Sejarah Wisata Pulau Kecil di Paloh - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 12 Oktober 2021

Sejarah Wisata Pulau Kecil di Paloh

 


Sumber Gambar: Google.com

Korpora.id, Paloh – Walau tergerus ombak, pulau Haji Sani tetap berdiri kokoh mempertahankan haknya. Hanya tersisa pohon cemara dan sedikit pasir untuk bernaung di pulau yang kecil itu. Tidak ada tanda kehidupan, yang terdengar, hanya deru ombak di antara pulau kecil itu.

Pulau yang awalnya besar, namun tidak berpenghuni membuat Almarhum Haji Sani tergerak untuk memiliki pulau dan menjadikan pulau berantah itu sebuah kebun kelapa yang luas. Selain kebun, ia juga menyadari kekayaan pulau itu dengan adanya telur penyu dan banyak kerang yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber rezeki. Jamil S, 63 tahun, yang merupakan cucu dari Haji Sani merasa senang saat ditemui di rumahnya.


"Dulu kakek Sani mendapatkan pulau dari pembukaan tanah dan ia tergerak untuk mendapatkan pulau itu karena dulu penyu senang bertelur di situ dan banyak kunau (kerang). Kemudian, setelah pulau menjadi hak milik, ia menanam pohon kelapa sebagai sumber rezeki,” ujar Jamil yang berbaju kemeja salur-salur saat ditemui di rumahnya, Jumat, 30 Oktober 2020.

Jamil menerangkan keadaan dahulu pulau dengan bersemangat. “Dahulu kakek tinggal di pulau dan membuat pondok (rumah kecil) untuk sesekali singgah di sana mengambil telur penyu, kunau, atau kelapa lalu dibawa pulang ke rumah di desa Nibung,” katanya.

Dengan bahagia ia menunjukkan beberapa surat dan denah wilayah Pulau Haji Sani sebagai bukti bahwa pulau tersebut memang milik keluarganya. “Surat dan denah pulau ini memang hanya salinan di saya, yang aslinya ada di kakak sepupu saya yang bertempat tinggal di Pemangkat. Lihatlah denah dan surat kepemilikan ini, semua di buat masih utuh dengan ejaan terdahulu sehingga ini memang asli milik keluarga saya,” ujarnya dengan semangat untuk menunjukkan beberapa surat kepada penulis.

Pulau Haji Sani dahulu besar dan indah dengan hamparan pasir putih yang luas, namun sejak Haji Sani meninggal pulau tidak pernah diurus lagi dan lambat laun pulau tergerus oleh ombak. Kini pulau hanya menyisakan bagian kecil yang bisa dikelilingi oleh orang-orang. Pulau juga sekarang sudah tidak pernah dikunjungi oleh penyu dan hanya tersisa beberapa pohon cemara karena pulau sering tenggelam timbul oleh air laut. Kendati demikian, pulau tetap indah dan kerang masih banyak di sana. 

“Sejak kakek meninggal, kami cucunya jarang ke pulau karena jarak yang lumayan jauh dan memerlukan perahu untuk ke sana. Selain itu, sejak pulau mengecil ia sering tenggelam timbul karena air laut yang pasang,” ujarnnya.


Sumber Gambar: Gambar Pribadi

Denah lokasi Pulau Haji Sani

Hari semakin sore, semilir angin mulai masuk ke ruang tamu rumahnya. Ia menceritakan tentang kemajuan pulau sebagai objek wisata untuk banyak pengunjung. Ramai yang datang ke pulau. Namun, hanya pada hari tertentu saja seperti lebaran.

“Banyak wisatawan memang yang berkunjung dari berbagai arah ke pulau, namun hanya di waktu tertentu seperti lebaran. Ada juga di hari libur namun tidak banyak,” ujarnya.

Jika ingin berkunjung ke pulau kita hanya perlu membayar biaya perahu sebesar RP10.000 hingga RP15.000 tergantung masing-masing perahu. Perahu-perahu tersebut tidak diarahkan oleh Jamil, melainkan terserah orang saja untuk menarifkan harga. Ia tidak turun langsung karena pulau sekarang lebih leluasa untuk didatangi oleh wisatawan walau tanpa sepengetahuannya. Sekarang pulau menjadi akses terbuka untuk umum. 

Sejak Haji Sani meninggal, pulau memang menjadi tempat wisata yang terkenal dengan kejernihan airnya. Wisatawan pergi ke sana untuk liburan dan memancing ikan. Pulau Haji Sani yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan membuat ikan-ikan banyak disekitar pulau dan menjadi objek memancing yang bagus untuk pemancing. “Lihat denahnya, pulau berbatasan dengan Laut Cina Selatan yang membuat ikan banyak di sana,” ujarnya.

Ia pun menceritakan tentang pengalamannya pertama kali ke pulau kakeknya. “Saya baru pertama kali seumur hidup ke pulau, walau itu pulau kakek saya. Saya sangat senang namun sedikit miris dengan keadaan pulau yang kian hari kian mengecil karena digerus oleh ombak,” ujarnya dengan wajah sedikit muram.

Wajahnya yang cemas dan dahinya yang mengkerut menunjukkan ia sangat takut kehilangan pulau. Tergerusnya pulau membuat ia amat cemas dengan keadaan pulau kecil itu. Ia berharap pulau tidak hilang lagi, namun ia juga berpasrah jika pulau hilang karena ia tidak tahu kekuatan pasang air laut. “Saya sih berharap Pulau Haji Sani tidak tenggelam lagi, tapi jika pasang air laut dan ombak tidak dapat dibendung ya mau bagaimana lagi. Kami hanya berpasrah dan berdoa semoga pulau tetap bertahan walau terkena badai sekalipun karena pulau merupakan peninggalan dari kakek kami,” ujarnya.

Penulis: Natasya Maulina

Penyunting: Angga Laena Siti Patimah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman