Menilik Kisah Dibalik Riam Jajak Buru - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 11 Oktober 2021

Menilik Kisah Dibalik Riam Jajak Buru


Sumber: Dokumen Pribadi

Korpora.id, Seginah - Rabu, 28 0ktober 2020. Terik matahari mengiringi langkah kaki saya menuju Dusun Kunyit yang berjarak kira-kira 40 km. Meskipun jauh, tak surut tekad saya untuk memulai perjalanan sambil bergegas cepat menyalakan motor. Saya teringat dengan sebuah pantun yang berbunyi ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus.

Peluh menetes ke tubuh, meskipun jauh tetapku tempuh. Pantun singkat itu menggambarkan perjalanan saya yang cukup jauh dan melelahkan. Namun, terbayarkan dengan keindahan Riam Jajak Buru. 

“Riam” dalam bahasa setempat artinya “air terjun”, sedangkan “jajak” dalam arti bahasa Indonesia adalah “jejak”, dan “buru” berasal dari kata pemburu.

 Riam Jajak Buru adalah satu di antara objek wisata yang terletak di Dusun Kunyit, Desa Gombang, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Tempat wisata ini berada di tengah-tengah hutan, kira-kira 5 km dari Dusun Kunyit. 

Noriah (56) yang berbadan tinggi, berkulit hitam dan rambut yang memutih mulai menceritakan sejarah Riam Jajak Buru. 

“Pada zaman dulu, ada seorang pemuda yang bernama Bujakng Nyangko. Dia adalah pemuda yang sangat senang berburu di hutan dan selalu ditemani oleh anjingnya yang bernama Lako,” ujar Noriah memulai ceritanya dengan penuh semangat dan terlihat wajah yang berseri-seri.  

Saya pun antusias mendengar awal ceritanya. Tempat yang begitu indah ini ternyata memiliki kisah yang luar biasa dibalik keindahannya.

“Saat Bujakng Nyangko berburu di hutan, ia tidak pernah melihat ke bawah seperti manusia biasa. Namun, Bujakng Nyangko hanya bisa melihat ke atas karena ada pisau yang melekat di dalam tenggorokannya. Nama pisau itu adalah laga. Apabila ia melihat ke bawah maka ia bisa mati,” ujar Noriah dengan ekspresi yang membuatku terkejut.

Pada suatu hari, Bujakng Nyangko berburu di dekat Sungai Sangah. Saat diperjalanan tiba-tiba anjingnya berlari cepat mengejar hewan buruan, sehingga membuat Bujang Nyangko kehilangan jejaknya.

Meskipun begitu, Bujakng Nyangko tidak patah semangat untuk mengejar anjing Lako. Ia berlari dengan langkah yang cepat dan kepala yang selalu menengadah. Akhirnya, ia pun tiba di Sungai Sangah dan dengan langkahnya yang cepat ia meloncati batu besar di tengah-tengah sungai. Bujakng Nyangko pun meninggalakan sebuah jejak kaki di sana. 

Noriah bercerita dengan suaranya yang halus dan penuh kasih sayang. Ia seperti seorang pencerita yang professional.

Bujakng Nyangko merupakan seorang panglima yang memiliki kesaktian. Ia menggunakan kesaktiannya untuk melompati sungai sangah dan meninggalkan jejak kaki di batu besar di tengah-tengah sungai. Sampai sekarang pun jejak kaki itu masih ada.

“Itulah mengapa air Sungai Sangah disebut Riam Jajak Buru. Pasalnya jejak kaki Bujakng Nyangko sampai saat ini masih terukir di batu Sungai Sangah. Sebagai bentuk p enghormatan, masyarakat setempat menamainya Riam Jajak Buru,” ujar Noriah menutup kisahnya dengan mengukir senyum.

Noriah kembali menuturkan sambil men  atap saya dalam-dalam, “Riam Jajak Buru dulunya bukan tempat wisata dan jarang dikunjungi oleh masyarakat luar. Tempat ini bahkan dulunya menyeramkan karena banyak pohon-pohon besar yang ada di tepi sungai. Setelah tahun 2019, RT dan masyarakat setempat mulai memperbaiki dan memperkenlakan Riam Jajak Buru kepada masyarakat luar,” 

“Objek wisata ini dibuka setiap hari. Setiap  pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar lima ribu rupiah dan biaya parkir sebesar dua ribu rupiah. Uang tersebut disimpan sebagai uang kas masyarakat setempat,” ujar Noriah menutup pembicaraan kami sambil mengembangkan senyumnya lagi.

Waktu seakan berjalan begitu cepat, hingga tak terasa sudah 45 menit lamanya Noriah membagi cerita. Saya pun merasa sedih harus mengakhiri pertemuan kami.

Sampai saat ini, Riam Jajak Buru menjadi objek wisata yang banyak dikunjungi oleh orang-orang. Ingat ya, aku duduk sambil makan kue tar, mau masuk harus bayar. 

Ayo, kita berkunjung ke Riam Jajak Buru untuk melihat jejak kaki Bujakng Nyangko dan menikmati keindahan Riam Jajak Buru!

Penulis: Siska

Penyunting: Angga Laena Siti Patimah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman