Kembalinya Surga Penyu di Ekor Kalimantan - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 12 Oktober 2021

Kembalinya Surga Penyu di Ekor Kalimantan


Sumber gambar: Data Hasil Konservasi WWF

Korpora.id, Paloh - Deru ombak yang menghempas pantai membawa secercah harapan bagi kehidupan biota laut. Penyu-penyu yang bermigrasi menitipkan calon penerus masa depan mereka di bibir Pantai Sebubus. Perlahan namun pasti, mereka menunggu kedatangan buah hatinya untuk lahir dan meneruskan perjuangan mereka demi menjaga keasrian bawah laut dan isinya.

Pantai Paloh merupakan salah satu dari 12 pantai yang utama dalam pelestarian penyu di Indonesia dengan populasi penyu hijau yang cukup besar. Panjang bentang pantai peneluran Paloh berkisar ±63 Km yang merupakan habitat dari penyu hijau dan penyu sisik. Hal inilah yang membuat pantai Paloh menjadi pantai terpanjang tempat peneluran penyu di Indonesia.

Hendro Susanto, pria berusia 35 tahun yang menjadi koordinator program konservasi kelautan Kalimantan dari tahun 2015 menyatakan, waktu bertelur penyu sangatlah lama. “Lama waktu yang diperlukan bagi penyu untuk bertelur kembali ke pantai sekiar 30-50 tahun” ujarnya dengan nada tegas saat ditanya melalui wawancara daring pada Selasa, 8 September 2020. 

Hingga kini, pantai pesisir Paloh masih digemari penyu sebagai tempat menitipkan buah hatinya, karena kealamian pantai dari segi pasir, lingkungan, maupun airnya bagaikan surga dunia yang indah. Hal itu yang membuat penyu menjatuhkan pilihan pada pantai Paloh sebagai kawasan untuk menetaskan calon penerusnya. “Pantai Paloh tepatnya di Sebubus sangat digemari penyu-penyu untuk bertelur karena jauh dari keramaian orang-orang” ujarnya dengan semangat tinggi.

Pada tahun 2005, telur penyu di Paloh menjadi sumber akses terbuka sehingga masyarakat umum leluasa menjarahnya. Sehubungan dengan itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar memutuskan untuk melakukan upaya pengawasan terhadap perburuan telur penyu. Namun, hal itu masih tidak memiliki dampak apapun. Malah masyarakat semakin gila dalam memburu si bulat yang kaya protein. 

Untuk memulihkan populasi penyu di Paloh, maka tahun 2009 WWF Indonesia bersama dengan pihak lainnya seperti pihak kepolisian, kejaksaan, kehakiman, serta Dinas Kelautan dan Perikanan setempat membangun program penyadaran kepada masyarakat melalui mobilisasi peran aktif media cetak maupun elektronik dan dirangkaikan dengan penegakan hukum di wilayah Paloh. Sejak saat itu, populasi penyu kian meningkat dari tahun ke tahun. 

Dengan nada yang sedikit kecewa ia berkata “Pantai Temajuk dulunya memang terdapat beberapa sarang penyu, namun sekarang penyu-penyu enggan untuk bertelur di sana karena Pantai Temajuk sudah menjadi tempat wisata yang ramai pengunjung.”

Dari pengumpulan data tahun 2009 sampai 2012, peningkatan singnifikan penemuan sarang penyu terjadi di Pantai Sebubus. Walau meningkat, tetapi telur penyu tidak sempat diamankan karena diambil oleh masyarakat. Data WWF pada tahun 2009 dan 2010 menunjukkan, hampir 99% dan 95% sarang penyu hilang karena diambil secara ilegal. Namun, pada tahun 2011 dan 2012 jumlah hilangnya sarang menurun menjadi 26% dan 22%. 

Hilangnya sarang penyu membuat WWF yang berasal dari masyarakat sekitar dengan lembaga membentuk sebuah pengawasan yaitu Pokmaswas “Kambau Borneo” yang beranggotakan 27 orang. Pembentukan Pokmaswas Kambau Borneo membawa hasil signifikan dan amat baik dalam penyelamatan sarang penyu dari perburuan ilegal. Awalnya perburuan sarang penyu dengan tidak adanya Pokmaswas “Kambau Borneo” mencapai angka lebih dari 90%.  

Dari data pemantauan WWF Paloh, lebih dari 2.000 sarang penyu hijau (lebih dari 500 betina) per tahunnya berhasil dijumpai di pantai Paloh. Dikutip dari data WWF Paloh, produksi tukik di Paloh menunjukkan peningkatan yang baik yaitu mencapai 85%. Hal ini merupakan pencapaian yang baik sekaligus berbuah manis.

WWF Paloh dengan pihak lainnya tergerak untuk mengadakan strategi konservasi penyu agar penyu dapat berkembang dan tidak mengalami kepunahan. Strategi konservasi penyu yang ada di Paloh dilakukan dengan menetapkan dan mengolah kawasan konservasi, pengurangan eksploitasi penyu, serta pengurangan kematian penyu akibat aktivitas perikanan. Hal terpenting lainnya dalam konservasi di Paloh yaitu penyadartahuan kepada masyarakat agar berhenti dalam mengambil telur penyu untuk keperluan konsumsi. 

Pantai dapat dikatakan sebagai salah satu tempat kehidupan bagi beberapa makhluk seperti penyu. Penyu merupakan hewan migratori yang amat sensitif dengan adanya suara, getaran, dan cahaya. Walau demikian, penyu akan tetap pulang dan menitipkan buah hatinya di pantai pertama ia ditetaskan. Untuk itu, perlunya konservasi dalam menjaga kelestarian penyu dan alam menjadi tonggak utama bagi kelestarian penyu.

Jadi, ketika pantai Paloh tetap dijaga kealamian dan dijauhkan dari hiruk-pikuk manusia, dapat membuat penyu betah dan konservasi yang dilakukan dapat bertambah naik. Begitu pula sebaliknya, jika pantai Paloh rusak, maka akan berdampak pula secara global. “Penyu amat sensitif dengan cahaya dan getaran, untuk itu perlulah tempat yang tenang dan nyaman. Kita sebagai generasi mudah harus menjaga pantai Paloh. Jika pantai Paloh rusak maka akan berdampak buruk secara global” ujarnya.

 Penulis: Natasya Maulina

Penyunting: Angga Laena Siti Patimah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman