Raibnya Patung Gusar - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 09 Oktober 2021

Raibnya Patung Gusar

Penulis: Tessa Lonika

Penyunting: Angga Laena Siti Patimah


Korpora.id, PontianakSebuah maha karya bentang alam hijau terhampar luas di bawah kaki Bukit Muncak. Tegakan pohon-pohon rindang dan gemercik air yang jernih. Dikaki pegunungan yang hijau nan sejuk tak jauh dari sungai yang mengalir deras dengan bebatuan dan pantai kecil yang elok. Jauh dari hiruk pikuk kehidupan manusia. Tepat di tengah hutan, di bawah sebuah pohon beringin yang berumur ratusan tahun terdapat sebuah batu yang menyerupai seorang wanita menggendong bayi. Batu ini serukuran betis orang dewasa. Warga menyebutnya dengan nama Patung Gusar.

Patung Gusar adalah patung yang berada di daerah Sepauk Hulu, desa Sungai Segak, tepatnya di dusun Temiang Empakan, dan berada di dalam hutan jauh dari pemukiman warga. Warga menyebut atau mengenal tempat itu dengan nama Buku. Namun, saat ini patung tersebut tidak lagi berada di tempatnya, tanpa ada yang tahu dimana keberadaanya saat ini.

Kakek kelahiran tahun 1940-an itu tengah duduk di teras rumah dengan gulungan tembakau dimulutnya. Sambil menikmati nyanyian burung serta sinar mentari pagi dan ditemani secangkir kopi. Kakek Amping, begitulah orang-orang memanggilnya. Beliau adalah temenggung desa pada 40 tahun silam.

Perkampungan yang sangat jauh dari keramaian kota, kampung yang sejuk dengan pohon-pohon yang rindang, nyiur melambai-lambai, angin bertiup dengan sepoi-sepoi. Anak-anak dengan bebas bermain ke sana kemari bercengkerama sepuasnya, kokok ayam bersahutan menandakan perkampungan yawng sangat bersahabat dengan lingkungan.

“Pada tahun 1980 pertama kalinya patung Gusar ini hilang. Gusar dicuri oleh orang yang yang tidak bertanggung jawab.” Kata beliau dengan dialek bahasa Dayak yang masih kental.

Beliau langsung bercerita mengenai kronologi kejadian hilangnya patung Gusar ini, sambil meyeruput kopi hitam.

“Sekitar tiga bulan menghilang, barulah ada kabar ditemukannya patung gusar.”

Patung gusar dijual ke Sanggau kepada orang yang bernama Aji Menari yang merupakan warga pendatang dari bugis. Berita hilangnya patung Gusar juga terdengar sampai kepada Aji Menari. Dia curiga dengan patung yang baru saja dia beli. Ternyata ciri-ciri dari patung yang hilang sama persis dengan yang berada di tempatnya. Segeralah ia laporkan kepada pihak yang berwajib.

Kemudian, setelah pelaku pencurian patung gusar ditemukan, pelaku diadili sehingga terlaksananya sidang terbuka di Kabupaten Sintang. Sidang ini diikuti saya selaku temenggung desa dan beberapa warga setempat. Namun setelah persidangan selesai, terdengar kabar bahwa pelaku pencurian meninggal dunia dengan kondisi perut yang membesar.”

Sesekali kakek Amping menggulung kertas polos berwarna putih dan digulungnya kertas itu yang berisikan beberapa helai tembakau sembari bercerita. Setelah persidangan yang memakan waktu itu selesai dan keputusan telah didapat, patung Gusar dibawa kembali ketempat asalnya. Kendaraan dahulu masih menggunakan tranportasi air. Perjalanan pulang membawa patung Gusar memakan waktu berhari-hari. 

Suara gemercik sungai bernyanyi gembira seakan memberitahukan kepada ikan-ikan bahwa patung Gusar akan dibawa kembali ke tempat asalnya. Begitupun angin berbisik lembut kededaunan sehingga menari ria. Deru mesin perahu pun terdengar menyemangati sanubari. Selama diperjalanan beberapa kali istirahat di pemukiman warga. Ketika berhenti di suatu wilayah, selalu ada orang-orang yang turun kesungai untuk melihat dan memberi sesajian, ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat karena Gusar ditemukan. Sesajian yang diberikan berupa uang, rokok, pinang, kapur, dan sirih.

Dalam perjalanan, patung Gusar ini tidak boleh diletakkan disembarang tempat dan harus dipangku atau digendong oleh orang tertentu, yaitu haruslah wanita yang bersuku Dayak Sekubang. Hal ini karena konon katanya wanita Dayak Sekubang merupakan keturunan dari dayangnya gusar. Masyarakat mempercayai bahwa jika patung Gusar berwarna kuning keemasan artinya dia menyukai sesajian yang diberikan kepadanya. Sedangkan jika ada yang membuatnya kurang senang maka warna patung Gusar berubah sedikit lebih gelap dari biasanya.

 

Perjalanan dimulai dari kota sintang. Rute pertama melewati perairan Sungai Kapuas yang dalam dan luas. Sesekali berpapasan dengan perahu-perahu lain, ada yang ke hilir adapun yang ke hulu. Orang-orang tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Perjalanan ditempuh tanpa henti sebelum di tempat perhentian, yaitu di muara Sungai Sepauk.

Perhentian pertama yaitu di muara Sungai Sepauk, tepatnya di Kecamatan Sepauk. Banyak sekali orang-orang yang sudah menunggu bahkan berbondong-bondong datang ke tepian sungai untuk melihat dan memberi sesajian seperti rempah-rempah dan sebagainya kepada patung Gusar, baik anak kecil maupun orang tua.

Setelah melakukan perjalanan lagi, rasa Bahagia pun bercampur aduk dengan rasa takut, khawatir, dan cemas. Perjalanan masih sangat panjang. Medan yang dilalui juga tidak terlalu bersahabat. Banyaknya kayu-kayu di dalam sungai yang dapat menyebabkah perahu nyangkut serta warna sungai yang sangat menakutkan menemani perjalanan ini. Untuk perhentian kedua yaitu di daerah yang bernama Sirang Setambang. Begitu juga yang dilakukan masyarakat dengan berbondong-bondong datang ke tepian sungai untuk melihat dan memberikan beberapa sesajian.

Seberapa saat kemudian, perjalanan pun tetap harus dilanjutkan meskipun rasa kantuk dan lelah menyelimuti. Tiada angin tiada ribut, entah apa penyebabnya sebuah pohon besar tumbang menghalangi jalan kami. Perjalanan pun sedikit tertunda. Kami bekerja sama untuk menyingkirkan dahan-dahan pohon yang menghalangi jalan dan arus sungai yang akan kami lewati. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan seperti semula.

Perhentian ketiga yaitu di daerah yang bernama Libau. Warga juga berbondong-bondong turun ke sungai, tetapi ada juga beberapa masyarakat yang merasa takut karena patung ini sangat dikeramatkan. Selain memberikan sesajian kepada patung Gusar, warga juga menyuguhkan kami makanan dan minuman untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Perhentian keempat yaitu di daerah yang bernama Temanang. Begitu juga dengan warga di situ tidak kalah dengan daerah sebelumnya, orang-orang datang menghampiri untuk melihat patung Gusar secara langsung. Tapi ada yang aneh, ntah kenapa tidak ada seorang pun anak kecil datang menghampiri perahu yang kami gunakan untuk membawa patung Gusar. Mungkin anak-anak merasa ketakutan atau memang dilarang orang tuanya.

Perhentian kelima yaitu di daerah yang bernama Bernayau. Daerah ini masyarakat mayoritas bersuku Dayak Sekubang, yaitu suku yang dapat mengadakan ritual bagi patung Gusar. Suka cita tergambar jelas di wajah masyarakat. Mereka juga merasa bahagia mengetahui keadaan patung Gusar, ditemukan dan akan kembali ke tempat asalnya. Perjalanan yang kami tempuh sudah lebih dari separuh, tinggal hitungan jam untuk sampai ke tempat tujuan, yaitu tempat asal dari patung Gusar.

Perhentian keenam yaitu di daerah yang bernama Nanga Pari. Masyarakat sangat antusias dan bahagia ketika mengetahui bahwa patung Gusar ditemukan dan akan dikembalikan di tempat semula. Perjalanan yang ditempuh untuk sampai ketujuan sekitar 30 menit lagi. Dengan keantusiasan masyarakat, mereska berbondong-bondong mengikuti kami. Ada yang melewati jalur air dan adapun yang melewati jalur darat.

Sesampainya patung tersebut warga setempat menyambutnya dengan gembira. Rasa lelah kami pun terbayar melihat ekspresi bahagia mereka, yang bahkan membuat rasa lelah kami sirna. Perjuangan yang tidak sia-sia.

Setelah itu, Masyarakat berkumpul untuk melakukan kesepakatan, bahwa sebaiknya patung Gusar ini tidak diletakkan di tempat semula. Lebih baik dan demi keamanan diletakkan sekitar pemukiman warga. Ada masyarakat yang menyetujui dan ada beberapa lagi yang tidak menyetujuinya. Oleh karena yang menyetujui lebih banyak maka diputuskan patung Gusar ditempatkan di area permukiman. Masyarakat memutuskan untuk melakukan upacara adat untuk meletakkan atau memindahkan patung Gusar ke dekat permukiman dengan rapi dan telit

Upacara adat pun dilaksanakan, setiap warga mengumpulkan benang merah, beras putih, beras merah, beras kuning, beras ketan, telur, ayam, kambing, rempah-rempah, dan beberapa hasil ladang lainnya. Setiap masyarakat saling bekerja sama, ada yang mencari kayu bakar, ada yang mendirikan tenda, ada yang membuat tungku. Ritual dilaksanakan diluar rumah. Masyarakat tampak sibuk dengan peranannya masing-masing.

Berbagai jenis makanan pun dibuat, mulai dari olahan berbahan dasar tepung beras dan ketan, rasa tawar, manis maupun asin, semua dibuat untuk bahan-bahan ritual, bertujuan untuk dipersembahkan kepada patung Gusar dengan senang hati. Segala jenis makanan yang telah dibuat dan sesajian lainnya dipersembahkan dihadapan Gusar, masing-masing persembahan berjumlah tujuh buah. Ritual ini juga dilaksanakan pada hari ke tujuh yaitu hari Minggu.

Masyarakat juga melaksanakan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur. Acara makan bersama pun dilaksanakan, baik orang tua maupun anak-anak. Menurut ritual pamali jika ada yang tidak kebagian makanan jika menghadiri acara ini. Selagi makan ada petuah-petuah yang disampaikan oleh orang tua dalam bentuk dongeng secara lisan. Kakek tua itu berdiri di tengah kerumunan masyarakat dengan badan yang tidak begitu tegak menyampaikan dongeng. Anak-anak dengan seksama mendengarkannya bercerita.

Setelah acara pemindahan selesai ntah sebab cuaca atau malapetaka. Hari mulai mendung, petir dan guntur saling sambar menyambar, hujan turun dengan sangat derasnya. Berhari-hari keadaan tidak berubah ibarat tiada lagi harapan. Sungai mulai meluap, banjir besar pun tidak dapat terelakan lagi. Daerah yang merupakan dataran tinggi dengan catatan tidak pernah banjir juga terkena banjir. Bukit-bukit runtuh yang mengakibatkan rumah-rumah warga rusak dan hanyut. Bahkan sampai menelan korban jiwa.

Pertanda yang diberikan oleh patung Gusar lewat mimpi seseorang mengatakan bahwa patung Gusar marah karena dipindahkan dekat permukiman. Dia tidak sanggup mencium bau menyengat, seperti bau arang atau bau bakar-bakar seperti daging. Dia merasa terganggu dengan aktivitas manusia serta hiruk pikuknya keadaan di tengah permukiman. Inilah yang menambah kepercayaan masyarakat sekitar sehingga mengkeramatkan patung Gusar. Masyarakat kembali melakukan upacara untuk pemindahan patung Gusar ke tempat asalnya.

Acara pemindahan ke tempat asalnya pun dilaksanakan. Tanpa mengulur-ulur waktu lagi, segala keperluan ritual sudah tersedia tak kurang satu pun. Pada saat pemindahan patung ke tempat asalnya patung Gusar digendong wanita paruh baya bernama Sulia dan diiringi tarian dengan irama gong, sebelum keberangkatan beberapa orang menembakkan suara senapan. Setelah sampai di tempat tujuan, ritual berikutnya yaitu memandikan patung Gusar. Sesepuh kumat-kamit membaca mantra dengan harapan agar patung Gusar itu bersih, lepas dari segala bau-bauan yang kurang sedap di perkampungan, lepas dari hiruk pikuk masyarakat. Setelah itu patung Gusar diletakkan ke tempat asalnya. Orang-orang secara bergiliran menyerahkan sesajian ke hadapan patung Gusar.

Setelah patung Gusar sudah ditempat asalnnya, banyak sekali orang-orang datang untuk meminta permohonan kepada patung Gusar. Mulai dari meminta hasil panen yang melimpah, meminta keturunan, meminta penyembuhan bagi yang sakit, dan permohonan-permohonan kecil masyarakat lainnya. Hal ini mereka lakukan karena sangat mengkeramatkan dan percaya kepada patung Gusar. Masyarakat pada waktu itu yakin bahwa patung Gusar dapat mengabulkan berbagai permintaan mereka.

Anehnya patung Gusar itu dapat berubah mimik mukanya. Dikala senang wajahnya tampak manis seperti membagikan senyuman. Tetapi jika ada yang membuatnya kurang senang maka wajahnya berubah agak muram. Meminta atau memohon sesuatu kepada patung Gusar masyarakat menamainya dengan nama ngajat.

Ada satu cerita, sepasang suami istri yang sudah lama bersama, namun belum dikaruniai keturunan. Mereka datang kepada patung Gusar untuk memohon agar dikaruniai anak. Beberapa waktu kemudian, benar saja sang istri mengandung.

Sebelum melahirkan, ibu yang sedang mengandung itu didatangi wanita cantik dalam mimpinya. Dia benar-benar wanita yang cantik nan rupawan, rambutnya panjang terurai, kulitnya kuning langsat, dia tampak seperti wanita yang sempurna. Kemudian dia mengatakan bahwa dirinya adalah Gusar. Dia menyatakan bahwa anak yang akan dilahirkan berjenis kelamin perempuaan, dan harus dinamai Ratu Mas Tuya. Benar saja bayi yang lahir berjenis kelamin perempuan dan dinamai Ratu Mas Tuya. Tidak dapat dipungkiri lagi, kepercayaan masyarakat terhadap patung Gusar yang dapat mengabulkan permohonan semakin kuat. Setelah patung Gusar berada di tempat asalnya, masyarakat datang silih berganti. Baik itu masyarakat setempat maupun masyarakat dari luar daerah.

Bertahun-tahun kemudian untuk kedua kalinya masyarakat dibuat gempar karena kehilangan patung Gusar yang sudah dikeramatkan itu. Dengan kepanikan yang menghantui, warga pun mencarinya kesegala arah. Ada yang mencari ke daerah perbukitan, ada yang mencari di daerah sekitar sungai takutnya hanyut terbawa arus sungai yang deras. Namun usaha tersebut nihil. Masyarakat tidak menemukan keberadaan patung Gusar.

Sekitar tiga atau empat bulan waktu berlalu, dengan ajaib patung gusar ditemukan di tempat semula dengan keadaan yang sudah tidak sempurna lagi. Di punggung patung terdapat lubang seukuran jari telunjuk dan tangan kiri sudah terpotong tanpa diketahui di mana keberadaan potongannya.

Walaupun demikian masyarakat sekitar masih sering mengunjungi patung Gusar tersebut sebagai bentuk kepercayaan untuk meminta atau memohon sesuatu. Meskipun bentuknya sudah tidak sesempurna dahulu. Bagi masyarakat setempat, sempurna atau tidaknya patung Gusar tetaplah bagian dari masyarakat. Tahun 1998 patung Gusar ini benar-benar hilang dan tidak ditemukan sampai saat ini. Usaha pencarian pun dilakukan tapi tidak membuahkan hasil. Masyarakat menggunakan berbagai cara, meskipun demikian usaha masyarakat sia-sia belaka. Patung Gusar tidak ditemukan juga.

Hari berganti hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, patung Gusar pun tak kunjung ditemukan, ntah di mana keberadaannya. Masyarakat selalu mencari dan mencari, menunggu dan menunggu, kerinduan selalu menyelimuti lubuk hati yang dalam, patung Gusar hilang begitu saja tanpa meninggalkan pesan dan sirna begitu saja.

Namun, tempat dimana patung ini berada masih ada hingga saat ini. Tetapi jarang dikunjungi karena berada jauh di dalam hutan. Warga yang pernah kesana mengatakan bahwa tempat tersebut masih ada dan tampak bersih seperti ada yang membersihkannya, seakan-akan ada seseorang yang selalu merawat tempat tersebut. Walaupun dikelilingi pohon-pohon yang rindang tetapi sekitar 3 M2 tempat patung Gusar disandarkan selalu bersih, tak satupun dedaunan dan ranting-ranting yang berserakan.

Waktu berlalu begitu saja, hingga suatu waktu patung Gusar bukan lagi menjadi bahan pembicaraan warga. Warga benar-benar sudah hampir melupakannya. Hingga pada tahun 2016 masyarakat kembali sepakat untuk membuat duplikat patung Gusar menggunakan bahan sejenis perunggu, yang dibuat menyerupai bentuk patung aslinya. Hal ini bertujuan agar generasi-generasi penerus tidak melupakan sejarah yang pernah ada di daerahnya.

Masyarakat mengusulkan kepada kepala daerah, kepala daerah sangat menyetujui usulan seperti itu. Tidak perlu menunggu waktu lama, beberapa bulan kemudian duplikat patung Gusar itu pun selesai dibuat. Kemudian masyarakat bergotong royong untuk membangun sebuah rumah yang nantinya akan digunakan untuk menempatkan duplikat patung Gusar tersebut. Setelah semuanya selesai, patung tersebut diletakkan di tengah kampung yaitu KM 64, jl. Kayu Lapis, desa Sungai Segak

Pertengahan tahun 2017 duplikat patung Gusar ini kembali hilang dicuri orang yang tidak bertanggung jawab. Saat itu tidak ada yang menyadari dan tidak ada yang mengetahui pasti kapan hilang duplikat patung Gusar tersebut. Ketika ada yang datang mengunjungi patung itu, baru menyadari kalau patung itu sudah tidak berada di situ.

Kebetulan saat itu desa tersebut sedang mengadakan sebuah turnamen yang mendatangkan banyak orang luar keluar masuk desa. Sejak saat itu, tidak ada yang mengetahui keberadaan patung Gusar baik yang asli maupun duplikatnya, yang tersisa hanyalah kenangan patung tersebut dan rumah tempat tinggalnya.

Dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang dapat disalahkan, sudah saatnyaa patung Gusar pergi, pergi untuk selamanya, pergi dan tak akan kembali. Di kesunyian malam, seorang kakek renta duduk di teras rumah sambil melamun menatap gemerlapnya bintang, pikirannya melayang dalam kerinduan yang tiada berujung. Dia merindukan sesuatu yang tak mungkin terwujud. Cerita patung Gusar tinggal cerita, meninggalkan kenangan yang mendalam. Generasi zaman sekarang tidak lagi bisa melihat patung Gusar bahkan mereka pun tidak mengetahui ceritanya sama sekali. Semuanya seperti mimpi yang hilang sirna seperti ditelan kegelapan malam.

Masih terukir jelas di hati sanubari, bayang-bayangmu yang berkilauan keemasan sungguh rupawan. Engkau meninggalkan kenang-kenangan tanpa jejak, perkampungan hanyalah tempat persinggahan belaka tidak lebih. Kerinduan ibaratkan pungguk merindukan bulan. Sangat disayangkan jika kisah ini hilang begitu saja, dan Gusar dianggap dongeng semata, yang terlintas hanyalah bayang-bayang semu. Pasrah sudah, harapan hanya tinggal harapan, kenangan pun hanya tinggal kenangan tidak mungkin terulang lagi. 

Kenangan dan harapan membaur menjadi satu, hancur berkeping-keping bagaikan debu yang berterbangan. Tinggalkan harapan dan menyisakan kenagan yang takkan sirna. Sebuah maha karya bentang alam hijau terhampar luas di bawah kaki Bukit Muncak. Tegakan pohon-pohon rindang dan gemercik air yang jernih. Dikaki pegunungan yang hijau nan sejuk tak jauh dari sungai yang mengalir deras dengan bebatuan dan pantai kecil yang elok. Jauh dari hiruk pikuk kehidupan manusia. Tepat di tengah hutan, di bawah sebuah pohon beringin yang berumur ratusan tahun terdapat sebuah batu yang menyerupai seorang wanita menggendong bayi. Batu ini serukuran betis orang dewasa. Warga menyebutnya dengan nama Patung Gusar.

Patung Gusar adalah patung yang berada di daerah Sepauk Hulu, desa Sungai Segak, tepatnya di dusun Temiang Empakan, dan berada di dalam hutan jauh dari pemukiman warga. Warga menyebut atau mengenal tempat itu dengan nama Buku. Namun, saat ini patung tersebut tidak lagi berada di tempatnya, tanpa ada yang tahu dimana keberadaanya saat ini. Kakek kelahiran tahun 1940-an itu tengah duduk di teras rumah dengan gulungan tembakau dimulutnya. Sambil menikmati nyanyian burung serta sinar mentari pagi dan ditemani secangkir kopi. Kakek Amping, begitulah orang-orang memanggilnya. Beliau adalah temenggung desa pada 40 tahun silam.

Perkampungan yang sangat jauh dari keramaian kota, kampung yang sejuk dengan pohon-pohon yang rindang, nyiur melambai-lambai, angin bertiup dengan sepoi-sepoi. Anak-anak dengan bebas bermain ke sana kemari bercengkerama sepuasnya, kokok ayam bersahutan menandakan perkampungan yawng sangat bersahabat dengan lingkungan.

 “Pada tahun 1980 pertama kalinya patung Gusar ini hilang. Gusar dicuri oleh orang yang yang tidak bertanggung jawab,” ucap beliau dengan dialek bahasa Dayak yang masih kental.

Beliau langsung bercerita mengenai kronologi kejadian hilangnya patung Gusar ini, sambil meyeruput kopi hitam.

“Sekitar tiga bulan menghilang, barulah ada kabar ditemukannya patung Gusar,”

Patung Gusar dijual ke Sanggau kepada orang yang bernama Aji Menari yang merupakan warga pendatang dari bugis. Berita hilangnya patung Gusar juga terdengar sampai kepada Aji Menari. Dia curiga dengan patung yang baru saja dia beli. Ternyata ciri-ciri dari patung yang hilang sama persis dengan yang berada di tempatnya. Segeralah ia laporkan kepada pihak yang berwajib.

Kemudian, setelah pelaku pencurian patung Gusar ditemukan, pelaku diadili sehingga terlaksananya sidang terbuka di Kabupaten Sintang. Sidang ini diikuti saya selaku temenggung desa dan beberapa warga setempat. Namun setelah persidangan selesai, terdengar kabar bahwa pelaku pencurian meninggal dunia dengan kondisi perut yang membesar.”

Sesekali kakek Amping menggulung kertas polos berwarna putih dan digulungnya kertas itu yang berisikan beberapa helai tembakau sembari bercerita. Setelah persidangan yang memakan waktu itu selesai dan keputusan telah didapat, patung Gusar dibawa kembali ketempat asalnya. Kendaraan dahulu masih menggunakan tranportasi air. Perjalanan pulang membawa patung Gusar memakan waktu berhari-hari. Suara gemercik sungai bernyanyi gembira seakan memberitahukan kepada ikan-ikan bahwa patung Gusar akan dibawa kembali ke tempat asalnya. Begitupun angin berbisik lembut kededaunan sehingga menari ria. Deru mesin perahu pun terdengar menyemangati sanubari.

Selama diperjalanan beberapa kali istirahat di pemukiman warga. Ketika berhenti di suatu wilayah, selalu ada orang-orang yang turun kesungai untuk melihat dan memberi sesajian, ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat karena Gusar ditemukan. Sesajian yang diberikan berupa uang, rokok, pinang, kapur, dan sirih.

Dalam perjalanan, patung Gusar ini tidak boleh diletakkan disembarang tempat dan harus dipangku atau digendong oleh orang tertentu, yaitu haruslah wanita yang bersuku Dayak Sekubang. Hal ini karena konon katanya wanita Dayak Sekubang merupakan keturunan dari dayangnya gusar.

Masyarakat mempercayai bahwa jika patung Gusar berwarna kuning keemasan artinya dia menyukai sesajian yang diberikan kepadanya. Sedangkan jika ada yang membuatnya kurang senang maka warna patung Gusar berubah sedikit lebih gelap dari biasanya.

Perjalanan dimulai dari kota sintang. Rute pertama melewati perairan Sungai Kapuas yang dalam dan luas. Sesekali berpapasan dengan perahu-perahu lain, ada yang ke hilir adapun yang ke hulu. Orang-orang tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Perjalanan ditempuh tanpa henti sebelum di tempat perhentian, yaitu di muara Sungai Sepauk.

Perhentian pertama yaitu di muara Sungai Sepauk, tepatnya di Kecamatan Sepauk. Banyak sekali orang-orang yang sudah menunggu bahkan berbondong-bondong datang ke tepian sungai untuk melihat dan memberi sesajian seperti rempah-rempah dan sebagainya kepada patung Gusar, baik anak kecil maupun orang tua.

Setelah melakukan perjalanan lagi, rasa Bahagia pun bercampur aduk dengan rasa takut, khawatir, dan cemas. Perjalanan masih sangat panjang. Medan yang dilalui juga tidak terlalu bersahabat. Banyaknya kayu-kayu di dalam sungai yang dapat menyebabkah perahu nyangkut serta warna sungai yang sangat menakutkan menemani perjalanan ini.

Untuk perhentian kedua yaitu di daerah yang bernama Sirang Setambang. Begitu juga yang dilakukan masyarakat dengan berbondong-bondong datang ke tepian sungai untuk melihat dan memberikan beberapa sesajian.

Beberapa saat kemudian, perjalanan pun tetap harus dilanjutkan meskipun rasa kantuk dan lelah menyelimuti. Tiada angin tiada ribut, entah apa penyebabnya sebuah pohon besar tumbang menghalangi jalan kami. Perjalanan pun sedikit tertunda. Kami bekerja sama untuk menyingkirkan dahan-dahan pohon yang menghalangi jalan dan arus sungai yang akan kami lewati. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan seperti semula.

Perhentian ketiga yaitu di daerah yang bernama Libau. Warga juga berbondong-bondong turun ke sungai, tetapi ada juga beberapa masyarakat yang merasa takut karena patung ini sangat dikeramatkan. Selain memberikan sesajian kepada patung Gusar, warga juga menyuguhkan kami makanan dan minuman untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Perhentian keempat yaitu di daerah yang bernama Temanang. Begitu juga dengan warga di situ tidak kalah dengan daerah sebelumnya, orang-orang datang menghampiri untuk melihat patung Gusar secara langsung. Tapi ada yang aneh, ntah kenapa tidak ada seorang pun anak kecil datang menghampiri perahu yang kami gunakan untuk membawa patung Gusar. Mungkin anak-anak merasa ketakutan atau memang dilarang orang tuanya.

Perhentian kelima yaitu di daerah yang bernama Bernayau. Daerah ini masyarakat mayoritas bersuku Dayak Sekubang, yaitu suku yang dapat mengadakan ritual bagi patung Gusar. Suka cita tergambar jelas di wajah masyarakat. Mereka juga merasa bahagia mengetahui keadaan patung Gusar, ditemukan dan akan kembali ke tempat asalnya. Perjalanan yang kami tempuh sudah lebih dari separuh, tinggal hitungan jam untuk sampai ke tempat tujuan, yaitu tempat asal dari patung Gusar.

Perhentian keenam yaitu di daerah yang bernama Nanga Pari. Masyarakat sangat antusias dan bahagia ketika mengetahui bahwa patung Gusar ditemukan dan akan dikembalikan di tempat semula. Perjalanan yang ditempuh untuk sampai ketujuan sekitar 30 menit lagi. Dengan keantusiasan masyarakat, mereska berbondong-bondong mengikuti kami. Ada yang melewati jalur air dan adapun yang melewati jalur darat.

Sesampainya patung tersebut warga setempat menyambutnya dengan gembira. Rasa lelah kami pun terbayar melihat ekspresi bahagia mereka, yang bahkan membuat rasa lelah kami sirna. Perjuangan yang tidak sia-sia.

Setelah itu, Masyarakat berkumpul untuk melakukan kesepakatan, bahwa sebaiknya patung Gusar ini tidak diletakkan di tempat semula. Lebih baik dan demi keamanan diletakkan sekitar pemukiman warga. Ada masyarakat yang menyetujui dan ada beberapa lagi yang tidak menyetujuinya. Oleh karena yang menyetujui lebih banyak maka diputuskan patung Gusar ditempatkan di area permukiman. Masyarakat memutuskan untuk melakukan upacara adat untuk meletakkan atau memindahkan patung Gusar ke dekat permukiman dengan rapi dan teliti.

Upacara adat pun dilaksanakan, setiap warga mengumpulkan benang merah, beras putih, beras merah, beras kuning, beras ketan, telur, ayam, kambing, rempah-rempah, dan beberapa hasil ladang lainnya. Setiap masyarakat saling bekerja sama, ada yang mencari kayu bakar, ada yang mendirikan tenda, ada yang membuat tungku. Ritual dilaksanakan diluar rumah. Masyarakat tampak sibuk dengan peranannya masing-masing.

Berbagai jenis makanan pun dibuat, mulai dari olahan berbahan dasar tepung beras dan ketan, rasa tawar, manis maupun asin, semua dibuat untuk bahan-bahan ritual, bertujuan untuk dipersembahkan kepada patung Gusar dengan senang hati. Segala jenis makanan yang telah dibuat dan sesajian lainnya dipersembahkan dihadapan Gusar, masing-masing persembahan berjumlah tujuh buah. Ritual ini juga dilaksanakan pada hari ke tujuh yaitu hari Minggu.

Masyarakat juga melaksanakan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur. Acara makan bersama pun dilaksanakan, baik orang tua maupun anak-anak. Menurut ritual pamali jika ada yang tidak kebagian makanan jika menghadiri acara ini. Selagi makan ada petuah-petuah yang disampaikan oleh orang tua dalam bentuk dongeng secara lisan. Kakek tua itu berdiri di tengah kerumunan masyarakat dengan badan yang tidak begitu tegak menyampaikan dongeng. Anak-anak dengan seksama mendengarkannya bercerita.

Setelah acara pemindahan selesai ntah sebab cuaca atau malapetaka. Hari mulai mendung, petir dan guntur saling sambar menyambar, hujan turun dengan sangat derasnya. Berhari-hari keadaan tidak berubah ibarat tiada lagi harapan.

Sungai mulai meluap, banjir besar pun tidak dapat terelakan lagi. Daerah yang merupakan dataran tinggi dengan catatan tidak pernah banjir juga terkena banjir. Bukit-bukit runtuh yang mengakibatkan rumah-rumah warga rusak dan hanyut. Bahkan sampai menelan korban jiwa.

Pertanda yang diberikan oleh patung Gusar lewat mimpi seseorang mengatakan bahwa patung Gusar marah karena dipindahkan dekat permukiman. Dia tidak sanggup mencium bau menyengat, seperti bau arang atau bau bakar-bakar seperti daging. Dia merasa terganggu dengan aktivitas manusia serta hiruk pikuknya keadaan di tengah permukiman. Inilah yang menambah kepercayaan masyarakat sekitar sehingga mengkeramatkan patung Gusar. Masyarakat kembali melakukan upacara untuk pemindahan patung Gusar ke tempat asalnya.

Acara pemindahan ke tempat asalnya pun dilaksanakan. Tanpa mengulur-ulur waktu lagi, segala keperluan ritual sudah tersedia tak kurang satu pun. Pada saat pemindahan patung ke tempat asalnya patung Gusar digendong wanita paruh baya bernama Sulia dan diiringi tarian dengan irama gong, sebelum keberangkatan beberapa orang menembakkan suara senapan.

Setelah sampai di tempat tujuan, ritual berikutnya yaitu memandikan patung Gusar. Sesepuh kumat-kamit membaca mantra dengan harapan agar patung Gusar itu bersih, lepas dari segala bau-bauan yang kurang sedap di perkampungan, lepas dari hiruk pikuk masyarakat. Setelah itu patung Gusar diletakkan ke tempat asalnya. Orang-orang secara bergiliran menyerahkan sesajian ke hadapan patung Gusar.

Setelah patung Gusar sudah ditempat asalnnya, banyak sekali orang-orang datang untuk meminta permohonan kepada patung Gusar. Mulai dari meminta hasil panen yang melimpah, meminta keturunan, meminta penyembuhan bagi yang sakit, dan permohonan-permohonan kecil masyarakat lainnya. Hal ini mereka lakukan karena sangat mengkeramatkan dan percaya kepada patung Gusar. Masyarakat pada waktu itu yakin bahwa patung Gusar dapat mengabulkan berbagai permintaan mereka.

Anehnya patung Gusar itu dapat berubah mimik mukanya. Dikala senang wajahnya tampak manis seperti membagikan senyuman. Tetapi jika ada yang membuatnya kurang senang maka wajahnya berubah agak muram. Meminta atau memohon sesuatu kepada patung Gusar masyarakat menamainya dengan nama ngajat.

Ada satu cerita, sepasang suami istri yang sudah lama bersama, namun belum dikaruniai keturunan. Mereka datang kepada patung Gusar untuk memohon agar dikaruniai anak. Beberapa waktu kemudian, benar saja sang istri mengandung.

Sebelum melahirkan, ibu yang sedang mengandung itu didatangi wanita cantik dalam mimpinya. Dia benar-benar wanita yang cantik nan rupawan, rambutnya panjang terurai, kulitnya kuning langsat, dia tampak seperti wanita yang sempurna. Kemudian dia mengatakan bahwa dirinya adalah Gusar. Dia menyatakan bahwa anak yang akan dilahirkan berjenis kelamin perempuaan, dan harus dinamai Ratu Mas Tuya. Benar saja bayi yang lahir berjenis kelamin perempuan dan dinamai Ratu Mas Tuya.

Tidak dapat dipungkiri lagi, kepercayaan masyarakat terhadap patung Gusar yang dapat mengabulkan permohonan semakin kuat. Setelah patung Gusar berada di tempat asalnya, masyarakat datang silih berganti. Baik itu masyarakat setempat maupun masyarakat dari luar daerah.

Bertahun-tahun kemudian untuk kedua kalinya masyarakat dibuat gempar karena kehilangan patung Gusar yang sudah dikeramatkan itu. Dengan kepanikan yang menghantui, warga pun mencarinya kesegala arah. Ada yang mencari ke daerah perbukitan, ada yang mencari di daerah sekitar sungai takutnya hanyut terbawa arus sungai yang deras. Namun usaha tersebut nihil. Masyarakat tidak menemukan keberadaan patung Gusar.

Sekitar tiga atau empat bulan waktu berlalu, dengan ajaib patung gusar ditemukan di tempat semula dengan keadaan yang sudah tidak sempurna lagi. Di punggung patung terdapat lubang seukuran jari telunjuk dan tangan kiri sudah terpotong tanpa diketahui di mana keberadaan potongannya.

Walaupun demikian masyarakat sekitar masih sering mengunjungi patung Gusar tersebut sebagai bentuk kepercayaan untuk meminta atau memohon sesuatu. Meskipun bentuknya sudah tidak sesempurna dahulu. Bagi masyarakat setempat, sempurna atau tidaknya patung Gusar tetaplah bagian dari masyarakat.

Tahun 1998 patung Gusar ini benar-benar hilang dan tidak ditemukan sampai saat ini. Usaha pencarian pun dilakukan tapi tidak membuahkan hasil. Masyarakat menggunakan berbagai cara, meskipun demikian usaha masyarakat sia-sia belaka. Patung Gusar tidak ditemukan juga.

Hari berganti hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, patung Gusar pun tak kunjung ditemukan, ntah di mana keberadaannya. Masyarakat selalu mencari dan mencari, menunggu dan menunggu, kerinduan selalu menyelimuti lubuk hati yang dalam, patung Gusar hilang begitu saja tanpa meninggalkan pesan dan sirna begitu saja.

Namun, tempat dimana patung ini berada masih ada hingga saat ini. Tetapi jarang dikunjungi karena berada jauh di dalam hutan. Warga yang pernah kesana mengatakan bahwa tempat tersebut masih ada dan tampak bersih seperti ada yang membersihkannya, seakan-akan ada seseorang yang selalu merawat tempat tersebut. Walaupun dikelilingi pohon-pohon yang rindang tetapi sekitar 3 M2 tempat patung Gusar disandarkan selalu bersih, tak satupun dedaunan dan ranting-ranting yang berserakan.

Waktu berlalu begitu saja, hingga suatu waktu patung Gusar bukan lagi menjadi bahan pembicaraan warga. Warga benar-benar sudah hampir melupakannya. Pada tahun 2016 masyarakat kembali sepakat untuk membuat duplikat patung Gusar menggunakan bahan sejenis perunggu, yang dibuat menyerupai bentuk patung aslinya. Hal ini bertujuan agar generasi-generasi penerus tidak melupakan sejarah yang pernah ada di daerahnya.

Masyarakat mengusulkan kepada kepala daerah, kepala daerah sangat menyetujui usulan seperti itu. Tidak perlu menunggu waktu lama, beberapa bulan kemudian duplikat patung Gusar itu pun selesai dibuat. Kemudian masyarakat bergotong royong untuk membangun sebuah rumah yang nantinya akan digunakan untuk menempatkan duplikat patung Gusar tersebut. Setelah semuanya selesai, patung tersebut diletakkan di tengah kampung yaitu KM 64, jl. Kayu Lapis, desa Sungai Segak.

Pertengahan tahun 2017 duplikat patung Gusar ini kembali hilang dicuri orang yang tidak bertanggung jawab. Saat itu tidak ada yang menyadari dan tidak ada yang mengetahui pasti kapan hilang duplikat patung Gusar tersebut. Ketika ada yang datang mengunjungi patung itu, baru menyadari kalau patung itu sudah tidak berada di situ. 

Kebetulan saat itu desa tersebut sedang mengadakan sebuah turnamen yang mendatangkan banyak orang luar keluar masuk desa. Sejak saat itu, tidak ada yang mengetahui keberadaan patung Gusar baik yang asli maupun duplikatnya, yang tersisa hanyalah kenangan patung tersebut dan rumah tempat tinggalnya.

 

Dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang dapat disalahkan, sudah saatnyaa patung Gusar pergi, pergi untuk selamanya, pergi dan tak akan kembali.

 

Dalam kesunyian malam, seorang kakek renta duduk di teras rumah sambil melamun menatap gemerlapnya bintang, pikirannya melayang dalam kerinduan yang tiada berujung. Dia merindukan sesuatu yang tak mungkin terwujud.

 

Cerita patung Gusar tinggal cerita, meninggalkan kenangan yang mendalam. Generasi zaman sekarang tidak lagi bisa melihat patung Gusar bahkan mereka pun tidak mengetahui ceritanya sama sekali. Semuanya seperti mimpi yang hilang sirna seperti ditelan kegelapan malam.

 

Masih terukir jelas di hati sanubari, bayang-bayangmu yang berkilauan keemasan sungguh rupawan. Engkau meninggalkan kenang-kenangan tanpa jejak, perkampungan hanyalah tempat persinggahan belaka tidak lebih. Kerinduan ibaratkan pungguk merindukan bulan.

 

Sangat disayangkan jika kisah ini hilang begitu saja, dan Gusar dianggap dongeng semata, yang terlintas hanyalah bayang-bayang semu. Pasrah sudah, harapan hanya tinggal harapan, kenangan pun hanya tinggal kenangan tidak mungkin terulang lagi.

 

Kenangan dan harapan membaur menjadi satu, hancur berkeping-keping bagaikan debu yang berterbangan. Tinggalkan harapan dan menyisakan kenagan yang takkan sirna.

 

 Sebuah maha karya bentang alam hijau terhampar luas di bawah kaki Bukit Muncak. Tegakan pohon-pohon rindang dan gemercik air yang jernih. Dikaki pegunungan yang hijau nan sejuk tak jauh dari sungai yang mengalir deras dengan bebatuan dan pantai kecil yang elok. Jauh dari hiruk pikuk kehidupan manusia. Tepat di tengah hutan, di bawah sebuah pohon beringin yang berumur ratusan tahun terdapat sebuah batu yang menyerupai seorang wanita menggendong bayi. Batu ini serukuran betis orang dewasa. Warga menyebutnya dengan nama Patung Gusar.

 

Patung Gusar adalah patung yang berada di daerah Sepauk Hulu, desa Sungai Segak, tepatnya di dusun Temiang Empakan, dan berada di dalam hutan jauh dari pemukiman warga. Warga menyebut atau mengenal tempat itu dengan nama Buku. Namun, saat ini patung tersebut tidak lagi berada di tempatnya, tanpa ada yang tahu dimana keberadaanya saat ini.

 

Kakek kelahiran tahun 1940-an itu tengah duduk di teras rumah dengan gulungan tembakau dimulutnya. Sambil menikmati nyanyian burung serta sinar mentari pagi dan ditemani secangkir kopi. Kakek Amping, begitulah orang-orang memanggilnya. Beliau adalah temenggung desa pada 40 tahun silam.

 

Perkampungan yang sangat jauh dari keramaian kota, kampung yang sejuk dengan pohon-pohon yang rindang, nyiur melambai-lambai, angin bertiup dengan sepoi-sepoi. Anak-anak dengan bebas bermain ke sana kemari bercengkerama sepuasnya, kokok ayam bersahutan menandakan perkampungan yawng sangat bersahabat dengan lingkungan.

 

“Pada tahun 1980 pertama kalinya patung Gusar ini hilang. Gusar dicuri oleh orang yang yang tidak bertanggung jawab.” Kata beliau dengan dialek bahasa Dayak yang masih kental.

 

Beliau langsung bercerita mengenai kronologi kejadian hilangnya patung Gusar ini, sambil meyeruput kopi hitam.

“sekitar tiga bulan menghilang, barulah ada kabar ditemukannya patung gusar.”

 

Patung gusar dijual ke Sanggau kepada orang yang bernama Aji Menari yang merupakan warga pendatang dari bugis. Berita hilangnya patung Gusar juga terdengar sampai kepada Aji Menari. Dia curiga dengan patung yang baru saja dia beli. Ternyata ciri-ciri dari patung yang hilang sama persis dengan yang berada di tempatnya. Segeralah ia laporkan kepada pihak yang berwajib.

 

Kemudian, setelah pelaku pencurian patung gusar ditemukan, pelaku diadili sehingga terlaksananya sidang terbuka di Kabupaten Sintang. Sidang ini diikuti saya selaku temenggung desa dan beberapa warga setempat. Namun setelah persidangan selesai, terdengar kabar bahwa pelaku pencurian meninggal dunia dengan kondisi perut yang membesar.”

Sesekali kakek Amping menggulung kertas polos berwarna putih dan digulungnya kertas itu yang berisikan beberapa helai tembakau sembari bercerita. Setelah persidangan yang memakan waktu itu selesai dan keputusan telah didapat, patung Gusar dibawa kembali ketempat asalnya. Kendaraan dahulu masih menggunakan tranportasi air. Perjalanan pulang membawa patung Gusar memakan waktu berhari-hari.

Suara gemercik sungai bernyanyi gembira seakan memberitahukan kepada ikan-ikan bahwa patung Gusar akan dibawa kembali ke tempat asalnya. Begitupun angin berbisik lembut kededaunan sehingga menari ria. Deru mesin perahu pun terdengar menyemangati sanubari.

Selama diperjalanan beberapa kali istirahat di pemukiman warga. Ketika berhenti di suatu wilayah, selalu ada orang-orang yang turun kesungai untuk melihat dan memberi sesajian, ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat karena Gusar ditemukan. Sesajian yang diberikan berupa uang, rokok, pinang, kapur, dan sirih.

Dalam perjalanan, patung Gusar ini tidak boleh diletakkan disembarang tempat dan harus dipangku atau digendong oleh orang tertentu, yaitu haruslah wanita yang bersuku Dayak Sekubang. Hal ini karena konon katanya wanita Dayak Sekubang merupakan keturunan dari dayangnya gusar. Masyarakat mempercayai bahwa jika patung Gusar berwarna kuning keemasan artinya dia menyukai sesajian yang diberikan kepadanya. Sedangkan jika ada yang membuatnya kurang senang maka warna patung Gusar berubah sedikit lebih gelap dari biasanya.

Perjalanan dimulai dari kota sintang. Rute pertama melewati perairan Sungai Kapuas yang dalam dan luas. Sesekali berpapasan dengan perahu-perahu lain, ada yang ke hilir adapun yang ke hulu. Orang-orang tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Perjalanan ditempuh tanpa henti sebelum di tempat perhentian, yaitu di muara Sungai Sepauk.

Perhentian pertama yaitu di muara Sungai Sepauk, tepatnya di Kecamatan Sepauk. Banyak sekali orang-orang yang sudah menunggu bahkan berbondong-bondong datang ke tepian sungai untuk melihat dan memberi sesajian seperti rempah-rempah dan sebagainya kepada patung Gusar, baik anak kecil maupun orang tua.

Setelah melakukan perjalanan lagi, rasa Bahagia pun bercampur aduk dengan rasa takut, khawatir, dan cemas. Perjalanan masih sangat panjang. Medan yang dilalui juga tidak terlalu bersahabat. Banyaknya kayu-kayu di dalam sungai yang dapat menyebabkah perahu nyangkut serta warna sungai yang sangat menakutkan menemani perjalanan ini.

Untuk perhentian kedua yaitu di daerah yang bernama Sirang Setambang. Begitu juga yang dilakukan masyarakat dengan berbondong-bondong datang ke tepian sungai untuk melihat dan memberikan beberapa sesajian.

Beberapa saat kemudian, perjalanan pun tetap harus dilanjutkan meskipun rasa kantuk dan lelah menyelimuti. Tiada angin tiada ribut, entah apa penyebabnya sebuah pohon besar tumbang menghalangi jalan kami. Perjalanan pun sedikit tertunda. Kami bekerja sama untuk menyingkirkan dahan-dahan pohon yang menghalangi jalan dan arus sungai yang akan kami lewati. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan seperti semula.

Perhentian ketiga yaitu di daerah yang bernama Libau. Warga juga berbondong-bondong turun ke sungai, tetapi ada juga beberapa masyarakat yang merasa takut karena patung ini sangat dikeramatkan. Selain memberikan sesajian kepada patung Gusar, warga juga menyuguhkan kami makanan dan minuman untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Perhentian keempat yaitu di daerah yang bernama Temanang. Begitu juga dengan warga di situ tidak kalah dengan daerah sebelumnya, orang-orang datang menghampiri untuk melihat patung Gusar secara langsung. Tapi ada yang aneh, ntah kenapa tidak ada seorang pun anak kecil datang menghampiri perahu yang kami gunakan untuk membawa patung Gusar. Mungkin anak-anak merasa ketakutan atau memang dilarang orang tuanya.

Perhentian kelima yaitu di daerah yang bernama Bernayau. Daerah ini masyarakat mayoritas bersuku Dayak Sekubang, yaitu suku yang dapat mengadakan ritual bagi patung Gusar. Suka cita tergambar jelas di wajah masyarakat. Mereka juga merasa bahagia mengetahui keadaan patung Gusar, ditemukan dan akan kembali ke tempat asalnya. Perjalanan yang kami tempuh sudah lebih dari separuh, tinggal hitungan jam untuk sampai ke tempat tujuan, yaitu tempat asal dari patung Gusar.

Perhentian keenam yaitu di daerah yang bernama Nanga Pari. Masyarakat sangat antusias dan bahagia ketika mengetahui bahwa patung Gusar ditemukan dan akan dikembalikan di tempat semula. Perjalanan yang ditempuh untuk sampai ketujuan sekitar 30 menit lagi. Dengan keantusiasan masyarakat, mereska berbondong-bondong mengikuti kami. Ada yang melewati jalur air dan adapun yang melewati jalur darat

Sesampainya patung tersebut warga setempat menyambutnya dengan gembira. Rasa lelah kami pun terbayar melihat ekspresi bahagia mereka, yang bahkan membuat rasa lelah kami sirna. Perjuangan yang tidak sia-sia.

Setelah itu, Masyarakat berkumpul untuk melakukan kesepakatan, bahwa sebaiknya patung Gusar ini tidak diletakkan di tempat semula. Lebih baik dan demi keamanan diletakkan sekitar pemukiman warga. Ada masyarakat yang menyetujui dan ada beberapa lagi yang tidak menyetujuinya. Oleh karena yang menyetujui lebih banyak maka diputuskan patung Gusar ditempatkan di area permukiman. Masyarakat memutuskan untuk melakukan upacara adat untuk meletakkan atau memindahkan patung Gusar ke dekat permukiman dengan rapi dan teliti.

Upacara adat pun dilaksanakan, setiap warga mengumpulkan benang merah, beras putih, beras merah, beras kuning, beras ketan, telur, ayam, kambing, rempah-rempah, dan beberapa hasil ladang lainnya. Setiap masyarakat saling bekerja sama, ada yang mencari kayu bakar, ada yang mendirikan tenda, ada yang membuat tungku. Ritual dilaksanakan diluar rumah. Masyarakat tampak sibuk dengan peranannya masing-masing.

Berbagai jenis makanan pun dibuat, mulai dari olahan berbahan dasar tepung beras dan ketan, rasa tawar, manis maupun asin, semua dibuat untuk bahan-bahan ritual, bertujuan untuk dipersembahkan kepada patung Gusar dengan senang hati. Segala jenis makanan yang telah dibuat dan sesajian lainnya dipersembahkan dihadapan Gusar, masing-masing persembahan berjumlah tujuh buah. Ritual ini juga dilaksanakan pada hari ke tujuh yaitu hari Minggu.

Masyarakat juga melaksanakan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur. Acara makan bersama pun dilaksanakan, baik orang tua maupun anak-anak. Menurut ritual pamali jika ada yang tidak kebagian makanan jika menghadiri acara ini.

Selagi makan ada petuah-petuah yang disampaikan oleh orang tua dalam bentuk dongeng secara lisan. Kakek tua itu berdiri di tengah kerumunan masyarakat dengan badan yang tidak begitu tegak menyampaikan dongeng. Anak-anak dengan seksama mendengarkannya bercerita.

Setelah acara pemindahan selesai ntah sebab cuaca atau malapetaka. Hari mulai mendung, petir dan guntur saling sambar menyambar, hujan turun dengan sangat derasnya. Berhari-hari keadaan tidak berubah ibarat tiada lagi harapan. Sungai mulai meluap, banjir besar pun tidak dapat terelakan lagi. Daerah yang merupakan dataran tinggi dengan catatan tidak pernah banjir juga terkena banjir. Bukit-bukit runtuh yang mengakibatkan rumah-rumah warga rusak dan hanyut. Bahkan sampai menelan korban jiwa.

Pertanda yang diberikan oleh patung Gusar lewat mimpi seseorang mengatakan bahwa patung Gusar marah karena dipindahkan dekat permukiman. Dia tidak sanggup mencium bau menyengat, seperti bau arang atau bau bakar-bakar seperti daging. Dia merasa terganggu dengan aktivitas manusia serta hiruk pikuknya keadaan di tengah permukiman. Inilah yang menambah kepercayaan masyarakat sekitar sehingga mengkeramatkan patung Gusar. Masyarakat kembali melakukan upacara untuk pemindahan patung Gusar ke tempat asalnya.

Acara pemindahan ke tempat asalnya pun dilaksanakan. Tanpa mengulur-ulur waktu lagi, segala keperluan ritual sudah tersedia tak kurang satu pun. Pada saat pemindahan patung ke tempat asalnya patung Gusar digendong wanita paruh baya bernama Sulia dan diiringi tarian dengan irama gong, sebelum keberangkatan beberapa orang menembakkan suara senapan.

Setelah sampai di tempat tujuan, ritual berikutnya yaitu memandikan patung Gusar. Sesepuh kumat-kamit membaca mantra dengan harapan agar patung Gusar itu bersih, lepas dari segala bau-bauan yang kurang sedap di perkampungan, lepas dari hiruk pikuk masyarakat. Setelah itu patung Gusar diletakkan ke tempat asalnya. Orang-orang secara bergiliran menyerahkan sesajian ke hadapan patung Gusar.

Setelah patung Gusar sudah ditempat asalnnya, banyak sekali orang-orang datang untuk meminta permohonan kepada patung Gusar. Mulai dari meminta hasil panen yang melimpah, meminta keturunan, meminta penyembuhan bagi yang sakit, dan permohonan-permohonan kecil masyarakat lainnya. Hal ini mereka lakukan karena sangat mengkeramatkan dan percaya kepada patung Gusar. Masyarakat pada waktu itu yakin bahwa patung Gusar dapat mengabulkan berbagai permintaan mereka.

Anehnya patung Gusar itu dapat berubah mimik mukanya. Dikala senang wajahnya tampak manis seperti membagikan senyuman. Tetapi jika ada yang membuatnya kurang senang maka wajahnya berubah agak muram. Meminta atau memohon sesuatu kepada patung Gusar masyarakat menamainya dengan nama ngajat.

Ada satu cerita, sepasang suami istri yang sudah lama bersama, namun belum dikaruniai keturunan. Mereka datang kepada patung Gusar untuk memohon agar dikaruniai anak. Beberapa waktu kemudian, benar saja sang istri mengandung. Sebelum melahirkan, ibu yang sedang mengandung itu didatangi wanita cantik dalam mimpinya. Dia benar-benar wanita yang cantik nan rupawan, rambutnya panjang terurai, kulitnya kuning langsat, dia tampak seperti wanita yang sempurna. Kemudian dia mengatakan bahwa dirinya adalah Gusar. Dia menyatakan bahwa anak yang akan dilahirkan berjenis kelamin perempuaan, dan harus dinamai Ratu Mas Tuya. Benar saja bayi yang lahir berjenis kelamin perempuan dan dinamai Ratu Mas Tuya.

Tidak dapat dipungkiri lagi, kepercayaan masyarakat terhadap patung Gusar yang dapat mengabulkan permohonan semakin kuat. Setelah patung Gusar berada di tempat asalnya, masyarakat datang silih berganti. Baik itu masyarakat setempat maupun masyarakat dari luar daerah.

Bertahun-tahun kemudian untuk kedua kalinya masyarakat dibuat gempar karena kehilangan patung Gusar yang sudah dikeramatkan itu. Dengan kepanikan yang menghantui, warga pun mencarinya kesegala arah. Ada yang mencari ke daerah perbukitan, ada yang mencari di daerah sekitar sungai takutnya hanyut terbawa arus sungai yang deras. Namun usaha tersebut nihil. Masyarakat tidak menemukan keberadaan patung Gusar.

Sekitar tiga atau empat bulan waktu berlalu, dengan ajaib patung gusar ditemukan di tempat semula dengan keadaan yang sudah tidak sempurna lagi. Di punggung patung terdapat lubang seukuran jari telunjuk dan tangan kiri sudah terpotong tanpa diketahui di mana keberadaan potongannya.

Walaupun demikian masyarakat sekitar masih sering mengunjungi patung Gusar tersebut sebagai bentuk kepercayaan untuk meminta atau memohon sesuatu. Meskipun bentuknya sudah tidak sesempurna dahulu. Bagi masyarakat setempat, sempurna atau tidaknya patung Gusar tetaplah bagian dari masyarakat. Tahun 1998 patung Gusar ini benar-benar hilang dan tidak ditemukan sampai saat ini. Usaha pencarian pun dilakukan tapi tidak membuahkan hasil. Masyarakat menggunakan berbagai cara, meskipun demikian usaha masyarakat sia-sia belaka. Patung Gusar tidak ditemukan juga.

Hari berganti hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, patung Gusar pun tak kunjung ditemukan, ntah di mana keberadaannya. Masyarakat selalu mencari dan mencari, menunggu dan menunggu, kerinduan selalu menyelimuti lubuk hati yang dalam, patung Gusar hilang begitu saja tanpa meninggalkan pesan dan sirna begitu saja.

Namun, tempat dimana patung ini berada masih ada hingga saat ini. Tetapi jarang dikunjungi karena berada jauh di dalam hutan. Warga yang pernah kesana mengatakan bahwa tempat tersebut masih ada dan tampak bersih seperti ada yang membersihkannya, seakan-akan ada seseorang yang selalu merawat tempat tersebut. Walaupun dikelilingi pohon-pohon yang rindang tetapi sekitar 3 M2 tempat patung Gusar disandarkan selalu bersih, tak satupun dedaunan dan ranting-ranting yang berserakan.

 Waktu berlalu begitu saja, hingga suatu waktu patung Gusar bukan lagi menjadi bahan pembicaraan warga. Warga benar-benar sudah hampir melupakannya. Pada tahun 2016 masyarakat kembali sepakat untuk membuat duplikat patung Gusar menggunakan bahan sejenis perunggu, yang dibuat menyerupai bentuk patung aslinya. Hal ini bertujuan agar generasi-generasi penerus tidak melupakan sejarah yang pernah ada di daerahnya.

 Masyarakat mengusulkan kepada kepala daerah, kepala daerah sangat menyetujui usulan seperti itu. Tidak perlu menunggu waktu lama, beberapa bulan kemudian duplikat patung Gusar itu pun selesai dibuat. Kemudian masyarakat bergotong royong untuk membangun sebuah rumah yang nantinya akan digunakan untuk menempatkan duplikat patung Gusar tersebut. Setelah semuanya selesai, patung tersebut diletakkan di tengah kampung yaitu KM 64, jl. Kayu Lapis, desa Sungai Segak.

Pertengahan tahun 2017 duplikat patung Gusar ini kembali hilang dicuri orang yang tidak bertanggung jawab. Saat itu tidak ada yang menyadari dan tidak ada yang mengetahui pasti kapan hilang duplikat patung Gusar tersebut. Ketika ada yang datang mengunjungi patung itu, baru menyadari kalau patung itu sudah tidak berada di situ.

Kebetulan saat itu desa tersebut sedang mengadakan sebuah turnamen yang mendatangkan banyak orang luar keluar masuk desa. Sejak saat itu, tidak ada yang mengetahui keberadaan patung Gusar baik yang asli maupun duplikatnya, yang tersisa hanyalah kenangan patung tersebut dan rumah tempat tinggalnya. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang dapat disalahkan, sudah saatnyaa patung Gusar pergi, pergi untuk selamanya, pergi dan tak akan kembali.

Dalam kesunyian malam, seorang kakek renta duduk di teras rumah sambil melamun menatap gemerlapnya bintang, pikirannya melayang dalam kerinduan yang tiada berujung. Dia merindukan sesuatu yang tak mungkin terwujud.

Cerita patung Gusar tinggal cerita, meninggalkan kenangan yang mendalam. Generasi zaman sekarang tidak lagi bisa melihat patung Gusar bahkan mereka pun tidak mengetahui ceritanya sama sekali. Semuanya seperti mimpi yang hilang sirna seperti ditelan kegelapan malam.

Masih terukir jelas di hati sanubari, bayang-bayangmu yang berkilauan keemasan sungguh rupawan. Engkau meninggalkan kenang-kenangan tanpa jejak, perkampungan hanyalah tempat persinggahan belaka tidak lebih. Kerinduan ibaratkan pungguk merindukan bulan.

Sangat disayangkan jika kisah ini hilang begitu saja, dan Gusar dianggap dongeng semata, yang terlintas hanyalah bayang-bayang semu. Pasrah sudah, harapan hanya tinggal harapan, kenangan pun hanya tinggal kenangan tidak mungkin terulang lagi. Kenangan dan harapan membaur menjadi satu, hancur berkeping-keping bagaikan debu yang berterbangan. Tinggalkan harapan dan menyisakan kenagan yang takkan sirna.

Sebuah maha karya bentang alam hijau terhampar luas di bawah kaki Bukit Muncak. Tegakan pohon-pohon rindang dan gemercik air yang jernih. Dikaki pegunungan yang hijau nan sejuk tak jauh dari sungai yang mengalir deras dengan bebatuan dan pantai kecil yang elok. Jauh dari hiruk pikuk kehidupan manusia. Tepat di tengah hutan, di bawah sebuah pohon beringin yang berumur ratusan tahun terdapat sebuah batu yang menyerupai seorang wanita menggendong bayi. Batu ini serukuran betis orang dewasa. Warga menyebutnya dengan nama Patung Gusar.

Patung Gusar adalah patung yang berada di daerah Sepauk Hulu, desa Sungai Segak, tepatnya di dusun Temiang Empakan, dan berada di dalam hutan jauh dari pemukiman warga. Warga menyebut atau mengenal tempat itu dengan nama Buku. Namun, saat ini patung tersebut tidak lagi berada di tempatnya, tanpa ada yang tahu dimana keberadaanya saat ini.

Kakek kelahiran tahun 1940-an itu tengah duduk di teras rumah dengan gulungan tembakau dimulutnya. Sambil menikmati nyanyian burung serta sinar mentari pagi dan ditemani secangkir kopi. Kakek Amping, begitulah orang-orang memanggilnya. Beliau adalah temenggung desa pada 40 tahun silam.

Perkampungan yang sangat jauh dari keramaian kota, kampung yang sejuk dengan pohon-pohon yang rindang, nyiur melambai-lambai, angin bertiup dengan sepoi-sepoi. Anak-anak dengan bebas bermain ke sana kemari bercengkerama sepuasnya, kokok ayam bersahutan menandakan perkampungan yawng sangat bersahabat dengan lingkungan.

“Pada tahun 1980 pertama kalinya patung Gusar ini hilang. Gusar dicuri oleh orang yang yang tidak bertanggung jawab.” Kata beliau dengan dialek bahasa Dayak yang masih kental.

Beliau langsung bercerita mengenai kronologi kejadian hilangnya patung Gusar ini, sambil meyeruput kopi hitam.

“Sekitar tiga bulan menghilang, barulah ada kabar ditemukannya patung gusar.”

Patung gusar dijual ke Sanggau kepada orang yang bernama Aji Menari yang merupakan warga pendatang dari bugis. Berita hilangnya patung Gusar juga terdengar sampai kepada Aji Menari. Dia curiga dengan patung yang baru saja dia beli. Ternyata ciri-ciri dari patung yang hilang sama persis dengan yang berada di tempatnya. Segeralah ia laporkan kepada pihak yang berwajib. 

Kemudian, setelah pelaku pencurian patung gusar ditemukan, pelaku diadili sehingga terlaksananya sidang terbuka di Kabupaten Sintang. Sidang ini diikuti saya selaku temenggung desa dan beberapa warga setempat. Namun setelah persidangan selesai, terdengar kabar bahwa pelaku pencurian meninggal dunia dengan kondisi perut yang membesar.”

Sesekali kakek Amping menggulung kertas polos berwarna putih dan digulungnya kertas itu yang berisikan beberapa helai tembakau sembari bercerita. Setelah persidangan yang memakan waktu itu selesai dan keputusan telah didapat, patung Gusar dibawa kembali ketempat asalnya. Kendaraan dahulu masih menggunakan tranportasi air. Perjalanan pulang membawa patung Gusar memakan waktu berhari-hari.

Suara gemercik sungai bernyanyi gembira seakan memberitahukan kepada ikan-ikan bahwa patung Gusar akan dibawa kembali ke tempat asalnya. Begitupun angin berbisik lembut kededaunan sehingga menari ria. Deru mesin perahu pun terdengar menyemangati sanubari.

Selama diperjalanan beberapa kali istirahat di pemukiman warga. Ketika berhenti di suatu wilayah, selalu ada orang-orang yang turun kesungai untuk melihat dan memberi sesajian, ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat karena Gusar ditemukan. Sesajian yang diberikan berupa uang, rokok, pinang, kapur, dan sirih.

Dalam perjalanan, patung Gusar ini tidak boleh diletakkan disembarang tempat dan harus dipangku atau digendong oleh orang tertentu, yaitu haruslah wanita yang bersuku Dayak Sekubang. Hal ini karena konon katanya wanita Dayak Sekubang merupakan keturunan dari dayangnya gusar.

Masyarakat mempercayai bahwa jika patung Gusar berwarna kuning keemasan artinya dia menyukai sesajian yang diberikan kepadanya. Sedangkan jika ada yang membuatnya kurang senang maka warna patung Gusar berubah sedikit lebih gelap dari biasanya.

Perjalanan dimulai dari kota sintang. Rute pertama melewati perairan Sungai Kapuas yang dalam dan luas. Sesekali berpapasan dengan perahu-perahu lain, ada yang ke hilir adapun yang ke hulu. Orang-orang tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Perjalanan ditempuh tanpa henti sebelum di tempat perhentian, yaitu di muara Sungai Sepauk. 

Perhentian pertama yaitu di muara Sungai Sepauk, tepatnya di Kecamatan Sepauk. Banyak sekali orang-orang yang sudah menunggu bahkan berbondong-bondong datang ke tepian sungai untuk melihat dan memberi sesajian seperti rempah-rempah dan sebagainya kepada patung Gusar, baik anak kecil maupun orang tua.

Setelah melakukan perjalanan lagi, rasa Bahagia pun bercampur aduk dengan rasa takut, khawatir, dan cemas. Perjalanan masih sangat panjang. Medan yang dilalui juga tidak terlalu bersahabat. Banyaknya kayu-kayu di dalam sungai yang dapat menyebabkah perahu nyangkut serta warna sungai yang sangat menakutkan menemani perjalanan ini.

Untuk perhentian kedua yaitu di daerah yang bernama Sirang Setambang. Begitu juga yang dilakukan masyarakat dengan berbondong-bondong datang ke tepian sungai untuk melihat dan memberikan beberapa sesajian.

Beberapa saat kemudian, perjalanan pun tetap harus dilanjutkan meskipun rasa kantuk dan lelah menyelimuti. Tiada angin tiada ribut, entah apa penyebabnya sebuah pohon besar tumbang menghalangi jalan kami. Perjalanan pun sedikit tertunda. Kami bekerja sama untuk menyingkirkan dahan-dahan pohon yang menghalangi jalan dan arus sungai yang akan kami lewati. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan seperti semula.

Perhentian ketiga yaitu di daerah yang bernama Libau. Warga juga berbondong-bondong turun ke sungai, tetapi ada juga beberapa masyarakat yang merasa takut karena patung ini sangat dikeramatkan. Selain memberikan sesajian kepada patung Gusar, warga juga menyuguhkan kami makanan dan minuman untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Perhentian keempat yaitu di daerah yang bernama Temanang. Begitu juga dengan warga di situ tidak kalah dengan daerah sebelumnya, orang-orang datang menghampiri untuk melihat patung Gusar secara langsung. Tapi ada yang aneh, ntah kenapa tidak ada seorang pun anak kecil datang menghampiri perahu yang kami gunakan untuk membawa patung Gusar. Mungkin anak-anak merasa ketakutan atau memang dilarang orang tuanya.

Perhentian kelima yaitu di daerah yang bernama Bernayau. Daerah ini masyarakat mayoritas bersuku Dayak Sekubang, yaitu suku yang dapat mengadakan ritual bagi patung Gusar. Suka cita tergambar jelas di wajah masyarakat. Mereka juga merasa bahagia mengetahui keadaan patung Gusar, ditemukan dan akan kembali ke tempat asalnya. Perjalanan yang kami tempuh sudah lebih dari separuh, tinggal hitungan jam untuk sampai ke tempat tujuan, yaitu tempat asal dari patung Gusar.

Perhentian keenam yaitu di daerah yang bernama Nanga Pari. Masyarakat sangat antusias dan bahagia ketika mengetahui bahwa patung Gusar ditemukan dan akan dikembalikan di tempat semula. Perjalanan yang ditempuh untuk sampai ketujuan sekitar 30 menit lagi. Dengan keantusiasan masyarakat, mereska berbondong-bondong mengikuti kami. Ada yang melewati jalur air dan adapun yang melewati jalur darat.

Sesampainya patung tersebut warga setempat menyambutnya dengan gembira. Rasa lelah kami pun terbayar melihat ekspresi bahagia mereka, yang bahkan membuat rasa lelah kami sirna. Perjuangan yang tidak sia-sia.

Setelah itu, Masyarakat berkumpul untuk melakukan kesepakatan, bahwa sebaiknya patung Gusar ini tidak diletakkan di tempat semula. Lebih baik dan demi keamanan diletakkan sekitar pemukiman warga. Ada masyarakat yang menyetujui dan ada beberapa lagi yang tidak menyetujuinya. Oleh karena yang menyetujui lebih banyak maka diputuskan patung Gusar ditempatkan di area permukiman. Masyarakat memutuskan untuk melakukan upacara adat untuk meletakkan atau memindahkan patung Gusar ke dekat permukiman dengan rapi dan teliti.

Upacara adat pun dilaksanakan, setiap warga mengumpulkan benang merah, beras putih, beras merah, beras kuning, beras ketan, telur, ayam, kambing, rempah-rempah, dan beberapa hasil ladang lainnya. Setiap masyarakat saling bekerja sama, ada yang mencari kayu bakar, ada yang mendirikan tenda, ada yang membuat tungku. Ritual dilaksanakan diluar rumah. Masyarakat tampak sibuk dengan peranannya masing-masing.

Berbagai jenis makanan pun dibuat, mulai dari olahan berbahan dasar tepung beras dan ketan, rasa tawar, manis maupun asin, semua dibuat untuk bahan-bahan ritual, bertujuan untuk dipersembahkan kepada patung Gusar dengan senang hati. Segala jenis makanan yang telah dibuat dan sesajian lainnya dipersembahkan dihadapan Gusar, masing-masing persembahan berjumlah tujuh buah. Ritual ini juga dilaksanakan pada hari ke tujuh yaitu hari Minggu.

Masyarakat juga melaksanakan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur. Acara makan bersama pun dilaksanakan, baik orang tua maupun anak-anak. Menurut ritual pamali jika ada yang tidak kebagian makanan jika menghadiri acara ini. Selagi makan ada petuah-petuah yang disampaikan oleh orang tua dalam bentuk dongeng secara lisan. Kakek tua itu berdiri di tengah kerumunan masyarakat dengan badan yang tidak begitu tegak menyampaikan dongeng. Anak-anak dengan seksama mendengarkannya bercerita.

Setelah acara pemindahan selesai ntah sebab cuaca atau malapetaka. Hari mulai mendung, petir dan guntur saling sambar menyambar, hujan turun dengan sangat derasnya. Berhari-hari keadaan tidak berubah ibarat tiada lagi harapan. Sungai mulai meluap, banjir besar pun tidak dapat terelakan lagi. Daerah yang merupakan dataran tinggi dengan catatan tidak pernah banjir juga terkena banjir. Bukit-bukit runtuh yang mengakibatkan rumah-rumah warga rusak dan hanyut. Bahkan sampai menelan korban jiwa.

Pertanda yang diberikan oleh patung Gusar lewat mimpi seseorang mengatakan bahwa patung Gusar marah karena dipindahkan dekat permukiman. Dia tidak sanggup mencium bau menyengat, seperti bau arang atau bau bakar-bakar seperti daging. Dia merasa terganggu dengan aktivitas manusia serta hiruk pikuknya keadaan di tengah permukiman. Inilah yang menambah kepercayaan masyarakat sekitar sehingga mengkeramatkan patung Gusar. Masyarakat kembali melakukan upacara untuk pemindahan patung Gusar ke tempat asalnya.

Acara pemindahan ke tempat asalnya pun dilaksanakan. Tanpa mengulur-ulur waktu lagi, segala keperluan ritual sudah tersedia tak kurang satu pun. Pada saat pemindahan patung ke tempat asalnya patung Gusar digendong wanita paruh baya bernama Sulia dan diiringi tarian dengan irama gong, sebelum keberangkatan beberapa orang menembakkan suara senapan.

Setelah sampai di tempat tujuan, ritual berikutnya yaitu memandikan patung Gusar. Sesepuh kumat-kamit membaca mantra dengan harapan agar patung Gusar itu bersih, lepas dari segala bau-bauan yang kurang sedap di perkampungan, lepas dari hiruk pikuk masyarakat. Setelah itu patung Gusar diletakkan ke tempat asalnya. Orang-orang secara bergiliran menyerahkan sesajian ke hadapan patung Gusar.

Setelah patung Gusar sudah ditempat asalnnya, banyak sekali orang-orang datang untuk meminta permohonan kepada patung Gusar. Mulai dari meminta hasil panen yang melimpah, meminta keturunan, meminta penyembuhan bagi yang sakit, dan permohonan-permohonan kecil masyarakat lainnya. Hal ini mereka lakukan karena sangat mengkeramatkan dan percaya kepada patung Gusar. Masyarakat pada waktu itu yakin bahwa patung Gusar dapat mengabulkan berbagai permintaan mereka.

Anehnya patung Gusar itu dapat berubah mimik mukanya. Dikala senang wajahnya tampak manis seperti membagikan senyuman. Tetapi jika ada yang membuatnya kurang senang maka wajahnya berubah agak muram. Meminta atau memohon sesuatu kepada patung Gusar masyarakat menamainya dengan nama ngajat. Ada satu cerita, sepasang suami istri yang sudah lama bersama, namun belum dikaruniai keturunan. Mereka datang kepada patung Gusar untuk memohon agar dikaruniai anak. Beberapa waktu kemudian, benar saja sang istri mengandung.

Sebelum melahirkan, ibu yang sedang mengandung itu didatangi wanita cantik dalam mimpinya. Dia benar-benar wanita yang cantik nan rupawan, rambutnya panjang terurai, kulitnya kuning langsat, dia tampak seperti wanita yang sempurna. Kemudian dia mengatakan bahwa dirinya adalah Gusar. Dia menyatakan bahwa anak yang akan dilahirkan berjenis kelamin perempuaan, dan harus dinamai Ratu Mas Tuya. Benar saja bayi yang lahir berjenis kelamin perempuan dan dinamai Ratu Mas Tuya.

Tidak dapat dipungkiri lagi, kepercayaan masyarakat terhadap patung Gusar yang dapat mengabulkan permohonan semakin kuat. Setelah patung Gusar berada di tempat asalnya, masyarakat datang silih berganti. Baik itu masyarakat setempat maupun masyarakat dari luar daerah.

Bertahun-tahun kemudian untuk kedua kalinya masyarakat dibuat gempar karena kehilangan patung Gusar yang sudah dikeramatkan itu. Dengan kepanikan yang menghantui, warga pun mencarinya kesegala arah. Ada yang mencari ke daerah perbukitan, ada yang mencari di daerah sekitar sungai takutnya hanyut terbawa arus sungai yang deras. Namun usaha tersebut nihil. Masyarakat tidak menemukan keberadaan patung Gusar.

Sekitar tiga atau empat bulan waktu berlalu, dengan ajaib patung gusar ditemukan di tempat semula dengan keadaan yang sudah tidak sempurna lagi. Di punggung patung terdapat lubang seukuran jari telunjuk dan tangan kiri sudah terpotong tanpa diketahui di mana keberadaan potongannya. 

Walaupun demikian masyarakat sekitar masih sering mengunjungi patung Gusar tersebut sebagai bentuk kepercayaan untuk meminta atau memohon sesuatu. Meskipun bentuknya sudah tidak sesempurna dahulu. Bagi masyarakat setempat, sempurna atau tidaknya patung Gusar tetaplah bagian dari masyarakat.

Tahun 1998 patung Gusar ini benar-benar hilang dan tidak ditemukan sampai saat ini. Usaha pencarian pun dilakukan tapi tidak membuahkan hasil. Masyarakat menggunakan berbagai cara, meskipun demikian usaha masyarakat sia-sia belaka. Patung Gusar tidak ditemukan juga.

Hari berganti hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, patung Gusar pun tak kunjung ditemukan, ntah di mana keberadaannya. Masyarakat selalu mencari dan mencari, menunggu dan menunggu, kerinduan selalu menyelimuti lubuk hati yang dalam, patung Gusar hilang begitu saja tanpa meninggalkan pesan dan sirna begitu saja.

Namun, tempat dimana patung ini berada masih ada hingga saat ini. Tetapi jarang dikunjungi karena berada jauh di dalam hutan. Warga yang pernah kesana mengatakan bahwa tempat tersebut masih ada dan tampak bersih seperti ada yang membersihkannya, seakan-akan ada seseorang yang selalu merawat tempat tersebut. Walaupun dikelilingi pohon-pohon yang rindang tetapi sekitar 3 M2 tempat patung Gusar disandarkan selalu bersih, tak satupun dedaunan dan ranting-ranting yang berserakan.

Waktu berlalu begitu saja, hingga suatu waktu patung Gusar bukan lagi menjadi bahan pembicaraan warga. Warga benar-benar sudah hampir melupakannya. Pada tahun 2016 masyarakat kembali sepakat untuk membuat duplikat patung Gusar menggunakan bahan sejenis perunggu, yang dibuat menyerupai bentuk patung aslinya. Hal ini bertujuan agar generasi-generasi penerus tidak melupakan sejarah yang pernah ada di daerahnya.

Masyarakat mengusulkan kepada kepala daerah, kepala daerah sangat menyetujui usulan seperti itu. Tidak perlu menunggu waktu lama, beberapa bulan kemudian duplikat patung Gusar itu pun selesai dibuat. Kemudian masyarakat bergotong royong untuk membangun sebuah rumah yang nantinya akan digunakan untuk menempatkan duplikat patung Gusar tersebut. Setelah semuanya selesai, patung tersebut diletakkan di tengah kampung yaitu KM 64, jl. Kayu Lapis, desa Sungai Segak.

Pertengahan tahun 2017 duplikat patung Gusar ini kembali hilang dicuri orang yang tidak bertanggung jawab. Saat itu tidak ada yang menyadari dan tidak ada yang mengetahui pasti kapan hilang duplikat patung Gusar tersebut. Ketika ada yang datang mengunjungi patung itu, baru menyadari kalau patung itu sudah tidak berada di situ.

Kebetulan saat itu desa tersebut sedang mengadakan sebuah turnamen yang mendatangkan banyak orang luar keluar masuk desa. Sejak saat itu, tidak ada yang mengetahui keberadaan patung Gusar baik yang asli maupun duplikatnya, yang tersisa hanyalah kenangan patung tersebut dan rumah tempat tinggalnya. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang dapat disalahkan, sudah saatnyaa patung Gusar pergi, pergi untuk selamanya, pergi dan tak akan kembali. 

Dalam kesunyian malam, seorang kakek renta duduk di teras rumah sambil melamun menatap gemerlapnya bintang, pikirannya melayang dalam kerinduan yang tiada berujung. Dia merindukan sesuatu yang tak mungkin terwujud.

Cerita patung Gusar tinggal cerita, meninggalkan kenangan yang mendalam. Generasi zaman sekarang tidak lagi bisa melihat patung Gusar bahkan mereka pun tidak mengetahui ceritanya sama sekali. Semuanya seperti mimpi yang hilang sirna seperti ditelan kegelapan malam.

 Masih terukir jelas di hati sanubari, bayang-bayangmu yang berkilauan keemasan sungguh rupawan. Engkau meninggalkan kenang-kenangan tanpa jejak, perkampungan hanyalah tempat persinggahan belaka tidak lebih. Kerinduan ibaratkan pungguk merindukan bulan.

Sangat disayangkan jika kisah ini hilang begitu saja, dan Gusar dianggap dongeng semata, yang terlintas hanyalah bayang-bayang semu. Pasrah sudah, harapan hanya tinggal harapan, kenangan pun hanya tinggal kenangan tidak mungkin terulang lagi. Kenangan dan harapan membaur menjadi satu, hancur berkeping-keping bagaikan debu yang berterbangan. Tinggalkan harapan dan menyisakan kenagan yang takkan sirna.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman