Makarana Hukum Adat Suku Dayak Kanayatn - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 12 Oktober 2021

Makarana Hukum Adat Suku Dayak Kanayatn

 


Sumber: Dokumentasi Tribun Pontianak

Korpora.Id, Pontianak - Selasa, 08 September 2020 Matahari yang bersinar di siang hari yang begitu panas tidak menghentikan langkah saya untuk bertemu dengan Yohanes S. Laon yang merupakan penulis sekaligus tokoh adat suku Dayak di Pontianak. 

Dalam percakapan yang asik Si Pria itu tertawa, dan berkata, “Pada saat ini masih ada ya, ada muda yang ingin tau tentang kebudayaan. Saya kira sudah tidak ada lagi, karena zaman dan teknologi yang semakin modern.” jelasnya. Percakapan dengan Pria ini diuturkan sebelum Ia menceritakan sejarah hukum adat suku Dayak.

Permirsa dalam vidio kali ini saya akan membahas tentang Makarana hukum adat suku dayak Kanayatn. Kalimantan Barat memiliki banyak suku, kebudayaan, adat-istiadat, dan hukum-hukum adat. Salah satunya adalah hukum adat Makarana suku Dayak Kanayatn khususnya di Pontianak Kalimantan Barat. 

“Hukum adat suku dayak Kanayatn terbagi menjadi dua yaitu, hukum darah putih dan hukum darah merah. Hukum darah putih adalah sanksi hukum adat yang dikenakan kepada orang yang bersikap dan betindak dengan penyimpangan-penyimpangan norma kehidupan bersama. Seperti peghinaan, pencurian, perampasan tanah, dan lainnya. Hukum darah merah adalah suatu hukum adat yang diberlakukan pada orang yang melakukan tindakan, yang membuat fisik orang lain menjadi rusak bahkan meninggal dunia.” tutur Yohanes S. Laon.

Ia juga mengatakan hukum adat suku dayak Kanayatn disusun beberapa abad yang lalu. Pada masa Nek Ramaga. Awalnya di Pakana Kecamatan Mempawah hulu kabupaten landak, kampung tertua, sebagai pusat kerajaan, dan disitulah suku dayak berkumpul menyepakati hukum adat tersebut, lalu hukum adat tersebut disusun dan disebarkan ke daerah aliran sungai sambas, aliran sungai Mempawah dan aliran sungai Landak. Pada saat sekarang hukum adat suku Dayak Kanayatn disebar luaskan di setiap daerah atau wilayah sampailah di kota Pontianak. 

Hukum peradilan adat adalah bagian dari kehidupan sosial masyarakat Dayak dan bagian dari kearifan lokal masyarakat Dayak untuk menciptakan suasana aman dan damai dalam kehidupan bermasyarakat. Hukum adat suku Dayak yang masih berlaku saat ini adalah upaya untuk memulihkan suasana yang tadinya menimbulkan keresahan dan amarah, agar dihilangkan dan dikembalikan lagi kepada kehidupan yang normal aman dan tentram. Juga hukum adat berfungsi untuk mengubah prilaku masyarakat supaya hidup sesuai dengan aturan adat istiadat yang ada. “

"Salah satu hukum adat yang masih ada dikalangan masyarakat Dayak di Pontianak adalah hukum Makarana dari suku Dayak Kanayatn, yang termasuk dalam hukum darah putih. Hukum ini merupakan hukum penghinaan dan pelecehan terhadap suatu kaum. Jika ada seseorang atau sekelompok orang yang melakukan penghinaan atau pelecehan dan korban yang dihina tidak dapat menerima penghinaan tersebut maka ia bisa melaporkan ke pihak adat dan orang yang menghina akan dikenakan hukum adat Makarana. Hukum adat ini terdapat pada pasal 88 undang-undang hukum adat Dayak Kanayatn hasil pusdat tahun1985, kemudian diteruskan pada hasil pusdat tahun 1991 ditetapkan oleh Temenggung (kepala adat).” tuturnya. 

Yohanes S. Laon mengatakan bahwa peradilan hukum adat Makarana dimulai dengan  ritual “Bapadak” yaitu Bapinta Kak Panyugu yang artinya meminta izin kepada penguasa wilayah setempat atau leluhur untuk melakukan adat di wilayah tersebut. Kemudian dilakukan adat “Bepipis” yaitu adat permulaan, seperti doa pembuka yang dipimpim oleh Payimang Panyagahatn.

Lalu dilanjutkan dengan ritual adat Nyangahatn Masak (pembacaan doa untuk adat) yang dilakukan oleh Iman Panyangahatn. Sebelum melakukan ritual adat disiapakan peragaan atau barang-barang yang diperlukan untuk adat, seperti tempayan, piring, mangkok, ayam, poek (beras pulut yang dimasak menggunakan bambu), tumpik, sirih, beras pulut, babi, lilin, beras kuning, air bunga, dan lainnya. Ketika semuanya sudah siap, maka ritual adat Nyangahatn pun dimulai dengan memukul loceng kecil yang dilakukan oleh iman Panyangahatn kemudian ia membacakan doa-doa. Setelah itu Iman Panyangahatn mengambil besar kuning dan menaburkan beras tersebut ke bagian depan juga ditaburkan kepada orang-orang yang mengikuti adat tersebut. Beras kuning memiliki arti untuk meminta keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa agar dijauhkan dari hal-hal yang buruk. Kemudian dilakukan pemberian makanan kepada roh-roh jahat, agar tidak menggangu orang-orang maupun wilayah-wilayah. Selanjutnya dilakukan penyiraman air bunga, fungsinya yaitu untuk menyirami adat, artinya untuk menyirai suatu perkataan yang buruk dan perlakuan yang buruk supaya suci dan dibersihkan.

“Dilakukan penjelasan peragaan adat, yaitu penjelasan tentang hukum Makarana yang termasuk ke dalam hukum darah putih. Juga peraga adat secara internal yang digunakan dalam Hukum Makarana adalah Kepal Jampang yaitu tempayan besar serta temapayan kecil-kecil yang digunakan sebagai bayaran adat. Lalu langkah berikutnya dilakukan pembacaan surat keputusan yang berisi hasil sidang adat Makarana.” jelasnya Yohanes S. Laon.

Lalu proses yang dilakukan berikunya adalah Macah Adat, yaitu penyerahan peraga-peraga adat kepada pihak yang terkait. Peraga yang dimaksud adalah barang-barang atau benda-benda hasil pembayaran adat dari pelaku yang melanggar hukum adat Makarana. Juga dibacakan berita acara sidang oleh pihak adat, dilakukan penandatangan berita acara oleh pihak-pihak yang hadir pada upacara adat, dan yang terakhir dilakukan permohonan maaf oleh pelaku yang melakukan pelanggaran adat Makarana. 

“Dengan melakukan peradilan adat atau upacara adat Makarana ini, maka secara hukum adat Dayak Kanayatn kesalahan dari seseorang yang melanggar hukum Makarana sudah dimaafkan dan dihapuskan.” tutur Yohanes S. Laon. 

Nama : Yeprarini

Penyunting : Monika Aprilia Tina


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman