Kiat Menjadi Pengusaha di Tengah Pandemi - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 09 Oktober 2021

Kiat Menjadi Pengusaha di Tengah Pandemi

Penulis: Angga Laena Siti Patimah

Penyunting: Nisabani

                     Sumber: Rizal Edwin

          Korpora.id, Pontianak – Deru kendaraan beroda empat dan dua terdengar begitu jelas di simpang empat jalan Danau Sentarum. Terlihat sebuah kafe minimalis yang berada tepat di samping jalan, tetap berdiri tegak tak menyoalkan kebisingan berbagai kendaraan. Matahari siang ini kian menyengat, tetapi udara lagi-lagi terasa segar karena semilir angin yang tak henti bertiup.

          Sudah setengah jam berlalu, lelaki kelahiran Singkawang, 27 September 1982 ini menceritakan pengalaman yang sangat memotivasi dan menginspirasi. (Lihat Rizal Edwin: Menunda Kesenangan untuk Kenyamanan). Kini pada 30 November 2020, Edwin kembali siap berbagi tips mengenai membangun usaha di tengah pandemi.

          Alumni STIE IEU Yogyakarta dan HAM Yogyakarta ini menuturkan, sebelum membahas kewirausahaan. Sejatinya harus tahu terlebih dahulu manfaat dari berwirausaha. “Kewirausahaan itu adalah sesuatu yang seksi sekarang, kenapa? Jawabannya, karena sudah menjadi alternatif pertama untuk memenuhi kebutuhan hidup.” lanjutnya.

          Edwin mengatakan mengenai manfaat berwirausaha, "Manfaat sebenarnya, ya membuat kita jadi orang yang bermanfaat. Kan ada kalimat, ‘khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain.” tuturnya. Jeda lima detik Edwin kembali mengatakan, “Jadi, kalau kita kaya karena beriwrausaha, hal itu akan memudahkan beban orang lain.” tegasnya.

          Edwin menunjukkan deretan giginya yang rapi, “Jangan dipikir, kalau ada yang meminjam uang itu jadi masalah buat kita.” ujarnya tertawa, “Seharusnya, kalau orang lain meminjam itu kita harus senang, kenapa? Karena kita bersedekah tanpa memberikan sedekah setiap hari. Jadi berapa nilai pinjaman kita, itulah nilai sedekah kita.” jelas Edwin tersenyum.

          Pengusaha sekaligus dosen Kewirausahaan ini, mulai menuturkan pendapatnya mengenai seseorang yang berwirausaha di masa pandemi. Menurutnya, bukan sulit atau tidak sulit menjalankan usaha di tengah pandemi Covid-19.

"Kalau menurut saya, sebenarnya orang yang sedang berbisnis di masa pandemi ini adalah sebuah tuntutan, kenapa? Karena saat ini banyak yang terdampak, untuk berusaha juga terkadang kan susah.” jelasnya.

          Edwin menuturkan bahwa sebenarnya ada solusi untuk berjualan di tengah pandemi, yaitu dengan memilih empat kuadran bisnis. Menurut Edwin, di dalam buku Robert Kiyosaki ada yang namanya cashflow quadrant, membantu seseorang mencapai kebebasan finansial. Pertama E untuk Employee, kelompok orang yang bekerja sebagai karyawan. Contohnya bekerja untuk gaji, bekerja untuk sistem. Kedua, S untuk Self-Employed, merupakan kuadran dari kelompok yang memiliki usaha dalam profesi, contohnya dokter dan penulis. Edwin menghela napas sebentar dan melanjutkan penjelasannya, "Tetapi, kalau S ini jika dia tidak menjalankan tugasnya ya tidak dapat uang." tambahnya.

          Penjelasan Edwin yang ketiga, yaitu investor. Investor merupakan bagian dari investasi perusahaan. Ia kembali menjelaskan, "Namun untuk berinvestasi itu, apakah kita punya uang? Kalau kita punya milyaran bolehlah kita masuk sini. Nah yang bisa dimaksimalkan itu adalah B, Business Owner, kelompok orang yang mendapatkan penghasilan tanpa harus terlibat langsung kegiatan operasi.” jelas Edwin panjang lebar.

          Director Quick Management ini mengatakan ketika hendak berbisnis harus dikemas dengan cara yang kreatif, “Apa sih ilmu yang paling penting? Selain ilmu agama, politik, sosial, bisnis, dan ilmu umum lainnya?” tanyannya. “Ilmu yang penting adalah ilmu mencontek. Kalau kita ingin sukses, ilmu yang penting itu adalah mencontek, ketika kita bertemu orang yang sukses, kita lihat apa sebab mereka sukses. Maka selanjutnya, kita kembangkan untuk lebih baik dan berbeda, di sinilah letak kreatifnya.” jelasnya.

          “Intinya, dari empat kuadran yang saya jelaskan tadi, dari sisi kacamata pandemi h sekarang yang paling berpeluang adalah melakukan bisnis _owner._” ungkapnya. Jeda tiga detik, dengan air muka yang tiba-tiba menunjukan keprihatinan, direktur WIM Indonesia ini mengatakan, “Sayangnya,sekarang itu dunia kewirausahaan sedikit kurang dilirik. Padahal, sebenarnya kalau dari sudut pandang islam Rasulullah juga menyampaikan nilai-nilai islam melalui berdagang,” ujarnya sambil mengembuskan napas.

          “Salah satu buku saya itu, isinya tentang bagaimana kita meneladani sikap nabi dalam berwirausaha.” lanjut Edwin. Kemudian Edwin menuturkan, setiap pengusaha itu perlu mencontoh sifat-sifat nabi, yaitu sidik atau jujur, “Kita harus jujur jadi pengusaha, jadi pengusaha itu tidak boleh bohong. Apapun kualitasnya, bagaimana keadaan barangnya, kita harus jujur. Karena tidak ada orang yang senang dibohongi. Bagimana kalau kita dibohongi? Kan pasti tidak mau juga. Nah nabi itu senang, dan jago berbisnis karena beliau itu jujur.” Edwin tersenyum.

          Sifat kedua adalah amanah atau dapat dipercaya, “Ketika kita diberi modal uang atau  segala macam hal lainnya, harus dapat dipercaya oleh orang lain. Nah ketiga adalah fatanah. Pintar atau cerdas dalam mengelola usaha. Kalau dalam bahasa saya, artinya profesional. Dalam artian, kita mampu mengerjakannya, misalnya jadi seorang arsitek harus sesuai juga dengan keahlian dan bidangnya sebagai arsitek.” tegasnya.

          Direktur Usaha Kite mandiri ini, menjelaskan bahwa yang paling penting di antara semua nilai-nilai itu adalah tablig atau menyampaikan. Dalam dunia berwirausaha biasa disebut dengan proses marketing. Seseorang yang sedang berwirausaha harus memberitahu produk yang ditawarkannya.

"Coba ketika kalian ke toko atau pasar. Pasti selalu banyak orang-orang yang menawarkan, ‘Kak mau baju atau cari apa kak, singgah dulu kak.'" ujar Edwin menirukan orang yang berjualan.

          “Itu baru tablig, tapi kalau kita melewati sebuah toko dan penjualnya diam saja. Ya kemungkinan tidak laku-laku barangnya, karena tidak disampaikan atau ditawarkan.” ungkapnya. Edwin juga menjelaskan, bahwa dalam bisnis yang paling utama itu adalah silaturahmi. Ia mengatakan, “Tidak ada satu pun orang akan sukses jika ia tidak menjalankan silaturahmi.” ujarnya sembari menghela napas.

          Direktur CV. Cipta Media Kreasi ini mengatakan, jika seseorang mau berwirausaha harus belajar dan membutuhkan motivator. Edwin menjelaskan, “Kalau sudah termotivasi barulah kita perlu cari mentor.” tuturnya.

          Edwin kembali menerangkan, tujuan dari mentor sendiri adalah membuat diri untuk lebih terarah dengan apa yang ingin dilakukan sesuai dengan bidangnya. Ia berkata, “Saya ingin mejadi pengusaha property maka saya belajar sama orang jago property, saya ingin belajar EO saya belajar dengan orang-orang ahlinya EO.” tegas Edwin.

          Edwin menjeda ucapannya, lalu mengambil air minum di depannya. Setelah meneguk tak lebih dari satu menit ia melanjutkan penjelasannya, “Untuk pemula, bagaimana berbisnis di tengah pandemi? Langkah pertamanya adalah cari tahu apa yang dibutuhkan di zaman sekarang. Ada cara yang bisa dipakai untuk berbisnis, reseller dan droship. Reseller artinya bagaimana kita berbisnis, tetapi tidak perlu produksi. Ini bisnis yang paling keren untuk saat ini. Contohnya si A jualan kue basah, capek tidak jualannya?” tanya Edwin kemudian.

          Jeda satu detik Edwin melanjutkan, “Cape dong, beli telur, tepung dan lainnya. kan harus membuatnya dulu, tetapi ada cara lain. Kalau reseller orang buat, kita jual. Dilihat dari potensi pastinya dapat keuntungan. Tetapi, kita harus meningkatkan jualan kita, karena bisnis itu adalah faktor kali. Bukan jumlah harga yang dijual yang kita dapat untung melainkan berapa banyak produk yang sudah kita jual. Saya jualan handphone 1,5 juta dijual l,6 juta. Produk itu laku sepuluh buah, misalnya. Keuntungannya berapa? Ya satu juta.” jelas Edwin kemudain.

          Creativepreneur ini kembali menjelaskan, “Kategori pengusaha itu apa sih? Kategori pengusaha itu kan orang yang bisa menghidupi dirinya sendiri, bahkan orang lain dengan pendapatan yang dihasilkan. Tukang goreng pisang itu pengusaha bukan?” jeda sebentar Edwin melanjutkan, “Ya, pengusaha. Karena dia menghidupi keluarganya, anaknya.” ujarnya jelas.

          Edwin kembali mengungkapkan, membangun usaha itu harus dari sekarang, "Karena ketika kita berusaha sejak awal, maka akan mengalami ilmu percepatan." tuturnya.

          Publick Speaker Trainer ini menegaskan kembali,semakin banyak seseorang mencoba maka akan semakin cepat untuk sukses. Karena dengan mencoba, akan memiliki banyak pengalaman. Sementara, pembisnis yang paling bagus adalah bisnis yang dilakukan sekarang. Usaha tidak hanya dipikirkan melainkan dilakukan dan dieksekusi langsung.

          Pada akhir pembicaraan Edwin kembali menuturkan, "Bisnis yang paling keren adalah bisnis yang bukan hanya impian, namun harus diwujudkan dengan penuh perencanaan. Banyak sekali usaha yang bisa dilakukan di masa pandemi ini sebenarnya. Maka ada pertanyaan terakhir, apakah bisa menjadi pengusaha di tengah pandemi?” tanya Edwin.

“Jawabannya bisa jadi, bisa iya, bisa tidak. Itu tergantung lagi pada kemauan, ide, tekad, dan tuntutan kebutuhan.” tegasnya mengakhiri pembicaraan.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman