Keinginan Biasa, Membawa Hasil yang Luar Biasa - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 09 Oktober 2021

Keinginan Biasa, Membawa Hasil yang Luar Biasa

Penulis: Reinada Juli

Penyunting: Angga Laena Siti Patimah

Korpora.id, Pontianak - Angin malam membawa cerita dengan sesuatu yang tak kita duga. Harapan akan kemenangan selalu ada mengiringi langkah di tahap-tahap akhir penilaian pada sebuah kompetisi. Hal ini yang dirasakan oleh Rudi Hartono, seorang alumni Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tanjungpura ketika mengikuti kompetisi tingkat provinsi. Langkah berat membawanya menunggu kedatangan juri yang akan menilai langsung kegiatan mengenai program kerja yang ia tawarkan untuk mengikuti kompetisi tersebut. Kedatangan juri pada malam hari membuatnya kelimpungan. Pada program yang ia tawarkan, kegiatan ini seharusnya dilakukan ketika langit masih terang dan tidak tertutup gelap. Penanaman pohon, cara kerja aplikasi, pembuatan sertifikat menanam pohon, semuanya terpaksa dilakukan ketika jam menunjukkan pukul 18.30 WIB.

Mangrove ini terletak di Desa Sungai Kupah, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Perjalanan menuju mangrove dapat ditempuh dalam waktu 1-2 jam menggunakan sepeda motor dari Universitas Tanjungpura. keadaan mangrove saat pertama kali di buka sangat berbeda dengan keadaan saat ini. pemuda-pemuda sungai kupah sudah bekerja keras dalam memperkenalkan mangrove tersebut kepada masyarakat luar sungai kakap. Ejekan, hinaan serta motivasi yang didapat oleh Rudi Hartono dan pemuda-pemuda sungai kupah menghasilkan rasa ingin menunjukkan bahwa mereka mampu membawa mangrove ini dikenal oleh masyarakat luas, tidak hanya masyarakat Kalimantan Barat, tetapi juga masyarakat luar pulau Kalimantan.

Matahari kembali naik hingga tepat di atas kepala pada siang hari itu, pukul 12.06 tepatnya hari kamis tanggal 20 Mei 2021.  Rudi hartono baru saja keluar dari gedung kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Barat, untuk menceritakan perjalanan mengenai mangrove Sungai Kupah. “Apa kabar kak?” sapanya setelah tiba di pendopo bercat putih yang berada di ujung jalan masuk kantor Dispora. “Alhamdulillah bang, abang juga apa kabar?” ucap saya kembali bertanya untuk melanjutkan percakapan yang baru saja dimulai, dia tersenyum “Alhamdulillah baik kak”. Setelah meletakkan gawainya, ia membenarkan rambut kemudian mulai menceritakan awal mula adanya mangrove Sungai Kupah. Rudi adalah sosok yang dikenal ramah dimanapun ia berada. Semua orang yang melewati kami selalu menyapa beliau dengan ramah dan dijawab senyuman teduh oleh Rudi Hartono.  

Rudi Hartono mengisahkan tentang awal mula sebelum adanya mangrove Sungai Kupah. Perasaan sedih menyelimutinya ketika melihat infrastruktur yang kurang memadai di Desa tersebut akibat tidak disoroti oleh pemerintah. Ia sebagai satu di antara masyarakat di Desa itu memiliki keinginan untuk mempermudah jalan masuk ke arah Desa Sungai Kupah dengan cara yang tak pernah ia sangka akan menjadi sesuatu yang sangat membanggakan. Cara ini ia dapatkan ketika sedang berkonsultasi dengan salah satu temannya yang berada di Kuala II, “Pembangunan di desa akan lebih diprioritaskan oleh pemerintah apabila ada potensi di desa tersebut”. Ketika mendengar kabar itu, Rudi memikirkan potensi apa yang ada di Desa Sungai Kupah. Menyadari daerahnya berada di pesisir dan memiliki pohon mangrove, ada baiknya dijadikan sebagai objek wisata. Hal ini diadopsi dari objek wisata yang ada di Mempawah dan Sungai Nibung tentang wisata mangrove.

Sesuatu yang baru saja dimulai pasti memiliki pro dan kontranya tersendiri. Sulit untuk menyatukan visi misi dari sekian banyak pemuda bahkan seluruh masyarakat di sana, sehingga banyak yang mengira bahwa aksi dari Rudi ini ditunggangi oleh politik. Karena adanya kontra dari berbagai pihak, Rudi kembali mengajak keempat temannya untuk berdiskusi mengenai apa yang harus mereka lakukan dalam awal pembangunan mangrove tersebut, karena jika dilihat dari akses jalan untuk masuk ke sana itu sulit. Akhirnya Rudi dan yang lain memutuskan untuk beraksi terlebih dahulu dalam membuat spot foto, mereka juga membuat target untuk menghasilkan setidaknya satu spot foto dalam satu minggu.

Tahun 2017, Rudi dan teman-temannya fokus bergerak dalam menyelesaikan rancangan yang sudah mereka susun sebelumnya. Mereka membuat jalur atau jalan masuk ke mangrove tersebut dan membuat beberapa spot foto.  Tekad Rudi dan beberapa temannya sangat besar, mereka tidak lagi mempedulikan omongan dan cemoohan orang lain. Untuk hasil yang menjadi buah keberhasilan mereka akan terlihat nanti, yang terpenting adalah aksi dalam menyelesaikan pembuatan jalur dan spot foto. Banyak rintangan dan hambatan yang mereka lalui dalam pembuatan spot foto, bahkan spot foto yang telah mereka selesaikan terpaksa harus dibuat kembali karena salah dalam memilih bahan cat yang digunakan. 

Saat hal itu terjadi, datang beberapa orang menuju ke spot foto yang mereka buat, orang-orang tersebut merasa tertipu karena melihat spot foto yang ada di hadapan mereka tidak sesuai dengan yang di unggah Rudi di akun sosial medianya. “Kenapa begini? Apa yang kalian unggah tidak sesuai dengan yang ada dihadapan kami sekarang, kalian bohong ya?”. Mendengar hal tersebut, salah satu teman Rudi merasa bahwa mereka telah dimarahi oleh beberapa pengunjung yang berasal dari masyarakat sungai Kupah. Rudi berkata “tidak apa-apa, yang penting kita bisa meyakinkan mereka untuk datang berkunjung ke sini, sekarang yang harus dilakukan adalah memperbaiki ulang spot foto yang sudah rusak”. Tidak merasa sakit hati, karena Rudi pun sadar itu kesalahan mereka dalam memilih bahan.  

Segala hambatan tak menyurutkan semangat pemuda-pemuda itu, mereka kembali menyelesaikan pembuatan spot foto dengan cat yang layak digunakan ditempat terbuka, agar tidak luntur ketika terkena air.  Rudi kembali berdiskusi bersama teman-temannya, “Gimana? Sedangkan cat yang kita gunakan itu car air?” salah satu teman Rudi yang bernama Saifudin menanggapi, “Lebih baik kita galang dana atau melakukan aksi?” mendengar saran dari temannya itu, mereka kembali berdiskusi dengan hasil yang telah ditentukan. Mereka melakukan aksi yang bernama Satu Warna untuk Sungai Kupah, hal ini mereka lakukan untuk meminta bantuan bagi warga desa yang ingin menyumbangkan cat minyak seharga 8000 kepada mereka dan digunakan dalam pembuatan spot foto. Rudi dan teman-temannya berkata, mereka tidak menerima uang, karena takut nanti akan disalahgunakan.   

Semangat semakin membara ketika mereka dapat menyelesaikan pembuatan spot foto dan pengecatan jalan masuk ke mangrove, perasaan senang menyelimuti keempat serangkai pemuda sungai Kupah yang sudah bekerja keras dalam menyelesaikan rencana awal mereka. Pada minggu kedua setelah peristiwa cat luntur itu, pengunjung sudah mulai ramai mendatangi mangrove sungai Kupah. Namun, Rudi mengatakan masih ada satu kendala lagi, yaitu kurangnya infrastruktur di Desa sungai Kupah. Rudi teringat akan saran dari temannya yang tinggal di kuala 2, pak Iqbal mengatakan bahwa untuk memperkenalkan suatu destinasi wisata kepada pemerintah, harus diadakan suatu acara. Acara yang akan diadakan oleh mereka tidak terlalu meriah, karena yang dibutuhkan adalah kedatangan kepala dinas dan pejabat pemerintah lain untuk melakukan dialog mengenai tempat wisata tersebut. 

Masih di tahun 2019, Rudi dan yang lain berinisiatif untuk membuat suatu kegiatan yang dapat mendatangkan pengunjung, juga agar mereka dapat berdialog dengan pejabat pemerintahan dalam membantu pembangunan infrastruktur dan menunjukkan potensi yang ada di desa tersebut. Banyak pertimbangan yang harus mereka pikirkan dalam pengadaan acara itu. “Acara apa yang akan kita adakan? Tidak mungkin acara yang berkaitan dengan mangrove” ucap Rudi kepada seluruh temannya yang ikut berdiskusi. “Kenapa tidak kita buat acara yang berkaitan dengan titik kulminasi?” ucap salah satu temannya. Rudi dan yang lain berpikir sembari mendengar penjelasan salah satu temannya yang sedikit mengerti mengenai lintas kulminasi. Mereka setuju dengan apa yang disarankan, mulailah mereka mencari tau mengenai lintas kulminasi yang terjadi setiap tahunnya.

“Lintas kulminasi terjadi dua kali dalam satu tahun, bulan maret dan bulan September” ucap Rudi dengan gawai di tangan kirinya. “Bagaimana kalau kita uji coba terlebih dahulu pada bulan September ini?” saran salah satu teman. Mereka kembali disibukkan dengan uji coba lintas kulminasi yang terjadi pada bulan September di tahun 2017. Apabila berhasil, maka mereka akan memulai acara tersebut pada bulan Maret 2018. Rudi dan teman-temannya meminjam GPS untuk mencari tau tentang titik koordinat terbaik dalam lintas kulminasi. Dengan segala percobaan yang mereka lakukan dalam waktu dua minggu, mereka berhasil menemukan titik koordinat yang pas untuk diadakannya acara lintas kulminasi.

Dalam menentukan nama yang pas untuk kegiatan tersebut, mereka kembali berdiskusi mengenai nama yang cocok digunakan pada kegiatan itu. “Gimana kalau kegiatan itu kita namakan Equator Kulminasi?” Rudi memikirkan saran tersebut, lalu salah satu temannya menjawab “Seingatku nama itu sama dengan yang ada di Siantan” ucapnya. “Coba kita pikirkan kembali, apa hal yang unik saat kulminasi sedang terjadi?” Rudi kembali bersuara, mereka memikirkan pertanyaan yang dilontarkan oleh Rudi. “Ayo kita namakan telok berdiri, gimana?” Mereka hampir melupakan bahwa ketika terjadi lintas kulminasi, mata telur akan berdiri di bawah sinar matahari. Hal itu disetujui langsung oleh yang lainnya.

Dengan pertimbangan yang matang dan rancangan yang sudah dibuat, kegiatan itu diadakan pada bulan Maret Tahun 2018, tepatnya pada tanggal 21,22 dan 23 dengan nama kegiatan “Kulminasi Telok Bediri”. Mereka tidak lupa mengundang pejabat pemerintahan untuk melakukan dialog, karena itu yang terpenting dari diadakannya acara tersebut.  Banyak kepala dinas maupun wakilnya yang hadir pada kegiatan itu, diantaranya dari Dinas Perhubungan, Dinas Kelautan, dan dinas lain yang terkait. Saat kegiatan sedang berlangsung, sebenarnya banyak rancangan kegiatan yang sudah mereka buat pada proposal kegiatan. Karena minimnya biaya, mereka memprioritaskan dua kegiatan, salah satunya adalah dialog dengan para pejabat. 

Alasan mereka melakukan hal tersebut, agar para petinggi pemerintahan tertarik untuk hadir. Banyak hal yang menjadi bahan dalam berdialog dengan pejabat pemerintahan yang hadir pada hari itu. Salah satunya mengenai cara dan potensi apalagi yang bisa mereka gali untuk memperkenalkan destinasi wisata mangrove, serta apa saja yang harus mereka lakukan dalam pembangunan infrastruktur jalan yang dapat mempermudah akses masuk ke mangrove sungai Kupah. Mereka juga tidak lupa dengan pertanyaan inti yang menjadi alasan utama diadakannya kegiatan tersebut, pertanyaan itu adalah “bagaimana mereka dapat mengajukan bantuan dana dalam membangun destinasi wisata ini?”. Rudi merasa senang karena banyak sekali informasi yang bisa mereka dapatkan dari kegiatan Kulminasi Telok Bediri, hal itu menjadi tantangan bagi mereka untuk mewujudkan hasil dari dialog yang mereka dapatkan.

Tidak ada perasaan menyesal walaupun banyak sekali tenaga, waktu dan uang yang terbuang untuk melaksanakan acara Kulminasi Telok Bediri. Perasaan bangga dan haru mengiringi sepanjang hari-hari berlangsungnya kegiatan dalam lingkup se-Kubu Raya itu. Bagi mereka, yang terpenting adalah mereka telah menunjukkan kepada warga sekitar, begitu juga kepada pejabat pemerintahan desa bahwa mereka dapat memperkenalkan desa sungai Kupah beserta destinasi wisata yang akan dibangun melalui kegiatan Kulminasi Telok Bediri. Hal ini akan menjadi langkah awal dalam pembangunan destinasi wisata mangrove sungai Kupah, karena mereka harus mengikuti arahan yang sudah didapatkan dari hasil berdialog dengan pejabat kabupaten dan kota. Mereka diminta untuk membuat kelompok pemuda yang bernaung dibawah Disporapar (Dinas kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata) Kabupaten Kuburaya. Kelompok itu bernama Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dengan Rudi sebagai ketua dari awal pembentukan hingga saat ini, dan akan melanjutkan masa jabatan pada periode kedua di tahun 2022.

Banyak hal yang harus mereka lakukan setelah berdialog dengan dinas-dinas yang hadir di hari itu. Mereka diminta membuat proposal untuk tahun 2019 dan diserahkan pada tahun 2018.  Ada dua proposal yang harus mereka sampaikan, karena mereka memiliki dua program dari kementerian yang berbeda. Program-program tersebut bernama dana DAK dari Disporapar kabupaten dan Program Bahari Kementerian Kelautan. Setelah penyerahan proposal selesai, mereka menunggu panggilan dari dua kementerian tersebut. Beberapa hari bahkan minggu hingga ke beberapa bulan waktu menunggu, tetap tak ada panggilan yang mereka dapatkan dari salah satu Kementerian itu. Rudi mengaku ia dan teman-temannya sedikit putus asa karena tidak ada panggilan dari Kementerian mengenai proposal yang mereka kirim.

Tepat di tahun itu juga, destinasi wisata yang sudah sedikit demi sedikit mereka perbaiki dengan pembuatan jalur masuk hingga ke pembuatan spot foto, dirusak oleh beberapa oknum yang tinggal tidak jauh dari mangrove sungai Kupah. Melihat itu, Rudi dan teman-temannya semakin merasa terpuruk. Namun, ia tidak membiarkan keterpurukan itu lebih lama. Rudi kembali bangkit dan bersemangat ketika melihat salah satu foto beserta kalimat unggahan dari RT tempatnya tinggal. Unggahan itu bukan pujian, melaikan kalimat menyinggung yang mampu membuat Rudi dan teman-temannya semakin bersemangat. “Jangan sakit hati, kita harus menunjukkan bahwa mangrove itu bukan hanya testimonial, kita perlihatkan bahwa kita serius dengan recana awal kita.” Ucap Rudi kepada temannya yang lain. 

Mereka kembali mencoba untuk membangun sesuatu yang sudah rusak dengan merangkul pemuda-pemuda lain yang ada di sungai Kupah. Rudi kembali mengajak mereka berkumpul pada kegiatan yang bertema “Kemah Akbar Pemuda Sungai Kupah” kegiatan ini dikhususkan untuk pemuda sungai Kupah.  Alasan diadakannya kegiatan ini agar Rudi dapat merangkul mereka semua dan membicarakan mangrove di desa mereka tersebut. Kegiatan yang berlangsung dalam satu malam itu diawali dengan bersenang-senang seperti membakar ayam, nonton bersama, lalu ketika menjelang subuh baru lah Rudi dan teman-temannya mengajak para pemuda untuk berbincang mengenai mangrove. Rudi bersyukur karena pemuda-pemuda sungai Kupah ingin ikut bersama dalam pembangunan mangrove dan meyakinkan warga serta pak RT bahwa mereka tidak hanya menjadikan mangrove itu sebagai testimonial, tapi mereka serius akan memperkenalkan merawat mangrove dan menjadikannya sebagai destinasi wisata.

Akhirnya, mereka melakukan kegiatan bersih-bersih dan merawat pada setiap hari. Ada yang menebas ruput, mengecat kayu di jalur masuk, dan ada yang memperbaiki spot foto dengan menggunakan kayu sebagai bahannya. Hal itu membuahkan hasil, pengunjung kembali berdatangan mengunjungi mangrove tersebut. Rudi menyadari, walaupun mereka berhasil kembali dalam membangun mangrove itu bersama pemuda-pemuda lain, mereka tetap dicemooh oleh beberapa warga.  “Tidak ada sesuatu yang sia-sia, ini langkah awal yang baik bagi kita sebagai pemuda yang seharusnya didukung, bukan dijatuhkan” ucapnya kepada teman-temannya. Sudah berhari-hari hingga berminggu-minggu mereka bersama memperbaiki kerusakan yang terjadi. 

Rudi dan teman-temannya berhasil menyelesaikan perbaikan yang mereka lakukan dan pembuatan spot foto baru di mangrove tersebut. mereka berhasil bekerja sama dengan berbagai instansi, organisasi hingga perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ada di Kalimantan Barat. ia mengaku merasa senang dengan respon orang-orang terhadap mangrove sungai Kupah. Biasanya, Rudi dan teman-teman akan bekerja sama dengan beberapa instansi dan organisasi pada peringatan hari yang berkaitan dengan lingkungan maupun menanam pohon. Kegiatan tersebut biasanya berisi pemungutan sampah di pesisir pantai juga penanaman pohon mangrove. Tanpa disadari, mereka sudah memiliki banyak relasi dengan berbagai organisasi dan instansi di Kalimantan Barat, tetapi tetap saja masih banyak yang merasa ekspektasinya tidak sesuai dengan realita.

Masih ada beberapa orang yang merasa kecewa dengan tampilan nyata dari mangrove sungai Kupah ketika tiba di tempat itu. Pernah ketika ada pendatang dari Jakarta yang penasaran dengan mangrove sungai Kupah. Ia dating jauh-jauh dari Pontianak menggunakan ojek online, namun karena terkendala maps dan gojek tidak sampai ke desa tersebut, alhasil ia membayar biaya ojek itu di luar dari aplikasinya. Untuk biaya pulang pergi menggunakn motor, ia menghabiskan uang sebesar 200.000 rupiah. Ketika tiba, ia termenung dengan tampilan nyata dari mangrove tersebut. Rudi tiba dengan menggunakan sepeda motornya, ia kembali menjelaskan dengan apa adanya. Tidak ada tamban maupun pengurangan dari penjelasannya itu, bahkan ia juga mengatakan mangrove ini tidak dibantu oleh dana dari pemerintah, murni dari pergerakan pemuda-pemuda sungai Kupah.

Masuk pada tahun 2019, Rudi dihubungi oleh pihak Disporapar kabupaten dan mengatakan bahwa mereka berhasil mendapatkan dana DAK sebesar 985 juta Rupiah dengan 7 item pembangunan. Tidak hanya itu, mereka juga dihubungi melalui gawai oleh pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan bahwa mereka mendapatkan satu pondok wisata. Mereka tidak sia-sia, kerja keras selama hampir dua tahun jatuh bangun dalam memperkanalkan mangrove ini kepada masyarakat luas. Semua sudah mereka terima, omongan buruk, cemoohan, hujatan, bahkan kata-kata menyinggung sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Namun, karena tidak ada kata berhenti dalam membangun distinasi wisata ini, kerja keras dan hasil menunggu itu membuahkan hasil. “Tidak ada yang sia-sia, kita berhasil menunjukkan bahwa kita mampu membawa mangrove ini menjadi objek wisata Kalimantan Barat” ucapnya kepada teman-temannya.

Awal tahun 2019, mereka kembali berdiskusi untuk mencari suatu yang baru. Sebelumnya mereka hanya menawarkan objek yang berupa destinasi wisata, tapi sekarang mereka harus mencari inovasi, menyadari bahwa mangrove sudah banyak di Kalimantan Barat, khusus Kubu raya sudah ada empat tracking mangrove. Berbagai inovasi sudah mereka lakukan, tetapi mereka merasa itu tidak akan mampu bersaing dengan yang lain. Rudi dan teman-temannya kembali berpikir inovasi apa yang dapat membantu mereka memperkenalkan destinasi wisata ini dengan cara yang tidak biasa. Akhirnya dengan segala pengalaman, mereka merasa ada baiknya apabila masyarakat dapat menanam pohon mangrove dengan mengikuti perkembangan pohon yang telah mereka tanam. Berdirilah satu kegiatan yang bernama mangrove digital. Mereka juga mendapatkan saran dari pengunjung lain mengenai adanya sertifikat penanaman pohon. 

Dengan berbagai macam saran yang didapat, mereka memutuskan untuk membuat sertifikat online bagi pengunjung yang telah menanam pohon mangrove. Berbagai inovasi sudah mereka lakukan, mereka juga melakukan perbaikan dan penambahan pada aplikasinya. Memasuki tahun berikutnya, yaitu 2020 Rudi mendapat pesan dari salah satu temannya. “Ini apa om?” tulisnya di kolom percakapan mereka, “ini pemuda pelopor, cocok untuk kamu yang sudah melewati berbagai macam perjalanan dalam membangun mangrove sungai Kupah”. Awalnya Rudi sendiri bingung, apa itu pemuda pelopor, tapi ia hanya mengikuti saran dan akhirnya memutuskan untuk ikut kompetisi itu. Berbekal pengalaman, dan dukungan dari masyarakat serta teman-teman seperjuangannya, ia menyalonkan diri itu mengikuti seleksi pemuda pelopor Kalimantan Barat yang diikuti oleh pemuda-pemuda di berbagai daerah Kalimantan Barat. 

Rudi diminta untuk megirim sebuah tulisan mengenai mangrove tersebut. Ia mengaku menuliskan apa adanya tanpa tambahan apapun, ia juga menjelaskan bahwa mereka sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk pembangunan destinasi wisata mangrove sungai Kupah. Tulisan itu disertai dengan bukti-bukti dokumentasi serta penjelasan dari isi dokumentasi tersebut. Dengan tulisan apa adanya dan dokumentasi yang serupa, ia dinyatakan lolos di tingkat provinsi. Rasa senang menghinggapi lelaki tinggi tersebut, ia diminta untuk menerangkan langsung mengenai tulisannya, namun secara virtual. Karena, pada saat itu  covid-19 sudah ramai di Kalimantan Barat, sehingga mereka tidak diizinkan untuk melakukan pertemuan tatap muka. Kurang lebih seminggu, ia dipanggil dan dinyatakan berhasil untuk masuk ke final pada tingkat provinsi. 

Berbagai tahapan-tahapan dalam penyeleksian ini diikuti Rudi, ia masih beroptimis walaupun ada beberapa ratus orang yang mengikuti kegiatan ini. mulai dari persiapan berkas-berkas, hingga ke pemilihan bidang, telah diikuti oleh Rudi. Saat masuk ke bidang lingkungan dan pariwisata, ia terkejut karena tidak hanya dia yang membahas atau membawa tema mengenai mangrove. Rudi kembali berpikir untuk mencari inovasi yang berbeda. Terlintas dalam ingatan bahwa ia harus membahas mengenai inovasi yang sudah ia lakukan di beberapa tahun terakhir. Akhirnya ia tidak mengangkat tentang destinasinya, melainkan mangrove sebagai objeknya. Rudi sudah percaya diri, apabila ia membahas tentang manfaatnya dan berkaitan dengan tracking mangrove, ia akan tersingkirkan di seleksi ini.

Pada seleksi ini, ternyata mereka diminta untuk menjelaskan langsung program kerja dan inovasi apa yang mereka tawarkan di kompetisi pemuda pelopor. Juri akan mendatangi tempat wisata mereka dan mereka diminta untuk memaparkan jawaban dari beberapa pertanyaan yang akan diajukan oleh juri nanti. Banyak kendala saat hari itu tiba, mereka diminta untuk menunggu juri hingga malam hari. hal ini terjadi karena Rudi adalah orang terakhir yang dikunjungi oleh juri. Perjalanan dari Pontianak menuju sungai Kupah saja sudah memakan waktu banyak. Akhirnya juri tiba pada malam hari dan kegiatan penilaian di lakukan dengan penerangan lampu. 

Setelah babak seleksi yang mendatangkan juri secara langsung, ia dinyatakan lolos masuk tingkat nasional. Pada tingkat ini, rudi di bimbing oleh juri-juri di tingkat Provinsi. Awalnya rudi merasa heran, pada tingkat ini, mereka diminta untuk menjelaskan materi dan menjawab pertanyaan juri dalam waktu 3 manit. Rudi kebingungan, bisakah ia menjelaskan perkembangan dari awal hingga sekarang pembangunan yang terjadi di sungai Kupah. Poin penting yang dibahasnya adalah, “apa itu mangrove digital?, bagaimana pengaplikasiannya? Dan apa dampak kepada masyarakat”. “Bagaimana mekanisme pengadaan mangrove digital itu?” tanya seorang juri yang berasal dari Bali. Setelah menyalakan microphone di zoom nya, Rudi menjelaskan tentang mekanisme dan juga income. 

Tidak hanya itu, ia kembali diberi pertanyaan terkait penggunaan mangrove digital di Pontianak dan Kalimantan Barat. “Baru kami pak yang menggunakan inovasi ini” jawab Rudi percaya diri. Di semua pertanyaan yang ia terima, Rudi tetap menjawabnya dengan kepercayaan diri dan keyakinan berbekal pengalaman. Berbgai tahapan kembali diikutinya hingga ke tahap pengumuman. Ia dinyatakan berhasil mengalahkan peserta sebanyak 2 orang dibidangnya dan 14 orang di segala bidang. Rudi berpikir mungkin ini seleksi terakhir, ternyata masih ada seleksi ketiga. Pada babak selanjutnya, Rudi akan bertemu dengan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia dalam satu bidang. Ia kembali dikagetkan dengan undangan yang meminta para peserta untuk hadir langsung di Jakarta, tidak secara virtual. 

Para peserta diminta untuk menyiapkan video dokumenter sebagai bahan presentasi mengenai tempat wisatanya.  Saat tiba di Jakarta dan bertemu dengan  peserta dari berbagai provinsi , perasaan gugup dan khawatir menyelimuti Rudi. ketika melihat pemaparan dan video dokumenter dari para pesaingnya yang terdiri dari dua orang di bidang lingkungan dan pariwisata, ia merasa miliknya sangat jauh berbeda dengan video milik lawannya. Namun, ia kembali mengingatkan diri sendiri, tidak ada yang tidak mungkin, iya harus yakin bahwa ia mampu mengalahkan peserta lain dan kembali ke Pontianak dengan piala yang membanggakan.

Dengan kesabaran dan rasa optimisnya, walau kepercayaan diri sempat menurun, ia dinyatakan menjadi juara kedua pada pemilihan pemuda pelopor Indonesia. Tidak dapat ditutupi rasa haru dan bangga kepada diri sendiri, karena ia mampu melewati berbagai macam tahap yang panjang hingga ke tahap terakhir. Ia berhasil mengharumkan nama Kalimantan Barat dengan potensi yang ia miliki. Ia sudah berniat, apabila ia berhasil menjadi juara pada kompetisi ini, ia akan memberikan uang binaannya kepada ibu tercinta sebagai pelopor utama di kehidupannya. Tidak habis di situ, banyak kompetisi yang diikuti Rudi dengan membawa nama mangrove sungai Kupah sebagai program kerjanya.

Akhir dari percakapan singkat saya dengan Rudi hartono, sesungguhnya tidak ada perbuatan baik yang sia-sia. Dulu yang ia lakukan agar mangrove tersebut dilirik pemerintah dan dibantu dalam pembangunan infrastrukturnya. Ia tidak menyangka bahwa mangrove yang ia dan teman-temannya bangun sekarang dapat membantunya membanggakan Kalimantan Barat dan juga keluarga.  “Kita tidak mungkin berjalan sendiri kak, semakin banyak orang yang berniat membantu, maka segalanya akan terasa mudah. Selalu bersikap baik dan tidak lupa untuk membantu sesama” Pesannya sebagai penutup pertemuan pada siang hari itu.

1. Gedung Utama

 


Inilah bangunan utama yang biasanya dijadikan sebagai aula pertemuan atau tempat berkumpulnya orang-orang yang berkunjung di sini. Dengan bangunan seluas itu, para pengunjung yang masuk ke dalam komunitas maupun organisasi yang sedang melaksanakan kegiatan, tidak merasa sesak. Bangunan ini berada di ujung jalan tempat berakhirnya jalur masuk mangrove, dapat dilihat bahwa hamparan lautan dapat dinikmati ketika sedang duduk santai di bangunan ini

2. Spot Foto

 


Gambar yang ada di foto ini adalah spot foto yang diceritakan oleh Rudi pada tulisan di atas. Spot foto ini berada di ujung jalan pertigaan dari mangrove sungai kupah. Apabila berfoto di sini, akan terlihat jelas pemandangan hamparan laut di belakangnya. Tidak hanya terdapat satu spot foto di mangrove sungai Kupah. Pengunjung dapat memilih segala tempat yang ada di mangrove sungai Kupah untuk dijadikan background fotonya.

3. Kantin dan Tempat Dokumentasi


Bangunan ini adalah tempat yang nantinya akan dijadikan kantin dan diisi oleh bermacam makanan. Sebelum dijadikan kantin, bangunan ini adalah tempat yang berisikan foto-foto atau dokumentasi pengunjung yang berasal dari komunitas maupun organisasi yang ada di Kalimantan Barat. Biasanya, para pengunjung yang dokumentasinya di abadikan atau ditempel di tempat ini sedang melakukan kegiatan berupa penanaman pohon Mangrove di pesisir.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman