Mimpi Indah Sang Perintis Produksi Tahu - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 11 Oktober 2021

Mimpi Indah Sang Perintis Produksi Tahu

 

Sumber: Dokumen Pribadi

Korpora.id, Ketapang - Minggu, 2 November 2020. Kisah berawal dari hijrahnya Dikdik Kusnadi (38) dan keluarga kecilnya dari Jawa Barat ke Kalimantan Barat, tepatnya di Sungai Melayu tahun 2012. Dikdik memiliki perawakan tinggi besar dengan kulit bewarna coklat.

Dikdik bersama istri awalanya bekerja mencari emas dan masyarakat Ketapang menyebutnya dompeng. Tak lama bekerja, ia dan istri memutuskan untuk berhenti karena ada satu tragedi yang hampir menewaskannya. Dikdik kemudian mencoba bekerja di perkebunan sawit. Namun, tidak lama ia pun berhenti juga.

Sampailah disatu titik perubahan hidupnya, Dikdik dan istri mulai join di sebuah rumah produksi tahu Sungai Melayu. Mereka pun dari sana belajar memproduksi dan memasarkan tahu ke pasar-pasar.

Dikdik dengan memakai kaos hitam dan celana pendek biru menuturkan bahwa dalam memahami proses pembuatan tahu sangatlah mudah. Ia dari kecil sudah mengenal produksi tahu karena sang kakek juga memproduksi tahu. “Awalnya dari kakek buyut, baru nurun ke saya. Saya liat-liat kakek jadi tahulah sedikit-sedikit membuat tahu,” tutur Dikdik dengan logat Sunda yang bercampur Melayu.

Selama setahun di Sungai Melayu, Dikdik dan keluarga memutuskan lagi untuk hijrah ke Ketapang demi mencari peruntungan yang lebih baik. Di sini, ia kembali join di rumah produksi tahu milik temannya.

Sudah hampir tujuh tahun Dikdik bekerja memproduksi tahu. Banyak asam garam yang telah ia rasakan. Dikdik dan keluarga sudah merasakan pindah dari satu desa ke desa lain karena tempat produksi tahu yang tidak menetap. Namun, tetap saja semua ujian tidak memutuskan semangatnya.

Selama bekerja, Dikdik dan keluarga harus berbagi tempat tinggal dengan tempat produksi tahu. Satu sisi atap menjadi tempat tinggal mereka dan di sisi lainnya sebagai tempat produksi. Dikdik tidak mempermasalahkan hal itu, mengingat ia harus menabung untuk ketiga anaknya yang masih kecil. Ia dan keluarga tetap bersyukur masih bisa bekerja dan memiliki tempat tinggal.

Namun, malang tak boleh ditolak, mujur tak boleh diraih. Awal tahun ini, Dikdik diuji dengan musibah yang membuatnya harus hengkang dari tempat produksi tahu milik temannya. Bukan karna ia melakukan kesalahan, hanya saja ia memilih untuk berhenti karena ada beberapa alasan.

Didik menceritakan musibah yang menimpa tempat produksi tahu itu kepada saya. “Waktu itu, ada orang yang liat-liat saya buat tahu. Enggak tahu gimana jadinya, orang tersebut tecabor ke dalam kuali panas tempat kedelai dimasak. Keadaannya pun cukup parah,” tuturnya dengan rasa iba dan mata yang berkaca-kaca.

Istrinya pun membenarkan musibah itu ketika hendak duduk dengan kami. “Musibah itulah satu di antara alasan kami  untuk berhenti bekerja,” tutur Sri Budiarsih (40) dengan senyum manisnya.

Dikdik dan istri memutuskan untuk membeli tanah di Desa Tempurukan dengan hasil keringat mereka selama bekerja. Untung saja penjual tanah mau mengkreditkan tanahnya kepada Dikdik, sehingga ia bisa mencicil perbulan sambil mencari pekerjaan.

Ujian demi ujian telah mereka lalui dengan penuh kesabaran dan ketulusan. Sesuai dengan janji Allah SWT bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Allah SWT memberikan sebuah nikmat yang luar biasa kepada Dikdik, seperti durian jatok dalam ungkapan masyarakat Ketapang.

Flashback, saat Dikdik memutuskan berhenti, ia bertemu seorang teman sejawat yang mau membantunya meminjamkan modal. Dikdik dengan memasrahkan diri kepada Allah SWT, akhirnya mau menerima uluran tangan temannya. Ia bersepakat membagi hasil jualan tahu perharinya 50:50. Selain itu, Dikdik juga diajak untuk beternak ayam dan bebek di belakang rumahnya.

Setelah jalan dua bulan terakhir, di tanah yang Dikdik kredit sudah terbangun sebuah pondok yang lumayan besar. Satu sisi hanya ditutup dengan seng dan triplek sebagai tempat tinggal, sementara untuk halamannya dibiarkan terbuka dan hanya tertutup atap saja untuk tempat produksi tahu. Dikdik dan keluarga pun tetap bersyukur dengan keadaannya.

Dikdik menuturkan dengan rasa haru, “Awalanya saya enggak kepikiran punya pabrik sendiri karena modalnya besar. Modal tanah sama alat-alat bisa habis 60 jutaan, kalau udah punya tanah sih tinggal 40 jutaanan saja,” ungkapnya sambil menatap saya dalam-dalam.

Dikdik awalnya masih belum percaya ia mampu merintis rumah produksi tahu sendiri, apalagi di atas tanah yang ia beli dari hasil keringatnya. Namun, lambat laun ia meyakinkan diri untuk mampu  menerima semua dan berusaha untuk lebih giat lagi demi keluarga dan teman yang telah mempercayainya.

Dikdik pun mengakhiri kisah pilunya. Saya ikut baper mendengarkan kisah Dikdik dan keluarga. Ia sekarang fokus menjelaskan kepada saya proses pembuatan tahu miliknya. 

Ia menuturkan dengan penuh semangat, “Kalau pembutan tahu ini, sebenarnya enggak ada yang terbuang. Malahan kite bisa untong. Kedelai yang dibuat jadi tahu, ampasnya bisa jadi pakan ternak, dan air sisanya bisa disimpan untuk fermentasi besok atau dijadikan minuman sapi. Sehat-sehat lho sapinya,” jelas Dikdik sambil tertawa. 

Dikdik menuturkan satu persatu alat yang diperlukan untuk membuat tahu, yaitu ada penggilingan kedelai, ada tungku bakar tempat merebus kedelai, ada tempat penyaringan pati tahu dan ampas, dan terakhir ada tempat pres tahu yang masih dibuat tradisional. Untuk bahan utama tentunya adalah kedelai.

Dikdik kembali menuturkan, “Saya milih menggunakan resep dari kakek, yaitu membuat tahu seperti tahu sumedang. Jadi, tahunya dijual untuk tahu isi. Bentuknya agak lembut dan pas di goreng dalamnya enggak ada. Saya jual untuk orang jualan gorengan,” ungkapnya sambil tersenyum ramah.

Cara produksi tahu dikdik sebenarnya sama dengan cara memproduksi tahu lainnya. Pertama, kedelai akan digiling sampai halus. Kedua, kedelai yang telah halus dimasukkan ke dalam kuali dengan diberi air yang lumayan banyak, aduk hingga mendidih. Ketiga, air tahu akan disaring untuk memisahkan antara pati tahu dan ampas. Keempat, proses fermentasi yaitu pembentukan tahu agar bisa menggumpal. Kelima, proses membuat tahu dengan cara dipres, lalu dipotong sesuai ukuran.

Namun, ada satu resep yang membedakan pembuatan tahu miliknya, yaitu dalam proses fermentasi. Dikdik tidak menggunakan cuka, tepung tahu, air jeruk, atau bahan apapun yang membuat tahu itu menggumpal, tetapi ia menggunakan air sisa produksi tahu semalam untuk fermentasinya. Tahu milik Dikdik hanya mampu bertahan 3-4 hari saja.

Setiap hari, Dikdik mampu memproduksi 30 kg keledai dan semuanya habis terjual. Setiap gilingan kedelai, Dikdik batasi hanya 10 kg saja. 10 Kg kedelai itu dapat menghasilkan 800 biji tahu.

“Alhamdulillah, untuk 400 biji tahu saya jual seratus ribu rupiah. Kalo eceran di pasar, saya jualnya 4 biji seribu rupiah. Biasanya orang pasar akan beli pakai kantong. Jadi, satu kantong isinya 12 biji harganya tiga ribu rupiah dan mereka akan menjualnya lima ribu rupiah,” tutur Dikdik menjelaskan dengan penuh kesabaran.

Dikdik juga menuturkan bahwa hampir setiap hari pembeli akan singgah ke pondoknya untuk membeli dan menghabiskan kurang lebih 400 biji tahu.

Saya pun tertarik untuk mengetahui modal perhari yang Dikdik keluarkan. Ia pun melanjutkan tuturannya, “Untuk modal hanya beli kedelai 30 kg. 1 kg eceran kedelai sepuluh ribu rupiah, nah harganya tiga ratus ribu. Itu belum lagi bensin, kayu api, dan lain-lain. Jadi, modalnya kira-kira empat ratus ribuan.” 

Saya dapat menyimpulkan bahwa keuntungan dari produksi tahu Dikdik cukup besar perharinya. Ia mampu mendapatkan kurang lebih enam ratus ribu rupiah perhari. Baru kemudian dikurangi dengan modal, sehingga masih tersisa kurang lebih dua ratus ribuan. 

Dikdik membenarkan, “Kalo keuntungan paling enggak seratus lima puluh ribu sampai dua ratus ribu rupiah sudah di tangan, alhamdulillah,” tutup pembicaraannya.

Akhirnya, mimpi indah Dikdik dan keluarga bisa tercapai. Rumah produksi tahu miliknya bisa berdiri kokoh setelah tujuh tahun mencari peruntungan di tanah Kayong yang kaya ini.


Penulis: Reza Utami Sahutni

Penyunting: Siska

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman