Menunda Kesenangan untuk Kenyamanan - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 09 Oktober 2021

Menunda Kesenangan untuk Kenyamanan

Penulis: Angga Laena Siti Patimah

Penyunting: Dedy Ari Asfar

Sumber: Dokumentasi Pribadi

  Korpora.id, Pontianak – Semilir angin menerpa pori-pori kulit siang ini, cuaca begitu cerah dan damai. Meski matahari menyengat, udara tidak terasa panas seperti biasanya. Sekelompok laki-laki dari anak kecil hingga orang dewasa yang memakai baju kokoh putih berhamburan keluar masjid, termasuk laki-laki berumur 38 tahun yang dikenal sebagai seorang pengusaha dan motivator. Ia memakai koko putih berlengan pendek dan berpeci putih membawa kedua anaknya menggunakan motor metic menuju sebuah kafe di Danau Sentarum, tampilan yang begitu sederhana untuk ukuran seorang pengusaha.

          Sebuah kafe simpang empat di Danau Sentarum ini, menjadi saksi bisu Muhammad Rizwal Edwin menceritakan perjalanan hidup. Si tukang ngapi semangat nomor dua di Pontianak, motivator muda, pengurus UMKM Pontianak, tukang nulis hingga seorang dosen pengampu matakuliah Kewirausahaan di IAIN Pontianak dan Panca Bhakti ini biasa akrab dipanggil Edwin.

          Hari ini, Jumat 30 November 2020 dengan kerelaan hatinya Edwin menceritakan pengalaman yang sangat memotivasi dan menginspirasi. Garis wajah yang terlihat ramah dari sesosok pengusaha ini, menunjukkan bahwa ia senang berbagi pengalaman dan memotivasi banyak orang. Edwin mengatakan sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

          Seorang pengusaha yang bergerak di Event Organizer ini menuturkan, dirinya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Kedua orang tuanya dulu adalah seorang pedagang gado-gado dan membuka warung kopi. Ia anak ketujuh dari delapan belas bersaudara. Ia merasa kurang diperhatikan satu per satu oleh orang tua sebab anak yang banyak. Edwin hidup mandiri.

          Semenjak SMA, ia senang berjualan dan mengikuti banyak organisasi tanpa mengabaikan kewajibannya di bidang akademik. Bagi Edwin, dengan berwirausaha, seseorang bisa mengeksplor diri lebih. Ia menuturkan, "Nah berwirausaha itu membuat kita lebih mengeksplor diri. Ketika berwirausaha, kita akan menggali kemampuan diri, mengenali lebih jauh diri sendiri, dan tentunya lebih mandiri dari sebelumnya." ujarnya.

          Berwirausaha akan menjadi alternatif utama untuk memenuhi kebutuhan. Ketua HIPMI Kalbar Bidang Ekonomi Kreatif dan Pariwisata ini menegaskan, “Seseorang menjadi pengusaha itu karena dua hal, bisa jadi baik nasab atau baik nasib,” tuturnya. Jeda lima detik Edwin melanjutkan ucapannya, “Nah saya termasuk orang yang baik nasib,” bibirnya membentuk bulan sabit, tetapi matanya berkaca karena teringat masa lalunya.

          Edwin menjelaskan bahwa pengusaha baik nasab itu adalah memiliki keluarga yang telah menjadi pengusaha. Sementara baik nasib adalah orang yang tidak memiliki latar belakang pengusaha, tetapi dengan doa, kemauan, tekad yang kuat, dan terus berjuang tanpa henti ia bisa jadi pengusaha. Edwin berkata, “Saya dulu sewaktu kuliah di Yogyakarta, sering berjualan buku-buku islami, kajian, dan buku lainnya. Saya kirimkan barang-barang itu ke Pontianak untuk membayar biaya kuliah, saya senang melakukan semua itu,” lirih Edwin sedikit haru dengan pengalaman yang diingat, tetapi bangga menceritakannya.

          Edwin menuturkan bahwa ketika ia mengatakan ingin kuliah pada kedua orang tuanya, mamanya hanya menjawab, "Mau kuliah pakai apa, pakai daun?" Edwin tertawa kecil saat menceritakannya. Ia menjelaskan bahwa Allah itu Maha Kaya. Ia melanjutkan ceritanya, “Kalau Allah Kaya maka sepatutnya kita juga harus dan merasa kaya." Inilah tekad Edwin untuk menjadi seorang pengusaha.

          Kini, usaha yang ditekuni Edwin ada dua unit perusahaan, satu direktur Quick Management Pontianak, ada dua belas unit usaha di bawahnya, dari Quick EO, Quick Properti, Quick Education, Training, Konsultan, dan lainnya. Edwin menyatakan, “Yang jalan baru lima atau empat,” katanya.

          Kemudian usaha keduanya adalah UKM, Usaha Kita Mandiri ini lebih fokus pada perkembangan-perkembangan UKM, produk-produk UKM, termasuk pelatihan-pelatihan UKM. Edwin mengatakan berwirausaha itu adalah suatu hal yang baik, “Sebenarnya Rasulullah juga kan mengajari kita untuk berdagang, bahkan para pedagang nanti akan dikumpulkan dengan orang-orang yang mati syahid dan para nabi, tetapi syaratnya harus menjadi pedagang yang jujur dulu!” tegas Edwin. Ia kembali mengungkapkan, “Makanya saya menulis buku dengan judul, Ada Syurga di Bisnismu,” lanjutnya tersenyum lebar.

          Edwin kembali menegaskan, kewirausahaan ini penting, apalagi tidak ada orang kaya atau miskin, tetapi hanya ada orang yang kaya dan cukup. Edwin mengatakan, “Kalau kita kaya manfaatnya apa? Orang kaya itu manusia yang bermanfaat, orang meminta pinjaman? Kita bisa bantu. Kalau keluarga kita membutuhkan bantuan keuangan, kita tidak punya uang bagaimana? Jawabannya ya jadi pengusaha dulu, sedangkan usaha itu ada dua, bisnis sama dagang, itu pilihan."

          Pencapaian terbesar Edwin dalam berwirausaha adalah ia selalu belajar banyak hal pada senior-senior. “Di HIPMI saya belajar banyak dengan senior, saya berkomunikasi dengan senior-senior kami, Bang Sandiaga Uno, anak-anak menteri, dan orang kaya yang cukup menginspirasi.”

          Edwin memanfaatkan waktu dengan berorganisasi, “Dengan berorganisasi kita banyak relasi, saya dapat project kegiatan yang tidak sampai milyaran tetapi Alhamdulillah lumayan.” Edwin menghela napas, ia menjelaskan bisnis itu ibarat sekolah. Seseorang harus mengikuti prosesnya. Bahkan, ia harus ditempa terlebih dulu.

          “Saya pernah sekolah dan tahu bagaimana gagal, di bisnis pun sama, saya pernah rugi sampai 30 juta, event yang kecil-kecil sampai 15 juta, itu hal yang dianggap sebagai kegagalan.Tetapi, kegagalan sebenarnya adalah cara kita untuk menanggulangi jangan sampai kita gagal lagi.” Edwin menjeda kalimatnya, mengembuskan napas seraya berkata, “Pada intinya, menunda kesenangan itu adalah kunci agar kita sukses,” tegas Edwin.

          Edwin menerangkan cara untuk suskses sebenarnya bukan melihat orang sukses. Cara cepat sukses itu adalah belajar dari orang yang gagal. “Kalau kita lihat orang sukses, terkadang kita hanya melihat hasil tanpa proses dibelakangnya. Kita melihat orang punya mobil tanpa tahu perjuangannya untuk membeli mobil itu seperti apa.” ungkapnya.

          Edwin menegaskan setiap orang harus belajar dari orang lain. Misalnya, orang yang membeli mobil dengan kredit, “Nah itu sebaiknya jika tidak terlalu butuh maka simpan uangnya, tabung uangnya,” tuturnya.

“Ketika mengikuti seminar orang pakai mobil, saya pakai motor, malu tidak? Ya jelas malu, namun lebih malu mana sama orang yang pakai mobil tetapi kredit?” ujarnya bertanya. “Lebih baik uangnya ditabung dulu, baru sesudah terkumpul kita beli dengan merk yang baru,” lanjutnya.

          Edwin kembali menuturkan, ketika kita mencoba namun gagal maka kita akan menghabiskan seluruh jatah kegagalan dalam kehidupan. Lalu saat kita harus banyak mencoba dan menunda kesenangan maka bersiaplah untuk menyambut kenyamanan di masa yang akan datang.

"Kita harus rela menunda kesenangan, demi kenyamanan pada masa depan," ujarnya tegas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman