Pesan untuk Milenial dari Makam Juang Mandor - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 09 Oktober 2021

Pesan untuk Milenial dari Makam Juang Mandor

Penulis: Angga Laena Siti Patimah

Penyunting: Reza Utami Sahutni


Korpora.id, Mandor – Matahari yang terik tak menyurutkan tekad untuk menemui Juru Kunci Makam Juang Mandor. Meski udara panas mencengkam, suasana di sekeliling Komplek Makam Juang Mandor terasa damai dan menyejukkan karena dapat memberikan pelajaran berharga di dalamnya. Tak jauh dari Makam Juang Mandor ada sebuah rumah milik seorang laki-laki berparuh baya berusia lebih dari setengah abad, Uca Suherman sang Juru Kunci Makam Juang Mandor. Ia mulai memutar kembali dimensi waktu saat ditemui pada pertengahan Agustus 2020, air mukanya menyiratkan kesedihan ketika hendak bercerita mengenai sejarah Makam Juang Mandor.

Siapa yang tak tahu tentang sejarah ini? Makam Juang Mandor di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak adalah bukti mengenai kejamnya para penjajah asal Jepang di Provinsi Kalimantan Barat sepanjang tahun 1942-1945. Uca menjelaskan, saat itu penduduk setempat termasuk raja-raja dijemput dengan alasan dijanjikan untuk disekolahkan ke Jepang. Akan tetapi bukan disekolahkan, mereka malah diangkut ke hutan rimba Desa Mandor yang sekarang menjadi Komplek Makam Juang Mandor.

Mereka dibunuh secara masal, para raja diperintahkan menggali lubangnya sendiri, melakukan ritual penyembahan matahari kemudian digiring kembali ke lubang masing-masing untuk dieksekusi mati. Sementara itu, warga matanya diikat dan mengantri untuk dibunuh menggunakan senjata tajam, hal ini terus berlangsung selama tiga tahun.

Uca menyeka keringat yang bercucuran di dahinya, ia kembali melanjutkan ceritanya dengan sejuta kesedihan. Sebanyak 21.037 jiwa penduduk Kalimantan Barat meninggal dunia dengan cara yang sadis, termasuk tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh di Provinsi Kalimantan Barat. Para pemuda telah mengorbankan nyawa untuk Indonesia. Saat itulah Kalbar mengalami lost generasi intelektual.

Tidak dapat dibayangkan, betapa perihnya perjuangan yang dilakukan untuk lepas dari penjajah saat itu. Kemerdekaan Indonesia saat ini, tentunya adalah bagian dari perjuangan mereka. Namun, sudahkah pemuda milenial hari ini belajar dari sejarah tersebut? Atau hanya sekadar dikenang? Sejatinya, sejarah bukan untuk dikenang melainkan harus selalu diperjuangkan.

Di monumen Makam Juang Mandor, terdapat sebuah tulisan, “Sejarah tidak cukup sekadar Anda kenang, tetapi kuharap Anda teruskan semangat juangmu untuk memerangi segala bentuk penjajahan.” Uca Suherman mengatakan, kalimat itu memiliki arti yang dalam karena mengajarkan bahwa penjajahan harus selalu diperangi agar tidak berkuasa dan berlaku sewenang-wenang kembali. Ia sepakat bahwa penjajahan hingga kini masih ada, bentuk korupsi di berbagai bidang misalnya. Menurut dia, korupsi itu adalah penjajah uang rakyat.

 


Tegasnya lagi, penjajah itu adalah segala bentuk sikap yang mengambil dan merampas hak rakyat. Selain itu, ia mengingatkan bahwa hal ini sebagai teguran untuk generasi muda agar berhati-hati ketika menjadi seorang pemimpin kelak. Narkoba juga dapat merusak generasi muda secara langsung, “Bagaimana mau mempertahankan negara jika jalan saja terhuyung-huyung. Bagaimana bisa membuat negara maju dengan ketidaksadaran!” tegasnya dengan nada terdengar kesal.

Belum selesai sampai di situ, ia menjelaskan bahwa ada tugas yang belum terselesaikan dari para pejuang yang telah gugur di Makam Juang Mandor yang seharusnya diselesaikan oleh para generasi milenial. Menurut Uca Suherman, sebagai pemuda, memiliki kewajiban untuk menyelesaikan perjuangan. “Kalian harus menentukan tujuan, yang penting tujuan tersebut harus membuat bangsa ini lebih baik dari sebelumnya, ” kata dia dengan semangat yang menyala.

Ia menjelaskan perjuangan yang belum terselesaikan adalah selama “penjajah” di negara ini masih berdiri tegak, perjuangan perlu dilanjutkan. Generasi milenial saat ini jangan sampai terlalu bersantai dalam bertindak. Menuntut ilmu misalnya, generasi milenial harus melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Di zaman ini pendidikan sudah semakin mudah dan terjangkau, disertai teknologi yang terus berkembang, hal ini tinggal bagaimana pemuda memanfaatkannya untuk memajukan bangsa dan negara. Namun, Uca mengingatkan pula bahwa teknologi bisa menjadi penjajah baru jika tidak bisa dimanfaatkan dengan baik.

Intelektual muda harus tahu tujuan dari hidup terutama bagaimana menghapus penjajah di negeri ini. Ia mengingatkan bahwa semua cengkaraman yang ada di Bhineka Tunggal Ika menunggu berdirinya kalimat, ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’.

Kapan terwujud, ujarnya setengah bertanya. Semua itu tergantung di tangan pemuda, generasi milenial saat ini. “Kalau Covid-19 yang sekarang ditakuti, itu sudah menjadi bagian dari takdir Allah untuk menegur seluruh dunia. Tetapi, jika bangsa tidak maju bagaimana? Bukankah maju mundurnya suatu bangsa itu juga berada pada tangan pemudanya? Terlebih generasi milenial sekarang,” tuturnya, matanya sendu.

Jeda lima detik ia menjelaskan, semua sepakat bahwa Bhineka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetapi satu tujuan. Namun apapun latar belakang, tujuannya tetap pada sila ke satu, ‘Ketuhanan yang Maha Esa’. Uca menegakkan badannya, “Bapak pesankan Pancasila kepada kalian generasi muda milenial penerus bangsa, kampus-kampus dan mahasiswa harus tahu bahwa semua umat beragama yang berbeda tadi pasti semuanya membutuhkan kemanusiaan yang adil dan beradab!” pungkasnya, pupil matanya membesar.

Beragam sudah pesan yang terucap dari Ucu Suherman, sang Juru Kunci Makam Juang Mandor bagi generasi milenial. Kaum milenial sebagai tongkat estafet bangsa selanjutnya, harus melakukan perjuangan dan menghapus segala bentuk penjajahan apapun yang ada di dunia termasuk Indonesia. Semoga para generasi milenial dapat kembali mengobarkan semangat para pejuang yang telah gugur, melanjutkan perjuangan untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi. Selamat bertumbuh dan semangat berjuang untuk generasi milenial!

Penulis: Angga Laena Siti Patimah

Penyunting: Reza Utami Sahutni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman