.

Dentuman-dentuman Meriam pun begitu bersemarak beriringan dengan takbiran. Pesisir sungai Nampak berkelap-kelip dengan kapal-kapal hiburan yang lewat. Belum lagi ledakan kembang api, seakan tak diberi celah untuk tanpa keindahan. Anak-anak kecil sudah memenuhi jalan dengan baju barunya.

Pengunjung yang ingin menyucul Meriam biasanya harus bayar terlebih dahulu terkecuali warga setempat. Hal ini dilakukan untuk menimbal balik tenaga pemuda-pemuda yang sudah mau bekerja ditambah lagi pengunjung yang banyak.

Jalanan yang telah di semen itu sudah mulai penuh dengan pengunjung yang berlalu Lalang berbagai macam gaya entah darimana asalnya. Ada yang sekarang berjalan-jalan dipesisir sungai, ada yang berhenti untuk menonton penyuculan Meriam. Malam takbiran di pesisir sungai Kapuas memang sangat meriah. Hal ini telah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Makanya sangat disayangkan jika ditiadakan lagi penyuculan Mariam karbit ini.

Dari kejauhan Nampak keluarga kecil yang saling berpegangan di kerumunan orang-orang. Mamad dan anak isitrinya yang berjalan untuk menonton Meriam karbit. Setiap tahun mamad selalu membawa anak istrinya jalan-jalan dimalam takbiran. Kebersamaan ini adalah moment berharga untuknya dan juga anak istrinya. Sesekali mereka berhenti untuk membeli cemilan yang berjuaklan disepanjang jalan. Echi harus ekstra menjaga anaknya dikarenakan kondisi yang ramai dan juga berada di atas sungai. Mereka pun berhenti di kursi yang disediakan untuk menonton Meriam. Mamad sesekali menghampiri panitia yang bertugas dan membantu sedikit-sedikit. Karena malam takbiran telah ditentukan panitia yang bertugas.

“Umi, kapan dihidupkan meriamnya.” suara imut anaknya bertanya.

“Sebentar lagi dihidupkan, dedek jangan takut ya.” jawabnya pelan.

Suasana Bahagia menghampiri keluarga kecil ini. Mungkin juga seluruh orang yang turut meriahkan malam takbiran ini. Malam kemenangan telah tiba bagi umat islam. Rona sendu nan teduh dimalam itu begitu tampak mengarungi wajah-wajah mereka.

Dari jauh tampak keluarga Mamad mulai turun untuk berjalan-jalan nonton. Mereka pun duduk bersama anak dan istri mamad. Mamad yang melihat kehadiran keluarganya pun langsung menghampiri anak, istri dan keluarganya. Mereka tampak berbahagia karena bisa dihitung jari bagi mereka berjalan bersama-sama seperti ini. Keluarga Mamad kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk menyusuri pesisir sungai Kapuas.

Tinggalah Mamad dan anak istrinya. Tiada gangguan mereka menikmati malam itu dengan kebahagiaan. Tak lupa pula berfoto untuk kenang-kenangan. Dengan menjulurkan handphone ditangannya. Dan mulai melakukan selfie.

“1..2..3.. cisss”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman