Suka Duka Pekerja Bengkel - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 11 Oktober 2021

Suka Duka Pekerja Bengkel

 


Sumber: Dokumentasi Pribadi

Korpora.id, Pontianak – 17 November 2020, di tengah teriknya matahari dan bisingnya suara kendaraan. Aon menikmati angin sepoi-sepoi sambil menunggu datangnya pelanggan. Laki-laki berambut ikal setelinga itu, tampak memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di jalanan, sambil mengisap rokok ketengan yang dibelinya barang satu dua buah.

Aon dengan nama asli Arman merupakan pekerja bengkel di pinggiran jalan Adisucipto. Walaupun hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tak mengurungkan hobinya dibidang perbengkelan. Laki-laki 35 tahun itu tak memandang getir kehidupan, ia tetap menjalani takdirnya dengan menjadi seorang montir.

Dengan memegang rokok menggunakan kedua jarinya, ia menarik nafas dalam-dalam. Lamat-lamat ia perhatikan kendaraan yang barlalu lalang “kadang aku pun ingin mempunyai usaha sendiri, tapi sekarang kerja aja dulu lah ngumpulkan duit” ujarnya. 

Perbengkelan sebenarnya memiliki prospek yang bagus, terlebih lagi di lokasi tempatnya bekerja masih terbilang sedikit yang membuka usaha bengkel. “biasanya kalau dijalan-jalan lain bengkel itu letaknya berdekatan. Sampai bingung pelanggan mau milihnya kan” ujarnya. Namun lelaki berkaus oblong biru ini hanya berkeinginan, toh dirinya tahu sebatas mana kemampuannya dibidang ini.

Sesekali kami harus terdiam sejenak untuk melepas kendaraan yang bunyinya seperti gemuruh disiang bolong. Seperti motor, mobil, truk dan kadang suara bising khas mesin bermotor yang kurang terawat. Sesekali Aon tertawa kecil “ginilah kalo jadi tukang bengkel, dengar suara motor sudah hapal mana yang sering di service, mana yang tidak” ucapnya.

Bau khas oli dan peralatan bengkel yang tertata rapi di rak-rak tempat  penyimpanan itu menemani siang kami yang terik. Kurang lebih 3x4 meter, bengkel tersebut terbilang cukup luas. Belum lagi lahan parkir diluarnya. Dulunya bengkel itu belum sebagus itu, namun Ace (panggilan dalam Bahasa China) pemilik toko tersebut tak mau setengah-setengah dalam membuka usaha. Setahun kemudian bengkel tersebut lengkap dengan segala kebutuhan perbengkelan.

“aku sudah kerja disini sekitar 4 tahunan, 2 tahun setelah bengkel ini didirikan Ace, aku langsung melamar kerja disini. Walaupun harus menunggu 3-4 bulan masa percobaan. Maklumlah kan aku ndak ada keahlian khusus. Hanya belajar-belajar aja”. Ujarnya. Aon juga menjadi saksi perubahan bengkel tempatnya bekerja.

Profesi yang digeluti Aon memang kadang banyak diminati anak-anak yang pendidikannya tidak berlanjut. Beberapa tempat yang pernah saya datangi memberikan fakta secara gamblang. Terbukti pekerjaan ini masih dianggap sepele. Walau begitu, pekerjaan ini juga menunjukkan intensitas sebagai penyelamat bagi pengangguran. “tak apalah aku juga ingin menambah pengalaman, yah cukuplah untuk sehari-hari” ujarnya.

Miris memang, disaat anak-anak harusnya melanjutkan pendidikan, namun harus melanjutkan hidup dengan bekerja. Akan tetapi juga tak ada salahnya jika masih mau bekerja. Walau dengan kemampuan yang seadanya, masih mempunyai peluang untuk menekuni dunia perbengkelan.

Bumi berputar zaman beredar, pengguna kendaraan sekarang pun sudah canggih. Adanya pengguna jasa penjemputan motor dan service ringan langsung di tempat yang dikembangkan perusahaan bengkel besar. Belum lagi 500 meter dari tempat Aon bekerja terdapat banyak bengkel. “sekarang sudah agak sepi, kadang sehari bisa tidak ada pelanggan. Maklumlah kan sekarang sudah pada canggih, serba praktis.” Ujar Aon.

Ace belum berani mengembangkan jasa call-service karena minimnya pekerja dan masih terbilang bengkel sederhana. “aku kerja sendiri disini, kewalahan juga. Barang satu dua motor juga ambruk aku” ujar Aon dengan kantong plastik berisi kopi hitam ditangannya. 

Belum lagi berbagai pelanggan dengan karakternya masing-masing. Ada yang minta cepat sambil ngedumel, ada yang minta cepat karena harus bekerja dan semacamnya dan ada juga yang hanya diam menunggu. Hal demikian juga menjadi tantangan bagi Aon yang bekerja sendirian. 

“tak apalah namanya juga kerja, ia ngga. Aku sih terima ajalah, mau marah juga gimana kan” ujarnya dengan bahasa seperti logat orang cina. Pekerjaan tetaplah pekerjaan, mau dibidang apapun itu. Harus siap dengan segala kemungkinan, termasuk permintaan dari pelanggan.

Sesekali aku memandangi lantai-lantai yang hitam terkena oli itu. Sebenarnya setiap pekerjaan itu mudah jika berada di lingkup yang tepat. Artinya, jika memang sudah ahlinya pasti mudah menjalaninya. Namun beda lagi jika bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mati-matian memaksakan diri berada di tempat yang bukan di jalurnya, pasti terasa sulit.

Harapan Aon, semogalah kedepannya ada pelatihan khusus untuk pekerja bengkel pemula. Seperti yang  dialaminya dulu harus mati-matian belajar mengenai perbengkelan agar bisa bekerja. Belum lagi status pendidikannya yang tidak selesai. sulit baginya untuk bisa bekerja selain menjadi pekerja bengkel. 

“Hargailah pekerjaan apapun itu, kalo nda kerja kan susah juga nantinya. Jadi ya, dimaksimalkan lah ya. Walaupun bukan pekerjaan yang kita minati” ujarnya.

Penulis: Erisky Aprinia

Penyunting: Melyana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman