Hampir di DO, Bacok bisa Membanggakan Kalimantan Barat - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 12 Oktober 2021

Hampir di DO, Bacok bisa Membanggakan Kalimantan Barat

 

Sumber: Intagram/Rudi_Bacok

Korpora.Id, Pontianak - Hujan lebat dan gemuruh petir yang riuh tidak menyurutkan keinginan saya untuk bertemu dengan Rudi Hartono selaku lulusan Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNTAN juga sekaligus alumni Himbasi (Himpunan Pendidikan Bahasa Indonesia). Ia baru-baru ini menorehkan tinta emas dan sangat membanggakan karena mengharumkan nama Kalimantan Barat dikancah nasional, yaitu Pemuda Pelopor Indonesia. Pria kelahiran 6 Februari 1995 ini adalah warga asli Sungai Kupah Kecamatan Sungai Kakap, kabupaten Kuburaya.

“Orang dengar cerita hidup saya ni kak, banyak yang nangis, sedih mereka, ” candanya diselingi dengan tawa.

“Saya SD di SDN 36 Sungai Tekong kurang lebih jaraknya selama 20 menit kalau jalan kaki, itu harus melalui hutan dulu, jadi sebelum berangkat saya bawa baju ganti jogging dulu ke sekolah, sampai sana saya mandi terus ganti baju seragam, ” kata pria yang memiliki hobi bermain bola dan bulutangkis ini.

“Saya memang dididik keras oleh orangtua, terutama bapak saya, tiap saya main bola pasti bola di belahnya, tidak lagi bertanya ini punya siapa, beli dimana, dia menemukan bola itu langsung dibelah, ” tuturnya saat saya temui di Cafe Mertua jalan Tabrani Ahmad. Ia juga menceritakan bahwa hidupnya ketika mencintai hobi bulutangkis namun selalu dilarang oleh orang tua, “Tiap saya beli sepatu buat main bulutangkis, pasti dibuang. Saya beli raket juga dipatahkan, hingga teman saya yang namanya Aji tau betul gimana bapak saya.” 

Sambil mengenang masa remajanya, ia terus menceritakan perjalanan hidup yang tidak mudah karena memiliki hobi bermain bulutangkis, “Bapak saya pernah bilang ‘jangan main bulutangkis, itu mainan orang kaya, kita orang tidak punya, aku pernah main ini sampai mencuri, aku tak mau anak aku ngikut aku’ jadi saya sempat drop, tapi kawan-kawan tetap memberi semangat untuk saya.”

Alhamdulillah dengan hobi yang ia tekuni dan ia kuasai ini, ia dapat membawa piala juara 1 sebanyak 16 kali untuk se-Kecamatan kakap, 2 kali menjadi juara se-Kuburaya dan 1 kali se-Kalbar namun mendapat juara keempat.  Dengan keseriusan dan prestasi yang ia dapatkan, orangtua Rudi Hartono mulai terbuka dengan hobi anaknya. Kehidupan yang ia jalani tidak semudah yang dibayangkan, ia selalu merasa menjadi anak tiri selama di rumah, dengan kehidupan yang ia rasa tidak adil karena ia harus berjuang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan tidak seperti saudaranya yang lain.

“Saya sedih dengan kehidupan saya, waktu saya tidak masuk sekolah satu hari saja di pukul, sedangkan saudara saya malah tidak di pukul, saya selalu diomel untuk kesalahan yang sama dengan abang saya, tapi abang saya tidak diomel, ” ucapnya dengan perasaan sedih namun tetap diselingi dengan candaan yang menyebabkan orang disekitar itu tertawa.

Pria yang dipanggil Bacok oleh orang-orang yang berada di kampungnya ini mulai semangat kembali ketika mendapatkan bewasiswa jalur undangan dari Universitas yang berada di Pulau Jawa tepatnya Kota Semarang. Namun, karena orangtua yang tidak setuju mengenai pendidikan, masalah beasiswanya ini menjadi pertimbangan keluarga. “Mana duitnya? Ngapain kuliah jauh-jauh? tidak usah, kerja saja di sini, kalau kau kuliah di sana 4 tahun, selama 4 tahun nanti kau tidak melihat aku meninggal.” 

Pesan Almarhum ayahnya ketika Rudi Hartono menyampaikan bahwa ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Jawa. Ia mulai bertanya lagi kepada ibunya, ibunya mencari kenalan keluarga di sana namun tidak ada. “Akhirnya saya mengurungkan niat, saya kerja aja di kampung mengelupas kelapa.” Tuturnya saat ditemui pada tanggal 30 Oktober 2020. Niatnya untuk melanjutkan perkuliahan tidak berhenti sampai disitu, ia mulai ikut mendaftarkan diri pada Seleksi Nilai Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Universitas Tanjungpura Pontianak. Ia bersyukur atas semangatnya karena ia berhasil lolos pada seleksi ini dan lolos di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tahun 2013.

Saya memberi tahu orang tua kalau saya lulus lagi di Untan, saya bilang mau kuliah dan harus membayar biaya pendaftaran pada masa itu sebesar Rp. 1.141.000,00” Katanya sambil memainkan jarinya dan mengetuk-ngetuk meja. 

“Bapak saya nanya mana uangnya? Motor tidak punya, apa-apa tidak punya, belum lagi bayar per-semester, buku dan segala macamnya. Lagi-lagi saya drop, saya sedih dan saya coba untuk menghadap kepala sekolah saya bapak M. Tahir, Alhamdulillah mendapat bantuan dari kepala sekolah dan para guru untuk membayar uang pendaftaran, saya beli motor walau harus dicicil dan dapat menjadi bekal saya selama di sana, tapi orangtua saya tetap tidak tahu bahwa saya sudah mendapatkan uang untuk membeli motor dan bayar uang pendaftaran.”

Kata pria yang memiliki sifat pro-aktif. “Selama saya kuliah saya selalu menumpang tidur di tempat teman-teman saya, saya punya tujuh teman dekat dan mereka yang menampung saya dan memberi makan, tapi selama tinggal di rumah mereka, saya bantu menyapu, mengepel agar mereka senang,” Lanjutnya. Pada bulan berikutnya, Rudi Hartono berpikiran bahwa ia harus mendaftar beasiswa untuk mempermudah biaya kuliahnya dan tidak menyulitkan orangtua.

Dengan segala persyaratan yang sudah ia penuhi, Rudi Hartono dinyatakan lolos seleksi bidikmisi walau namanya berada diurutan terakhir daftar nama mahasiswa yang lolos bidikmisi. Selama masa kuliah, banyak rintangan dan halangan yang membuatnya malas untuk melanjutkan perkuliahan. Ketika ayahnya meninggal, ia merasa jenuh untuk melanjutkan perkuliahan dengan situasi tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk vakum selama beberapa tahun dan pulang ke kampung halaman untuk mencari pekerjaan di sana. Namun, setelah beberapa tahun vakum, ibunya berkata, “Cita-cita aku mau lihat kau wisuda, bapak kau juga bilang selesaikan kuliah kau, karena itu impian besar” ucapnya, lalu menyeruput kopi hangat yang menemani perbincangan kami. Karena banyaknya mata kuliah yang ia tinggalkan, ia kembali merasa pesimis untuk melanjutkan pendidikan. Akhirnya ia vakum lagi satu tahun dan ingin membangun tempat wisata dengan teman-temannya, mulai membuat kegiatan-kegiatan seperti membangun spot foto di daerah mangrove.

Banyak orang-orang yang meremehkannya, “Untuk apa membangun spot foto di mangrove? Untuk apa ikut Rudi yang bolak-balik ke tempat jin betendang? Tidak ada yang akan mengunjungi tempat itu” ucapnya sambil mengingat apa saja yang diomongkan oleh orang-orang terhadapnya. Pada tahun 2018-2019 banyak kegiatan yang sudah ia dan teman-temannya lakukan, contohnya membangun beberapa spot foto dan mengadakan Festival Telok Bediri dalam rangka menarik pengunjung ke mangrove Sungai Kupah. “Alhamdulillah, kerja keras kami terlaksana dan berjalan lancar, akhirnya kami diminta mengajukan proposal bantuan wisata kami yang ditujukan untuk Kemenpora.”

Dengan keyakinan besar, beberapa proposal yang mereka ajukan membuahkan hasil. Proposal itu tembus di Kementrian Pemuda dan Olahraga dengan bantuan sebesar 985 juta rupiah, di Kementrian Kelautan dan Perikanan mendapatkan 1 pondok wisata dan terakhir mendekati Dewan hingga mendapatkan tracking mangrove sepanjang 56 meter.

Dengan progress seperti itu, mereka direspon baik dengan masyarakat bahkan Rudi Hartono pernah diangkat menjadi caleg karena dipercaya dapat mewakili masyarakat Sungai Kupah dalam pemilihan Calon Legislatif 2019. Walaupun berakhir dengan kalah dalam pemilihan tersebut tetapi ia tetap mengambil hikmahnya. Pada tahun 2020 ia berhasil menyelesaikan pendidikannya sebagai Sarjana Pendidikan lulusan Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan ia hampir di Drop Out dari kampus. Hal itu dapat ia capai karena dorongan sang ibunda yang mengingikan untuk melihat anaknya wisuda.

“Alhamdulillah juga karena pergerakan kita kepada masyarakat dan kawan-kawan, saya menyalonkan diri untuk mengikuti seleksi Pemuda Pelopor Kalimantan Barat yang diikuti oleh pemuda-pemuda di berbagai Kabupaten yang ada di Kalimantan Barat”. Rudi Hartono sempat berkurang rasa semangatnya karena peserta-peserta yang mengikuti seleksi tersebut memiliki tempat wisata yang tidak kalah luar biasa dengan tempat wisatanya.

“Tapi saya tetap optimis dan yakin untuk mengikuti pemilihan ini, dan akhirnya dengan perjalanan panjang saya mampu mengalahkan tiga orang lainnya dan melaju mewakili Kalimantan Barat untuk Ajang Pemuda Pelopor Indonesia.” tuturnya.

Akhirnya Rudi Hartono mengikuti seleksi tersebut dan lolos memasuki seleksi 30 besar dengan mengalahkan beberapa peserta lainnya, “Saya diberi penghargaan oleh civitas academica Universitas Tanjungpura padahal saya baru masuk ke 30 besar, banyak dukungan dan ucapan selamat yang saya dapatkan.”

Ucapan dan rasa bangga itu membuatnya kembali bersemangat sehingga melaju ke tahap berikutnya, ia berhasil mengalahkan perseta sebanyak 15 orang, “Ternyata tanpa saya sadari untuk tiap bidangnya hanya tersisa tiga orang, untuk tahap ini saya hanya akan memperebutkan juara 1 2 atau 3, karena sebelumnya saya mengira hanya mencari juara 1 dari kelima bidang tersebut.” ucapnya sambil tersenyum dan sedikit memelototkan mata seakan terkejut karena menyadari kesalahan atas perkiraannya. 

“Saya kembali dibuat terkejut karena kami ternyata diundang untuk hadir di Jakarta secara langsung, tidak virtual dan saya diminta untuk mempersiapkan presentasi mengenai tempat wisata kami.” Sambil menunjukkan video yang menjadi bahan presentasinya untuk memperebutkan juara 1 pada Pemuda Pelopor Indonesia, ia mengaku tetap optimis untuk memperebutkan juara pertama dan membanggakan Kalimantan Barat.

“Saya sempat down lagi karena melihat video dari peserta lain yang ternyata lebih baik dari milik saya, tetapi saya tetap optimis. Alhamdulillah saya mendapatkan juara 2 dan sangat luar biasa sekali apresiasi dari Kemenpora dan saya mendapatkan uang binaan serta uang saku," uang binaan yang ia dapatkan, ia berikan kepada pelopor sesungguhnya, yaitu Ibunda tercinta dan akan digunakan untuk orangtuanya ibadah haji. 

“Kita sebagai pemuda, untuk menggapai sesuatu yang besar itu harus mampu mendaki beberapa bukit karena semuanya tidak ada yang instan, semuanya penuh perjuangan, semuanya penuh proses, akan ada lelah, keringat dan airmata. Untuk menggapai suatu bukit itu tidak ada yang datar, kita harus mampu menanjak agar sampai di atas," pesannya. 

“Jika kita sudah mencapai titik itu, rangkul teman-temanmu, ajak mereka dan harus selalu memiliki energi positif, tetap semangat dan jangan berhenti untuk berbuat baik kepada orang, karena rejeki akan datang kapan saja jika kita berbuat baik dan menolong sesama.”  ujarnya mengakhiri penjelasan.

Penulis: Reinada Juli

Penyunting: Devi Mutiarani



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman