Tasik Tua yang Kian Terlupa - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 11 Oktober 2021

Tasik Tua yang Kian Terlupa


Pesona Hijaunya Danau yang Dikelilingi Bukit

Sumber: https://travelingyuk.com/alam-kabupaten-sambas/134509

Korpora.id, Sebedang – Kamis, 12 November 2020, Danau sebedang, begitulah orang-orang menyebutnya. Suasana hening, hanya terdengar tiupan angin ditelinga pengunjung. Disekeliling danau terlihat bukit-bukit yang tak terhitung jumlahnya. Bagian tengah danau terlihat gundukan yang cukup memadati isinya sehingga tampak pulau kecil yang mengisi kekosongan. Apabila dipandang dengan seksama, danau ini indah juga ternyata.

Seolah memanggil pengunjung untuk mencicipi dinginnya, air danau tampak berkilauan dan tenang dihamparan sana. Diwaktu sore, danau ini cocok untuk menjadi pilihan tujuan pengunjung. Redup dan sejuk diciptakan bukit-bukit meskipun matahari cukup terik dan sunyinya suasana danau karena jauh dari aktivitas warga. Cukup menenangkan jiwa-jiwa yang kelelahan. 

Dinamai danau sebedang karena lokasinya berada di desa yang bernama Sebedang. Danau ini memiliki sejarah yang cukup panjang apabila hendak diulas, masih berkaitan dengan Kesultanan Alwatzikoebillah yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. 

Pengunjung satu ini amat terlihat menikmati, dia memandang lekat-lekat ke tengah danau. Hampir terkejut dengan kedatangku. “Cici” (19) ujarnya ketika ku tanya namanya. Kami berkenalan, ternyata dia penduduk asli setempat. Danau ini merupakan salah satu pariwisata yang disukainya, selain dekat dengan jarak rumahnya, danau ini merupakan satu-satunya pariwisata yang masih bertahan hingga kini. 

“Tidak ada tempat rekreasi lain disekitar sini, kalaupun ada hanya viral beberapa bulan.” Tutur Cici dengan datar. Didesanya tak banyak tempat rekreasi yang bisa dikunjungi, Cici juga mengatakan bahwa pernah suatu waktu ada pembukaan rekreasi baru, dan itu hanya viral beberapa bulan, setelah itu tempat tersebut tutup.

Danau ini merupakan satu-satunya tempat yang masih dikunjungi oleh warga setempat, selain daerahnya yang cukup luas, danau ini juga masih dibuat beberapa destinasi yang baru. Dengan begitulah, warga akan berbondong-bondong datang ke tempat ini. Dengan kurun waktu tertentu, kesepian kembali mendatangi danau ini. Begitulah seterusnya. Kian terlupakan.

“Dulu tempat ini menjadi andalan, setiap akhir pekan danau ini akan diramaikan.” Ujar Cici dengan raut wajah yang sedih. “Yang paling saya ingat adalah dulu sering banget mandi disini, banyak orang, ada tempat penyewaan pelampung besar.” Lanjutnya dengan tertawa. 

Danau ini memiliki 2 pintu masuk, pintu pertama dapat dilalui di Desa Sepuk Tanjung, pintu kedua dapat dilalui di Desa Sebedang, kedua desa ini berada di Kecamatan Sebawi. 

Apabila memasuki kawasan danau, terlihat bukit-bukit dibeberapa titik, lebih ke dalam lagi terlihat bangunan-bangunan makam penduduk beragama Tionghoa diatas bukit, mengesankan untuk yang pertama kali melihatnya. Berbentuk seperti kursi yang dibuat dengan keramik. 

Begitu memasuki jalur kedua sekitar ±500 Meter, kita disuguhkan dengan plang nama yang bertuliskan “Selamat Datang Di Danau Sejarah Sebaddang” yang mulai dibalut dengan rerumputan. 

Jalan yang beralas batu itu harus dilalui dengan kecepatan sedang saja. Terdapat banyak kantin yang disediakan pula tempat duduk lengkap dengan atapnya dengan menghadap ke danau. “Kalau kita melewati jalan ini, kita hanya melihat sisi belakang warung, karena warung disini menghadap ke danau.” Ujar Cici sambil menunjuk-nunjuk objek yang dimaksud. 

“Tempat ini nyaman untuk bercamping, sunyi, sepi, dan sangat nyaman untuk curhat dan romantis-romantisan.” Timpalnya lagi sambil tertawa. 

Selain menyaksikan keindahan, tempat ini juga mengandung sejumlah hal-hal mistis. Tak sedikit memakan korban, bahkan orang luar yang berkunjung pun pernah tenggelam didanau ini. “Saat saya menatap ke tengah danau, kan airnya tenang ya. Tapi rasanya entah mengapa saat saya menggenggam handphone, rasanya saya ingin melemparnya ke tengah danau.” Ucapnya dengan heran. 

Putri (21) pengunjung lain juga menyetujui hal itu. “Dalam satu tahun pernah terjadi lebih dari 3 kali memakan korban di danau itu, sejak itu orang-orang takut bahkan sudah tak mau lagi mandi didanau.” Ujarnya. “Saya rasa sejak saat itu danau ini mulai sepi, orang hanya datang sambil jalan-jalan, bahkan sekarang sudah mulai sepi.” Lanjutnya lagi. 

Dengan adanya corona yang menyebar ke seluruh wilayah, termasuk Desa Sebedang, Kecamatan Sebawi Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Banyak wisata-wisata yang ditutup. Hal demikian semakin menambah berkurangnya pengunjung di Danau Sebedang. 

Penulis : Eny Diarty

Penyunting : Selly Purwanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman