Jepen, Budaya yang Mulai Tersisih - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 12 Oktober 2021

Jepen, Budaya yang Mulai Tersisih


Sumber : Dokumentasi Pribadi

Korpora.id, Pontinak - Jum’at 4 September 2020. Sekadau Hilir-Menghidupkan kembali kisah-kisah masa lalu sungguh sangat mulia. Bukan untuk kembali kemasa lalu, namun lebih menggali nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat untuk melakukan yang lebih baik dimasa datang, salah satunya budaya yang ada di Sekadau. 

Senja memupuk mengiring sore berganti malam. Saat itu aku menemuinya dirumah, berbicara tentang budaya jepen yg mulai tersisih. Samsiah (47), adalah salah satu pengajar tarian jepen di pal 7 Desa Mungguik ini.

“Jepen di Desa Mungguk ini asal mulanya dari Desa Pangkin Seladan. Semenjak saya sebagai pengajar grup Jepen sekarang, mengenal tarian Jepen dari tahun 1979 sampai ikut perlombaan festival, alhamdulillah selalu mendapat juara”. Ujar Sam dengan rasa bangga terpancar dalam raut wajahnya. 

Dengan santai sambil mengunyah kue Juadah Lomak yang disuguhkan, aku dan Sam pun masih diperbincangan yang sama. Ia juga menjelaskan dalam bentuk penyajiannya, tari Jepen pada acara pernikahan disajikan dengan alat musik tradisional. 

“Dalam jepen ini diiringi dengan syair yang merdu, isi syairnya itu disesuaikan dengan tema dalam suatu acara, kemudian diiringi dengan musik gambus, gendang maupun ketapak” tuturnya.

Seperti yang kita ketahui sekarang ini generasi muda yang biasa  disebut dengan istilah “Kids Zaman Now” sedang menggandrungi segala hal yang berbau modern. Seperti teknologi, fashion, dan juga budayanya pun sudah mulai mengikuti budaya modern. 

“Tetapi pada tahun 2014 hingga sekarang dengan beriringnya waktu, masyarakat disini kurang antusias dalam mengikuti budaya jepen ini, remaja yang mengikuti tari jepen ini satu persatu sudah dengan kesibukannya masing-masing,” tuturnya lagi.

Sam mengatakan bahwa keberadaan jepen kini menjadi budaya yang sekadar bertahan dan tersisihkan. Kondisi ini yang membuat tari Jepen semakin tersingkir. Sebagai orang yang berkontribusi di tari Jepen, Sam juga berbagi saran agar budaya Jepen ini tetap berjalan dan tidak dilupakan.

“Saya harap sekolah-sekolah dapat mengadakan ekstrakurikuler menari tarian tradisional, mengadakan perlombaan tari antar sekolah, dengan adanya perlombaan anak-anak akan lebih semangat mengikuti tarian.” tuturnya, membakar semangat  remaja untuk melestraikan budaya jepen.

Karena jika bukan generasi muda yang ikut mengembangkan budaya tari tradisonal kita, siapa lagi yang akan melestarikannya agar tetap eksis sampai zaman anak cucu kita nanti. Maka dari itu marilah generasi muda, agar dapat menanamkan rasa cinta budaya kita sendiri.

Penulis : Putri Alifia Rahma

Penyunting : Maria Chelsea Fiorentina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman