Tradisi Memberi Makan Hutan - Korpus Bahasa

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 09 Oktober 2021

Tradisi Memberi Makan Hutan

Penulis: Natasya Maulina

Penyunting: Angga Laena Siti Patimah



Korpora.id, Pontianak - Lalu lalang kendaraan memasuki sebuah gang sempit yang lebarnya 3 meter pada suatu siang terik. Jalan kecil itu amat ramai. Pasalnya jalan tersebut menjadi alternatif warga untuk menuju ke sawah. Barisan rumah warga berjejer rapih disepanjang jalan sempit itu. Bukan hanya manusia, kambing dan bebek pun ikut meramaikan jalanan pada siang itu.

Sepoi-sepoi angin siang sesekali membawa bau tanah yang sedikit mengganggu hidung. Pasalnya, dibelakang rumah warga disebelah kiri terdapat sungai kecil yang biasa digunakan para nelayan memarkirkan perahunya. Tak hanya bau tanah dan lumpur, sesekali juga tercium bau amis yang berasal dari perahu nelayan yang sedang bersandar dibibir sungai. Bukan pelabuhan besar, melainkan hanya dermaga kecil yang terbuat dari papan dan kayu balok untuk menopang pelabuhan itu.

Desa yang terletak diujung ekor Kalimantan menyimpan banyak misteri dan tradisi yang sampai kini masih dipercayai akan kemistisannya. Desa tersebut merupakan Desa Nibung yang terletak di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas memiliki satu diantara banyak tradisi yang masih ditekuni hingga saat ini. Tradisi tersebut biasa dijuluki dengan nama memberi makan hutan. Terdengar baru dan asing, namun hal tersebut merupakan agenda tahunan yang dilakukan dengan tujuan kemakmuran warganya.

Sebenarnya tradisi ini telah dilaksanakan dari zaman nenek moyang dan sampai saat ini. Namun, kepopuleran tradisi ini masih kental dilakukan di Desa Nibung. Tradisi memberi makan hutan merupakan satu dari banyaknya tradisi mistis yang dilakukan di Desa Nibung. Tradisi ini merupakan tradisi yang berbau mistis yang menyangkutkan kepercayaan dan harapan masyarakat.

Pada malam hari diakhir tahun 2020, rapat digelar. Tidak banyak yang diundang, hanya sekitar sepuluh orang yang terdiri dari ketua adat, kepala desa, dan perangkat desa lain. Suaranya memecah sedikit keriuhan.

“Jadi, apakah tetap dilaksanakan tradisi ini?” tanya Usman.

“Kalau masih ditentang, ya jangan dulu. Tapi, kalau masyarakat setuju akan kita laksanakan.” Ujar gosong.

Usman atau yang sering dikenal dengan ndek Usman merupakan seorang dukun yang terampil dalam hal permistisan maupun pengobatan tradisional. Usman bisa dibilang pemegang hutan. Pasalnya dari ia berumur 50 tahun, ia dipercayai orang desa untuk menjadi pemegang hutan di Desa Nibung hingga sekarang berumur 64 tahun.

Usman sering mengobati penyakit yang diderita masyarakat. Penyakit-penyakit tersebut biasa disebut penyakit kampung. Pasalnya, penyakit-penyakit itu tak tahu datangnya dari mana, namun Usman bisa menyembuhkannya.

Usman memiliki tubuh yang berisi dengan rambut sedikit memutih. Memiliki kulit sawo matang dan kumis yang tumbuh lebat sedikit memutih. Perawakannya besar, sorot mata yang tajam, namun pembawaan bicaranya sangat mendayu. Ia memiliki istri dan enam orang anak yang terdiri dari tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan.

Beberapa anak Usman ada yang merantau seperti anak laki-lakinya. Tersisa anak perempuan bungsu yang tinggal bersamanya. Lima lainnya ada yang merantau dan sudah menikah. Karena mereka tingga berdekatan dengan sungai, rumah dibuat tinggi. Sekitar dua meter dari tanah. Mencegah banjir akibat meluapnya air sungai.

 Mereka terkenal sederhana dan hidup seadanya. Selalu mensyukuri nikmat tanpa banyak mengeluh. Hal inilah yang membuat masyarakat yakin dengan menjadikan Usman sebagai pemegang hutan. Dengan kesederhanaan dan keterampilannya dalam dunia ghaib, itu membuat yang membuat jasa Usman dan keluarga sering digunakann warga.

Memang, kebanyakan desa di kecamatan Paloh masih memercayai pengobatan tradisional yang menggunakan dukun. Namun, dukun yang dimaksud juga masih menggunakan ayat suci Al-Quran sebagai dasar untuk mengobati. Desa Nibung masih memercayai adanya roh-roh yang mengganggu atau biasa yang disebut dengan santet. Orang-orang yang memang tahu cara mengusir roh halus tersebut biasa masih dipercayai karena manjur pengobatannya.

Contohnya tepat malam kamis, datang seorang laki-laki lansia dengan rambut dan kumis yang memutih. Ia datang dengan keluhan anaknya yang sakit “merasuk” atau biasa disebut dengan sakit pinggang yang disebabkan oleh urat tegang.

“Anak saya mulai lagi merasuknya ndek.” Ujarnya.

“Makan apa memangnya, kenapa bisa merasuk lagi? Kemarin kan sudah baikan” kata Usman yang tengah duduk sembari memegang ponselnya.

“Kemarin memang sudah sembuh, tapi tadi ibunya memasak pakis dan gulai kacang panjang. Makanya merasuknya mulai lagi.” Jawabnya.

“Kan sudah aku katakana, jangan makan makanan yang dingin-dingin seperti pakis dan kacang panjang. Nanti akan sakit terus.” Ujar Usman.

“Yasudah, nak ambilkan bapak daun sirih sebanyak 3 lembar dengan ukuran yang besar-besar, jangan yang kecil.” Perintah Usman kepada anaknya.

Penyakit merasuk memang sering terjadi pada masyarakat karena kelelahan setelah bekerja sehingga menyebabkan urat di area tubuh tegang. Penyakit ini bisa disembuhkan dengan meminum obat pasar yang dapat ditemukan diwarung-warung. Namun, tak jarang masyarakat juga menggunakan jasa orang seperti pak Usman untuk menyembuhkan penyakit itu.

Tak dapat dipungkiri bahwa tradisi memberi makan hutan memang telah ada dari zaman nenek moyang. Tak pasti tahunnya. Namun, tradisi ini memang sudah digandrungi masyarakat sebagai penolak bala desa. Tujuannya hanya demi kesejahteraan desa. Layaknya sebelum berperang, tradisi ini dijalankan agar seluruh masyarakat desa terlindung dari penyakit, maupun kesialan lain. Sebenarnya yang paling penting adalah demi keberhasilan panen dan bersyukur atas hasil panen.

Kamis, sekitar pukul 14:00 WIB, riuh gang sempit semakin terasa. Terik matahari menyengat, warga berdatangan. Orang-orang lalu lalang dengan sepeda motor, ada juga dengan sepeda. Suasana ramai. Sesekali terdengar bunyi mesin perahu kecil bersandar dibibir sungai yang tak jauh dari rumah Usman. Ternyata perahu nelayan yang membawa ikan hasil pukat.

“Ada atau tidak ndek tahun ini memberi makan hutan?” tanya seorang laki-laki.

“Belum tahu, tapi kata kepala desa sih ada. Dan saya juga menyarankan ada, apalagi sekarang sedang ada Covid.” Ujar ndek Usman.

Dermaga kecil itu semakin ramai. Orang-orang berdatangan mencari ikan untuk lauk. Mereka memang sedang resah. Sejak Covid-19 merajalela di Indonesia, masyarakat desa Nibung mulai resah.

“Bukankah terlalu terlambat jika sekarang dilaksanakan?” ujar seorang wanita paruh baya.

“Tidak juga, selagi yakin. Kan kebetulan juga nanti mau panen,” jawab nelayan.

“Nanti akan dibicarakan lagi dengan kepala desa,” ujar Usman.

Orang-orang terdiam dan melanjutkan pekerjaannya. Ikan semakin menipis, ramai pembeli. Hari pun mulai sore, matahari kian tenggelam. Sore itu banyak warga yang grasak grusuk membicarakan hal itu. Antara dilaksanakan ataupun tidak, warga setuju saja.

Dari informasi yang didapat, tradisi ini tidak menggunakan banyak bahan. Cukup simpel, namun harus dengan orang yang tepat. Tentunya dengan sedikit pantangan. Hanya memerlukan bahan seperti beras kuning, emping, ketupat, cucur, tapai, ukal, retih yang berbahan dari padi dan beras. Karena memang diperuntukkan agar panen berhasil, sehingga menggunakan bahan-bahan dari padi dan beras. Tidak banyak, seadanya saja untuk mencukupi syarat.

“Sedikit saja bahannya, asal ada. Untuk memenuhi syarat saja, dikerjakan sendiri juga bisa,” ujar Usman.

Tidak banyak orang, tetapi perlu dua orang yang pandai. Satu ditepi sungai dan satu dihutan. Tidak dilarung, tetapi diberi tanda dengan kain yang diikat dikayu. Sebagai tanda bahwa tradisi telah dilakukan. Untuk dihutan diletakkan disebuah tanah milik warga desa yang bernama Pak Lojai. Dari awal sudah ditanah tersebut. Tak tahu pasti kenapa didaerah itu, yang jelas memang disitu tempatnya.

Sebenarnya ada juga masyarakat yang tidak setuju dengan tradisi tersebut. Menduakan Tuhan. Tetapi ini memang tradisi, bukan sesajen. Memang seperti memberikan sesajen ke roh, namun berbeda.

“Banyak orang yang mengatakan bahwa ini menduakan Tuhan, padahal tidak. Saya menggunakan ayat suci Al-Quran dalam menaruhkan sesaji itu, tidak dengan memanggil roh,” ujar Usman memberikan sedikit penjelasan.

Banyak perdebatan. Diantara banyak tradisi, memang memberi makan hutan seperti tradisi magis. Pasalnya, tradisi ini dikabarkan ada pantangannya. Jika tradisi ini dilakukan, masyarakat dilarang untuk berpergian ke hutan. Agar tidak terjadi bala katanya. Terdengar mustahil, namun nyata adanya.

Suatu pagi ditahun 2016, tradisi diadakan. Beberapa masyarakat dan tetua adat menyiapkan peralatan serta bahan. Mulai dari mengemaskan sesajen sampai pembagian tugas dalam meletakkan sajen. Usman selaku tetua mengerahkan istri dan anak perempuannya untuk turut andil dalam tradisi.

Seminggu sebelum tradisi, dimalam hari diakan rapat dengan perangkat desa dan beberapa warga. Rumah Usman menjadi tempat berlangsungnya rapat.

“Mengenai tradisi, saya akan mengerahkan keluarga serta tetangga saya untuk membantu menyiapkan bahannya,” ungkap Usman.

Diantara orang yang duduk diruangan itu, terdapat pendamping Usman dalam memberi makan hutan. Selain itu, terdapat pula Pak Lojai selaku pemilik tanah yang akan dijadikan tempat menaruh sajen.

“Masih ditanahmu ya Jai,” celetuk seorang perangkat desa.

Lojai telah sepakat sedari dulu bahwa tanahnya akan selalu digunakan sebagai tempat menaruh sesajen. Bukan tanpa alasan, melainkan tanah yang dibeli Lojai memang sedari dulu dijadikan tempat itu. Sehingga tidak dipunkiri dia selalu setuju. Demi kelancaran.

Lojai masih menggunakan tanahnya sebagai tempat berkebun. Kebun karet lebih tepatnya. Kebun karet terletak dihutan yang sebenarnya tidak terlalu hutan. Masih banyak kegiatan juga, seperti menoreh karet, berkebun sayur, dan kebun sawit. Namun, karena sudah tempatnya, tanah Lojai sedari dulu memang digunakan sebagai tempat menaruh sesajen.

Sebelum menjadi tanahnya, Lojai membeli tanah yang berupa hutan.Phom yang ada dulunya sangat tinggi dan besar-besar. Serta semak belukar, rumput tinggi, dan tumbuhan melata. Sangat gelap dan tebal.

Kemudian dibersihkan dan dimanfaatkan menjadi kebun. Agar lebih berguna. Tidak terbengkalai. Setelah tanah berpindah tangan, Lojai mengubah tanah menjadi kebun karet. Lojai menanam karet bersama istri dan mempekerjakan orang lain agar mempercepat kerjanya.

Sedari sebelum dibeli, memang hutan tersebut menjadi tempat menaruh sesajen. Jadi Lojai dan keluarga sudah tak heran. Sebagai pemilik tanah, Lojai tak merasakan keanehan. Hanya harus mengikuti pantangan, tidak boleh pergi ke hutan setelah tradisi diakan. Bukan hanya untuk Lojai, namun untuk semua masyarakat juga.

Ketika tradisi telah dilakukan tidak boleh berpergian ke hutan, sawah, maupun lainnya yang berbau jauh dari rumah. Bisa disebut terdapat pantangan. Pantangan dibuat bertujuan agar tradisi tidak gagal. Karen ajika masyarakat melanggar pantangan, maka tradisi yang dilakukan akan sia-sia saja.

Pantangan ini diyakini masyarakat Nibung dan dipatuhi. Namun, semakin kesini pantangan itu mulai dilanggar. Masih ada masyarakat yang pergi ke sawah maupun kebun pada siang harinya. Sebenarnya tidak boleh. Pantangan itu harus ditaati untuk seharian penuh.

Masyarakat Nibung tidak boleh berpergian ke hutan untuk waktu sehari saat tradisi diadakan. Demi keberhasilan. Hal itu harus dipenuhi agar panen berlimpah. Kepercayaan itu kian hari kian tergerus oleh zaman. Sehingga sampai sekarang masyarakat melanggarnya dengan masih berpergian ke hutan ketika siang hari.

Akibat dari pelanggaran pantangan biasa ada saja. Menurut warga dan Usman sendiri, ada beberapa cerita yang dipercayai. Sehingga, pantangan tetap dipercayai walau dilanggar pula.  

Lampau silam, tak tahu kapan tepatnya. Sebuah kegaduhan terjadi di Desa Nibung. Pernah terjadi sebuah tragedi yaitu menghilangnya tiga orang yang sedang berpergian ke hutan. Saat itu, bertepatan dengan dijalankannya tradisi memberi makan hutan oleh masyarakat setempat.

Kabar menghilangnya orang tersebut dibenarkan oleh warga sekitar yang tahu kejadiannya. Sudah lama, namun amat membekas.

“Mereka itu pergi mencari kerang dan kuyung, setelah itu tidak pulang-pulang hingga magrib tiba, semua panik.” ujar Evi seorang ibu rumah tangga yang tak jauh dari rumah Usman.

Kabar pun kian merebak. Semua panik dan takut. Pikiran sudah kemana-mana. Pihak keluarga sudah kehilangan harapan. Pada saat itu, dukun sekitar membantu mencari menggunakan mata batin.

“Masih hidup, namun mereka susah menemukan jalan keluar karena digelapkan oleh lelembut,”

Seketika suasana menjadi kalut. Tak ada harapan yang muncul. Tiga orang tersebut raib entah kemana. Pihak keluarga kehilangan harapan. Semua putus asa. Banyak usaha yang sudah dilakukan dari memberi sesembahan ke hutan hingga sungai tempat mereka hilang. Namun hal itu gagal. Tiga orang tersebut yang terdiri dari tiga perempuan dewasa menghilang dan sampai saat ini tidak ditemukan jasadnya dimana.

Setelah kejadian ini, banyak masyarakat yang mulai mematuhi aturan dari tradisi. Tidak berpergian ke hutan saat tradisi dilakukan memang menjadi kepercayaan hingga tahun ini. Mitos hilangnya tiga wanita dewasa itu menjadi pembelajaran bagi masyarakat agar tidak menyepelekan larangan.

Selain kejadian tersebut, pernah pula terjadi kehebohan. Saat tidak memberi makan hutan, ada kejadian tiga orang anak tenggelam diperbatasan antara desa Nibung dan Malek. Kejadian tersebut diduga karena pada tahun 2018 masyarakat desa Nibung tidak memberi makan hutan, sehingga penunggu hutan mengamuk, katanya.

Kejadian itu menewaskan dua anak perempuan dan satu anak laki-laki. Kejadian bermula ketika dua anak perempuan tanpa sepengetahuan orang tuanya mengayuh perahu kecil disamping rumahnya pada siang hari. Ketika mereka mengayuh perahu, tiba-tiba perahu pun terbalik. Dua anak perempuan meminta tolong dengan suara lirih.

Tak lama, datang seorang anak laki-laki yang berniat menolong dua anak perempuan itu. Naas, anak laki-laki tersebut juga ikut tenggelam karena tidak tahu berenang. Sehingga, ketiga anak tersebut secara bersamaan tenggelam.

“Tolong ada anak tenggelam,” ujar seorang lelaki.

Bergegas warga berdatangan menolong, namun nyawa ketiga anak itu tak dapat diselamatkan. Kejadian tersebut membuat keluarganya terpukul. Ketiga anak tersebut merupakan teman sepermainan yang biasa bermain-main ditepi sungai. Kini mereka hanya nama yang tertoreh dibatu nisan. Karena mereka meninggal secara bersamaan, letak makam pun dibuat bergandeng tiga.

Kejadian tenggelamnya tiga anak tersebut dikaitkan dengan masyarakat tidak mengadakan tradisi memberi makan hutan. Namun, sebenarnya kejadian itu merupakan kelalaian dari orang tua anak. Membiarkan anak delapan tahun bermain perahu tanpa pengawasan orang tua merupakan hal yang salah.

“Sebenarnya bukan karena tidak memberi makan hutan, ya memang sudah ajalnya dan juga kesalahan orang tua,” ujar Evi seorang wanita paruh baya.

Sebelum Usman, ada seorang pria yang dikabarkan menjadi pemegang hutan selanjutnya. Dolami yang lebih akrab disapa Pak Ngah beberapa tahun menjabat, namun ia berhenti karena sudah umroh. Ia melepaskan gelar tetua adat di desa karena telah melaksanakan ibadah ke Ka’bah.

Sebelum ia melepas jabatannya, secara singkat Dolami menejabarkan cara pemberian makan hutan. Memberi makan hutan merupakan hasil kesepakatan warga desa. Tak jauh berbeda dari penjelasan Usman, alat dan bahan serba ada dan dengan jumlah orang yang tak banyak. Sebenarnya boleh saja jika ingin membersamai beramai-ramai, namun masyarakat telah mempercayakan semua kepada tetua adat.

Dolami merupakan seorang laki-laki tua yang berumur 70 tahun. Ia memiliki rambut hitam yang telah bercampur dengan warna putih. Memiliki mata yang sayu dengan pandangan yang tegas. Dolami dipercayai sebagai dukun kampung untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Orang-orang desa sering berobat penyakit yang sukar dipahami oleh nalar. Santet misalnya.

Pernah seorang wanita yang terkena santet oleh orang yang kurang menyukai suaminya. Sebenarnya tertuju kepada suaminya, namun karena pertahanan iman suami ibu tersebut, akhirnya menghantam ibu itu. Mariam namanya. Sudah banyak yang dilakukan, kedokter hingga menghabiskan banyak uang. Namun, diagnosis dokter satu dan lainnya selalu tak sama. Darah tinggi, hanya kelelahan saja selebihnya taka da penyakit berbahaya.

Karena keluarga ibu Mariam masih mempercayai dengan adanya ilmu hitam, mereka memanggil Pak Ngah Dolami. Untuk berobat. Memang ternyata disantet orang yang dengki dengan suami Ibu Mariam. Mengenai pekerjaan.

Suatu malam, Ibu Mariam diobati oleh Pak Ngah Dolami. Beberapa hari, namun santetnya masih saja menetap. Hingga akhirnya keluarganya mencari dukun baru. Bukan tak manjur, namun sudah terlalu kuat ilmunya, katanya.

Hal ini pun menjadikan dukun atau pengobatan spiritual di desa Nibung tak pernah punah. Sama halnya dengan tradisi memberi makan hutan.

Kabar memberi makan hutan tetap tersampai ke masyarakat. Tak jarang Dolami mengerahkan beberapa orang ibu-ibu untuk membantu mempersiapkan bahan makanan yang akan dilarung. Segala macam makanan khas desa dan beberapa alat lainnya dipersiapkan dengan baik. Agar baik pula hasilnya.

Tepat hari pelarungan tiba, Dolami dan tiga orang rekannya pergi ke tepi sungai desa Nibung untuk menaruhkan sesembahan, bisa dikatakan sesajen.

“Saya saja yang memegang sajennya, pak tolong bantu saja menancapkan bendera” ujar Dolami

Bendera yang terbuat dari kain putih biasa yang melambangkan kesucian ditancapkan di tanah. Sesajen pun perlahan diletakkan didekat bendera. Bendera berfungsi menandai bahwa telah dilaksanakan tradisi memberi makan hutan.

Selain ditepi sungai, sesajen juga dipersiapkan untuk diletakkan di hutan tanah seorang laki-laki yang bernama Pak Lojai. Dolami juga yang menaruhkan sesajen sambil mengucap doa. Doa selamat dan meminta agar hasil panen masyarakat berlimpah.  

Lojai sebagai pemilik tanah yang akan dijadikan tempat menaruh sesajen dengan senang hati mengizinkan. Untuk kepentingan bersama. Lojai memberikan sedikit ruang dikebun karet miliknya. Tak terlalu hutan, hanya kebun-kebun saja yang masih sering dilalui masyarakat.

Setelah Dolami menjabat, disambut oleh Usman. Jabatan diberikan tentunya dengan persetujuan masyarakat dan perangkat desa. Nama Usman terdaftar sebagai kepala adat desa Nibung yang telah didaftarkan ke Kabupaten. Sehingga, Usman mendapat gaji pula. Dari gaji yang disalurkan pemerintah Usman dan keluarga dapat bertahan.

Tak main-main, tradisi memberi makan hutan desa Nibung telah terdaftar di Kabupaten Sambas. Sebenarnya tak hanya desa Nibung, desa lain pun ada yang melakukan tradisi ini. Hampir seluruh Kabupaten Sambas memercayai tradisi memberi makan hutan ini. Namun, yang paling kuat memang desa Nibung.

Diwarung yang tak jauh dari rumah Usman, ibu-ibu berkumpul. Sekitar tiga orang yang tengah asyik berbicara. Grasak-grusuk membicarakan tradisi.

“Kalau diadakan sama saja kita tidak memercayai Tuhan,” Ujar seorang wanita.

Tak jarang banyak yang membantah tradisi ini. Seperti tidak percaya kuasa Tuhan. Masyarakat grasak-grusuk membicarakan. Kalau untuk kemakmuran harusnya berdoa kepada Tuhan.

Orang desa Nibung ada yang tak setuju dengan tradisi ini pernah membantah. Mereka membicarakan hal ini langsung ke Usman. Beberapa wanita dan laki-laki membuka mulut tentang keberatannya.

Orang yang tidak setuju melakukan negosiasi dengan Usman dan lainnya. Mereka tak mau tradisi terus dilaksanakan. Dengan alasan yang sama, menduakan Tuhan.

Sore itu ramai, dengan perang mulut. Masih membahas tradisi. Beberapa warga sepakat untuk tidak melaksanakan tradisi, sedangkan bebrapa sepakat tetap dilaksanakan. kepala desa menengahi adu mulut itu.

Ketika tahu warganya sudah mulai tidak kondusif, kepala desa mencari jalan tengah.

“Jika ingin dilaksanakan terserah, jika tidak juga tak apa-apa,” ujarnya.

Ketika ucapan itu terlontar, masyarakat diam. Tak banyak kata lagi yang keluar. Semua berpikir.

“Jika yang tidak percaya, saya harap dapat menghormati yang percaya, tidak ada ruginya juga, sesuai keinginan saja,” ujar kepala desa.

Keputusan dibuat. Tetap dilaksanakan sebagai bentuk melestarikan adat budaya.

Warga yang tadinya tidak menyetujui perlahan luluh. Semua sepakat. Beberapa warga yang menetang akhirnya menyerahkan semua kepada keputusan kepala desa.

Adu mulut pun selesai. Orang yang awalnya menentang tidak terpaksa menerima pendapat. Mereka memiliki kepercayaan masing-masing. Mereka tetap berpikir itu salah, namun tetap meghormati. Melestarikan tradisi agar tak punah, agar ada yang dapat diceritakan ke anak cucu. Mereka pun luluh.

Setelah kejadian tersebut, masyarakat tetap aman. Tak ada yang adu mulut dengan dendam. Semua masing-masing dengan pilihannya, ingin percaya atau tidak. Tradisi tetap dilakukan dengan menunjung rasa aman.

Alasan lain mereka menerima pendapat itu karena Usman meyakinkan mereka bahwa kegiatan memberikan sesajen itu dilakukan pula dengan mengucap ayat Allah. Bukan mantra ataupun lainnya.

Sebenarnya yang membuat tidak setuju adalah dengan adanya sesajen. Jika menggunakan ayat suci sebagai perantara, sebaiknya tidak meggunakan sesajen. Banyak yang tak setuju dengan adanya sesajen. Untuk apa, dan untuk siapa.

Sesajen yang identik dengan jin dan roh membuat masyarakat terpecah menjadi dua kubu, percaya dan tidak. Sesajen yang terdiri dari makanan membuat masyarakat takut dan menimbulkan pertanyaan.

“Jika menggunakan ayat suci, kenapa perlu sesajen, apa fungsinya?”

“Sesajen hanya diperuntukkan sebagai rasa syukur atas rezeki yang berlimpah, bukan untuk memberi makan jin.” Ujar Usman.

Memang tak masuk diakal jika sesajen ada tapi menggunakan ayat suci. Seperti bertolak belakang. Orang-orang mulai percaya. Walau ada yang masih bergumul dengan pikirannya. Semua telah usai.

Minggu, Februari 2021, Usman meminta tradisi ini tetap dilaksanakan sebagaimana mestinya agar kampung menjadi tentram dan hasil panen melimpah. Namun, karena banyak mendapat tentangan dari warga, tradisi sampai saat ini belum dilaksanakan kembali.

Hal itulah yang membuat tradisi kian hari kian hilang. Tak banyak yang dapat diperbuat. Semua tergantung dari kesepakatan masyarakat.

Hingga sekarang, masyarakat masih memercayai tradisi memberi makan hutan. Tradisi tetap diminta dilakukan, namun belum pasti. Usman selaku tetua adat telah mengajukan pendapatnya kepada kepala desa serta masyarakat lainnya.

Hingga saat ini, tradisi masih belum dilaksanakan. Tak tahu apa sebabnya. Mungkin karena keadaan yang sedang gaduh dengan adanya wabah Covid-19. Selain itu, karena adanya sedikit masalah di kantor desa.

Usman bisa saja melakukan tradisi ini tanpa kesepakatan masyarakat. Namun, Usman masih menghormati pendapat sehingga memutus keinginanya untuk melaksanakan tradisi.

Mengingat hanya beberapa bahan saja yang diperlukan, bisa saja tradisi dilakukan. Usman menepis egonya. Usman menunggu kepastian dari semua masyarakat.

Dengan umur Usman yang mulai menua, ia mengkhawatirkan tradisi. Siapa yang akan jadikan penerus dirinya. Usman telah memerhatikan satu per satu dukun di Desa Nibung. Namun, tak ada yang membuatnya yakin. Usman gusar.

Tradisi ini dijalankan dan dipercayai sedari dulu. Jika hilang, akan mengurangi kekhasan desa tersebut. Tak ada yang dapat dijadikan cerita kepada anak cucu. Tak ada pula hal yang akan ditunjukkan.

Usman dan kepala desa pernah berembuk tentang masalah ini, namun belum menemukan jalan keluar. Kepala desa juga mengalami dilema. Ada atau tidaknya orang yang akan menggantikan Usman untuk kedepannya.

Menginat tak sembarang orang yang dapat menjadi tetua adat. Usman yang telah terampil dalam bidang spiritual sedari lama. Bisa dibilang keturunan. Anak Usman tak lihai dalam bidang ini. Mereka hanya bekerja.

Inilah yang menjadi kekawatiran terbesar Usman. Takut tak ada yang dapat mewarisi kemahirannya. Penggiat spiritual tak lagi banyak di Desa Nibung. Banyak yang telah berpulang dan ada juga yang pindah. Dapat dihitung dengan jari yang ada.

Tak sembarang dalam memilih orang yang akan dijadikan tetua adat. Harus memiliki ilmu yang tinggi. Usman yang ilmunya sudah terbilang lama baru berani dicalonkan pada umur yang sudah cukup tua. Karena tradisi ini tidak sembarang dilakukan. Harus ada tata cara yang baik.

Usman dahulunya hanya menjadi wakil pada umurnya masih menginjak 40 tahunan. Usman tak berani untuk mencalonkan menjadi ketua karena takut tidak sanggup dengan resiko. Resiko sebenarnya bukan secara fisik, namun secara batin. Usman takut tidak total dalam menjalankan tradisi. Sehingga, Usman tidak berani mengambil resiko pada umur 40 tahunnya.

Sembari menjadi wakil, Usman belajar. Tata cara yang diperlukan, bahan, alat semua dipelajari dengan seksama. Selain itu, doa yang diperlukan harus dilafalkan dengan fasih dan dengan hati yang ikhlas. Tentunya dengan meyakini bahwa tradisi yang dilakukan demi kemakmuran dan semua harus dikehendaki Tuhan.

Harus dengan hati yang bersih. Menjaga ibadah sangat diperlukan agar doa yang diucapkan dapat langsung dicapai.

Walau tradisi dilakukan, tak jarang pula semua berhasil. Kembali semua kepada kuasa Tuhan.

Tahun 2019, masyarakat Desa Nibung mengalami gagal panen karena hama. Tradisi telah dilakukan tetapi masih saja gagal panen. Hama yang menyerang padi berupa hama yang sulit diatasi sehingga panen pun gagal. Padi yang mulanya baik, tiba-tiba dapat hangus.

Daun padi yang semula hijau menjadi kering dan kehitaman seperti terbakar. Tak tau apa hamanya, namun tahun itu menjadi kegagalan panen terbesar masyarakat Desa Nibung. Mulanya hama hanya menyerang sedikit bagian dari tanaman padi. Namun dalam semalam saja, hama dapat menghancurkan satu per empat tanaman padi.

Hama tersebut aktif pada malam hari. Melahap semua padi yang sudah mulai muncul bijinya. Bekas yang ditinggalkan hanya cangkang padi dan daun yang berbintik kehitaman dengan daun yang kering. Benar-benar seperti terbakar.

Hama padi yang diresahkan warga tak terlalu terlihat keberadaannya. Sangat kecil dan susah dibasmi. Banyak cara yang sudah dilakukan, namun nihil. Hama tersebut mengakibatkan masyarakat desa gagal panen secara besar-besaran.

“Hanya untuk makan saja, kalau tahun lalu masih ada yang bisa dijual,” ucap ibu Neti seorang pemilik sawah.

Usman dan masyarakat lain tak bisa berbuat apa-apa. Dari itulah warga menyimpulkan bahwa, bukan karena tradisi memberi makan hutan saja. Pasalnya masih terjadi kegagalan panen saat tradisi telah dilakukan. Semua memang kehendak dari Tuhan. Semua tergantung kepada Tuhan ingin memberikan rezeki yang berlimpah atau bahkan sedikit.

Dari kegagalan peristiwa ini, masyarakat mulai meragukan kebenaran tradisi itu. Sehingga masyarakat sampai tahun 2021 ini enggan untuk melaksanakannya. Sudah berkurang rasa percaya. Kini masyarakat hanya bergantung kapada kuasa Tuhan.

Selain itu, mayarakat juga berupaya sebaik mungkin dalam menangani hama. Memberi pupuk yang cukup demi kesuburan padi, memberantas hama tikus, wereng, dan lainnya menggunakan obat yang dijual.

Setelah usaha dan niat, masyarakat menyerahkan semua kuasa kepada Tuhan. Baik buruknya hasil panen. Kini, masyarakat Desa Nibung semakin giat dalam bertani. Untuk mendapat hasil maksimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman